
"Sudah cukup. Kenapa jadi kau yang mengaturku. Cepat sediakan makan siang ku" pekik Alex menghentikan keberanian Anita "Apa kau tahu ini sudah lewat dari jam makan siang ku. Gara-gara kau aku jadi telat makan siang" lanjut Alex mengomel.
"Maaf tuan" ucap Anita terpaksa dengan bibir manyun nya.
"Sudahlah. Kau ini dari tadi bisa nya minta maaf... maaf terus. Tidak bisakah kau melakukan sesuatu dengan baik dan benar" ucap Alex, gerutu pada Anita.
"iya baik tuan... ma..." ucap Anita dan terpotong saat Alex mulai menatap nya tajam karena Anita hendak mengucapkan kalimat maaf lagi "maksudku ma.. ma...makanannya sudah siap, tuan" lanjut Anita gelagapan sambil mencari alasan lain saat tatapan Alex masih terus memperhatikannya, beruntung dia sedang menyiapkan makan siang Alex dan mengalihkannya pada hal tersebut. "iya... makan siang. Makan siangnya sudah siap" ucap Anita dengan senyuman yang sedikit di buat-buat.
"Apa yang kau bawa ini" tanya Alex sambil membuka nasi kotak yang Anita bawakan.
"Itu nasi sama ayam penyet, tuan. Tadi anda tidak bilang ingin makan apa, dan saya juga tidak tahu kesukaan tuan. Jadi saya belikan saja ayam penyet itu. Tapi itu rasanya enak kok tuan" ucap Anita menjelaskan.
"Benarkah" tanya Alex memastikan, sambil sesekali terlihat alisnya turun naik seolah tak yakin dengan rasa makanannya "dari mana kau tahu kalau ini rasanya enak" tanya Alex penasaran.
"Tentu saya tahu tuan. Karena saya sering mencoba nya. Dan saya juga lihat sudah banyak orang yang datang ketempat makan itu. Jadi saya rasa, tuan juga akan suka dengan rasanya" ucap Anita meyakinkan.
"Kalau begitu aku akan mencobanya. Tapi tunggu... kenapa sambalnya begitu banyak sekali" ucap Alex saat melihat terlalu banyak sambal yang melumuri ayamnya.
"Oh itu... Tuan tenang saja. Itu memang sudah ciri khas makanannya, dan itu tidak terlalu pedas rasanya. Jadi tuan masih bisa memakannya" ucap Anita beralibi, pada hal sebenarnya dia sengaja ingin mengerjai Alex dengan cara melumuri ayamnya dengan banyak sambal agar Alex merasa ke pedesan.
"Apa kau yakin?" tanya Alex yang dijawab anggukan oleh Anita dengan senyuman manisnya, hingga membuat Alex percaya dan memakan nya.
Di suapan pertama Alex merasa makanannya memang enak dan belum terasa pedas. Membuat Anita terus memperhatikannya, menunggu reaksi Alex yang akan kepedesan.
__ADS_1
Hingga di suapan ke tiga Alex mulai merasa aneh, mulutnya mulai merasa panas, pedas dan nyut-nyutan. Sontak hal itu membuat Alex berteriak "pedas....pedas... air... air" pekik Alex sambil mengipas-ngipas tangannya ke mulut dan dengan segera mengambil air yang hendak di berikan oleh Anita.
Namun tidak juga meredakan rasa pedas lalu segera Alex ke toilet untuk mencuci mulutnya sambil berkata dan menunjuk ke Anita "kau... kau pasti sengaja melakukan nya, kan. Awas... tunggu disini kau. Aku akan menghukum mu" kesal Alex pada Anita.
Anita yang melihat Alex sudah masuk kedalam toilet yang ada di dalam kantor ruangannya, terlihat tersenyum dan tertawa merasa berhasil telah mengerjai orang yang selama ini bertindak seenaknya kepadanya.
Kemudian tanpa berlama-lama lagi, Anita segera buru-buru pergi kabur meninggalkan Alex. Sebelum Alex tambah kesal dan sudah barang tentu akan marah kepada nya. Namun Anita tidak perduli, terserah nanti apa yang akan terjadi. Namun untuk saat ini Anita sudah merasa senang dapat berhasil mengerjai tuan Alex.
Sementara Alex yang sudah mencuci mulut meski masih sedikit terasa pedas di mulutnya, segera keluar dan membuka pintu toilet. Namun saat dia terus mengomel dan melihat di ruangan nya tidak ada siapa-siapa, Alex mulai kembali memanas dan dengan rasa kesalnya dia berkata "kurang..... ajar......." pekik Alex marah tidak terima karena Anita kabur begitu saja, sampai amarahnya terdengar karyawan lain yang seolah merasa ada guncangan di gedung tersebut.
"Beraninya kau kabur setelah membuat mulutku kepanasan begini. Dasar gadis kecil kurang ajar" kesal Alex sambil mengetik sesuatu di hp nya berniat untuk menelpon Anita.
Sementara Anita terlihat sudah keluar dari gedung tinggi dan berpuluh-puluh lantai milik Alex. Dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan karena berusaha lari dari amukan Alex, kini Anita merasa selamat dan lega sambil sesekali menghapus keringat di jidatnya lalu berkata " selamat... selamat".
"Biar tahu rasa dia, emangnya enak di kerjain orang" ucap Anita saat mengingat kejadian tersebut.
"Sialan. Dia tidak menjawab telpon ku. Awas kau kucing kecil. Aku akan benar-benar membalas mu kali ini" ucap Alex berbicara sendiri, lalu sesaat kemudian terdengar pintu ruangannya di ketuk dan mempersilahkannya masuk.
Ternya itu adalah asisten pribadinya yang bernama Rafi, yang hendak menginformasikan penyelidikan yang selama ini Alex perintahkan.
"bagaimana hasilnya, Rafi. Apa kau sudah menemukan sesuatu" ucap Alex tegas saat asistennya tersebut sudah berdiri dan memberi hormat sesaat menundukan tubuhnya di hadapan Alex.
"Ini semua data yang sudah saya dapat kan" ucap Rafi sambil menyerahkannya di meja Alex "Tapi mohon maaf tuan itu baru sebagian. Selebihnya saya akan segera selesaikan sisanya" lanjut Rafi dengan masih berdiri di hadapan Alex.
__ADS_1
"Ok baiklah tidak masalah. Kau bisa pergi sekarang" ucap Alex setelah menerima berkas yang di berikan asistennya tersebut dan menyuruh nya pergi yang di jawab anggukan oleh Rafi.
Namun sesaat kemudian Alex teringat sesuatu dan menghentikan Rafi yang sudah berbalik dan berjalan beberapa langkah "tunggu.... Aku ingin kau juga menyelidiki seseorang. Nanti foto nya aku kirimkan kepadamu" pinta Alex pada asisten pribadinya dan di jawab anggukan serta berkata "baik tuan... Apa ada lagi" lalu Rafi pun pergi keluar setelah Alex yakin mengizinkannya keluar dari ruangan tersebut.
Sementara itu di tempat lain, tepat nya di rumah Rio. Terlihat Rio sudah masuk kerumahnya dengan wajah riang gembira. Maminya yang melihat dari atas tangga merasa heran dan bertanya-tanya "Rio apa yang kau dapatkan sampai membuat mu terlihat ceria seperti itu" ucap Mami sambil menuruni tangga dan menghampiri Rio anaknya.
"Hay... Mami ku sayang" ucap Rio dengan bahagia sambil mengajak maminya ikut berdansa meskipun tidak ada musik yang terdengar, tapi karena moodnya sedang senang dan bahagia hingga membuat Rio menari-nari.
Dan ntah apa yang membuatnya sebahagia itu, membuat maminya merasa aneh dan terus bertanya-tanya lalu berusaha melepaskan pegangan dan menghentikan tariannya bersama Rio "sudah cukup Rio. Mami pusing. Turunin mami" pinta mami pada Rio yang segera menuruti maminya.
"Rio kau ini kenapa. Tidak biasanya kau seperti ini. Apa kau baru bertemu dengan gadis yang spesial untuk mu" tanya mami menerka-nerka setelah Rio menurunkan mami dari pelukannya.
"Bagaimana mami tahu" ucap Rio spontan tak percaya.
"Jadi benar... Anak mami ini baru bertemu dengan gadis spesialnya" ucap mami meyakinkan sambil melipat kedua tangannya di dada merasa benar apa yang di tebaknya.
"Pasti mami hanya menebak-nebak saja, kan" ucap Rio pada mami nya.
"Tapi... benarkan apa yang mami tebak tadi" goda mami pada anaknya.
"Nggak mam. Mami salah, aku hanya merasa mood ku sedang baik saja" elak Rio pada mami nya, belum merasa yakin dengan perasaan yang saat ini membuat nya melambung tinggi.
"Sudah ya mam. Rio masuk kamar dulu. Nanti kita bicara lagi" ucap Rio hendak pergi ke kamarnya sambil mencium pipi maminya, manja.
__ADS_1
"Tunggu Rio. Mami belum selesai bicara. Apa semalam kamu menginap lagi di rumah paman mu itu" pekik mami sambil melihat anaknya berlalu pergi meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya.
"Dasar anak itu" ucap mami tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya.