
Aira yang semakin menunduk membuat Ryo semakin kecewa, sedih dan entahlah, ia tak mampu mengatakan jika ia membenci Aira saat ini.
“Sama seperti dulu... kamu bahkan tak sudi melihat ku” Ryo berdiri untuk pergi
Ucapan itu semakin menyiksa Aira. air matanya bak tumpah tanpa suara. Ryo berjalan menuju pintu keluar.
“selamat tinggal Raraku” ucapnya berhenti sejenak dan kembali melangkah. Suara pintu ditutup menumpahkan tangis Aira yang tak terdengar.
Akhirnya .. akhirnya..! benak itu hanya mampu berkata akhirnya
“Loe dah selesai?” Tanya Bams dingin yang sedari tadi menunggu di samping pintu saat Ryo berdiri di depan pintu
“Sekarang gue boleh bicara?” tanya Bams
“Jangan.. gue gak mau mendengar apapun dari loe, gue sudah sangat berusaha menahan diri gue untuk tidak membunuh loe saat ini”
“Oke kalau gitu”
“Loe pikir semudah itu merebut dia dari gue?” Ucap Ryo dengan lirikan mematikan saat Bams melangkah mendekati pintu
Bams menarik kerah baju Ryo. hingga membuat sebuat kancing terlepas
“Jangan membuat gue mempunyai alasan membunuh loe disini!!” Ancam Ryo
“Dia sudah cukup menderita, gue hanya ingin dia bahagia. Bukan merebut dia dari loe” Ucap bams kesal dan masuk meninggalkan Ryo dengan pintu yang perlahan tertutup. Ryo melangkahkan kaki dengan kesal menuruni satu persatu anak tangga yang dulu ia lalui dengan bunga bunga di dalam hatinya.
“Aira!” Bams mendekatinya
“kini semua sudah berakhir bi... aku dan Ryo telah berakhir” tangisnya
Sedang Ryo masih kesal dengan semuanya, ia berlari menuju mobil. Sesaat ia menyadari jika kunci mobilnya ketinggalan di nakas. Ryo menghela nafas kesal. Sejenak ia menarik nafas berkali kali agar mampu kembali kesana. Hingga akhirnya ia mampu mengayunkan langkahnya.
Terlihat pintu seperti tak tertutup sempurna, terdengar tangisan Aira dari dalam. Ryo mengurungkan niat untuk membuka pintu. Hatinya terasa teriris mendengar isak tangis dari wanita yang telah mengambil separuh hidupnya.
“katakan padaku .. anak apa yang Ryo tanyakan?” tanya Bams
“anak Ryo yang kandung” jawab Aira
“kalian?” Bams tak mampu bertanya
“aku keguguran bi.. aku gak mampu menjaga anaknya, semua salah ku... dia pasti sangat membenci ku” tangis Aira
“Ai...” Bams tak bisa berkata kata
“hari ini.. akhirnya aku dan dia berpisah” isak Aira
“ini yang terbaik untuknya bi” uacp Aira
“bukan, ini bukan yang terbaik untuk kalian” jawab Bams
“Ryo telah membenciku, itu lebih baik, agar ia tak lagi hidup dalam bayang bayang wanita sepertiku” tangis Aira
“tapi ai.. kamu mencintainya” ucap Bams
“memang, aku sangat mencintainya, tapi bi.. aku hanya bisa mencintainya saja” ucapnya lagi
“aku yakin Ryo pasti mau menerima kamu kembali”
Ryo membuka matanya mendengar semua itu.
__ADS_1
Bams! gumam Ryo dalam hati merasa sedih. Bukan karena pengkhianatan, tapi ternyata Bams justru menginginkan ia dan Aira kembali. sedih menyadari bahwa ia telah kembali salah menilai sahabatnya.
“meski aku mencintainya dengan seluruh hidupku, aku tidak akan berani untuk kembali bersamanya” ucap Aira
“ai.. berhenti menyiksa diri kamu” pinta Bams yang sangat sedih menatap Aira saat ini
Aira menggeleng.
“dulu saja aku merasa tidak pantas bersamanya apalagi sekarang” jelas Aira
“perpisahan yang Ryo berikan justru itu lebih baik untuknya” jelasnya lagi
“tapi kamu akan menderita dan Ryo juga menderita” jawab Bams
“Ryo telah menemukan wanita yang bisa hidup bersamanya, apa kamu lupa?” jawab Aira
“aku yakin Ai.. Ryo masih mencintai kamu” jelas Bams tak tega melihat Aira menderita
“tapi Bi.. meski Ryo mencintaku,... apa yang bisa ku berikan padanya... kamu lihat aku sekarang.. aku hanya wanita buta yang hanya akan membuat hancur hidupnya” ucap Aira dengan tangis semakin menjadi
Ryo yang menunduk mengangkat kepala dan membulatkan mata mendengar kata kata Aira. Ia membuka pintu itu dan berjalan mendekati mereka berdua.
“apa? Kamu buta?” ucapnya dengan mulut membuka dan tak percaya
Aira panik mendengar suara Ryo. Ia berusaha menjauh, tapi Ryo terus mendekatinya
“katakan Bams! apa Aira buta?” tanya Ryo menatap Bams
Bams menguci mulutnya rapat. Ia hanya mengangguk pelan dan berdiri mejauhi Aira.
“Ra..” Ryo mencoba mendekat, sedang Aira masih berdiri bingung ingin melangkahkan kakinya
Saat Aira mencoba berpaling ingin pergi. tiba tiba kakinya tersandung meja hingga membuat ia terhunyung dan hampir jatuh. Sontak Ryo dengan sigap menahan tubuhnya.
“Ra,.. beib.. beib!” Ryo membelai wajah Aira yang kini terkulai dengan wajah tegang dengan mata setengah membuka. Gerahamnya mengerat, ia mengalami syok yang luar biasa.
“Rara sayang... Rara!” Ryo berusaha menenangkan Aira
“apa yang kalian lakukan sampai ni kaya gini!!!” teriak Aina yang baru memasuki rumah dan melihat Ryo yang memeluk tubuh Aira yang lunglai dalam pangkuannya.
“Bams!!! udah ku bilang jangan pertemukan Ni dengan bajingan ini!!” ucapnya kasar dan teriak
Ryo tak peduli dengan ucapan Aina, ia hanya panik menghadapi kondisi Aira.
“Rara .. sayang bangun... Rara ku.. sadar sayang” ucapnya memeluk erat tubuh Aira
Aina mendekat dan ingin memeriksa tubuh Aira, tapi Bams menahannya
“biarkan Ryo.. dia seorang dokter yang mengerti bagaimana menghadapi kondisi Aira” ucap
Bams
“ini semua karena kamu! lihat kamu menyakiti ni” ucap Aina pada Bams
“ini permintaan Aira” ucap Bams tak kalah nyaring hingga membuat Aina terdiam menunduk
Sedang Ryo masih berusaha menenangkan Aira seperti dulu
“ssstttt.. ssstttt.. ada aku disini beib.. aku disini” ucapnya membelai kepala Aira, membelai pundaknya. Terus menerus hingga tubuh Aira perlahan lahan kembali tenang.
__ADS_1
Nafas Aira kembali normal, tak memburu, tubuhnya yang mengejang kembai lunglai, dan raut wajahnya kembali tenang.
Ryo mengangkat tubuh itu dalam gendongannya, membawa Aira masuk ke dalam kamar dan meletakkan tubuh kurus lemah itu dengan perlahan dan hati hati. Ryo duduk di tepi tempat tidur, tangannya membelai wajah Aira dengan lembut
“apa dia sering seperti ini?” tanya Ryo pada Aina yang berdiri di belakangnya
“hem! Ni akan syok jika ia tak mampu melawan emosinya” ucap Aina
Ryo memejamkan matanya sejenak mendengarnya.
“apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia sampai buta?” tanya Ryo
“untuk apa kamu bertanya? Apa peduli mu??” jawab Aina dingin
“seharusnya kamu tidak bicara seperti itu!” toleh Ryo tak kalah kesal pada sang adik ipar.
“memang siapa kamu yang bisa membuatku tak bisa bicara seperti itu?”
“Aina!” tegur Bams yang tak tahan mendengar omongan Aina
“jadi Aira tidak mengatakan siapa aku?” tanya Ryo
“terus .. aku harus bicara seperti apa? Sedang kamu sendiri tidak peduli padanya” ucap Aina
“Aira pergi meninggalkanku, bukan aku yang meninggalkannya”
“tapi...” Aina mengeratkan kedua gerahamnya menahan emosinya yang seakan ingin mencakar Ryo saat itu.
“aku akan bawa Aira ke Rumah sakit” ucap Ryo
“kamu tidak berhak!” jawab Aina
“aku berhak, karena aku masih suami sah Aira!” ucap Ryo menatap tajam pada Aina
“apa? Suami?” jawab Bams
“suami?” ucap Aina
“iya, aku suami sah Aira, kami telah menikah, apa Aira tidak mengatakan itu padamu? Bukankah Aira mengandung saat ia pergi, apa kamu tidak mengetahuinya?” tanya Ryo
“seharusnya kamu sendiri yang bertanya pada diri kamu sendiri, kenapa saat ni keguguran kamu justru meninggalkannya?” ucap Aina meneteskan air mata saat mengingat penderitaan sang kakak
“sudah ku katakan, bukan aku yang meninggalkan Aira” ucap Ryo dengan nada lembut melihat tangisan Aira
“bohong! Kamu menyuruh manager kamu untuk mengurus ni malam itu?” jawab Aina
“malam itu?” tanya Ryo
“sebenarnya apa yang terjadi Aina?” tanya Bams masih tidak mengerti
“malam tragedi konser, ni menjadi korban dan dia kehilangan putranya malam itu, dia keguguran” tangis Aina
“apa?” Ryo dan Bams merasa tidak percaya
“bukannya kamu sendiri yang meminta manager kamu untuk mengurus ni!” tunjuk Aina pada Ryo dengan kebencian di sela air matanya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Nah... buat yang ingin Aira dan Ryo ketemu.. udah ketemu kan?
__ADS_1
Buat yang baca tinggalin jejak dong.. hehehe, biar saya tahu masih ada yang suka baca atau tidaknya..
makasih ya..