
Sementara itu, Raja yang telah menghindari Lolita segera melihat keadaan Anita di depan ruang operasi.
"Nit, ini makanlah. Dari tadi aku tidak melihat mu makan malam" ucap Raja setelah berada di samping tempat duduk Anita.
"Tidak Za. Kau saja yang makan" ucap Anita tidak bernafsu untuk makan saat ini.
"Kalau begitu aku juga tidak akan makan" ucap Raja tidak ingin makan sendirian.
"Terserah kamu saja" ucap Anita tidak ingin berdebat.
"Kalau begitu. Setidaknya minumlah dulu. Kalau kau sampai dehidrasi dan pingsan siapa nanti yang akan menunggu Alexa. Apa kau tega membiarkan Alexa bertanya dan mencari-carimu saat dia sudah siuman nanti?" ucap Raja mencoba membujuk Anita.
Kemudian tanpa banyak bicara lagi, Anita pun mengambil air minum botol tersebut yang masih di genggam Raja untuk di berikan padanya, lalu segera meminumnya.
Anita berpikir ada benarnya juga apa yang telah di katakan Raja, jika dia ikut sakit karena menahan lapar dan haus siapa yang akan menjaga dan merawat anaknya.
Meskipun sebenarnya menahan lapar dan haus seharian tidak akan membuatnya sakit terlalu parah.
Namun setidaknya hal itu dapat memberi tenaga untuk Anita tetap bersabar menunggu anaknya. Dan untuk tidak mengecewakan Raja yang selama ini sudah banyak membantunya.
"Terima kasih Za. Maaf aku terus-terusan merepotkan mu" ucap Anita lirih dan mencoba untuk tidak mengabaikan Raja.
Sementara itu, Lolita yang sudah sampai di depan rumahnya segera masuk ke dalam, dan tiba-tiba ada suara Alex yang mengagetkannya tengah duduk di ruang tamu yang cukup gelap.
Rupanya Alex sengaja menunggu Lolita untuk melihatnya pulang malam-malam.
"Dari mana saja kamu, kenapa baru pulang malam-malam begini?" ucap Alex terdengar sedikit marah, tidak biasanya dia berkata dengan nada marah seperti itu pada Lolita.
Namun Lolita yang masih kesal dan terus saja mendiamkan daddynya, sama sekali tidak memperdulikannya.
Dia malah dengan sengaja membuat daddy nya bertambah kesal. Tanpa banyak bicara Lolita segera berjalan kembali menuju kamarnya sesaat setelah mendengarkan ucapan daddy nya.
"Loli... Daddy belum belum selesai bicara" ucap Alex pada anaknya yang telah pergi mengabaikannya lagi.
__ADS_1
"Ya Tuhan... sampai kapan dia akan terus mengabaikan aku seperti ini" lanjut Alex berbicara sendiri.
Dan sementara itu di rumah sakit, keluar seorang dokter dari ruangan operasi Alexa. Membuat Anita cepat-cepat berdiri untuk menanyakan keadaan anaknya pada dokter tersebut.
"Dok, bagaimana operasi nya. Apa anak saya baik-baik saja?" tanya Anita dengan rasa khawatirnya setelah menghampiri dokter tersebut.
"Sabar nyonya. Tenangkan hati anda dulu" ucap dokter saat melihat ke khawatiran Anita.
"Maksud dokter apa. Bagaimana mana saya bisa tenang kalau saya harus menunggu anak saya sedang di operasi. Dokter jangan membuat saya semakin khawatir" ucap Anita bertambah panik, merasa dengan ucapan dokter seperti itu membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, terjadi sesuatu pada anaknya.
"Maaf nyonya. Maksud saya operasinya berjalan dengan baik. Anak anda sudah lepas dari ancaman maut nya. Tapi untuk saat ini anda belum bisa melihatnya langsung. Bersabarlah nyonya. Biarkan anak anda beristirahat dulu" ucap dokter jelas.
"Syukurlah kalau begitu. Terimakasih dokter" ucap Anita merasa sedikit lega.
Kemudian dokter pun pergi meninggalkan Anita dan Raja berdua.
"Za sebaiknya kamu pulang saja. Ini sudah malam, besok kamu harus ke kantor juga kan. Sekarang aku sudah merasa lebih baik. Jadi kamu tidak perlu menemaniku lagi" ucap Anita pada Raja.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan pulang dulu. Tapi kalau kamu ada apa-apa, segera hubungi aku. Dan ingat, kamu besok tidak perlu masuk kerja dulu. Aku yang akan bicara pada bosmu" ucap Raja hendak pergi.
Keesokan paginya, Anita sudah dapat melihat anaknya. Alexa juga sudah di bawa ke ruang kamar inap. Sehingga membuat Anita dapat leluasa menjaga dan menemaninya.
"Sayang... cepatlah sembuh. Maafkan mamah saat itu tidak dapat menolongmu" ucap Anita sambil menggenggam tangan Alexa di samping tempat duduknya.
Terlihat Anita mengeluarkan air matanya lagi, saat dia mulai kembali teringat kecelakaan yang begitu nampak di depan wajahnya waktu itu.
"Mamah menyesal, mamah telah membiarkanmu seperti ini" lanjut Anita merasa bersalah, sambil sesekali mengedipkan matanya yang berlinang air mata.
"Mamah janji, mamah tidak akan membiarkanmu seperti ini lagi. Cepat lah sembuh, kamu anak kuat, kamu anak mamah, kamu tidak boleh berlama-lama di tempat seperti ini" ucap Anita kembali berbicara pada anaknya, meski dia tahu Alexa belum sadar dan masih menutup matanya.
Kemudian di tempat lain, Rafi mendapatkan telpon dari seseorang. Orang tersebut memberitahukan informasi penting yang selama ini di tunggu-tunggu oleh tuannya tersebut.
"Bagaimana. Apa kau sudah mendapatkan informasinya?" ucap Rafi pada orang di ujung telpon.
__ADS_1
"Bagus. Akhirnya setelah sekian lama kau dapat menemukannya juga. Tapi awas kalau kau sampai salah lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk menghentikan karirmu sampai tidak ada orang yang tidak mau menggunakan jasa mu lagi" ucap Rafi setelah mendengar jawaban dari orang suruhannya tersebut.
Namun kali ini, Rafi terlihat tegas dan sedikit mengancam. Bagaimana tidak, setelah sekian lama orang suruhannya tersebut sudah berkali-kali salah dalam mencari informasi penting yang di inginkan tuannya tersebut.
"Kalau begitu kau harus tetap memantaunya, jangan sampai kehilangan jejaknya lagi" ucap Rafi mewanti-wanti.
Hingga akhirnya dia juga yang harus kena semprot dan sabetan kata-kata kasar tuannya jika sampai kehilangan jejaknya lagi, kemudian telpon pun putus.
"Akhirnya... Aku harap dia tidak akan salah lagi. Tuan pasti akan senang mendengar berita ini, jika itu benar adanya" ucap Rafi berbicara sendiri terlihat senang setelah dia menutup telponnya.
Kemudian dia hendak bertemu dengan Alex untuk memberitahukan informasi yang baru saja dia dapatkan.
Sementara itu di rumah sakit, Alexa nampak mulai sadar setelah diam-diam mendengarkan tangisan dan ucapan mamahnya tersebut.
"Mah... jangan menangis. Lexa tidak apa-apa. Lexa tidak suka melihat mamah menangis" ucapnya begitu lemah dan pelan, namun dia tidak ingin melihat mamah nya menangis seperti itu.
"Kalau mamah mau, kita bisa pulang sekarang. Lexa kuat, kok" lanjut Alexa, meski tubuhnya masih terlihat lemah. Namun karena dia begitu menyayangi ibunya dan tidak ingin membuat ibunya terlihat bersedih, membuatnya harus berbicara seperti itu.
"Tidak sayang. Maksud mamah tidak seperti itu. Kamu tetap harus berada di rumah sakit ini dulu untuk sementara. Dan untuk itu, kamu harus tetap berjuang supaya kamu cepat sembuh dan kita bisa kembali pulang ke rumah lagi. Kamu mengerti, kan sayang?" ucap Anita begitu lembut sambil mengusap-usap rambut kepala anaknya, mencoba menjelaskan apa maksud perkataannya.
Meskipun sebenarnya, tanpa Anita jelaskan Alexa pun sudah mengerti maksud ucapan mamahnya.
Namun karena dia tidak ingin melihat mamahnya terus bersedih, membuatnya berpura-pura berbicara seperti itu.
"Kalau begitu, mamah jangan menangis lagi, ya. Lexa janji, Lexa akan segera sembuh" ucapnya begitu lemah. Terdengar dewasa meski dalam keadaan lemah dan tak berdaya.
"Iya sayang... mamah juga yakin kamu pasti akan segera sembuh... Sekarang kamu tidur lagi ya, istirahat" ucap Anita dengan tetap tersenyum dan tetap mengusap-usap rambut kepala anaknya, sambil mencoba menahan rasa harunya untuk tidak lagi menangis di depan Alexa.
Anita sangat bersyukur memiliki Alexa dalam hidupnya saat ini. Dia tidak menyangka anaknya yang masih terbilang kanak-kanak, begitu peka dan mengerti dengan perasaan ibunya.
Dia selalu tidak suka jika setiap kali melihat Anita menangis ataupun terlihat bersedih. Entah mengapa anak sekecil itu sudah bisa merasakan perasaan ikut sakit hati dan ikut bersedih seperti itu terhadap mamahnya.
Sementara itu di ruangan Alex, terlihat dia sedang berbicara serius dengan kliennya saat Rafi mulai membuka pintu ruangan bosnya tersebut.
__ADS_1
Rafi berniat untuk memberitahu langsung pada Alex mengenai kabar yang tadi telah di terimanya.
Namun sebelum itu, dia harus menunggu terlebih dahulu sebelum para tamunya selesai dengan urusannya masing-masing dan pergi dari ruangan tersebut.