
Perlahan Alex mulai berjalan dan menaiki satu persatu tangga tersebut.
Sementara Anita dan Raja sedang asyik berbincang mengingat masa lalu yang membuat mereka saat ini saling melempar senyuman.
Kemudian sesaat Raja terdiam membuat Anita juga terdiam. Lalu Raja hendak mengatakan sesuatu pada Anita.
"Ehm.... Anita. Bisakah kamu seperti dulu. Terus mengajakku bicara walau aku tidak membalas ucapan mu. Tetap perduli padaku walau aku terus mengabaikan mu. Tetap berada di sampingku walau banyak orang yang menjauhiku. Seperti dulu, menjadi teman satu-satunya yang terus menghampiriku" ucap Raja lirih penuh kejujuran.
"Apa kau bisa seperti itu lagi" lanjut Raja bertanya sambil tetap menatap Anita lekat, membuat Anita menelan salipanya cepat di tatap dalam-dalam seperti itu oleh Raja.
Terlebih setelah mendengar ucapan Raja membuatnya ambigu tidak tahu harus berkata apa, merasa serba salah di buatnya.
Meski pada akhirnya Anita mengangguk, tanda dia bersedia menjadi temannya seperti dulu.
"Kalau begitu. Kalau kau menganggap ku sebagai teman mu lagi. Jangan lagi bersikap formal pada ku saat kita sedang berdua, apalagi memanggilku dengan sebutan tuan Raja. Aku tidak suka, kamu memanggilku seperti itu. Apa kamu mengerti?" ucap Alex membuyarkan pemikiran Anita yang tidak-tidak.
"Ok baiklah.... Tuan Raja. Maksudku Raja" seloroh Anita pada Raja.
"Tidak... tidak... tidak seperti itu. Aku lebih suka, kamu memanggilku dengan sebutan yang slalu kamu gunakan dulu untuk ku" ucap Raja sedikit protes dan sedikit mengkoreksi.
"Yang mana?" ucap Anita sedikit berpura-pura.
"Jangan pura-pura tidak tahu Anita" protesnya lagi.
"Baiklah tuan Azza" ucap Anita seloroh lagi.
"Emmmhh.... " ucap Raja dengan berdehem merasa Anita masih salah memanggilnya.
"Ok baiklah Azza ajah" ucap Anita terus menggoda Raja dengan sengaja memanggilnya dengan sebutan yang salah terus.
Hingga membuat mereka melempar candaan, tertawa bersama. Nampak kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
__ADS_1
Sementara itu Alex yang baru sampai di tengah-tengah tangga mendengar suara tawa orang di atas. Membuatnya penasaran dan ingin segera melihatnya, merasa itu adalah suara Anita. Tapi dia belum pernah mendengar atau melihatnya tersenyum dan tertawa seperti apa yang saat ini dia dengar.
Kemudian Alex segera cepat berjalan sampai ke atas.
Di lihatnya dua orang sejoli sedang tertawa bahagia. Membuat Alex melihat mereka lekat-lekat.
Tanpa sadar Alex merasa kurang suka dengan kedekatan tersebut. Ada rasa marah yang Alex sendiri belum tahu kenapa, saat melihat Anita tersenyum karena laki-laki lain. Padahal dia sendiri bukan siapa-siapanya Anita.
"Dasar gadis munafik... Lihat itu, di depan orang lain dia begitu terlihat bahagia, pintar mengambil hati orang. Tapi kalau di depan ku dia begitu liar dan sulit di atur. Dasar gadis kecil kurang ajar" ucap Alex kesal dalam hati saat melihat kedekatan Anita dengan Raja, sebelum mereka menyadari kedatangannya berdiri cukup jauh dari hadapan mereka.
Kemudian Alex perlahan mulai mendekat dan mengganggu kebersamaan mereka.
"Ehm..." Alex berdehem mencoba mengganggu mereka namun belum sadar dengan kedatangannya, membuat Alex melotot dan merasa dikacangi.
"Ehm... ehem" Alex mencoba kembali namun juga belum ada yang menggubrisnya.
"Apa-apaan mereka ini. Apa mereka tuli, atau sengaja berpura-pura tidak mendengar ku" tanya Alex kesal dalam hati sambil menatap ke arah mereka dan mengira-ngira, lalu berjalan lebih mendekat lagi sampai berada di samping Anita, dekat.
"Apa kita bisa pergi sekarang. Dari tadi aku sudah mencari mu kemana-mana" tanya Alex dingin saat melihat Anita menengadah melihat dirinya sambil mengulurkan tangannya di hadapan Anita juga Raja.
Namun Anita sesaat hanya melihat tangan Alex dan bergantian menatap Raja lalu berdiri tanpa menggapai tangan Alex, membuat Alex merasa tidak di hargai dan menghempaskan tangannya pelan.
Lalu, tiba-tiba kaki Anita terasa kesemutan dan membuatnya hendak oleng. Beruntung Raja lebih sigap dan membantu Anita perlahan berdiri kembali dengan benar.
Namun Alex yang kalah cepat, membuatnya merasa kesal kembali dan sedikit menahan emosi.
"Kamu tidak apa-apa Anita?" tanya Raja memastikan sambil tetap memegang tangan Anita di hadapan Alex. Kemudian Anita mengangguk pelan tanda dia merasa baik-baik saja.
Sementara di tempat lain Sonia dan temannya berhasil lari, namun dia merasa belum tenang setelah menampar Anita, terlebih dia ketahuan oleh Raja.
"Sonia... bagaimana ini, kita sudah ketahuan. Aku takut tuan Raja mengatakannya pada tuan Alex. Bisa-bisa kita di pecat nanti" ucap teman Sonia merasa takut.
__ADS_1
"Diam lah... aku juga bingung" pekik Sonia pada temannya merasa kesal.
"Tapi, ada hubungan apa tuan Raja dengan Anita. Sepertinya tidak sebatas baru kenal" ucap Anita dalam hati, merasa heran dengan sikap Raja pada Anita yang tanpa sengaja Sonia melihat kebelakang memastikan sebelum dia benar-benar pergi. Namun yang di lihat perhatian Raja pada Anita, pikirnya itu bukan perhatian biasa-biasa saja.
Sementara itu Alex yang nampa terlihat kesal dengan dingin berkata pada Anita.
"Kau ini lemah sekali. Baru mau bangun sudah mau jatuh" sindir Alex dingin, saat Raja membantu nya berdiri dengan benar. Tidak perduli ada Raja di sampingnya.
Anita yang mendengarnya hanya diam dan menarik napas kesal. Sementara Raja hanya merasa aneh dengan sikap Alex yang seperti itu, tidak sepantasnya seorang pria berkata sinis pada gadisnya, pikir Raja Anita adalah kekasihnya Alex.
Namun Raja kembali berpikir, mungkin itu reaksi Alex merasa cemburu karena melihat Anita bersamanya.
"Maaf tuan Alex. Jangan salah paham. Tadi kami hanya mengobati luka Anita karena bibirnya terluka" ucap Raja menjelaskan.
"Terluka?. Bagaimana bisa. Coba aku lihat" panik Alex saat mendengar Anita terluka, kemudian langsung melihat wajah Anita dan memastikan keadaannya.
"Siapa yang sudah melakukannya?" tanya Alex marah, saat melihat bibir Anita masih terlihat memerah dan luka.
Di lihatnya bibir Anita lalu mengusap bekas luka tersebut dengan ibu jari, sambil tetap menatap kemudian memegang wajah Anita menunggu jawaban siapa yang telah melukainya.
"Itu..." ucap Raja terhenti hendak ingin mengatakan kejadiannya dan siapa yang telah melukai Anita.
Namun Anita segera mendahului dan berkata "aku tidak apa-apa. Tidak perlu mempermasalahkannya" ucap Anita lirih, sambil melepaskan tangan Alex dari wajahnya.
"Lebih baik kita pergi. Aku sudah lelah menunggu tuan, maaf maksudku kamu" ucap Anita, sempat salah menyebut tuan.
Membuat Raja yang mendengarnya sedikit menggerakan matanya ke sisi atas, tanda merasa heran. Namun tidak terlalu memikirkannya. Beruntung juga Alex tidak menyadari Anita salah menyebutnya tuan.
Kemudian Alex membawa Anita berjalan bersamanya, perlahan menuruni tangga dan meninggalkan Raja sendiri di tempat. Sesaat Anita berbalik melihat Raja, kemudian pergi bersama Alex.
Sementara Alex nampak masih berpikir siapa yang telah melukai Anita. Namun dia tidak mau bertanya lagi pada Anita, takut di kiranya dia berlebihan dan membuat Anita gr.
__ADS_1