Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Baperan


__ADS_3

Sementara itu tiba-tiba Mbo Inah dan Asef datang dengan berlari, namun melihat Anita sudah menggandeng tuannya membuat mereka serba salah untuk membantu Alex berjalan.


"Anita. Biar aku saja yang bantu tuan berjalan" ucap Bang Asef yang sudah di anggap Anita sebagai Abang nya sendiri, memberanikan diri untuk menawarkan bantuannya pada Anita.


Namun saat Alex mendengar nama Anita di panggil dengan akrab oleh bang Asef, tiba-tiba membuat Alex melotot melihatnya, seolah-olah merasa cemburu pada satpamnya sendiri.


Sementara Mbo Inah yang melihat wajah tuannya yang tiba-tiba melotot seperti itu, langsung menyenggol Asef, yang saat itu sedang berdiri di sampingnya.


"Apa Mbo?" ucap Bang Asef pelan sambil melihat ke arah Mbo Inah.


"Itu.." ucap Mbo Inah pelan sambil menunjuk ke arah tatapan Alex dengan matanya.


Kemudian Bang Asef pun melihat ke arah yang di tunjukan mata Mbo Inah padanya.


Dilihatnya wajah Alex yang tiba-tiba terlihat tidak suka menatapnya. Kemudian Bang Asef langsung menunduk dan merasa bingung apa yang telah di lakukannya hingga bosnya menatap tajam seperti itu.


"Tidak usah Bang. Biar aku saja, aku sanggup kok memapahnya" ucap Anita pada Bang Asef tanpa sadar wajah di atas kepalanya sedang membuat takut orang-orang yang melihatnya.


"Sudah cukup. Biar Asef saja yang membantuku berjalan" kesal Alex tidak mau Anita membantunya berjalan.


"Tuan" pekik Anita dengan nada tingginya, membuat Mbo Inah dan Asef yang masih memperhatikan mereka mendadak melongo saat mendengar Anita dengan berani menggunakan nada tingginya pada Alex.


"Bisakah anda menurut, sekali saja" lanjut Anita tegas, tidak mau di bantah. Namun Anita juga tidak sadar apa yang membuatnya sampai seberani itu pada Alex.


Sementara Alex yang mendengar ucapan Anita yang seperti itu membuatnya kaget, terlebih di depan Mbo Inah dan Asef. Membuatnya merasa hilang wibawa sebagai bosnya.


Namun entah mengapa Alex mendadak diam saja dan mengikuti ucapan Anita.


Kemudian Anita pun segera menuntun kembali Alex dengan kakinya yang masih terlihat terpincang-pincang.


Sementara Mbo Inah dan Asef yang masih belum beranjak dari tempatnya tadi, masih merasa kaget dan melongo meski Anita dan Alex sudah pergi meninggalkan mereka di tempat.


"Mbo... Apa tadi aku tidak salah dengar?. Kenapa Anita berani berteriak seperti itu pada tuan Alex" ucap Asef pada Mbo Inah, merasa bingung dengan keberanian Anita pada bosnya.


"Ah... sudahlah. Kamu tidak akan mengerti meskipun Mbo menjelaskannya" ucap Mbo Inah merasa sudah tau apa yang terjadi, namun tidak berniat untuk menjelaskannya pada Asef.


"Sudah... Lebih baik kamu kembali ketempat mu. Sana!" ucap Mbo Inah menyuruh Asef kembali ke pos satpam.

__ADS_1


Sementara itu Anita dan Alex sudah sampai di depan mobil. Pak Amin segera membukakan pintu untuk tuannya.


Kemudian Anita segera memasukan Alex ke belakang kursi sopir dengan pelan-pelan.


Lalu Anita yang juga sudah masuk ke dalam mobil segera menyuruh pak Amin untuk menjalankan mobilnya.


Namun Alex yang merasa tidak mengajaknya segera berkata.


"Heh.. kau mau kemana" ucap Alex sedikit sinis saat Anita menyuruh pak Amin untuk segera menjalankan mobilnya.


"Bukannya tuan mau ke rumah sakit dulu?" ucap Anita balik bertanya, saat sudah di dalam mobil dan di hadapan Alex.


"Iya... tap aku tidak merasa mengajak mu" ucap Alex masih dengan sinisnya.


"Tapi kan saya asisten pribadi, tuan. Dan saya harus selalu siap setiap kali tuan membutuhkan saya. Saya tidak mau seperti setiap malam tuan menelepon saya hanya untuk minum susu" ucap Anita menjelaskan, namun membuat pak Amin yang mendengar kata minum susu sedikit bingung mendengarnya.


"Apalagi sekarang tuan kakinya sedang terluka, pasti tuan bakalan tiba-tiba menelepon saya seenak hati tuan. Dan saya gak mau kalau sampai harus jauh-jauh nyamperin tuan. Dan juga....." lanjut Anita sedikit nyerocos panjang lebar, namun segera di hentikan Alex saat Anita ingin lagi menambah alasan.


"Cukup..." ucap Alex sambil menutup mulut Anita dengan jari telunjuknya.


"Kau ini cerewet sekali" ucap Alex masih sedikit sinis.


Pak Amin yang mendengar perintah tuannya baru segera menjalankan mobilnya.


Sementara Anita yang melihat Alex membuang muka darinya setelah bilang dia cerewet membuatnya manyun dan kembali sedikit kesal, namun tanpa berlarut-larut seperti sebelum-sebelumnya.


Kemudian mereka pun mulai di bawa oleh pak Amin menuju rumah sakit.


Di tengah perjalanan mereka hanya diam dan sesekali melihat keluar jendela mobil, untuk menghilangkan rasa gugup di hati masing-masing.


Anita awalnya merasa benar-benar setres dan ingin menjauh dari Alex, tapi setelah melihat Alex terluka dan mulai mengabaikannya, entah mengapa membuatnya merasa tidak suka dengan sikap Alex yang seperti itu.


Hingga akhirnya tanpa di sadari Anita, dia ingin dekat dengan Alex dan tidak mau melihatnya terluka tanpa bantuan darinya.


Meskipun dengan alasan sebagai asisten pribadinya yang harus slalu siap setiap saat jika di perlukan.


Sementara dengan Alex, tidak tahu kenapa dengannya. Semenjak, saat dia meminta Anita untuk mengkompres luka memarnya dan dia pikir Anita sengaja menekannya kasar dan menambah rasa sakit, membuatnya jadi baperan seperti anak gadis.

__ADS_1


Kemudian mobil mereka pun sampai di rumah sakit. Perlahan-lahan Anita kembali menuntun Alex dari dalam mobil menuju rumah sakit.


Singkat cerita, Alex sudah berada di ruangan tempat dokter memeriksa pasien. Kemudian dokter hendak memeriksa luka memar Alex di salah satu kakinya.


"Selamat pagi, tuan, nyonya" sapa dokter tersebut yang bertuliskan Dr. Alisa Maharani di name take yang terpasang di baju putih dinasnya.


"Silahkan nyonya, bantu suaminya ke atas tempat tidur" ucap Dokter tersebut mengira Anita adalah istri Alexander Wijaya.


"Baik, Bu Dokter" ucap Anita biasa saja sesaat kemudian merasa kaget baru sadar bahwa dokternya mengira dia adalah istri Alexander Wijaya.


"Wah... rupanya tuan Alexander Wijaya diam-diam ternyata sudah punya istri. Yah... sayang sekali" ucap Dr. Alisa dalam hati, mengira Anita benar-benar istrinya saat tidak mendengar penolakan dari Alex maupun Anita.


Meskipun keduanya mendengar kesalahpahaman dokter tersebut, tapi Anita hanya bisa tersenyum meringis dan sesaat merasa malu sendiri.


Sementara Alex hanya bersikap acuh tak acuh dan tidak perduli apa kata dokter tersebut. Namun sebenarnya di hati yang terdalam, Alex merasa ada sesuatu yang menyelinap ke relung hati, membuatnya sedikit menghangat dan berkesan.


Kemudian Alex pun segera di periksa oleh dokter tersebut.


Setelah dokter memeriksa kaki Alex yang terluka, kemudian dokter berkata.


"Tuan harus benar-benar istirahat total di rumah, jika ingin segera sembuh dari luka memarnya. Dan jika masih memaksakan untuk bekerja, kemungkinan sembuh akan semakin lama" ucap Dr. Alisa di kursi meja tempatnya menerima tamu.


"Anda juga di sarankan untuk menggunakan tongkat penyanggah supaya bisa berjalan sendiri jika di perlukan. Meskipun sebenarnya luka memar tersebut tidak terlalu parah. Tapi melihat kondisinya, saya rasa anda perlu menggunakannya untuk jaga-jaga supaya tidak terjadi cedera yang tidak di inginkan" lanjut Dr. Alisa menyarankan pada Alex.


"Dan satu lagi nyonya, saya sarankan suami anda jangan terlalu banyak setres. Supaya sembuhnya bisa lebih cepat dan tidak sampai berminggu-minggu. Tapi saya percaya, sebagai istri tuan Alexander Wijaya, anda pasti akan melakukan yang terbaik untuknya" ucap Dr. Alisa semakin jelas mengira Anita sebagai istri Alexander Wijaya.


Membuat Anita kembali kaget dan hendak mengatakan yang sebenarnya. Tapi Alex segera menghentikannya, seolah tidak ingin Anita mengatakan yang sebenarnya.


"Tapi Dok, saya bu..." ucap Anita hendak menjelaskan kesalahpahaman tersebut.


"Kalau begitu, tolong segera bikinkan resep obatnya, Dok. Saya harus segera ke kantor dulu sebentar" ucap Alex sengaja mendahului Anita bicara supaya tidak dapat mengatakan yang sebenarnya, Alex pikir itu tidak penting untuk dokter tahu.


"Baiklah, kalau begitu. Tunggu sebentar" ucap dokter tersebut sopan.


"Ini resep obat yang perlu tuan dan nyonya sediakan" lanjut dokter tersebut memberitahu sambil memberikan selembar kertas pada Anita.


"Terima kasih, Dok" ucap Anita pada dokternya.

__ADS_1


"Sama-sama, nyonya. Semoga tuan segera sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasanya" ucap Dr. Alisa dan mendoakan kebaikan untuk Alex.


Kemudian Anita pun mengangguk dengan tersenyum dan kembali menggandeng Alex membantunya berjalan lagi.


__ADS_2