
"Kalau begitu... Kapan kalian akan melangsungkan pesta pernikahannya?" tanya Lolita penasaran tentang pesta pernikahan mereka.
"Itu... secepatnya sayang" ucap Alex pada anak perempuannya.
Namun Anita yang masih merasa sedikit kesal pada Alex hanya dapat tersenyum kaku mengiyakan ucapannya.
"Pesta pernikahan?. Apa Daddy dan Mamah akan menikah lagi?" ucap Alexa begitu polos merasa belum begitu memahami.
"Iya sayang... Apa kamu suka dengan pesta?" ucap Lolita pada adik laki-lakinya tersebut.
"Aku suka pesta... Apa aku boleh mengundang teman-temanku?" ucap Alexa merasa senang.
"Tentu saja sayang... Kau boleh mengundang teman-temanmu" ucap Lolita memberitahu.
"Sudah.. sudah.. sekarang kalian habiskan sarapannya dulu. Setelah itu nanti Daddy antar kamu pergi ke sekolah lagi" ucap Alex pada anak-anaknya.
Kemudian setelah mereka selesai sarapan, mereka mulai beranjak dan pergi bersama sampai ke depan rumah.
Namun sebelum itu, Lolita yang usil segera mendekati Anita dan mulai berbisik sesuatu padanya.
"Tunggu... kenapa mami kecilku ini buru-buru sekali?" ucap Lolita sambil menghampiri sahabatnya tersebut.
"Tit... tidak.. siapa yang buru-buru" ucap Anita merasa gugup takut ketahuan sesuatu oleh sahabatnya itu.
"Benarkah?..." ucap Lolita menyeringai.
"Apa yakin tidak terjadi sesuatu pada kalian?" lanjut Lolita berbicara.
Membuat Anita bertambah merasa malu dan ingin segera cepat-cepat lari dari hadapan sahabatnya tersebut.
"Tapi sepertinya... leher mu berkata sebaliknya. Berapa ronde?" ucap Lolita kembali sambil berbisik pada Anita membuatnya bertambah malu.
"Loliiii...." pekik Anita sudah tidak tahan lagi dengan ke usilan anak sambungannya tersebut sambil mencubit Lolita merasa kesal dan gemas.
"Aww...aw.. ampun..." ucap Lolita sambil menghindari cubitan Anita dan berlari.
"Daddy... lihat itu. Mami tiri ku jahat sekali, dia mencubitku" ucap Lolita bercanda sambil berlari menghampiri ayah dan adiknya tersebut.
"Biarin... Biar kamu tahu rasa, memangnya enak punya ibu tiri jahat seperti ku?" ucap Anita sengaja menakut-nakuti sahabatnya tersebut yang sudah terlalu usil menggodanya.
Sementara itu, Alex dan Alexa hanya dapat tersenyum melihat kakak perempuan dan ibunya tersebut saling kejar-kejaran seperti anak kecil.
Dan setelah beberapa saat, lalu kemudian Alex pun segera menghentikan dan mengingatkan mereka untuk segera berangkat kerja ke tempat mereka masing-masing.
"Sudah... sudah... cukup. Kalian ini seperti anak kecil saja. Apa kalian tidak akan berangkat bekerja?" ucap Alex pada istri dan anak perempuannya tersebut.
Kemudian mereka pun berhenti dan segera menuju mobilnya masing-masing.
Lolita dengan mobil pribadinya dan Anita ikut bersama Alex kembali sambil mengantarkan anak laki-lakinya sekolah lebih dulu.
Lalu setelah itu barulah Alex mengantarkan istrinya tersebut ke tempat kerjaannya.
Namun kini, mereka di antar dengan menggunakan sopir dengan posisi Alexa duduk di tengah di antara kedua orangtuanya. Mereka nampak begitu bahagia dan ceria hingga sampai ke depan pintu gerbang sekolah.
Sementara itu di tempat lain, terlihat Raja sedang mengendarai mobilnya menuju kantor. Namun tiba-tiba di persimpangan jalan, dia melihat seseorang yang dia kenal sedang dalam ke susahan karena ban mobilnya kempes.
Kemudian dia segera menyapa dan menghampiri orang tersebut.
"Sepertinya kau sedang dalam kesulitan?" ucap Raja pada orang yang saat ini sedang melihat-lihat ban mobil kempesnya.
"Kak Raja?" ucap Lolita merasa sedikit terkejut.
Rupanya orang tersebut adalah Lolita. Meskipun awalnya Raja ingin masa bodo dengan orang yang sudah di kenalnya sebagai anak dari saingannya tersebut, tapi dia merasa tidak tega dan hendak membantunya.
__ADS_1
"Ah iya.. ban mobil ku kempes... Kebetulan sekali. Apa kak Raja mau berangkat ke kantor?" ucap Lolita merasa sedikit canggung dengan Raja dan mulai bertanya berbasa-basi.
"Apa kau membawa ban serepnya?" tanya Raja tanpa terlalu banyak berbasa-basi.
"Ada di bagasi. Tapi aku tidak bisa memasangnya" ucap Lolita pada Raja.
"Kalau begitu, biar aku yang memasangnya" ucap Raja hendak ingin membantu.
"Tidak perlu kak Raja. Aku.. aku akan naik taksi saja" ucap Lolita merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa.. Aku bisa melakukannya untukmu" ucap Raja sambil melangkah ke belakang bagasi untuk mengambil ban cadangan milik Lolita.
"Jangan kak Raja. Nanti aku malah merepotkan mu" ucap Lolita berusaha menghentikan Raja untuk dapat membantunya.
"Sudah... kau tenang saja. Sekarang lebih baik kau bantu aku ambil kan peralatan obengnya" ucap Raja tetap kekeh dengan pendiriannya untuk membantu Lolita.
"Tapi kak Raja... Nanti kau akan terlambat" ucap Lolita berusaha untuk mengingatkan Raja pada jam kantornya.
Namun Raja yang sedang tiba-tiba perduli pada orang lain selain Anita, mendadak tidak memperdulikan ucapan Lolita yang memperingati jam masuk kantornya.
Entah karena dia merasa adalah bos di kantornya atau karena dia memang sedang benar-benar perduli pada orang lain.
Hingga akhirnya Lolita membiarkan Raja untuk membantu dan menggantikan ban mobilnya.
Namun Lolita juga merasa sedikit tidak percaya bahwa seorang Raja dapat melakukan hal tersebut untuknya.
Membuat Lolita sedikit merasa tersentuh dan mengagumi Raja diam-diam.
Selama pergantian ban berlangsung, diam-diam Lolita terus menatap Raja yang sedikit terlihat berkeringat karena menggantikan ban tersebut.
Namun anehnya di mata Lolita, Raja mendadak terlihat tampan dan mempesona saat itu. Dan juga tiba-tiba ada perasaan yang sulit untuk di ucapakan.
Jantungnya juga tiba-tiba berdebar-debar saat dirinya terus menatap Raja tak teralihkan.
Kemudian Raja pun selesai menggantikan ban mobil milik Lolita. Lalu mereka pun segera berpisah kembali dengan kata perpisahan terima kasih dari Lolita dan senyuman manis dari Raja.
Karena tujuan dan arah yang berbeda akhirnya mereka melajukan mobilnya di jalan mereka masing-masing.
Sementara itu, Lolita yang masih tidak percaya dengan perasaannya tersebut nampak terlihat senyam senyum sendiri di dalam mobilnya.
Merasa sedikit lucu dengan apa di rasakannya untuk Raja.
"Lucu sekali.. tapi tadi dia benar-benar terlihat tampan. Dan aku juga benar-benar tidak mengira, kalau dia bisa melakukan hal berat seperti tadi. Dia benar-benar laki-laki baik" ucap Lolita berbicara sendiri sambil menyetir mobilnya.
"Tapi... untung saja Anita tidak kepincut oleh ketampanan dan kebaikannya. Kalau tidak, bisa-bisa daddyku jadi duda seumur hidupnya" lanjut Lolita berbicara.
Kemudian setelah beberapa lama berkendara, Lolita pun sudah sampai di depan perusahaan ayahnya tersebut.
Namun orang-orang yang belum mengenal siapa Lolita sebenarnya, mulai membicarakannya karena kesiangan masuk kantor.
Tapi Lolita tidak begitu memperdulikan ucapan mereka. Bukan karena dia merasa anak bos dan bisa kapan pun mengatakan kebenaran tersebut tapi karena dia sudah siap menerima hukumannya.
Dan tidak lama setelah itu, Lolita pun di panggil oleh seseorang yang merupakan atasannya.
Sama seperti yang lainnya atasannya tersebut tidak mengetahui kalau Lolita adalah pemilik perusahaan tersebut.
Dan kebetulan atasannya yang bernama pak Jono itu adalah seorang mata keranjang dan diam-diam menyukai Lolita, dengan sengaja memanfaatkan situasi tersebut setelah beberapa kali mencari-cari kesalahan Lolita.
Dia segera memanggil Lolita ke ruangannya.
"Iya pak... Apa anda memanggil saya?" tanya Lolita setelah masuk ke dalam ruangan pak Jono.
"Iya.. duduklah" ucap pak Jono menyuruh Lolita untuk duduk di depan mejanya.
__ADS_1
Kemudian Lolita pun mengikuti perintahnya dan duduk di kursi tersebut.
"Kenapa bapak memanggil saya, ya?" tanya Lolita merasa heran sampai harus di panggil atasannya tersebut, meskipun dia tahu hari ini dia terlambat datang untuk pertama kalinya.
Tapi dia tidak mengira akan langsung di panggil dan tidak di beri peringatan terlebih dahulu.
"Kamu nanya, kenapa kamu di panggil kesini?" ucap Jono berlagak marah pada Lolita.
"Apa kamu tidak sadar atau pura-pura lupa. Ini sudah jam berapa?" lanjut Jono mengingatkan Lolita.
"I..iya pak. Maaf saya terlambat masuk jam kerja" ucap Lolita meminta maaf atas keterlambatannya masuk kerja.
"Enak saja kamu minta maaf. Kamu pikir ini perusahaan nenek moyang kamu. Bisa datang dan pergi begitu saja" ucap Jono kembali berlagak yang punya kuasa.
Dia masih belum sadar bahwa yang sedang di hadapinya memang anak dari pemilik perusahaan tersebut.
Namun Lolita yang tidak begitu memperdulikan kata-kata atasannya tersebut hanya berpura-pura takut dan patuh.
"Tapi pak... saya kan baru terlambat hari ini saja. Lagi pula saya tidak sengaja untuk datang terlambat" ucap Lolita pada atasannya.
"Terus kamu pikir, kamu bisa santai begitu saja, begitu?" ucap Jono kembali membungkam Lolita.
"Baiklah, pak. Saya salah.. saya minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi" ucap Lolita mengalah.
"Bagus kalau kamu sadar diri dan mau meminta maaf. Tapi tetap saja... gaji kamu akan saya potong setengah dari gaji bulanan kamu" ucap Jono seenaknya hendak memotong gaji Lolita.
Mendengar hal itu, tentu membuat Lolita merasa keberatan dan tidak terima dengan hal tersebut.
"Apa, pak?" pekik Lolita merasa terkejut.
"Bapak gak salah. Bagaimana bisa, pak. Saya kan baru telat beberapa menit dan baru pertama kali juga saya telat begini. Bapak tidak bisa seenaknya saja memotong gaji karyawan begitu saja" ucap Lolita mulai merasa kesal pada orang tersebut.
"Baiklah... Saya tidak akan memotong gaji kamu. Tapi dengan syarat, kamu harus mau makan malam bersama saya. Kalau tidak... kamu akan tahu akibatnya" ucap Jono sambil mendekati dan mulai berani kurang ajar pada Lolita.
"Anda jangan kurang ajar... Apa anda tidak tahu siapa saya, hah?" ucap Lolita merasa marah dan hampir mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari Alexander Wijaya pemilik perusahaan tersebut.
"Memangnya kamu pikir kamu siapa. Apa kamu ingin saya pecat, hah?" ucap Jono dan berlagak mengancam.
"Terserah... terserah anda mau memecat saya atau tidak. Tapi yang jelas, saya tidak akan pernah mau mengikuti apa yang tadi anda katakan... permisi" ucap Lolita dengan wajah kesal dan marahnya sambil sedikit menggeser kursi dengan sedikit kasar.
Lolita tidak lagi seperti dulu yang manja dan penakut, kini dia sendiri dapat melawan seseorang yang hendak menindas atau hendak memanfaatkannya seperti pak Jono yang tidak tahu malu itu.
"Kurang ajar... berani-beraninya dia menolak ajakan ku. Dia belum tahu siapa aku sebenarnya" ucap Jono merasa kesal dan marah di tolak ajakannya seperti itu oleh karyawan yang di anggapnya karyawan biasa-biasa saja.
Sementara itu, rupanya Rafi asisten pribadi Alex diam-diam berada di luar kantor Jono dan melihat perbuatannya yang tidak sopan pada anak tuannya tersebut.
Hal itu tentu membuat Rafi tidak dapat berdiam diri begitu saja. Setelah dia menghindari pertemuannya dengan Lolita pada saat tadi keluar, Rafi segera berpura-pura masuk ke dalam ruangan Jono untuk sedikit memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Meskipun dia tahu bahwa Jono pasti tidak akan mengakui keburukannya tersebut.
"Tuan Rafi... Anda?. Silahkan... silahkan masuk, tuan" ucap Jono mendadak berlagak sok baik pada saat melihat Rafi sudah masuk ke dalam ruangannya.
Rafi tidak berkata apa-apa, dia hanya melihat perubahan expresi Jono saat itu.
Kemudian setelah itu, tanpa banyak bicara Rafi segera kembali keluar dan meninggalkan Pak Jono.
Sementara itu, Lolita masih nampak kesal dan uring-uringan sendiri setelah keluar dan pergi dari ruangan tersebut.
Namun dia juga tidak berniat untuk mengadu dan memberitahu ayahnya tersebut.
Untuk saat ini dia cukup tahu bahwa ada orang seperti pak Jono di perusahaan ayahnya.
Namun jika sampai orang tersebut melewati batasnya, barulah dia akan meminta bantuan ayahnya untuk menyingkirkan orang tersebut.
__ADS_1