Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Apa yang sebenarnya terjadi di masalalu?


__ADS_3

Diperjalanan pulang, keringat Aira mengucur hebat, padahal AC mobil sudah mencapai titik terdingin. Bahkan Rya saja merasa kedinginan saat itu.


Dia menyebut nama ibu, dia tahu aku putri ibuku, dia berarti dari kampung, berarti dia tahu siapa aku, terus gimana kalau orang orang mulai tahu siapa aku? Aku harus gimana? Benak Aira terus bicara dengan rasa gugupnya.


“kakak gak papa?” tanya Rya yang melihat Aira berkeringat hebat dan membuyarkan pikirannya


“gak papa” ucapnya tersenyum dipaksa


“ada yang sakit kak?” tanyanya lagi


“gak ada kok! Aku Cuma kepanasan aja” ucap Aira


Kakak kenapa ya? Padahal dinginnya sudah kaya gini dia bilang kepanasan! Benak Rya yang mulai curiga


“sini kak biar aku cek” Rya ingin mengambil tangan Aira untuk memeriksa nadinya. tapi Aira menolak


“aku gak papa kok” ucapnya lagi


Mobil pun meluncur menuju apartemen Ryo.


“makasih ya Re!” ucapnya menoleh pada Rya dan membuka pintu mobil.


“aku dong kak yang makasih, kan udah dibelanjain” ucap Rya tersenyum.


Aira keluar dari mobil dan melambaikan tangannya. Ia berusaha berjalan menuju lift. Lututnya begitu lemas. Dengan susah Aira menuju apartemen dan kamarnya. Ia langsung berbaring dan yang tadinya begitu panas kini berubah menjadi sangat dingin di dalam sana. Aira pun terlelap tanpa ia sadari, atau mungkin ia tak sadarkan diri.


Malam mulai menyelimuti bumi, matahari telah melelapkan dirinya di ufuk barat. Ryo yang hari ini tadinya mengosongkan jadwal malah berkecimpung dengan banyak kegiatan. Ia pun kembali ke apartemen setelah jam delapan malam.


Ia mencoba menghubungi Aira tapi dari sore itu ponsel Aira tidak juga aktif.


“Re.. Aira masih sama kamu?” tanya Ryo


“gak kak! Dari sore kita udah pulang!” jawab Rya


“kok gak aktif ya?” ucap Ryo


“tadi kita pulang cepat karena kakak ipar mendadak gak enak badan gitu” jelas Rya


“apa? Kenapa baru bilang sekarang?” tanya Ryo kesal


“Kan kakak ipar pulang ke apartemen kakak.. jadi ku pikir kakak sama kakak ipar” ucapnya membela diri


Ryo menutup panggilannya. Ia bergegas menuju tempat Aira melalui pintu rahasia yang menghubungkan apartemen miliknya dan Aira.


Ryo memasuki tempat itu dengan begitu gelap. Ia menyalakan lampu dan berjalan menuju kamar Aira, sama dengan di ruang tengah, kamar itu juga begitu gelap.


Ryo melihat Aira yang meringkuk di atas ranjang. Betapa kagetnya Ryo saat mendekat melihat Aira yang menggigil dan dengan mata tertutup


“Beib!” ucapnya langsung duduk di ranjang dan mencoba membangunkan Aira


“beib.. bangun!” Ucap Ryo lembut, tapi Aira tak bergeming


“beib.. beib!” kini ia menepuk bahu Aira. tapi Aira masih dalam kondisi seperti bermimpi buruk dengan nafas yang memburu.


Ryo semakin kaget saat merasakan baju Aira yang basah.


“sayang kamu kenapa?” gumam Ryo semakin panik.


“Aira bangun .. beib!” kini ia mengangkat tubuh Aira dalam posisi duduk agar ia terbangun tapi matanya terus terpejam dan kini ia seperti mengigau.


“ya tuhan.. beib bangun.. buka mata kamu!” Ryo semakin panik memegang kedua bahu Aira dan terus mencoba membangunkannya.


Aira membuka matanya sedikit. Tapi pandangannya kosong ia tak merespon Ryo yang terus mengguncang tubuhnya agar tersadar.


“Beib bangunlah..”ucapnya


Ryo memeluk tubuh Aira dan merasakan ternyata seluruh tubuhnya basah. Karena keringat yang terus mengucur.

__ADS_1


Ryo memeluk erat Aira mengusap pundak dan kepalanya. Terus dan terus mencoba menenangkan Aira yang jiwanya seakan berada di dunia lain.


Setelah sepuluh menit, nafas Aira yang memburu kini mulai tenang. Matanya kini terpejam rapat, ia seperti orang tidur tenang dalam pelukan kekasihnya


Saat Aira mulai tenang. Ryo membaringkan kembali tubuh Aira. Wajahnya begitu pucat. Ia pun berjalan menuju kamar ganti untuk mengambil baju tidur Aira.


Perlahan Ryo membuka baju Aira. dengan menelan ludah berat ia berhasil membuka seluruh baju Aira yang basah. Dengan nafas berat ia terus melepaskan dua lembar kain yang tersisa di tubuh Aira yang menutupi area terlarang untuk Ryo. Ryo memejamkan matanya berusaha agar mampu menahan dirinya yang telah lama berpuasa terhadap tubuh seperti itu.


Dengan perjuangan yang luar biasa akhirnya ia mampu mengganti pakaian Aira, meski sesuatu yang terus saja menggeliat di dalam bungkusannya terus mengganggu Ryo.


“huh” desah Ryo saat selesai. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan dirinya. Ryo kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang Aira. ia melihat wajah putih pucat itu masih terlelap dengan damai.


“kamu kenapa?” gumam Ryo menyingkirkan rambut rambut kecil di wajah Aira.


Apa yang Rya lakukan seharian sampai membuat kamu seperti ini? benak Ryo baru menyadari Aira yang baru kembali bersama Rya seharian ini.


Ryo ingin mengambil ponsel dari saku celananya. Ia baru menyadari jika ia tak membawa ponselnya. Ryo kembali ke tempatnya mengambil ponsel untuk menghubungi Rya.


“Katakan kalian ngapain aja seharian ini?” ucapnya kesal pada Rya


“ki kita shoping, terus makan, te rus jalan ke taman hi hiburan kak” ucap Rya gugup mendengar nada bicara Ryo yang meninggi


“emangnya kakak ipar kenapa kak?” tanya Rya lagi


“dia sakit, tubuhnya basah semua, terus dia menggigil” ucap Ryo kesal


“tadi sore dia kepanasan.. terus keringetan gitu” jelas Rya lagi


“kamu kesini sekarang!!!” ucap Ryo yang kurang puas dengan penjelasan Rya di telepon.


“i iya kak!” ucapnya


Ryo bergegas kembali ke tempat Aira. samar Ryo mendengar suara Aira dari dalam kamar. Ia pun berlari memasuki kamar itu.


“aaahh aaaa... ampun ampun pun.. Aina Aina” ucapnya dengan mata terpejam.


Aira mengigau dengan tangan seperti mencoba menghindari sesuatu.


“Beib ... beib..” Ryo mencoba membangunkan Aira.


Ia kembali mengangkat tubuh Aira dan memeluknya.


“tenanglah tenanglah .. aku disini” ucap Ryo.


Tubuh Aira menggigil


“ampun .. ampun” ucapnya lirih.


Ryo memejamkan matanya membenamkan Aira di pelukannya.


“tenanglah sayang.. tenanglah... ssstttt” Ryo terus mencoba menenangkan Aira dan berselang beberapa menit, ia pun tenang. Ryo tidak membaringkan Aira seperti semula. Ia hanya membiarkan Aira tidur dengan bersandar di dadanya. Ia membiarkan Aira tidur seperti itu karena ia takut Aira kembali bermimpi buruk.


“sayang apa yang terjadi sebenarnya?” gumam Ryo menunduk melihat wajah Aira


Getar ponsel terasa di saku celana Ryo.


“kak aku udah di depan, buka pintunya” ucap Rya.


“kamu ke sebelah” ucap Ryo


“hah? Ak” belum selesai ia bicara Ryo telah menutup telpon.


Ryo membaringkan kembali Aira. ia bergegas keluar untuk membuka pintu.


“kok disini?” tanya Rya


“jangan banyak tanya kamu!” ucap Ryo menatap kesal pada sang adik.

__ADS_1


Rya masuk. Dan Ryo berjalan menuju kamar Aira diiringi Rya.


Rya melihat Aira yang terbaring dengan wajah pucat.


“astaga kak... kakak ipar kenapa?” tanya Rya


“harusnya aku yang nanya kamu” Ryo menatap tajam Rya, sedang tangannya sudah menggenggam tangan Aira.


“kok kakak marah sama aku sih?” Protes Rya


Tapi tak berselang. Aira kembali mengigau, nafasnya mulai memburu seperti sedang dikejar orang lain


“Beib!” Ryo kembali mendudukkan Aira dan memeluknya.


“ssttttt.. stttttt.. aku disini! Aku disini” ucapnya menenangkan Aira


“kakak ipar kenapa kak?” tanya Rya sedih melihat Aira yang pucat meringkuk dalam pelukan Ryo.


“Aira punya trauma, tapi dia tak menceritakan semuanya padaku” ucap Ryo.


“trauma? Apa dia takut ke taman hiburan?” ucap Rya mengingat terakhir mereka disana.


“tapi tadi semuanya baik baik aja, bahkan kakak mengajak ku akan naik bianglala” ucap Rya lagi


“kamu yakin tidak ada yang terjadi?” tanya Ryo ragu terus membelai kepala Aira dan mengusap pundaknya.


“tidak ada.. kec cuali..” Rya ragu


“apa?” tanya Ryo


“tadi kakak ku tinggal saat ke toilet. Dia sendirian dan hanya ada satu pengawal yang menemaninya” ucap Rya


“ehh...” Suara Aira seakan terbangun.


“beib!” Ryo mengangkat kepala Aira untuk melihatnya. Tapi ia masih terpejam


“telpon om Johan sekarang!” ucap Ryo memelankan Suaranya.


Aira kembali dibaringkan dan Rya keluar untuk menghubungi sang pimpinan rumah sakit mereka.


"Apa yang terjadi dimasalalu kamu beib? sampai kamu seperti ini?" ucap Ryo mengusap lembut pipi kekasihnya


Tak berselang lama, datanglah satu tim dokter untuk menangani Aira. Ryo sendiri yang memasang cairan infus untuk Aira.


Ryo menceritakan jika Aira memiliki trauma, karena pisikiatri bukan bagian dari pendidikannya maka ia menyerahkan pada dokter yang memang menangani hal itu yaitu psikiater.


“Sementara kita akan beri ia penenang, agar ia bisa beristirahat dengan total. Kita harap besok pagi kondisi nona akan membaik dan kita bisa mengajaknya melakukan konseling” ucap Psikiater pada dokter Johan yang berdiri disana


Sedang Ryo masih duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Aira.


“tidak bisa kalau besok pagi” jawab Ryo langsung menoleh


“itu justru akan membuatnya syok. Dia terlalu takut orang lain mengetahui tentang dirinya” ucap Ryo.


“kalau begitu, tuan muda bisa mengajak nona bicara dulu.. nanti kita lakukan pendekatan untuk mengurangi kecemasannya” ucap dokter satunya.


Ryo menghela nafas. Baru kali ini ia seperti merasa tidak berguna sebagai seorang dokter.


Maafin aku beib.. maafin aku! Benak Ryo yang masih memandang wajah cintanya yang masih terpejam dalam kenyamanannya sendiri.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Kenapa Aira seperti itu? Siapa lelaki yang mencoba mengenalinya?


Apa yang sebenarnya terjadi di masalalu?


Nanti semua akan terungkap ya reader..

__ADS_1


Untuk volume 1 ini kita masih menceritakan bagaimana kebucinan seorang Ryo dulu ya...


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2