
Setelah sarapan, Aira melangkah menuju tempat sang adik melalui pintu rahasia yang dulu mereka gunakan sebagai penyambung kedua apartemen.
“Ni?” tanya Aina yang menyadari sang kakak yang muncul dari belakang.
Bergegas ia mendekati sang kakak, karena ia akan melewati banyaknya perabotan di dalam ruang besar itu.
“sini ni” ia memegang tangan Aira
“Di” tahan Aira menoleh pada sang adik
“iya” Aina menahan tubuhnya untuk melangkah. Ia menatap kembali wajah wanita yang telah membuatnya bertahan selama hidupnya.
Mata Aira berkaca kaca melihat raut wajah sang adik yang tampak lelah. Wajahnya sedikit mengurus. Ia merasa selama ini telah menjadi beban adiknya
“kamu lebih kurus di, kamu kok kurus gini?” ucapnya menatap wajah sang adik dengan tetesan air mata
Aira membelai wajah Adiknya, ia menarik tubuh itu memeluknya dengan rasa yang tak tergambar. Tangisnya pecah. tubuh Aina mematung karena belum mampu mencerna semuanya.
“ni.. maksud kamu.. kamu udah bisa liat aku?” tanyanya lagi
Aira mengangguk, dan pelukan itu semakin erat saling menangis karena haru.
“ni.. beneran udah bisa liat ni?” tanya Aina melepaskan pelukan sang kakak dan menatap kedua mata Aira.
Aira hanya menganggukkan kepalanya
“alhamdulillah .. ya Allah terima kasih kau kabulkan doaku” ucap Aina mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Yang Kuasa.
“tadi malam aku pikir aku mimpi, aku pikir itu hanya ilusiku, ternyata.. tadi pagi, cahaya matahari terasa silau di” ceritanya.
Sesaat kemudian Aina menarik tangan Aira menuju sofa untuk duduk bersama.
“ya allah ni.. aku seneng banget hari ini” ucap Aina kembali menyetuh pelupuk mata Aira
“kamu kok kurus banget di?” tanya Aira lagi melihat tubuh Aina
“mana aku kurus, ini tu ideal ni” kilah Aina yang memang lebih kurus dari terakhir dulu.
“jangan ngeles, dibilang kurus masih gak ngerasa” ucap Aira.
Mata Aina tidak fokus karena melihat leher Aira yang menjadi belang macan tutul akibat ulah Ryo. Aira sendiri lupa akan hal itu, hingga membuatnya menjadi manusia tak tahu malu di depan sang adik.
“ni..” Aina dengan kekehan malu malu
“Apaan?” tanya Aira
“iihhh.. ni udah malam pertama ya?” goda Aina menunjuk
“ah!” Aira menutup dengan tangannya
“iiihhh.. niiiii” Aina semakin menggoda
Aira tersipu malu, tampak semburat kebahagiaan terpancar dari setiap raut wajahnya, mata, senyum dan ekspresinya menggambarkan seberapa besar kebahagiaan yang ia miliki saat ini.
Kakak beradik itu pun asyik dengan obrolan mereka. Aira menceritakan kehidupannya bersama Ryo, namun ia masih menyembunyikan bagaimana kesengsaraan hidupnya selama membiayai kuliah dan hidup sang adik.
“waktu gosip makan malam waktu itu, kamu udah nikah apa masih tunangan ni?”
“oo.. itu kami masih pengantin baru” jelas Aira
“ahhh... ni jahat, hal sebahagia itu tidak cerita dengan ku” protesnya
__ADS_1
“sapa suruh ngaku mau bunuh diri kalau aku merit sama Ryo” jawab Aira
“kan bagiku waktu itu gak mungkin ni! kamu bilang kamu kerja jadi office girl, terus bilang nikah ma Ryo, kan gak mungkin” jelas Aina
Aira tertawa
“makanya aku gak percaya dia bilang suka ma aku waktu itu”
“aku masih penasaran ni, apa yang buat dia jatuh cinta banget kaya gitu sama kamu?”
“tanya aja orangnya” jelas Aira
“tanya apa?” tiba tiba suara Ryo terdengar mendekat
Mereka berdua menoleh pada sumber suara.
“ku tinggal ngangkat telpon sebentar kamu kabur kesini” ucap Ryo yang sudah mengecup puncak kepala sang istri dan duduk di pinggiran sofa dan menggelayutkan tangannya dibahu Aira
“iihh.. bucin” ejek Aina melihat Ryo
“bucin sama istriku sendiri juga kok” jawab Ryo tak mau kalah
“yang akur! Awas aja kalian berdua gak akur” ucap Aira ditengah mereka
“dia selalu ngejek beib” ucap Ryo
“fakta kok” jawab Aina tak mau kalah
“iihh .. sudah” sela Aira
“tuhhh.. takut kan?” tanya Aina menantang pada Ryo, mengatakan jika Ryo takut dengan sedikit ancaman saja.
“iya.. soalnya aku gak sanggup pisah dengan nafasku ini” Ryo kembali mengecup puncak kepala Aira
Aira dan Ryo tertawa melihat protes Aina yang melihat kemesraan mereka.
“kak! Apa sih yang bikin kamu super cinta sama ni?” tanya Aina penasaran
“karena sirsak!” ucapnya
“hah?” Aina melongo.
Tepat seperti dulu ketika ia bertanya pada Aira, dia juga menjawab dengan kata sirsak
Obrolan itu pun terus terlanjut. Saling menceritakan kehidupan masa lalu mereka bertiga.
*
*
*
Waktu berlalu terasa lebih cepat saat kebahagiaan menyelimuti dunia kita. Seperti Ryo dan Aira yang menjalani masa pengantin baru ke dua mereka. aktivitas yang tak jauh dari makan, bercinta dan tidur membuat Aira merasa perlu sejenak untuk beristirahat.
“sayang, kok aku lihat sekarang ada yang berjaga di depan lift?” tanya Ryo
“bukan disana saja beib, semua akses jalan keluar sekarang di jaga, bahkan sekarang cctv juga dipasang di depan” jelas Ryo yang menikmati buah sedang Aira bersandar manja padanya.
“kenapa? Karena terlalu banyak pers yang curiga ya?” tanya Aira
“bukan!” jawab Ryo memasukkan potongan apel besar ke mulut Aira hingga Aira mencoba menggigit separuhnya dan Aira ingin mengambil sisa dengan tangannya, tapi Ryo menahan tangan itu dan mengambil sisa potongan apel dengan mulutnya hingga bibir mereka kembali bertemu.
__ADS_1
Nakal? Iya, itulah kelakuan romantis Ryo yang selalu Aira suka.
“jawab dulu” pinta Aira
“apanya?”
“kenapa harus berjaga sekarang?”
“karena takut kamu meninggalkan ku lagi” jawab Ryo santai tanpa rasa berdosa atau tanpa feeling apapun.
“jangan becanda ah mas?” protes Aira
“iya beib, om Haris menjaga gedung ini dengan full 24 jam, karena tak ingin lagi kecolongan kaya dulu” jelas Ryo
Aira menegakkan tubuhnya dan berputar duduk menghadap Ryo.
“kamu becanda kan?” tanyanya
Ryo tersenyum menggeleng, sedang Aira masih menatap tegang sang suami. Ia hanya mengedipkan matanya, tak bergerak dan tak percaya dengan apa yang Ryo katakan.
Ryo mendekat dan mengecup cepat bibir Aira, sedang Aira masih menatapnya lekat.
“kenapa?” tanya Ryo memegang dagu Aira dan mencoba menjatuhkan ciumannya. Pertautan bibir itu hanya sesaat karena Aira masih mematung.
“beib?” tanya Ryo
“mas, kamu gak mengurungku kan sekarang?” tanyanya Ragu
Ryo terbahak mendengar pertanyaan sang istri.
“yang benar adalah kamu mengurungku sekarang” Ryo kembali mendekatkan bibirnya, tapi Aira tahan.
“mas serius dong!” Ucap Aira
“iya beib... kamu sekarang sudah mengurungku dalam sebuah ikatan yang tak mampu ku lepas, kamu menyandera hatiku sehingga tak mampu lagi mencintai apapun lagi selain kamu, kamu telah mengambil hidupku sehingga aku tak mampu bernafas tanpamu sayang” belai Ryo pada wajah Aira sangat dengannya.
Kedua mata itu saling bertatap. Memancarkan sinar sihir yang membuat keduanya kembali larut dan kembali pada aktifitas yang mereka nikmati.
“mas.. aku ingin jalan jalan.. sudah hampir sebulan Cuma di dalam disini, aku bosan” keluh Aira yang bersandar di lengan Ryo dan menggambar sebuah pola pada dada sang susami dengan ujung jarinya.
“kamu udah siap muncul ke publik?” tanya Ryo
“bukan gitu, aku hanya ingin jalan jalan, nanti sama Aina”
“sama aku aja ya?” pinta Ryo
“gak bisa mas” ucap Aira membalik tubuhnya setengah menopangkan tubunya di dada Ryo. dagu tepat menancap di dada sang suami. Sedang Ryo membelai puncak kepalanya dengan lembut.
“hhhmmm...” Ryo berpikir
“nanti sore ya?” pinta Aira
“besok aja ya?” tawar Ryo
“kenapa?” tanyanya
“besok aku ada jadwal presscon, kamu bisa pergi sama Aina”
“hem!”
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Nah.. presscon tentang apa ya yang ingin Ryo katakan?
Jangan lupa kasih jejaknya ya kalau baca.. makasih