Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
BREAKING NEWS!


__ADS_3

Seorang wanita yang di duga tunangan Ryo diserang dengan brutal sore ini oleh para  penggemar berat sang bintang di depan apartemen Ryo. Wanita tersebut mengalami luka parah akibat menyiksaan fisik yang menyerangnya secara tiba tiba. Para fans yang menganggap wanita tersebut telah mengambil idola mereka karena tersebar isu, jika sang bintang Boys tersebut akan vakum dari dunia entertain atas permintaan sang tunangan.


Berita itu muncul lengkap dengan video seorang wanita yang tengah dibawa paramedis dengan ambulance.


Mata Ryo membulat sempurna, tubuhnya menegang, panas, cemas, ketakutan dan ngeri menjadi satu dalam dirinya saat ini. Petir terasa menyambar di atas puncak kepalanya saat melihat pesan sang istri yang tertulis jelas keluar.


Syuting pun saat itu seketika terhenti ketika berita itu tersebar. Ryo dengan kekhawatiran seribu kali, menyambar ponselnya.


Tangannya gemetar menekan panggilan untuk sang istri. Namun hingga berkali kali Aira tak mengangkat panggilan Ryo. Ryo menekan nomor tiga dimana panggilan untuk sang asisten.


“KEEEENNN!!!” teriaknya saat panggilan itu tersambung


“APA YANG KAMU LAKUKAN SAMPAI KEJADIAN SEPERTI INI TERJADI HAH???” emosi Ryo mencapai puncak sambil berjalan menuju van. Ia menghentikan syuting karena ia meminta kembali ke ibu kota saat itu juga.


“KAMU KEMANA AJA HAH??” teriaknya lagi tanpa sempat Ken menjawab.


“tuan muda, anda tenang dulu!” jawab Ken gelagapan. Bagaimana pun saat ini ia seperti mendapat serangan invasi yang luar biasa dari seorang Ryo.


“tenang kau bilang??? Kamu tenang jika istrimu yang diserang hah??” kata kata Ryo penuh amarah saat dia di dalam Van.


“tuan muda, dia bukan nona!” jawab Ken


“bukan?” tanya meragu


“sepertinya bukan nona tuan” jawab Ken ragu, karena ia memang mengetahui keberadaan sang nona muda saat berita itu muncul.


“apa kamu bilang??? Itu berarti kamu tidak bisa memastikan jika wanita itu bukan istriku? Hah???” Ryo sangat marah.


Kemarahan pada Ken, kekhawatiran, ketakutan, sedih, kengerian, bermacam kegalauan menjadi satu yang seakan ia rasakan hingga di atas kulitnya.


“siapkan pesawat sekarang!! Jemput aku sekarang!!” ucapnya


“baik tuan muda!, saya akan menghubungi Syen yang tadi bersama nona tuan” ucapnya lagi


“sambungkan langsung padanya!!!”


Ken menghubungi Syen saat itu. suara panggilan itu terasa lama tersambung. Keringatnya semakin membasahi meski AC di dalam van sudah sangat dingin.


“Tuan!” jawab Syen


“Dimana istriku?” Sambar Ryo langsung


Syen yang baru pertama kali mendengar suara Ryo merasa takut, nada tinggi dan amarahnya jelas terdengar dalam serak suaranya.


“Nona masih di Klinik tuan muda” jawabnya dengan nada ketakutan


“keeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn... aku akan membunuhmu jika ada segores luka ada di kulit istriku!!!!!!” ucapnya penuh dengan nada amarah yang seusai dengan ancamannya.


“tuan mu” Syen belum selesai bicara


“tuan muda tolong tenang dulu” pinta Ken lagi


“kalian berdua akan mati di tanganku, INGAT ITU!!!” Ryo benar benar tak bisa mengontrol diri lagi


“tapi tuan muda, no”


“diam kau!!!” bentak Ryo


“Syen, katakan dimana nona sekarang!” ucap Ken

__ADS_1


“kau tuli ya? Istriku sudah dibawa ke klinik” ucap Ryo geram dengan segeram geramnya


“maafkan saya tuan muda” Ken menjawab


“maaf tuan muda, tapi nona baik baik saja” akhirnya Syen memberanikan bicara di tengah keriuhan kedua orang itu


“kau bilang baik baik saja, hah?”


“Syen diamlah, biar aku yang bicara” ucap Ken lagi


“kau yang diam Ken!!! Kamu memang gak bisa kerja!!!”


“Tuan Muda!!!” ucap Syen sedikit teriak mencoba meminta bicara


“kau berani membentak tuan muda?” Ken kembali bicara


“TUAN TUAN! Tolong dengarkan saya!” pinta Syen tegas dan sontak membuat kedua orang tersebut terdiam.


“nona baik baik saya, nona sedang di Klinik Ibu dan Anak karena nona sedang menjenguk temannya yang melahirkan” jelas Syen dengan nada nyaring.


“apa?” Ryo dan Ken bersamaan


“tolong dengarkan saya bicara” pintanya dengan nada rendah dan tenang.


“tadi nona mendapat kabar jika temannya sudah melahirkan, dia meminta saya mengantarnya ke sini untuk menengok temannya, jadi nona sangat baik baik saja sekarang” jelas Syen


“kamu gak bohong?” tanya Ryo lagi


“alihkan ke video call” pinta Ryo lagi


Mereka pun melakukan video call, dan Syen memasuki Klinik kecil itu. Ia sedikit bingung ingin bertanya dengan orang lain.


“kenapa kamu tidak menemaninya masuk?” tanya Ryo kesal


Tak berapa lama, terlihat Aira menghadap sebuah ruangan terang dengan dinding kaca. Ia memegang perutnya dan tersenyum melihat ke dalam ruangan kaca tersebut. Ternyata ia sedang berdiri di depan ruang bayi. Senyumnya mengambang penuh kebahagiaan menatap mereka.


Ryo terharu melihat sang istri yang tersenyum penuh bahagia. Kerinduannya pada wanita yang telah ia serahkan hati, cinta dan hidupnya semakin menebal, semakin meninggi, semakin melambung. Tak mampu menahan lonjakan hati yang begitu ingin terbang menuju sang cinta.


Mereka masih diam, hanya menyaksikan Aira yang terus tersenyum menghadap ruang kaca. Hening sehening heningnya, hanya suara detak jantung masing masing yang masih berpacu diantara kelegaan, kebahagiaan dan ringannya sebuah beban yang telah terlepas dari pundak mereka masing masing.


“syen..” bisik Ryo pelan


“Ya tuan muda” bisik Syen kembali.


“jangan bergerak, aku sedang merekamnya” ucapnya pelan.


Sedang Ken Hanya menghela nafas melihat kelakuan sang tuan muda. Ia melupakan amarahnya yang bak membakar sebuah kota hanya dengan melihat senyum sang istri dari samping.


Sebelumnya.....


“nona, anda ingin saya antar kemana?” tanya Syen


“Syen.. bisakah kamu jangan bicara seformal itu, aku jadi kurang nyaman” ucap Aira memang merasa tak nyaman dengan sikap semua orang yang kini menjadikannya bak seorang ratu.


“maaf nona, tapi saya hanya bekerja sesuai prosedur saja” ucapnya lagi


“tapi kan disini kita hanya berdua saja” pinta Aira lagi


“baiklah nona” Syen hanya menyudahi permintaan sang nona, karena keluhan sang nona akan menjadi SP terakhir untuknya bekerja di Callin Group yang dikenal bergaji tinggi.

__ADS_1


“kita ke pinggiran taman kota ya? Aku mau makan makan” ucap Aira lagi


“baiklah nona!”


“aduh, bisakah kamu jangan menyebutku nona?” pinta Aira


“baiklah”


Mobil pun meluncur tenang. Aira memilih duduk di kursi depan karena tak ingin terkesan sebagai nona dan supir antara ia dan Syen.


Aira mengajak Syen menikmati kuliner pinggir jalan disana.


“maaf nona, anda yakin mau makan disini?” tanya Syen lagi berbisik.


“ahhh.. kamu kok masih kaya gitu Syen?” tanya Aira lagi kecewa karena Syen masih menganggapnya sebagai nona.


Aira merasa kesal karena sensor sensitifnya kembali tersentuh.


“maaf! Saya eh aku lupa” ucap Syen kaku.


Aira membeli banyak makanan dan membawanya ke salah satu kursi taman di pinggir jalan.


“ayo Syen kita makan!” ajaknya dengan semangat membersihkan tangannya dengan tisu basah.


Syen masih mematung memandang makanan di depannya, wajahnya masih dingin dan semakin kaku. Ia tek mempercayai jika nona muda yang bertubuh sekecil itu mampu menampung semua makanan yang terletak disana.


“kenapa Syen? Kamu gak suka?” tanya Aira yang batal menyuap makanan yang menggantung di depan mulutnya


“bukan begitu nona, eh ..” Ken canggung mengingat kembali kesalahannya


“maksud ku’ ini an kamu sendiri yang makan?” ucap Syen canggung dengan nada bicara tidak formal.


“kan sama kamu” ucapnya senang


“tapi saya makannya sedikit no.. eh” jawabnya lagi



“tak apa, nanti aku habisin sisanya, ayo!” ucapnya kembali melanjutkan makan


Syen dengan ragu mengambil satu hot dog stick dan mulai menikmatinya. sedang Aira sudah menghabiskan satu dan mengambil untuk potongan ke dua.


Saking menikmati makannya, Aira tak menyadari saos yang belepotan di sisi bibirnya yang seksi. Ia terlihat riang menikmati setiap gigitan makanan yang masuk kedalam tenggorokannya.


Mata Aira mulai melihat lihat sekitar saat ia menikmati potongan terakhir makanan yang tersisa. Perutnya begitu penuh. Tapi ia seakan masih menginginkan sesuatu.


“masih mau lagi nona?” tanya Syen  melihat mata Aira yang seakan mencari mangsa selanjutnya.


Tapi mata Aira tertahan pada sebuah pemandangan. Pikiran koneknya langsung membunyikan alarm berpikir. Ia melirik sejenak pada Syen yang menatapnya serius. Aira mengambil minum dan meminum sambil bersandar pada sandaran kursi taman.


Gimana ya biar dia gak ikut kesana? Gimana caranya aku periksa tanpa diketahui? Pikirannya terus berpikir.


Ting!


Seperti sebuah ide muncul di tengah perut kenyangnya. Ternyata perut kenyang membuat orang mampu menemukan sebuah cara yang tak terpikir sebelumnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Buat para Reader yang baik hati, cantik dan tampan juga tidak sombong, jangan lupa tinggalin jejaknya, biar saya bisa lebih semangat nulisnya ditengah sakit.

__ADS_1


Minta doanya juga ya.. biar Allah mengangkat penyakit yang ada, biar kita masih bisa berteman disini..


terima kasih semua atas dukungannya selama ini, love you!


__ADS_2