Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Memancing


__ADS_3

Selesai mandi, Aira bingung ingin melakukan apa, di kamar itu Rya masih nyaman tertidur pulas. Kakak beradik itu malam ini bertukar kamar karena dirinya. Aira tersenyum melihat wajah polos Rya yang tertidur pulas.


Jam sudah menunjukkan pukul enam. Aira yang terlebih dahulu bangun terasa sangat lapar. Ia kembali ke dapur dan dengan sedikit sungkan, ia berencana meminta satu potong roti untuk mengisi sementara perutnya yang terus teriak.


Biasanya keluarga itu sarapan pada pukul tujuh pagi, tapi karena kejadian malam itu membuat mereka sekarang masih terlelap. Dan dapat dipastikan acara sarapan mereka pasti akan mundur.


“bi.. maaf, biasanya disini sarapan jam berapa?” tanya Aira malu malu


“biasanya jam tujuh non, tapi kayanya pagi ini mereka sarapan sekitar jam delapanan” jelas bibi


“ooo..” jawab Aira canggung tak berani bertanya mengapa.


“nona lapar ya?” tanya Bibi mendengar suara perut Aira menyapa.


Bibi yang melihat sendiri bagaimana Aira tadi malam, dan ia mengerti jika saat ini Aira pasti merasa lapar.


“hehehe.. saya boleh minta roti aja bi.. buat ganjel sementara.. gak enak nanti gak sarapan bareng mereka” Aira malu malu


“sebentar ya non, bibi bikinin roti bakar” Bibi menyiapkan


“maaf ya bi saya ngerepotin, saya laper banget soalnya” ucapnya malu malu


Perempuan paruh baya itu pun membuatnya dan memberikan pada Aira.


"Terima kasih bi.." menerima roti bakar dari bibi.


“gak papa non” ucap bibi tersenyum. Mereka yang mengetahui kejadian tadi malam dilarang keras membahas kejadian itu di depan Aira.


Saat sarapan bersama..


Harlan melirik sejenak pada Aira saat mereka menikmati sarapan bersama mereka.


Ia terlihat baik baik saja! Benak Harlan


Ryo melihat sang ayah yang melirik Aira, menggeleng kecil agar tak membuat Aira curiga.


“Ai.. kapan kapan.. kamu datang ke kantor mamah lagi ya?” pinta Camila


Aira mengangkat kepalanya dan menatap Camila yang santai sarapan. Kembali ia melirik Ryo dan Ryo mengangguk


“iya mah!” jawabnya tanpa curiga


“nanti Ryo antar mah!” jawab Ryo


“mau viral kamu?” tanya Aira menoleh


“heisss!” Ryo kesal mengingat itu


Camila tersenyum mendengar keluhan sang anak


“kapok jadi artis kamu” jawab Camila


“Cuma bentar lagi kok mah” ucap Ryo


“hem?” Camila terkejut mendengar Ryo yang mengatakan sebentar lagi.


“maksud kakak? Mau mundur dari dunia intertainment?” tanya Rya


Aira menoleh pada Ryo, matanya mengartikan ‘kenapa kamu gak cerita?’


Merasa Aira yang menoleh padanya, ia beru mengingat bahwa sekarang setiap keputusan


akan mereka ambil bersama. Ryo pun tersenyum bersalah pada Aira.


“gak Re.. bentar lagi aman ngantar istri kemana mana” jawab Ryo cengengesan


“heeeeeiii.. dasar, kirain mundur jadi artis!” gumam Rya kembali menyuap sarapannya dengan wajah kesal.


"mancing emosi aja" gumam Camila kembali menurunkan senyumannya. Merasa kecewa mendengar ucapan Ryo.


**************


Segala persiapan pernikahan diurus oleh orang kepercayaan Ryo.

__ADS_1


“gimana om?” tanya Ryo pada Haris


“semua sudah beres tuan muda” jawabnya


“hanya tinggal masalah pindah kartu keluarga saja, karena seperti yang tuan muda minta.. harus menunggu perintah dari nona” jelas Haris


“iya, karena kalau dilakukan perubahan KK sekarang, adiknya akan mengetahui


pernikahan ini” ucap Ryo merasa tak nyaman.


“terus masalah penyelidikan kasus itu gimana?” Ryo menanyakan tentang masalalu Aira.


Haris memberikan berkas pada Ryo.


“masalah penggelapan dana, memang benar ayah nona melakukannya, tapi sepertinya itu untuk biaya operasi jantung istrinya. Dan jumlah dana yang digelapkan tidak sebesar yang selama ini dikatakan pihak bank. Jadi ada temannya yang ikut menggelapkan dana itu dan mengatas namakan ayah nona” jelas Haris


“kurang ajar!” gumam Ryo geram.


“dan yang lebih mengejutkan, rumor yang beredar waktu itu, kematian ibunya merupakan malpraktek dari rumah sakit” jelas Haris lagi yang masih belum selesai menyelidiki keseluruhan.  Karena memang tidak mudah mencari data dari sepuluh tahun yang lalu.


“apa om?” Ryo menautkan kedua keningnya


“saya akan terus menyelidikinya tuan muda, untuk saat ini masih dalam proses mencari data yang akurat” jelas Haris


“lakukan yang terbaik om, aku ingin nama baik Aira dibersihkan” ucapnya tegas


“baik tuan muda!”


Haris pun pergi dari apartemen Ryo. Sesaat ia berpapasan dengan Aira yang berjalan keluar dari lift. Haris pun menunduk hormat pada calon nona mudanya. Aira membalas tundukan Haris tanpa mengucapkan apapun.


Sekilas ia menengok pada lelaki yang kini menghilang di telan lift.


Siapa dia? Benak Aira.


Aira memasuki tempatnya dengan tas belanja dapurnya.


“baru datang sayang?” sapa Ryo yang masuk dari pintu ajaib.


“kamu tu ngagetin aja!” ucap Aira dan dibalas kekehan Ryo


“tadi kayanya ada tamu ya?” tanya Aira


“iya, om Haris” jawab Ryo mengambil tas belanja Aira dengan kedua tangannya sedang bibirnya mengecup cepat bibir Aira.


“dasar pencuri, ngambil belanjaanku ternyata modus” gerutu Aira mengikuti Ryo yang terkekeh manuju dapur.


“ahhh.. aku pengen banget bantuan kamu belanja, tapi aku harus sabar dulu” gumamnya.


“huh..” Aira menghela nafas merasa bersalah.


Aira mengeluarkan satu persatu belanjaan, sedang Ryo mengambil air minum untuk Aira.


“oya.. hemm...” Ryo ragu menanyakan memberikan minuman pada Aira


Aira menerima minuman terdiam menatap Ryo yang ragu.


“kenapa?” tanya Aira kemudian minum dan masih menatap Ryo di balik gelas.


“kamu gak marah kalo aku tanya soal orang tua kamu?” tanya Ryo


Aira melanjutkan mengeluarkan belanjaan.


“nanya aja”


“apa kedua orang tua kamu memang gak punya saudara sama sekali?” tanya Ryo


Aira menghela nafas.


“aku gak tau, mamah pernah cerita, waktu aku tanya soal kakek nenek, mamah bilang nanti akan menceritakan semuanya. Saat aku tanya papa, papa bilang mamah meninggalkan keluarganya demi bersama papa yang hanya seorang yatim piatu” cerita Aira


“sejak saat itu papa memintaku untuk gak nanya lagi perihal kakek nenek sama mamah, karena papa bilang, itu akan menyakiti hati mamah” Aira menunduk sejenak


“hemm.. jadi seperti itu” Ryo berpikir

__ADS_1


Apa Ryo mulai mempermasalahkan asal usul ku sekarang? Benak Aira meragu


“kamu ..” Aira ingin mengeluarkan pikirannya


“jangan berpikir yang macam macam deh! aku hanya ingin mengetahui semua tentang kamu” ucap Ryo yang seakan mampu membaca tatapan Aira padanya.


“oo..” jawab Aira seakan berpikir


“aku tanya karena kamu gak pernah mau menceritakan semuanya, mungkin kalau kita habis nikah baru kamu mau cerita semua padaku” keluh Ryo pura pura cemberut. Aira hanya menanggapinya dengan senyuman.


“oya, kapan kamu siap melakukan konseling?” tanya Ryo ragu menatap wajah Aira.


“eng..” Aira berpikir


“sayang .. plisss!” Ryo mendekati Aira yang masih berdiri di depan meja makan.


“kamu tahu... saat ini aku sangat gugup menghadapi pernikahan, karena jujur... aku masih takut!” ucapnya menunduk


“tapi aku akan terus berusaha melawan diriku..” lanjut Aira


Tapi wajah Ryo terlalu datar menanggapi ungkapan Aira


“untuk konseling.. apa bisa setelah kita menikah saja?” tanya Aira dengan tatapan memohon


“hemm” angguk Ryo langsung tanpa membahas


“kamu harus siapin diri ya?” tatap Ryo dengan menaikkan cepat alisnya.


“iih.. kamu bikin aku tambah gugup aja” ucap Aira memang tak bisa memasang raut wajah tersenyum


Ryo terkekeh


“lihat!” Aira menunjukkan tangannya yang gemetar.


“saking gugupnya aku”


Ryo melihat tangan Aira. kemudian Aira mengambil tangan Ryo dan meletakkan di dada kirinya.


“tuh.. jantung ku rasanya mau copot mikirin pernikahan kita” ucapnya menjelaskan kegugupannya.


Aira tak menyadari tangan Ryo yang berada di dadanya membuat Ryo seakan berhenti bernafas. Bagaimana tidak, tangan itu berada pada sebuah bukit yang membuat jakun Ryo turun naik dari tadi.


Aira menatap Ryo yang menatap tangannya yang berada di dada kiri Aira. Wajah Ryo memerah karena menahan sesuatu.


Aira bergegas melepas tangan Ryo karena menyadari kesalahannya yang justru memancing Ryo.


“maafin aku sayang!” ucapnya berpaling, bergegas pergi menuju kamar dan menguncinya.


Ryo masih berusaha mengatur nafasnya akibat ulah Aira yang sering sekali membuatnya seperti sekarang.


“huh... huh.. huh” Ryo berusaha mengatur nafas


"kamu beib, suka mancing mancing aku" keluhnya merasa panas


Sedangkan Aira berdiri dibalik pintu dan memukul mukul kepalanya


“dasar bodoh, bodoh, bodoh” gumamnya sendiri


Kini wajahnya begitu panas karena merasa malu sendiri. Ia pun pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya yang terasa panas karena terlalu malu akan tindakannya barusan.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Alhamdulillah kontrak novel ini telah lulus..


Terima kasih untuk para reader yang selalu setia baca..


Mohon bantu dukungan untuk novel ini dari kalian semua..


Karena Author bukan siapa siapa tanpa kalian


love you all


\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


__ADS_2