Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Jodohku Ayah Sahabatku?


__ADS_3

Sementara itu, Anita masih terlihat membereskan barang-barang dan memasukkannya ke dalam kulkas.


Kemudian Mbo Inah yang melihat Anita masih terlihat sibuk, segera menyuruhnya untuk membuatkan kopi dan memintanya untuk mengantarkannya juga pada tuannya.


"Sudah nak Anita. Biar Mbo saja yang lanjutin. Sekarang buatin kopi saja seperti yang tadi di minta tuan. Nanti keburu tuan nunggu lama" ucap Mbo Inah menyuruh Anita untuk membuatkan tuannya kopi dengan segera.


Mbo Inah masih mengira bahwa tuannya ada di dapur tadi untuk meminta di buatkan kopi. Pada hal sebenarnya Alex hanya ingin bertemu dengan Anita.


Dan kini, Anita merasa bingung jika harus membuatkan kopi dan sampai mengantarkannya ke kamar Alex.


Membuatnya merasa serba salah, jika menolak tidak mungkin tapi jika sampai mengantarkannya ke kamar Alex membuatnya sedikit resah, takut Alex berbuat yang lebih dari apa yang di lakukannya tadi.


"i.. iya Mbo. Sebentar lagi saya bikinin" ucap Anita pada Mbo Inah dengan terbata-bata, merasa serba salah.


Kemudian dengan terpaksa Anita pun segera membuatkan kopi dan mengantarkannya ke kamar Alex.


Meski dengan perasaan yang tidak menentu dan sedikit ragu-ragu untuk masuk ke kamar Alex.


Perlahan Anita mengetuk pintu pelan-pelan setelah berada di depan pintu kamar Alex. Belum ada jawaban setelah beberapa kali mengetuk pintunya.


Anita tetap bersabar menunggu di depan pintu, tidak lagi berani masuk langsung ke dalam kamar Alex. Dia takut terulang lagi situasi yang sudah beberapa kali di alaminya.


Dia tahu pasti saat ini Alex sedang di dalam kamar mandi, mengingat Alex baru pulang dari kantornya.


Setelah menunggu beberapa menit, baru pintu tersebut terbuka dengan Alex yang masih berusaha mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah.


Namun kali ini dengan menggunakan pakaian rumahan lengkap.


"Kenapa tidak langsung masuk saja, sayang" ucap Alex saat melihat Anita masih berdiri di depan pintu sambil mengucek-ngucek rambutnya dengan handuk kecil.


Tapi Anita yang melihat wajah Alex langsung, sesaat membuatnya tidak sadar dan mematung saat melihat wajah tampan Alex dengan rambut basahnya yang mempesona dan mengesankan.


Entah sihir apa yang membuat Anita tiba-tiba mendadak mematung sambil tersenyum kagum melihat pesona Alex saat ini.


Sementara Alex yang menyadari hal itu, tentu membuatnya besar kepala. Dia sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat Anita terpesona padanya dan menghentikan tangannya yang sedang berusaha mengeringkan rambutnya tersebut.


Kemudian dengan sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah Anita yang tinggal beberapa senti lagi.

__ADS_1


Sementara Anita masih belum sadar dengan ke adaan tersebut.


Berbeda dengan Alex yang terlihat tersenyum sambil membiarkan Anita menatapnya terus sambil sedikit membungkuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Anita yang hanya memiliki tinggi badan 153cm berbeda dengan Alex yang memiliki tinggi badan 189cm.


Lalu saat Anita mulai menyadarinya, dengan cepat dia memundurkan tubuhnya sedikit. Merasa kaget saat sadar wajah Alex begitu dekat dengan wajahnya sendiri.


Dengan tangan sedikit bergetar, dia mulai memberikan secangkir kopi yang dari tadi dia bawa di tangannya. Beruntung kopinya tidak tumpah atau pun jatuh.


"I..ini tuan kopinya. Kalau begitu saya pergi dulu" ucap Anita sambil buru-buru pergi, merasa malu karena ketahuan terpesona menatap Alex.


Sementara Alex yang melihat Anita malu-malu kucing hanya tersenyum geli dan membiarkannya pergi begitu saja.


Kemudian dia segera masuk kembali kedalam kamarnya, bergegas untuk merapikan rambutnya.


Beberapa jam kemudian, Mbo Inah dan Anita sudah selesai menyiapkan makan malam untuk Alex.


Namun Anita dengan segera menyelesaikan pekerjaannya, dia tidak ingin dulu bertemu dengan Alex lagi setelah melalui momen-momen yang di anggapnya memalukan sekaligus menakutkan baginya.


Anita merasa dirinya dan Alex sudah terlalu jauh melewati batasannya, meski dia sadar sekarang dirinya sudah menjadi istri sah dari Alexander Wijaya.


Namun status yang dirasa tidak jelas menurutnya, membuat Anita terus-terusan berpikir akan di bawa kemana hubungan tersebut.


Meskipun beberapa saat ini, Alex terlihat terang-terangan menunjukan rasa sukanya pada Anita.


Namun hal itu, di rasa Anita belum cukup untuk meyakinkan dirinya sebagai istri yang benar-benar di anggap oleh Alex.


Terlebih saat mengingat Lolita yang akan menjadi anak sambungnya jika benar-benar terjadi dia dan Alex melangsungkan pernikahannya secara resmi dan di umumkan.


"Ya Allah... kenapa sekarang hatiku berdebar-debar terus setiap kali bertemu dan dekat dengan tuan Alex. Apa aku sudah jatuh cinta padanya... dan apa dia juga sudah jatuh cinta padaku?" ucap Anita merasa bingung sendiri.


"Kalau itu benar-benar terjadi dan tuan Alex berniat untuk meresmikan status pernikahan kami, bagaimana nanti hubunganku dengan Lolita?" ucap Anita berbicara sendiri di dalam kamarnya.


"Masa iya dia memanggilku Mama, yang benar saja" lanjut Anita merasa geli memikirkan hal tersebut.


"Ya Allah ... Apa iya, Jodohku Ayah Sahabatku?" ucap Anita bertanya-tanya sendiri, merasa tidak mungkin dengan apa yang akan terjadi nantinya.


"Aduuhh ... ini semua benar-benar membuat kepalaku jadi pusing. Bagaiman ini, apa aku harus mengatakan pada tuan Alex bahwa aku ingin memutuskan hubungan pernikahan yang tidak jelas ini" ucap Anita kembali merasa frustasi.

__ADS_1


"Lagi pula dia juga tidak ada pembicaraan padaku, kalau dia mau meresmikan pernikahan ini dan mengumumkannya. Jadi untuk apa mempertahankan hubungan yang tidak jelas statusnya. Ini hanya akan menguntungkan dia dan memanfaatkan aku jika dia sedang ingin begituan. Iiihhh.... Enak saja..., nanti bagaiman kalau perutku berisi, orang lain pasti memandangku sebelah mata. Karena yang mereka tahu, aku belum menikah. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus segera bicara dengan tuan Alex dan menyudahi hubungan pernikahan yang tidak jelas ini, bagaimana pun caranya" lanjut Anita panjang lebar berbicara sendiri, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi dan apa yang seharusnya dia lakukan dengan Alex.


Sementara itu, Alex yang sudah berada di meja makan, merasa heran tidak melihat Anita seperti biasanya.


Membuatnya tiba-tiba tak berselera untuk makan malam. Dia datang lebih awal dan dengan senang datang kemeja makan hanya untuk melihat Anita yang telah berhasil mengganggu hati dan perasaannya.


Namun kali ini dia merasa sedikit kecewa karena lagi-lagi gagal berduaan dan gagal melihat Anita lagi di hadapannya.


Kemudian Mbo Inah datang sambil membawakan menu terakhir yang hendak di taruhannya di atas meja makan. Namun Alex yang tidak fokus dan makan dengan tidak berselera sambil melihat ke bawah, membuatnya mengira yang datang adalah Anita.


"Kenapa kau lama sekali di dapurnya?" ucap Alex dengan cepat sambil mata tetap fokus pada makanan meski tak berselera, mengira yang datang tersebut adalah Anita.


"Iya, tuan maaf. Apa ada yang tidak tuan suka?" ucap Mbo Inah dan bertanya, merasa tuanya sedang tidak berselera untuk makan malam.


"Oh maaf, Mbo. Aku pikir yang datang Anita. Dia kemana Mbo?. Kok gak biasanya dia tidak menemani dan melayaniku makan malam" ucap Alex pada Mbo Inah.


"Oh.. Nak Anita. Tadi dia buru-buru ke kamarnya, tuan. Katanya dia merasa gak enak badan. Jadinya tadi dia izin sama saya untuk tidak dulu menemani tuan malam ini" ucap Mbo Inah memberitahu.


"Apa, Anita sakit?" pekik Alex merasa khawatir.


"Iya tuan. Mungkin karena tadi dia kecapean dan sepertinya dia juga belum makan semenjak pulang dari luar kota bersama tuan" ucap Mobo Inah kembali memberitahu tuannya.


"Kenapa Mbo gak bilang dari tadi?" tanya Alex bertambah khawatir.


"Maaf tuan, tapi tadi saya sudah mengantarkan obat dan makanan juga ke kamarnya nak Anita" ucap Mbo Inah dan sedikit merasa heran dengan reaksi tuannya yang terlihat berlebihan di pikirnya.


"Ya udah kalau gitu, saya lihat kondisinya dulu ke kamarnya" ucap Alex dan mulai beranjak dari tempat duduknya hendak pergi menemui Anita.


Sementara Mbo Inah yang mulai paham dengan sikap tuannya tersebut, hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menatap Alex heran dari belakang punggungnya. Lalu Mbo Inah segera kembali ke dapur lagi.


Sementara Anita yang masih terlihat berbicara sendiri di kamarnya, tidak tahu kalau Alex sedang berjalan menuju kamarnya.


Kemudian terdengar pintu di ketuk dari luar kamar Anita. Pelan-pelan Anita membuka pintu kamarnya dan nampak dari wajahnya yang terlihat kaget saat melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini.


"Aduuh... siapa sih yang ngetuk pintu. Gak tahu apa, kalau aku lagi pusing begini" gerutu Anita saat mendengar pintu kamarnya terus terusan di ketuk.


"Tut.. tuan. Kenapa ada disini, apa tuan tidak makan malam?" ucap Anita terbata-bata merasa kaget dengan ke hadiran tuannya, dan sedikit bertanya, yang dia tahu itu waktunya makan malam untuk Alex.

__ADS_1


"


__ADS_2