Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Vol.2 Kegalauan & Permohonan


__ADS_3

Bams mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang


“kamu dimana?” ketika sambungan telpon telah tersambung


“ya di kantor lah sayang!” jawab Kiky lembut


“aku kesana sekarang!” ucap Bams


“apa? Ak” belum selesai Kiky bicara, Bams sudah menutup panggilannya


Kiky menatap sejenak pada kedua bawahannya.


“tunda meeting dua jam kedepan” ucapnya dengan wajah datar


“baik nona!”


Kiky bukannya senang mendengar Bams untuk pertama kali menemui dia di Kantornya, tapi pikirannya justru khawatir karena Bams yang sekarang telah berubah.


Dulu selalu Kiky yang meminta bertemu, dan sekarang ketika Bams meminta, ia justru akan menjadi sebuah pelampiasan kekesalan Bams semata. Seperti saat malam ulang tahun Ryo, Kiky bahkan tidak bisa bekerja selama dua hari akibat ulah keberingasan percintaan Bams.


Ada apa ya? Pasti ada sesuatu? Benak pikiran Kiky


Ia menghubungi Ryo.


“halo” jawab Ryo


“apa Bams baru ketemu kamu sama Aira?” tanyanya langsung


“wahh.. Bams lapor ya sekarang!” goda Ryo


“ah.. bukan begitu.. tadi dia bilang ingin ketemu kamu” kilah Kiky


“baru aja dia pulang, mungkin sekitar satu jam yang lalu” jelas Ryo


“oo...” Kiky meragu


“Ky.. jangan terlalu posesif, nanti dia gak nyaman” saran Ryo


“hemm” jawabnya singkat


“ya udah aku tutup, aku lagi di kantor soalnya” jelas Kiky


“bye”


“bye”


Gugup menyelimuti tubuhnya, bukan gugup seperti dulu ketika mendengar suara Bams, atau melihat Bams dan berdiri di depannya, tapi gugup karena praduganya yang berpikir Bams akan kembali menjadikan dirinya bukan sebagai kakasih, namun lebih pada sebuah objek pelepasan kekesalan yang berujung pada percintaan yang menyiksa.


Sebuah mobil sport mewah memasuki area gedung perkantoran perusahaan besar. Lelaki tampan yang turun dengan tegap dan gagah mengenakan kaca mata hitam berjalan menuju lobi dan langsung menuju lift. Semua security dan resepsionis tak bertanya karena mereka mengetahui sosok tampan tersebut adalah kekasih sang pemilik gedung.


“selamat siang tuan” sapa kedua sekretaris Kiky


“Kiky di dalam?” tanya Bams


“iya tuan”


Bams langsung masuk ke dalam kantor Kiky. Ia berjalan cepat diikuti pandangan Kiky yang sediki takut. Bams langsung menarik Kiky berdiri dan memeluknya erat, sangat erat.


“a ada apa?” tanya Kiky tergagap


Bams memejamkan matanya dan semakin erat memeluk Kiky


“ahh!” keluh Kiky merasa tubuhnya terlalu di himpit pelukan erat Bams


“lepas Bams” Kiky mencoba melepaskan pelukan erat Bams yang sekarang hampir membuatnya tak mampu bernafas.


Tapi Bams tak bergeming, masih memeluknya justru semakin erat


“aku gak bisa bernafas” keluh Kiky tapi Bams tak merespon


“Bams!!” bentak Kiky membuat Bams tersadar dan melonggarkan pelukannya


Kiky pun mampu bernafas. Nafasnya terdengar jelas


“ada apa?” tanya Kiky

__ADS_1


Tapi Bams langsung membungkam bibir Kiky dengan bibirnya, mencium dengan rakus. Membimbing tubuh Kiky ke atas meja, Kiky pun mencoba melawan.


“Bams, kita di kantor ku” lepasnya pada ciuman Bams dan turun dari meja.


Bams mencoba meraih kembali tekuk leher Kiky dan mencium kembali bibirnya. Rakus dan semakin rakus, mendorong Kiky hingga tersandar di tembok. Kiky mengerti kemana arah ciuman mereka


“hentikan!!” ucap Kiky mendorong Bams


Tapi mata Bams yang menatap tajam dan penuh amarah membuat Kiky takut dan kembali pasrah dengan ciuman panas Bams.


“aku mohon hentikan” ucap Kiky saat Bams menciumi lehernya.


“kenapa? Bukannya kamu senang dengan percintaan kita? Bukankan selama ini hanya ini yang kita lakukan?” tanya Bams masih mengungkung tubuh Kiky sedang tangannya mulai meraba paha mulus Kiky.


“tapi bukan seperti ini” tatap Kiky sayu


“kamu sudah gak menyukai ku?” tanya Bams kesal menhentikan semua gerakannya pada tubuh Kiky


“bukan.. bukan seperti itu sayang” Kiky tak berani membantah


Bams kembali melanjutkan aksinya.


“cu cukup Bams.. hentikan!” Kiky mendorong kasar tubuh Bams


Nafas Bams masih memburu menatap Kiky dengan sorot mata tak terbaca. Entah mata itu berkabut gairrah atau amarah, Kiky tak mampu lagi membacanya.


“kenapa? Apa lagi? Apa yang terjadi siang ini sampai kamu kaya gini?” tanya Kiky dengan tatapan kecewa


“apa kamu baru ketemu perempuan itu? apa kamu baru melihat mereka berdua?” tanya Kiky langsung.


Ia tak bisa lagi menutupi pemikirannya.


“kamu kesal sama perempuan itu kan? Makanya kamu hari ini kesini” ucapnya


“kamu cemburu dengan mereka kan?”


“apa maksud kamu?” tanya Bams kesal ketika dirinya terbaca oleh Kiky


“aku tahu.. aku tahu kamu mencintai perempuan itu” ucap Kiky dengan mata berkaca kaca


“kita bersama bertahun tahun, aku mencintaimu lebih dulu, tapi sejak dia ada, kamu berubah, kamu semakin gak menganggapku” ucapnya menangis


“apa aku gak pernah bisa memasuki hati kamu Bams?” tanyanya lirih


“apa aku hanya budak se**ks mu?” ucapnya lagi


“bukannya dari awal yang meminta itu kamu sendiri?” jawab Bams


“aku menyerahkannya karena aku mencintaimu, karena ingin kamu yakin bahwa aku sangat mencintaimu” ucap Kiky menatap Bams sedih dengan deraian air mata.


“jadi sekarang kamu menyesal?” tanya Bams sinis


“hiks hiks hiks..” tangisan kiky tak bisa ia tahan


“sekarang kamu malah meragukanku, bagaimana mungkin dia yang bukan siapa siapa mampu menjatuhkan hatimu? sedang aku yang bertahun tahun tak mampu sedikit pun mendapat tempat di hatimu” ucap Kiky dengan lirih dalam tangisnya


“jangan merendahkannya!” ucap Bams dingin


“jadi aku memang gak pernah ada... jadi aku bukan siapa siapa bagi kamu?”


“apa caraku mencintaimu salah? Katakan apa yang kurang denganku, katakan apa yang harus ku lakukan Bams?” tanya Kiky sedih.


Bams memalingkan wajahnya, ia menyesali dirinya ketika Kiky mengatakan semua itu.


Astaga! Ada apa denganku? Benak Bams menyadari diri.


“aku sangat mencintai kamu.. apapun akan ku lakukan untukmu, tapi jangan jadikan aku sebagai pelampiasan kecemburuan kamu pada perempuan lain.. hiks hiks hiks”


Bams mengusap kasar wajahnya, memejamkan mata dan menarik nafas berusaha mengendalikan diri. Bams tahu dia telah salah, dan dia telah menyiksa Kiky yang dengan setia mencintainya tanpa menuntut.


Kiky masih menangis dan kini tubuhnya telah luluh membuatnya berjongkok memeluk kedua lututnya.


Rasa bersalah semakin menyesakkan dada Bams melihat Kiky seperti itu. Amarah dan kecemburuan pada Aira telah membutakan nuraninya yang sekarang justru menyiksa seseorang yang telah menemaninya bertahun tahun.


Ia meraih tangan Kiky dan membimbingnya berdiri. Bams memeluk Kiky dan tangis Kiky semakin menjadi. Kini pelukan itu terasa damai, bukan pelukan yang tadi seakan menyiksanya.

__ADS_1


“maafin aku!” ucap Bams lirih.


Kiky memeluk erat Bams.


“maafin aku!” ucap Bams lagi membelai kepala Kiky.


“apa yang harus ku lakukan?” ucap Kiky disela tangisnya


“aku terlalu mencintaimu” ucapnya lagi


Bams memejamkan matanya membelai punggung Kiky lembut.


“maafin aku!” hanya kata itu yang mampu Bams ucapkan.


Ia tak mampu mengatakan dia mencintainya karena memang hatinya tak mampu membaca perasaan yang tersisip untuk Kiky.


“mungkin sebaiknya aku gak nemuin kamu dulu” ucap Bams merasa bersalah


Kiky mengeratkan pelukannya dan menggeleng di pelukan Bams.


“jangan katakan itu,... aku mohon.. jangan katakan itu” tangisnya menjadi


“aku takut aku semakin menyakitimu” ucap Bams ingin melepas pelukannya


Tapi Kiky menahannya dan kini memeluknya semakin erat. Ia terus menggeleng.


“ku mohon.. jangan meninggalkanku” ucapnya semakin sedih. Air matanya terus mengalir.


Hal itu justru membuat pertentangan baru dalam benak Bams, ada rasa pedih saat mendengar Kiky yang memohon. Rasa sakit pada benaknya yang ia artikan sebagai rasa bersalah terhadap Kiky.


Kiky melepas pelukannya dan menatap mata Bams dengan mata sayu dan sedih.


“lakukanlah.. kau bisa melampiaskan kemarahan mu pada ku.. tapi jangan tinggalkan aku, aku mohon!” ucap Kiky


Bams menggeleng menatap Kiky dengan rasa bersalah.


“lakukan Bams.. lakukan sayang.. aku mau” ucap Kiky memohon


Bams kembali memeluk Kiky. Sakit di hatinya semakin tertoreh. Ia semakin merasa bersalah dengan tatapan Kiky yang sayu. Mata itu begitu menyedihkan, mata itu membuat hatinya sakit.


“maafin aku!” kata itu terucap kembali memeluk Kiky dengan lembut. Mengecup kepalanya lembut.


“aku mohon.. lakukanlah..!” tangis Kiky


Tapi Mereka hanya saling memeluk, merasakan kembali perasaan yang sulit tergambarkan. Entah rasa bersalah atau hanya kegalauan terhadap sebuah keraguan yang tak bisa mereka baca.


Tak ada ciuman panas, tak ada percintaan, tak ada kata kata, Kiky hanya bersandar pada dada Bams. Menenangkan dirinya dan Bams.


Perasaan Bams menjadi tenang hingga ia meninggalkan kantor Kiky setelah Kiky kembali tenang dan tak memohon lagi. Hanya sebuah kecupan di kening Kiky yang terbaca oleh Kiky sebagai perasaan tulus Bams padanya. Sedang Bams masih ragu dengan dirinya sendiri.


Sementara di tempat lain, Ryo menjadi galau karena Rya yang sulit ia usir. Pertempuran mulut pun tak bisa terhindar, sedang Aira hanya menatapnya sebagai sebuah pertunjukan menyenangkan.


Drrtttt.. drrtttt.. drrrttt


Ponsel Ryo bergetar.


“Ya Om?” jawabnya


Ryo terdiam sambil menatap sang istri mendengarkan sebuah penjelasan dari panggilan yang ia terima.


“saya kesana sekarang!” jawabnya tak mengalihkan pandangannya pada Aira.


Detak jantung Ryo gugup menuju kantor sang komisaris besar Callin Grup. Kata kata yang tadi terucap saat di telpon membuatnya sedikit takut memasuki tempat itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sepertinya novel ku semakin sedikit peminatnya ya.. 


maaf ya jika ceritanya membosankan..


buat para pembaca yang masih setia, jangan lupa tinggalkan jejak like atau komentarnya ya


biar author bisa tahu masih ada yang baca atau gak nya novel ini..


Makasih semua, Love You all

__ADS_1


__ADS_2