Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Jalan Bareng


__ADS_3

Sementara itu Anita sudah berada di dalam kosannya. Namun dia teringat kembali saat kejadian dimana tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu milik Alex.


Meskipun tidak ada siapa-siapa di kosannya tapi ingatannya tentang hal itu membuatnya merasa malu sendiri dan sesekali mengusap-usap tangannya seolah terkena kotoran, merasa geli sendiri di balik pintu kosannya.


"Ya Tuhan.... Anita... kenapa kau ceroboh sekali. Bisa-bisanya tanganmu ini menyentuh milik tua bangka sialan itu... iiiihh jijik... geli.." ucap Anita berbicara sendiri sambil mengusap-usap tangannya "aduuhhh... mana masih terasa lagi... hiiihh" lanjut Anita mengatakan apa yang masih terasa di tangannya sambil *******-***** tangannya cepat di udara.


Sementara itu di tempat lain Raja merasa khawatir pada Anita. Kemudian dia berniat untuk menelpon Anita menanyakan keadaannya.


Tiba-tiba terdengar suara nada dering telpon milik Anita di tasnya. Segera ia mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang telah menelponnya sambil terus fokus mengibas-ngibas tangannya, geli. Dengan sesekali terlihat bibir manyunnya.


"Hallo...." sapa Anita.


"Hallo, Nit. Ini aku, apa kamu sudah sampai?" tanya Raja di ujung telpon Anita.


"Oh... iya Za. Aku sudah sampai kosan. Kamu sendiri bagaimana, apa sudah sampai juga?" ucap Anita kemudian bertanya kembali sambil menghentikan tangannya yang dari tadi dia kibas terus.


"Iyah... aku juga sudah sampai beberapa menit yang lalu. Oh iya, bagaimana. Apa kamu tadi menikmati makan malamnya?" ucap Raja dan menanyakan makan malam tadi.


"Ehm... Iya... makanannya enak. Aku suka" ucap Anita sedikit berbohong, tidak mau mengecewakan Raja. Padahal sebenarnya dia tidak dapat menikmati makanannya sama sekali, karena ada Alex di sampingnya yang membuatnya tidak fokus pada Raja ataupun pada makanannya.


"Apa kamu yakin?" tanya Raja memastikan, karena sebenarnya juga Raja memperhatikan Anita yang terlihat tidak nyaman saat Alex berada di antara mereka. Bahkan Raja dapat melihat hanya beberapa kali Anita memakan hidangan yang ada di atas meja mereka.


"i..iya aku yakin" Anita sedikit gugup karena merasa sedang berbohong.


"Ok.. baiklah" ucap Raja tidak ingin membuat Anita merasa tidak nyaman.


"Oh ya, bagaimana kalau besok aku jemput dan antar kamu ke kerjaan lagi?" tanya Raja menawarkan diri untuk menjemput Anita besok.


"Tidak-tidak.... jangan Za. Nanti aku gak enak sama yang lain, kalau sampai ada yang melihat aku di antar sama kamu. Mereka tahunya kan kamu bos, dan aku hanya cleaning servis di hotel itu. Apa jadinya kalau mereka sampai berpikiran yang tidak-tidak nanti" tolak Anita sambil menjelaskannya.


"Tapi, Nit. Aku kan... " ucap Raja mencoba membujuknya tapi terhenti oleh Anita yang berusaha untuk menolak kembali.


"Enggak Za... Aku mohon. Aku tidak mau mendengar orang-orang berkata yang tidak-tidak tentang kita. Kalau kamu tetap memaksa, aku minta maaf jika aku harus melupakan kamu sebagai temanku" ucap Anita dan sedikit mengancam.


"Ok baiklah... Tapi aku tidak mau sampai pertemanan kita berakhir sampai disini" ucap Raja mengalah.


"Terima kasih Za. Dan satu lagi, kalau kita sampai bertemu di tempat kerja, aku mohon kamu bersikap sewajarnya. Layaknya seorang bos terhadap bawahannya. Aku harap kamu mengerti" ucap Anita kembali mengingatkan siapa dirinya dan Raja di tempat kerjaan.


"Iya, Nit. Aku mengerti" lirih Raja pasrah, sebenarnya dia ingin menolak apa yang dikatakan Anita padanya tapi dia juga tidak ingin mempersulit Anita.

__ADS_1


Kemudian keesokan harinya dan untuk beberapa hari ke depan Anita terus mendapatkan shift pagi.


Selama beberapa hari ini Anita bekerja dengan lancar dan damai. Namun tidak melupakan kebersamaannya dengan Lolita sahabatnya.


Seperti diakhir pekan ini, Lolita kembali mengajak Anita untuk jalan dan makan bersama. Tentu Anita mengiyakannya, namun dalam waktu yang bersamaan Raja mengirimkan pesan untuk Anita, mengajaknya jalan bersama.


Dan hal itu membuat Anita merasa bingung, dia merasa kenapa harus mendapatkan situasi yang sama seperti waktu yang lalu. Harus memilih salah satu yang penting dari keduanya.


Namun Anita berpikir kembali, bagaimana kalau Raja ikut bersamanya dan juga Lolita. Dengan begitu dia tidak perlu memilih jalan dengan siapa. Dan dia juga bisa memperkenalkan Lolita pada Raja begitupun sebaliknya.


Akhirnya waktu untuk liburan telah tiba setelah beberapa hari Anita menyelesaikan pekerjaannya.


Beruntung saat itu Raja menyetujui ide Anita untuk jalan dan mengajak sahabatnya ikut bersama mereka, begitupun dengan Lolita menyetujui hal itu.


Kemudian mereka sudah sepakat untuk di jemput oleh Raja saja. Di awali dengan menjeput Anita di kosannya lalu kemudian menjemput Lolita nanti di rumahnya.


Sementara itu di rumah Lolita, terlihat dia sedang bersiap-siap. Kemudian dia sadar kalau kakak sepupunya sedang menginap di rumahnya.


Beberapa hari ini Rio terus-terusan menginap di rumah Lolita, berharap Anita akan ke rumah tersebut dan dia bisa bertemu dengannnya.


Dan hal itu sudah dapat di tebak oleh Lolita. Meskipun sebelumnya Lolita sudah pernah mengusir kakak sepupunya tersebut, namun lagi-lagi dia kembali dan hanya menganggap omongan Lolita sebagai angin lalu.


Diam-diam Lolita bersiap-siap supaya tidak ketahuan oleh Rio, meskipun Lolita tahu jam segitu Rio masih terlentang tidur bersama guling dan bantalnya.


Namun tiba-tiba daddynya melihat dan mengejutkan Lolita yang sedang mengendap-endap turun ke bawah seperti seorang maling di rumahnya sendiri.


Tentu hal itu membuat Alex merasa bingung dan mulai berteriak bertanya pada anaknya tersebut.


"Loli sayang... Ngapain kamu mengendap-endap begitu. Seperti seorang pencuri saja" teriak Alex dari atas tangga yang tadi keluar dari kamar dan tanpa sengaja melihat anaknya berprilaku aneh seperti itu.


"Aduuhh... dad diam" ucap Lolita pelan sambil memberi kode, menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


Tapi jarak yang cukup jauh dan Lolita bersuara dengan pelan membuat Alex tidak dapat mendengarnya meskipun Lolita sudah memberi kode. Namun Alex masih merasa tidak mengerti kenapa anaknya harus menyuruhnya diam di rumahnya sendiri.


"Sayang.. kenapa kamu menyuruh daddy diam. Kamu ini ada-ada saja. Lagipula kamu mau pergi kemana?" Alex malah semakin penasaran dan masih dengan suara berisiknya.


Tentu hal itu membuat Rio yang sedang tidur di kamar bawah terbangun. Dan saat mendengar pamannya bertanya mau pergi kemana pada Lolita, seketika membuat Rio terperanjat, bangun dan penasaran kalau kemungkinan sepupunya tersebut akan pergi bersama sahabatnya, mengingat hari ini adalah akhir pekan.


Kemudian dengan cepat-cepat Rio bangun dari kasur empuknya dan melempar gulingnya yang tadi sempat di peluknya dengan mesra ke sembarang arah, takut Lolita sudah pergi.

__ADS_1


Segera Rio membuka pintunya dan cepat-cepat menghampiri adik sepupunya tersebut.


Membuat Anita merasa kesal pada daddynya karena sudah bersuara keras hingga membuat Rio terbangun dan kini dugaannya benar membuat Rio bertanya-tanya dia akan pergi kemana dan dengan siapa.


"Lit.. kamu mau pergi. Sama siapa?" tanya Rio antusias saat sudah berada di hadapan Lolita dengan wajah baru bangun dan kolor tidurnya tanpa memakai baju atasan.


"Iiiihh ... kak Rio bau tahu mulutnya" celetuk Lolita saat Rio mulai berbicara di hadapannya, namun Rio tidak memperdulikan hal itu "Iya aku mau pergi. Kenapa emangnya?" judesnya sambil pura-pura tidak tahu kalau Rio pasti akan ikut jika tahu dia akan pergi dengan siapa.


"Pasti kamu akan pergi bareng Anita, kan. Aku ikut ya" harapannya sambil meminta untuk ikut bersama Lolita.


"Enggak. Siapa bilang" Lolita mencoba mengelak.


"Kamu jangan bohong, Lit. Aku akan tetap ngikutin kamu loh, ya" ucap Rio tidak percaya.


Sementara itu Alex yang masih di atas dan melihat tingkah laku ponakannya yang hanya menggunakan kolor dan berhadapan langsung dengan anaknya, membuatnya merasa kesal dan tidak sopan.


"Heehh... kau ini. Apa kau tidak malu, lihat tubuhmu itu hanya menggunakan kolor dan jam segini baru bangun lagi" bentak Alex pada ponakannya saat sudah berada di hadapannya.


"Cepat kau mandi. Dan gunakan pakaian mu itu dengan benar kalau tidak ku pukul kau" lanjut Alex dan hendak ingin memukul Rio dengan sandal rumahnya yang Alex gunakan.


"Ampun om... ampun" ucap Rio saat melihat pamannya hendak membuka sandal dan ingin memukulnya.


"Lita... kamu jangan pergi dulu. Pokoknya aku ikut kamu" teriak Rio sambil berlalu meninggalkan Lolita dan Alex menuju kamarnya untuk segera mandi dan bersiap-siap.


Sementara itu, terlihat wajah kesal Lolita dan bete karena ketahuan dan terpaksa harus membawa kakak sepupunya tersebut. Tapi sebelum itu Lolita merengek pada daddynya.


"Dad.. lihat itu. Aku gak mau ngajak kak Rio" rengek Lolita pada ayahnya.


"Sayang sudahlah. Tidak apa-apa, lagian kan dia kakak sepupu kamu. Sekalian biar bisa jagain kamu nanti" ucap Alex mencoba menenangkan dan lebih mendukung Rio untuk ikut bersama anaknya, takut terjadi sesuatu pada Lolita.


"Daddy.... aku kan jalan sama sahabat aku. Bukan sama orang yang baru di kenal" rengek Lolita, kembali meyakinkan ayahnya bahwa dia pergi dengan sahabatnya dan tidak mungkin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Tetap saja sayang... Sudah kamu tunggu saja Rio, ya" ucap Alex tidak mau di bantah.


"Tapi dad. Biasanya kan aku juga bisa pergi sendiri" ucap Lolita berusaha kembali meyakinkan ayahnya untuk mengizinkannya pergi tanpa Rio.


"Sayang... Kamu mau pergi atau tidak?"


"Mau dad"

__ADS_1


"Kalau begitu. Kamu pergi di temani Rio, ok" ucapnya tegas dan tidak menerima bantahan lagi namun dengan nada yang tidak membuat Lolita tersinggung.


__ADS_2