
Setelah beberapa menit berendam, Alex segera keluar dari bak mandi untuk membersihkan diri.
Namun dia lupa membawa handuk untuk mengeringkan badannya.
Dia mulai bingung, kenapa dia sampai lupa membawa handuknya. Tapi dia tidak terlalu ambil pusing, Alex merasa di kamarnya tidak ada siapa-siapa jadi dia tidak masalah mengambil handuknya sendiri tanpa berbusana.
Sementara itu Anita yang melihat obat Alex ketinggalan, segera dia menaiki tangga dan hendak memberikan obatnya pada Alex.
Namun saat dia ingin mengetuk pintu kamar Alex, rupanya pintu kamar tersebut tidak di kunci dan tidak di tutup rapat.
Membuat Anita memberanikan diri untuk masuk namun tentunya setelah dia permisi, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Anita berpikir mungkin Alex masih di dalam toilet dan dia berpikir untuk menaru langsung obat tersebut di atas meja di samping tempat tidur.
Namun dalam waktu yang bersamaan saat Alex keluar dari dalam kamar mandi dan Anita berbalik badan hendak ingin kembali ke luar kamar, tiba-tiba tanpa mereka sangka, Anita melihat Alex tanpa berbusana sama sekali di hadapannya.
Sontak membuatnya berteriak dan Alex yang baru menutup pintu kamar mandi ikut berteriak juga sambil repleks berusaha menutup aset berharganya.
Namun Anita yang merasa kaget dan malu sendiri malah terjatuh ke atas ranjang saat dia berusaha menutup matanya dan berbalik dari hadapan Alex.
"Aaaahh... tidaak" teriak Anita saat melihat tubuh Alex yang tanpa busana.
"Aahhh... " Alex ikut berteriak saat menyadari ada Anita di hadapannya.
"Gubrak..." suara tubuh Anita yang terjatuh di atas ranjang sambil tetap berteriak, saat dia berbalik hendak menutup pandangannya dari hadapan Alex.
"Kenapa kau bisa ada di kamarku. Sejak kapan kau ada disini. Dasar gadis ceroboh, kenapa tidak mengetuk pintu dulu" kesal Alex merasa malu, setelah dia buru-buru berlari mengambil handuk kimono dan mengenakannya saat Anita tertelungkup di atas ranjangnya.
"Ma..maaf tuan. Aku tidak tahu, tadi aku juga sudah permisi dan mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Aku hanya ingin mengantarkan obat yang tuan tinggalkan di bawah" ucap Anita jujur sambil masih menutup wajahnya dengan selimut yang ada di ranjang.
"Tapi tetap saja kau tidak sopan main masuk saja. Apa kau sengaja ingin melihat tubuhku lagi?" ucap Alex masih merasa kesal karena malu sudah dua kali Anita melihat tubuhnya tanpa busana sama sekali alias bugil.
"Ti..tidak tuan. Lagi pula tuan kenapa tidak menutup pintu kamar rapat-rapat kalau kebiasaan tuan seperti itu" ucap Anita mengelak.
__ADS_1
"Eeehh... berani-beraninya kau membantah dan menuduhku. Terserah aku, ini rumah rumahku, dan kamar kamar ku. Cepat kau bangun dari ranjangku!" Hardik Alex pada Anita.
"I..iya tuan. Maaf" ucap Anita sambil tetap berusaha tidak ingin memandang Alex dan berjalan membelakanginya dengan pelan-pelan menuju keluar kamar.
"Dasar sial. Lagi lagi dia melihatku bugil. Membuatku merasa malu saja. Hhaaah..." ucap Alex merasa tidak terima tubuhnya lagi lagi harus terlihat bugil di hadapan Anita, dan diakhiri dengan mengacak rambutnya kesal.
Sementara itu, Anita yang sudah berlari dari kamar Alex hingga sampai di dapur, merasa di kejar-kejar setan dengan hati berdebar-debar.
"Ya Allah... kenapa lagi lagi aku melihatnya seperti itu" ucap Anita sambil menarik nafas tak percaya.
"Lagian dia kenapa ceroboh sekali, bisa-bisanya dia keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan handuk. Meskipun itu kamarnya sendiri, tapi tetap saja dia tidak boleh melakukannya. Lihat saja sekarang, aku jadi malu gara-gara kelakuannya. Dasar pria tua gila" lanjut Anita menggerutu.
Kemudian segera mengambil air dan meminumnya. Berharap perasaannya kembali normal lagi. Lalu kembali ke kamarnya sendiri.
Sementara itu di tempat lain, Raja sedang berada di club malam. Dia mencoba menghilangkan rasa rindunya pada Anita dengan minum-minum, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Selama beberapa hari ini dia kembali tidak bisa menghubungi Anita, membuatnya prustasi dan tidak bisa menghapus bayang-bayang Anita dari pikirannya.
Hingga akhirnya Raja melampiaskannya dengan minuman, berharap apa yang tengah di rasakannya sedikit menghilang.
"Anita, kenapa kamu begitu susah di hubungi. Membuatku terus merindukanmu. Apa kau sengaja melakukan ini padaku?" ucap Raja sambil menenggak minumannya, kemudian pingsan karena tidak terbiasa melakukannya.
Beruntung ada asistennya yang selalu mengawasi dan segera membawa Raja kembali ke apartemennya.
Beberapa hari kemudian, Anita mendapat pesan singkat dari Raja. Dan dia hendak meminta izin pada Alex untuk keluar sebentar.
Namun dia tidak memberitahu bahwa dirinya akan bertemu dengan Raja. Dan karena hari itu bertepatan dengan hari libur Anita, jadi Alex mengizinkannya untuk pergi keluar.
Tapi diam-diam Alex menyuruh seseorang untuk mengikutinya. Entah kenapa Alex tidak mau terjadi sesuatu lagi pada Anita, dia ingin menjaganya namun tanpa sepengetahuan Anita.
Alex masih belum sadar dengan perasaannya, dia pikir itu hanya kekhawatirannya semata.
Namun saat seseorang itu menginformasikan bahwa Anita keluar dan jalan dengan seorang pria, mendadak emosinya kembali memuncak.
__ADS_1
Dia merasa Anita sedang mengkhianatinya, padahal dia sendiri tidak pernah menganggap Anita siapa-siapanya. Tapi saat Anita dekat dengan pria lain, seolah-olah Anita adalah miliknya yang tidak boleh di dekati oleh laki-laki lain.
Terlebih saat orang suruhannya mengirimkan potret Anita pada Alex, yang mana foto tersebut memperlihatkan Anita yang tangannya di genggam oleh Raja. Membuatnya repleks membanting handphonenya sendiri, tidak ingin berlama-lama melihat foto tersebut yang di anggapnya sedang bermesraan.
"Kurang ajar, apa-apaan dia itu. Apa dia sengaja tidak perduli bahwa dia sudah menikah. Meskipun aku tahu dia tidak ingin menikah denganku, tapi dia tidak berhak mempermainkan status pernikahan yang telah terjadi diantara kita" ucap Alex setelah melempar handphone di tangannya.
Dia merasa marah atas nama status pernikahan, tidak mau sadar bahwa dirinya sedang cemburu melihat Anita bersama Raja.
"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, dasar gadis licik" lanjut Alex berbicara sendiri dengan wajah dinginnya yang penuh amarah.
Berburuk sangka pada Anita tanpa ingin mencaritahu kebenarannya terlebih dahulu.
Sementara itu di sebuah cafe, tampak Raja sedang menggenggam tangan Anita. Raja berniat untuk mengutarakan isi hatinya.
"Anita, selama ini aku sudah mengenal mu dengan baik. Dan aku juga sudah... jatuh cinta sama kamu" ucap Raja setelah mengumpulkan keberaniannya. Dan setelah tadi berlama-lama mengobrol.
"Aku tidak akan memintamu sebagai kekasihku, tapi aku akan memintamu menjadi istriku, pendamping hidupku dan masa depanku" ucapnya jelas dan penuh ketulusan dengan tangan masih menggenggam jari-jari lentik Anita.
Sementara Anita yang di perlakukan seperti itu dan mendengar ungkapan isi hati Raja padanya, hanya terdiam dan sempat tersenyum merasa tersentuh dengan apa yang di lakukan Raja padanya.
Namun ketika Raja bertanya dan meminta Anita menikah dengannya. Tiba-tiba pikirannya mengingatkan Anita pada pernikahannya dengan Alex.
Meskipun pernikahan tersebut terbilang dadakan dan dengan keterpaksaan tapi hal itu tetap membuat Anita merasa dilema dan serba salah untuk menjawab pertanyaan Raja padanya. Meski sepertinya Anita merasa senang saat Raja mengungkapkan perasaannya.
"Jadi... Maukah kamu menikah denganku?" lanjut Raja saat melihat senyuman Anita yang meyakinkannya untuk berbicara hal tersebut.
Namun seketika senyuman Anita meredup saat bayangan pernikahannya dengan Alex melintas di pikirannya.
"Ma..maafkan aku Za. Aku tidak bisa" ucap Anita lirih sambil menarik tangannya perlahan, terlihat kesedihan juga di wajah Anita yang tidak ingin di perlihatkannya pada Raja.
"Maaf aku harus pergi" lanjut Anita sambil perlahan berdiri dan pergi meninggalkan Raja sendiri dengan sekuat tenaga menahan air matanya supaya tidak terjatuh di hadapan Raja.
Kemudian Anita segera keluar dari cafe tersebut dengan tangisan yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
__ADS_1
Anita duduk di kursi taman yang tidak jauh dari kafe tersebut dan kebetulan tidak ada orang di tempat itu.
Anita mulai menangis, merasa dilema dengan perasaannya. Tidak dapat membalas perasaan Raja, yang mana Anita pikir dia juga menyukai Raja sebagai seorang gadis terhadap laki-laki yang di sukainya. Namun hati dan pikirannya mengingatkan dia pada Alex, yang sekarang dapat di bilang sebagai suaminya.