Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Mengantarkan Undangan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, pesta persiapan peresmian pernikahan Anita dan Alex akan segera di selenggarakan.


Dan sebelum itu terjadi, Anita berniat untuk memberikan undangan pada Raja secara langsung dan pribadi.


Namun setiap kali Anita hendak meminta waktu untuk berbicara dengan Raja, seolah Raja menghindarinya.


Entah itu hanya perasaan Anita atau memang Raja benar-benar sedang menghindari Anita.


Tapi yang jelas hal tersebut membuat Anita sedikit merasa bingung dan mulai bertanya-tanya sendiri.


"Kenapa aku merasa... kalau Raja sedang menghindari ku" ucap Anita merasa bingung, saat dia mulai berdiri dari tempat duduk kerjanya dan hendak mengajak Raja untuk makan siang bersama seperti terakhir kali mereka lakukan.


"Apa ini hanya perasaan ku saja?" ucap Anita berbicara sendiri dengan masih berdiri di tempat.


"Maafkan aku Anita... Aku harus melakukan ini. Aku pikir aku akan bisa melihat mu dengan pria lain, asalkan kamu bahagia. Tapi ternyata... aku salah. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.. Apa lagi melihatmu bersanding kembali dengan tuan Alex" ucap Raja lirih setelah dia menghindari Anita dan berlalu menjauh darinya.


"Tuan Alex sudah mengatakannya, kalau kalian akan segera meresmikan pernikahan kalian" lanjut Raja berbicara sendiri.


Rupanya beberapa hari yang lalu, Raja sudah bertemu dengan Alex dan mendapatkan informasi tersebut.


Hal itu yang akhirnya diam-diam Raja mulai menjaga jarak dan menjauh dari Anita.


Meski Raja awalnya sudah berusaha untuk mengiklaskan, tapi pada kenyataannya hati tetap tidak bisa di bohongi.


Raja masih butuh waktu untuk melupakan dan membuang jauh-jauh perasaan cintanya tersebut untuk Anita.


Entah berapa lama waktu yang di butuhkan Raja, tapi untuk saat ini dia perlu menjauh dari Anita.


Malam harinya di rumah, Anita nampak termenung di depan halaman rumah sambil memegang sesuatu di tangannya.


Lalu tiba-tiba Lolita datang dan melihat sahabatnya itu sedang termenung sendirian sambil menatap undangan yang tadi ingin Anita berikan pada Raja.


"Itu dia" ucap Lolita saat mencari-cari keberadaan sahabatnya tersebut dan menemukannya.


"Tapi... sepertinya dia sedang melamun. Apa yang dia pikirkan" ucap Lolita merasa penasaran.


Kemudian dia segera melangkahkan kakinya dan menghampiri sahabatnya itu.


"Hey.... apa yang sedang kau lamunkan?" ucap Lolita sambil mengagetkan Anita.


"Loli... Kau disini?" ucap Anita pelan dan biasa saja sambil melihatnya, meski Lolita mengagetkannya.


"Kenapa melamun disini?" ucap Lolita.


"Dan... kenapa kau malah memegang undangan ini. Coba ku lihat, untuk siapa undangan ini?" lanjut Lolita sambil menarik undangan yang di pegang Anita dan melihat nama penerimanya.


"Raja" ucap Lolita menyebut nama penerima undangan tersebut.


"Kenapa kau belum memberikannya?" lanjut Lolita terus bertanya pada Anita.


"Tadi siang aku ingin memberikannya. Tapi.. " ucap Anita nampak kembali termenung sesaat.


"Tapi kenapa?" ucap Lolita kembali bertanya.


"Tapi aku tidak tahu. Beberapa hari ini, dia seperti menjauh dari ku. Dan aku juga bingung apa penyebabnya" ucap Anita merasa bingung.


"Jadi karena itu kau tidak berani bicara langsung dan memberikan undangan ini?" ucap Lolita yang di jawab anggukan pelan oleh sahabatnya tersebut.


"Ya sudah... sini biar aku saja yang memberikannya" ucap Lolita kembali sambil menawarkan diri untuk memberikan undangan itu pada Raja.


"Tapi... Apa kau masih mengingat Raja?" ucap Anita, merasa sudah lama dia tidak mempertemukan kembali Raja dengan sahabatnya tersebut.


"Tentu saja aku masih ingat. Bahkan beberapa hari yang lalu aku... " ucap Lolita dengan sedikit antusias, namun tiba-tiba dia menghentikan ucapannya tersebut saat teringat dia pulang larut malam karena Raja.


Tentu hal itu tidak ingin sampai Anita tahu apalagi terdengar oleh daddy nya.


"Ehmm..?" ucap Anita sambil mengernyitkan dahinya menunggu kelanjutan ucapan Lolita tersebut.


"Ahh.. tidak... lupakanlah" ucap Lolita saat menyadari hampir keceplosan.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu aku masuk kamar duluan, kau juga cepatlah masuk di luar dingin" ucap Lolita terburu-buru sambil menyembunyikan sesuatu dan menghindari pertanyaan dari Anita.


"Tunggu Loli... Kau tadi mau bicara apa?" ucap Anita sedikit penasaran. Tapi Lolita tidak menanggapinya dan lebih memilih menghindarinya.


"Aneh... sepertinya dia tadi ingin bicara sesuatu. Tapi..." ucap Anita berbicara sendiri saat dirinya di tinggal oleh Lolita.


"Kau bicara dengan siapa sayang?" ucap Alex yang tiba-tiba datang dan mendengar Anita berbicara sendiri.


"Ah... tidak sayang" ucap Anita menanggapi suaminya tersebut.


"Kamu sudah pulang, sayang. Bagaimana meetingnya?" ucap Anita sambil menghampiri Alex yang baru pulang dari meeting malamnya.


"Sayang... Aku merindukan mu" ucap Alex segera memeluk Anita tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu.


"Meetingnya berjalan dengan lancar. Tapi pikiranku terus tertuju padamu, sayang" lanjut Alex mulai gombal lagi pada istrinya sambil tetap memeluknya, tidak ingin lepas.


"Sayang... kau bisa saja" ucap Anita menanggapi ucapan suaminya.


"Tapi aku serius.... Dan aku sudah tidak sabar menunggu resepsi peresmian pernikahan kita. Supaya orang lain tahu, kalau kamu adalah milikku" ucap Alex pada istrinya.


"Sayang.. terima kasih" ucap Anita berterima kasih, merasa begitu di cintai oleh Alex sambil memeluk Alex dengan erat.


"Kenapa kau tiba-tiba berterima kasih?" ucap Alex merasa bingung sambil melihat wajah istrinya yang tiba-tiba bersedih.


"Ehh... kenapa kau malah bersedih begini, sayang. Apa aku menyakiti perasaan mu?" ucap Alex tambah bingung.


Sementara Anita hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan rasa harunya yang tiba-tiba muncul.


"Tidak sayang.... aku tidak bersedih. Aku hanya merasa bahagia karena mendapatkan laki-laki seperti kamu" ucap Anita jujur, bukan gombalan.


"Ehmm... sayang kau pintar menggombal juga rupanya" ucap Alex mengira Anita sedang menggombalinya balik.


Namun Anita tidak begitu memperdulikan ucapan Alex tersebut, dia lebih memilih kembali untuk memeluk Alex.


Membuat Alex tertegun sesaat dan menyadari bahwa ucapan Anita bukan hanya sekedar gombalan belakang.


Kemudian dia pun segera membalas pelukan Anita yang mencintainya begitu tulus dan dalam.


"Sepertinya aku tahu kenapa kak Raja mulai menghindari kamu Anita. Bagaimana dia sanggup menatap orang yang dicintainya akan segera meresmikan pernikahannya" ucap Lolita berbicara sendiri merasa tahu apa yang menyebabkan Raja menghindari sahabatnya tersebut.


"Tapi itu lebih baik. Bagaimana pun juga cepat atau lambat, kak Raja tetap harus menjauh dan menjaga jaraknya" lanjut Lolita berbicara sendiri.


"Sebenarnya aku kasihan juga dengan kak Raja, tapi bagaimana pun kamu bukan jodoh Anita. Jadi terimalah nasibmu kak Raja. Siapa tahu kita berjodoh... hehehe..." ucap Lolita kembali sambil mengatakan candaan di akhir kalimat untuk dirinya sendiri.


"Sudahlah, lebih baik aku temui dia besok setelah pulang kerja dan memberikan undangan ini padanya" lanjut Lolita berbicara.


Kemudian dia pun segera membaringkan tubuhnya dan tidur di atas kasur empuknya.


Sementara itu, Anita dan Alex sudah berada di dalam kamar. Anita sambil menyiapkan pakaian tidur untuk Alex, dia segera menyuruh suaminya untuk mandi dan bersih-bersih setelah seharian bekerja dan baru pulang.


Sementara itu Raja di apartemennya nampak sedang menerima telpon dari ayahnya.


"Gimana, Raja. Kapan kamu akan membawa pacar mu ke rumah. Mami mu sudah berkali-kali menanyakan hal yang sama pada papi. Apa kamu ingin papi bantu carikan jodoh untuk mu?" ucap tuan Hartono pada anaknya di ujung telpon.


"Tidak perlu, Pi... Memangnya ini jaman Siti Nurbaya, masih jaman dijodoh-jodohkan" ucap Raja pada ayahnya.


"Papi tenang saja... Lagi pula aku sudah punya pilihan sendiri" lanjut Raja berpura-pura sudah memiliki seorang idaman wanita pilihannya sendiri.


"Kalau begitu, kapan kamu akan membawanya. Apa kamu sudah tidak perduli pada mami mu itu?" ucap tuan Hartono sambil menyinggung kondisi ibunya tersebut.


"Bukan begitu, Pi... Sudah Raja bilang, Papi tenang saja. Raja akan secepatnya membawa pacar Raja untuk bertemu mami" ucap Raja mencoba meyakinkan ayahnya tersebut.


"Ya sudah Pi, Raja tutup dulu telponnya. Nanti kita bicarakan lagi" ucap Raja mengakhiri panggilan telepon ayahnya, mencoba menghindari perbincangan itu.


Kemudian Raja pun menutup telponnya, dan pak Hartono hanya dapat menggelengkan kepalanya, merasa tahu dengan keras kepala anaknya tersebut.


Keesokan harinya, setelah Lolita pulang dari kerjaannya, dia berniat untuk mengantarkan undangan peresmian pernikahan ayah dan sahabatnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Lolita bertemu dengan security yang waktu itu bertemu dan membantunya membawakan Raja ke tempat tinggalnya di gedung tersebut.

__ADS_1


Beruntung security itu masih mengenali wajah Lolita. Dan mengantarkan Lolita ke apartemen milik Raja yang sebelumnya dia lupa Raja menempati pintu nomer berapa.


Setelah dia sampai ke depan pintu apartemen milik Raja, security itu pun segera pergi dan meninggalkan Lolita sendiri di tempat.


Namun mendadak Lolita tiba-tiba merasa gugup. Dia mencoba menenangkan perasaannya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu apartemen milik Raja.


Setelah ketenangannya mulai kembali lagi, Lolita perlahan memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.


"Tok... tok... tok..." suara pintu di ketuk oleh Lolita.


Beberapa saat tidak ada jawaban, Lolita kembali mengetuk pintu lagi. Dan perlahan-lahan pintu pun mulai terbuka.


"Kak Ra..." ucap Lolita saat pintu mulai terbuka dan mengira yang membuka pintu tersebut adalah Raja.


Dan ternyata yang membuka pintu itu adalah seorang wanita yang nampak awet muda dan masih terlihat cantik dan anggun.


"Maaf tante... Apa benar ini tempat tinggalnya kak Raja?" ucap Lolita pada orang yang telah membuka pintu tersebut.


"Kak Raja?" ucap orang tersebut nampak sedikit heran.


"Iya benar. Ini tempat tinggal Raja dan saya mami nya... Kamu sendiri siapa, ya?" lanjut orang tersebut berbicara dengan ramah, yang ternyata dia adalah nyonya Maia ibu dari Raja.


Rupanya dia datang ke apartemen milik anaknya tersebut untuk menagih janji Raja yang akan memperkenalkannya pada pacarnya.


Sementara itu, nyonya Maia melihat Lolita dengan intens dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seolah dia sedang mendeteksi siapa Lolita sebenarnya.


Kemudian dia melihat wajah Lolita yang cantik jelita dan dengan wajahnya yang seperti itu, nyonya Maia mengira bahwa Lolita adalah pacar dari anaknya.


"Cantik sekali perempuan ini... apa dia perempuan yang mau di kenalkan Raja padaku?" ucap nyonya Maia dalam hati sambil tetap fokus menatap Lolita dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Dia mengira Lolita yang ada di hadapannya saat ini adalah pacar Raja, karena selama ini yang dia tahu anaknya tersebut tidak pernah melihat punya teman wanita apalagi sampai datang ke apartemennya langsung.


"Perkenalkan, tante. Nama saya Lolita. Saya kesini un.... " ucap Lolita pada nyonya Maia, sambil hendak mengambil undangan yang ada di dalam tasnya.


Tapi tiba-tiba, suara Raja terdengar dari dalam apartemen sehingga membuat Lolita tidak jadi untuk mengeluarkan undangan tersebut.


"Siapa yang datang, Mi?" ucap Raja dari dalam apartemen yang baru keluar dari dalam kamar mandi sambil mengucek-ngucek rambutnya yang masih nampak basah.


"Ayo kamu masuk dulu... tidak baik anak perempuan menunggu di depan pintu" ucap nyonya Maia pada Lolita sambil menarik tangan Lolita dan menyuruhnya masuk ke dalam.


"Tapi tante... saya hanya ingin... " ucap Lolita hendak menjelaskan maksud kedatangannya ke tempat tersebut dan hendak ingin segera pergi.


"Sudah, ayo kamu masuk dulu" ucap nyonya Maia sedikit memaksa Lolita untuk masuk lebih dulu.


"Kamu?" ucap Raja saat melihat kedatangan Lolita.


Membuat nyonya Maia bertambah yakin bahwa Raja memang ada hubungan spesial diantara mereka saat melihat reaksi Raja yang mengenali Lolita.


"Ngapain kamu kesini... dan dari mana kamu tahu tempat tinggal ku?" ucap Raja nampak sedikit kesal saat melihat, tiba-tiba ada anak dari orang yang telah merebut cintanya.


"Tentu saja aku tahu... Apa kak Raja lupa, siapa yang sudah mengantar kakak saat mabuk waktu itu?" ucap Lolita berterus terang tanpa memperdulikan ada orang lain di antara mereka yang dapat mendengarkannya.


Bahkan dia tidak perduli bahwa yang mendengarkannya adalah ibu dari Raja.


"Jadi yang mengantarkan aku malam itu, kamu?" ucap Raja merasa sedikit terkejut sambil menatap Lolita.


Sementara itu, nyonya Maia yang mendengar anaknya pertama kali mabuk-mabukan merasa terkejut dan langsung marah pada anaknya itu.


"Raja... Apa itu, benar?" ucap nyonya Maia memastikan dan menampakan wajah marahnya.


"Bagaimana kamu bisa mabuk dan sampai di antar oleh seorang perempuan?" lanjut nyonya Maia berbicara pada anaknya.


"Tit... tidak Mi. Bukan begitu. Mami salah paham" ucap Raja pada ibunya saat menyadari kehadiran ibunya yang pasti mendengar apa yang tengah di ucapkan nya pada Lolita.


"Mami masih bisa mendengar dengan baik, Raja. Bagaimana mami bisa salah paham" ucap nyonya Maia merasa kesal karena hendak di bodoh-bodohi.


"Lalu tadi itu apa?. Dia bilang, dia mengantarkan kamu saat mabuk malam-malam" ucap nyonya Maia dengan raut wajah sedihnya.


"Aduuh... sepertinya aku salah bicara. Bagaimana ini?" ucap Lolita saat melihat Raja mulai mencoba menenangkan ibunya untuk tidak salah paham, meskipun sebenarnya apa yang di katakan Lolita adalah benar.

__ADS_1


"Ehhm... maaf tante. Jangan salah paham, maksud saya kak Raja mabuk karena saya ngajak dia naik kora-kora dan ternyata dia gak kuat dan mabuk, begitu ceritanya" ucap Lolita berbohong berniat membantu Raja supaya tidak membuat ibunya marah.


__ADS_2