Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

Kemudian setelah Anita dan Alex masuk kedalam mobil, juga Rafi yang ikut naik di depan samping sopir di satu mobil yang sama.


Alex meminta Rafi untuk menyuruh sopirnya segera menjalankan mobilnya dan berangkat menuju kota untuk kembali pulang kerumahnya.


Selama di perjalanan mereka terlihat hening dan diam satu sama lain. Mereka juga bingung apa yang mau di bicarakan.


Namun saat di tengah jalan, tiba-tiba Alex merasa sedikit pusing dan keleyengan. Mungkin itu efek dari obat atau efek dari luka yang tadi dia terima dari para preman.


Membuat Alex repleks memegang kepala dan memutar kepalanya mencoba menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba di alaminya.


Dan Anita yang melihatnya tiba-tiba merasa khawatir dan mencoba bertanya pada Alex.


"Tuan. Apa kau baik-baik saja?" tanya Anita merasa khawatir.


"Iya. Aku baik-baik saja" ucap Alex sedikit berbohong, tidak mau terlihat lemah di hadapan Anita.


"Tapi, tuan terus menggeleng-gelengkan kepala. Apa tuan merasa pusing?"


"Tidak. Aku tidak kenapa-napa. Aku tidurkan, nanti juga hilang sendiri pusingnya. Kau tenang saja" ucap Alex terus berpura-pura tidak ada masalah, mencoba menyembunyikan apa yang di rasakannya saat itu.


Hingga akhirnya dia berusaha untuk menutup mata supaya bisa tidur agar tidak merasa pusing lagi.


Kemudian Alex pun dapat tertidur, namun beberapa saat kemudian tiba-tiba kepalanya terjatuh di pundak Anita.


Dan Anita yang mengerti, perlahan memindahkan kepala Alex untuk dapat tertidur dengan tenang di atas pahanya.


Mengingat apa yang telah di lakukan Alex terhadapnya membuat hati Anita sedikit luluh dan tidak lagi berkeras hati, tidak menganggap apa yang di lakukan Alex semata-mata memanfaatkan keadaan.


Sementara itu, Rafi yang diam-diam melihat dari balik kaca spion merasa tersentuh dan senang dengan apa yang telah di lakukan Anita pada bosnya tersebut.


Kemudian, Rafi diam-diam juga memotret Anita dan Alex yang terlihat manis di pikirnya, saat Anita ikut tertidur menyusul Alex yang sudah lebih dulu terlelap dalam tidurnya.


Terlihat Rafi senyam senyum sendiri sambil berkali-kali mengambil potret Anita dan Alex yang sedang tertidur bersama.


Sementara pak Amin yang merasa bingung melihat Rafi senyam senyum sendiri mulai penasaran.


"Tuan Rafi, apa anda baik-baik saja. Kenapa senyam senyum sendiri?" tanya pak Amin penasaran sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.


"Ssuut..." ucap Rafi sambil menutup mulutnya dengan satu telunjuk, memberitahu pak Amin supaya jangan berisik.


Takut ketahuan dan takut membangunkan bosnya yang sedang tertidur lelap di balik kursinya.


"Pak Amin jangan berisik, nanti tuan bisa bangun. Fokus saja pada jalanannya" ucap Rafi memberi pengertian pada pak Amin sambil berbisik-bisik.


"Saya lagi memotret mereka, pak Amin. Kalau tidur begini, mereka terlihat so sweet dan adem ayem. Coba mereka setiap hari seperti ini" lanjut Rafi berbicara pada pak Amin, dan sedikit berharap dengan apa yang telah di lihatnya.

__ADS_1


"Tuan ini bagaimana. Kalau mereka terus tidur seperti itu, bagaimana mereka bisa hidup menjalani kehidupannya" seloroh pak Amin menanggapi ucapan Rafi padanya.


"E.. e.. eh .. Pak Amin mulai berani, ya sekarang" ucap Rafi sedikit menakut-nakuti ucapan pak Amin.


"Tidak tuan, tidak. Maaf saya tidak bermaksud. Tapi tuan benar, kalau melihat mereka akur seperti itu, kita yang melihatnya ikut merasa senang juga jadinya. Mudah-mudahan kedepannya mereka bisa akur terus seperti sekarang ini ya, tuan" ucap pak Amin dan ikut berpendapat.


"Itu benar, pak Amin. Mudah-mudahan saja begitu" ucap Rafi menanggapinya.


Kemudian mereka pun kembali fokus melihat jalanan. Tanpa ada suara ataupun pembicaraan lagi selama perjalanan berlangsung.


Hingga akhirnya mereka sampai di depan halaman rumah Alex.


Namun Alex yang sedang tidur dan merasa mobilnya sudah sampai pada tujuan, membuatnya perlahan-lahan membuka mata dan hendak mengedarkan pandangannya.


Tapi yang pertamakali dia lihat adalah wajah Anita saat dia mendongak dan melihatnya, membuat Alex merasa senang dan sesaat menikmati pemandangannya.


Kemudian berpura-pura kembali tidur saat melihat Anita mulai menggeliat dan bangun dari tidurnya.


Lalu Anita yang sudah menyadari mobilnya sudah sampai di depan rumah, segera perlahan membangunkan Alex dari pangkuannya.


"Tuan.. tuan.. bangunlah. Kita sudah sampai" ucap Anita sambil menepuk-nepuk pipi Alex dengan pelan.


Kemudian perlahan-lahan Alex berpura-pura terbangun dan melihat keadaan sekitar.


Kemudian mereka pun hendak masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, di dalam sudah ada seseorang yang menunggu Alex. Dia seorang wanita berparas cantik nan anggun, dia bernama Kirana yang ternyata adalah sahabat dari mendiang istrinya Alex.


Rupanya diam-diam Kirana sudah memendam rasa pada Alex. Namun dia tidak berani mengatakannya, meskipun sahabatnya tersebut sudah lama meninggal.


Terlebih dia sudah di jodohkan orang tuanya pada laki-laki lain. Namun sekarang dia sudah berpisah dengan jodoh pilihan orang tuanya tersebut tanpa memiliki anak dari mantan suaminya tersebut.


Dan kali ini Karina mencoba untuk mendekati Alex, setelah dia mencaritahu bahwa Alex tidak pernah mau untuk menikah lagi dengan siapapun.


Namun begitu, Karina ingin tetap mencoba peruntungannya mendekati Alex. Karena dia merasa selama ini dia berhubungan baik dengan Alex.


Dia berpikir mungkin kalau dia terus mendekati Alex dan perduli padanya, lama-lama Alex akan mulai menyukainya sebagai seorang kekasih dan bukan sebagai sahabat mendiang istri tercintanya.


Namun dia tidak tahu kalau sebenarnya Alex sudah menikah dua hari yang lalu dengan Anita. Meskipun pernikahan mereka terbilang mendadak dan secara paksa.


Tapi juga tidak menutup kemungkinan kalau Alex tidak berniat untuk meresmikan pernikahannya dengan Anita, yang didasari dengan keterpaksaan.


Sementara itu saat Alex hendak masuk kedalam, Mbo Inah datang untuk memberitahu bahwa ada Kirana yang tengah menunggunya dari beberapa menit yang lalu.


"Tuan... Kenapa wajah anda babak belur begini. Apa tuan baik-baik saja?" tanya Mbo Inah saat melihat wajah tuannya di pasangi beberapa plester dan memar.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Mbo" ucap Alex pada Mbo Inah.


"Oh iya, bagaimana keadaan rumah. Apa aman-aman saja selama aku tinggal pergi?" tanya Alex basa basi.


"Alhamdulillah, aman-aman saja tuan. Tapi di dalam ada Nona Karina, temannya mendiang istri tuan" ucap Mbo Inah sambil memberitahu kedatangan teman mendiang istri tuannya tersebut.


"Benarkah?.. Sudah lama sekali dia tidak datang ke rumah ini. Apa dia sudah lama menunggu?" tanya Alex terlihat antusias, tidak perduli ada Anita di sampingnya.


"Baru beberapa menit yang lalu, tuan"


"Ya sudah kalau begitu. Apa Mbo sudah sekalian menyiapkan makan malam?"


"Makan malam sudah siap, tuan"


"Kalau begitu sekalian ajak dia makan malam"


"Baik, tuan"


Kemudian mereka pun segera masuk kedalam rumah, yang mana Kirana sudah menunggu di dalam di ruang tamu.


Lalu Alex segera menghampiri dan menyapanya, namun masih dengan di temani Anita.


"Ya Tuhan.... Alex apa yang terjadi denganmu?" ucap Karina sambil menutup mulutnya merasa kaget saat melihat wajah Alex, kemudian segera menghampirinya.


"Apa kau baik-baik saja?. Kita sudah lama tidak bertemu tapi ke adaan mu malah seperti ini" lanjut Karina merasa khawatir sebelum mendengar jawaban Alex.


"Pantas saja aku ingin segera menemuimu" tambahnya merasa kebetulan.


"Kau benar Karin, kita sudah lama tidak bertemu. Tapi kau tenang saja, aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan kabarmu?" ucap Alex menanggapi Karina.


Namun sesaat Karina tidak langsung menjawab pertanyaan Alex. Matanya tertuju pada gadis yang terus menggandeng tangan Alex.


Rupanya Karina merasa sedikit cemburu dan terus menatapnya, terlihat sedikit tidak suka. Apalagi saat melihat tangan Anita yang terus menggandeng tangan Alex.


Tanpa sengaja Alex pun melihat raut wajah Karina yang terus menatap Anita.


"Oh, iya kenalkan. Ini Anita, dia asisten pribadiku di rumah ini" ucap Alex memperkenalkan Anita pada Karina sambil melepaskan pegangan tangan Anita dari tangannya.


Namun Karina yang tidak begitu perduli dengan siapa Anita hanya tersenyum, yang terlihat di paksakan. Kemudian segera menggandeng Alex dan menggantikan Anita untuk membantunya duduk di sofa.


"Oh begitu, ya. Kalau gitu sini, biar aku saja yang bantu kamu duduk di sofa"


Sementara Anita yang melihat ketidak sukaan Karina padanya, hanya menarik nafas seolah tidak perduli.


Kemudian Anita lebih memilih pergi dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2