
Ting tong ting tong
Suara bell apartemen Bams terus berbunyi. Bams melihat jam menunjukkan pukul 09:30 malam
“siapa sih malam malam gini?” gumam Bams berjalan menuju pintu
Ceklek
Tampak sosok seorang perempuan cantik berpakaian formal berdiri di depan pintu dengan menenteng tas kerja
“maaf mengganggu anda tuan Bams!” ucapnya langsung
“ya! Ada perlu apa?” tanya Bams mencoba mengingat wajah yang sekaan tak asing
“saya asisten nona Kiky!” ucapnya dengan raut sedih.
Deg!
Jantung Bams merespon ketika nama Kiky terkumandang di bibir perempuan itu.
“ada apa ya?”
“maaf tuan, saya hanya ingin bicara sebentar, izinkan saya meminta waktu anda lima menit saja”
“masuk lah!” ucap Bams membuka lebar pintunya
“tidak tuan, disini saja” tolaknya
“baik lah! Apa yang ingin kamu bicarakan”
“maaf sebelumnya.. saya tahu saya tidak pantas mencampuri urusan pribadi nona, tapi saya datang ke sini bukan sebagai asisten, tapi sebagai seorang adik yang menyayangi kakaknya” ucapnya sedih
“saat ini nona sedang sakit, ia sudah dirawat selama tiga hari” ucapnya
Ekspresi Bams langsung berubah cemas. Perasaan khawatir dan panik langsung menyelubungi tubuhnya.
“Kiky di rawat dimana?” tanyanya langsung
“nona menolak dirawat di rumah sakit, kami mengurus perawatan di rumah utama” jelasnya menunduk
“tuan! Saya mohon, tolong temui nona, tolong beri nona semangat hidup.. saya tidak tau apa masalah kalian, saya mohon temui dia sekali saja, sudah tiga hari dia tak makan satu butir nasi pun” ucapnya dengan mata berkaca kaca
“pulanglah! Aku akan kesana malam ini” ucap Bams dengan wajah meyakinkan
“terima kasih tuan!” ucapnya tersenyum senang dan berpaling pergi
Syukurlah Bams masih memiliki rasa kasihan pada nona! Benak sang asisten melangkah
Bams masuk mengambil kunci mobilnya, ia pergi tergesa gesa bahkan tak mengganti baju yang ia kenakan saat ini.
Suara mobil sport berderu di depan pagar tinggi rumah mewah kediaman Handoko.
Bams turun menemui satpam yang berjaga
“Tuan Bams?” gumamnya melihat orang yang turun
Bergegas ia mendekati Bams
“selamat malam tuan!” ucap
“malam,
maaf bertamu malam malam!” ucap Bams sopan
“saya ingin melihat keadaan Kiky” ucapnya tergesa
Hatinya terlalu khawatir saat ini, bagaimana pun dia adalah wanita yang selalu menemaninya.
“sebentar saya akan melapor kepada Tuan besar dulu!” jawabnya meninggalkan Bams
Setelah terlihat ia menghubungi via telpon. Satpam itu kembali pada Bams dan membuka pintu pagar.
Mobil itu memasuki halaman rumah dan pintu Rumah seakan sudah terbuka, terlihat sesosok wanita paruh bayu berdiri menunggu Bams.
“selamat datang tuan!” ucapnya sopan
“terima kasih, saya ingin menengok Kiky” ucapnya lagi
“silahkan!” ajak wanita itu masuk berjalan menuju tangga diikuti Bams dibelakangnya.
Kepanikan Bams membuat dirinya kesal dengan langkah kecil sang wanita yang terasa begitu lambat mengantarnya ke kamar Kiky.
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu diketuk dan dibuka oleh seorang lelaki paruh baya.
“tuan besar!” sapa wanita itu
“terima kasih bi!” ucap lelaki itu dan membuat wanita itu memberi jalan pada Bams
“terima kasih bi!” ucap Bams dan wanita itu meninggalkan mereka.
"Saya Bams Om" Bams memperkenalkan Kiky
“masuklah... Kiky sudah menunggu” ucap sang tuan sangat ramah dan terlihat wajah putus asa
“terima kasih om, maaf saya terlambat datang!” ucapnya merasa sungkan
“sudahlah!” Handoko menepuk bahu Bams dan ingin keluar dari kamar mewah itu.
“kalian keluarlah!” perintahnya pada dokter dan perawat yang berjaga disana.
Kiky masih tertidur pulas, wajahnya pucat pasi, tampak lebih kurus dan tirus. Matanya terpejam, tapi terlihat wajah itu sembab karena menangis.
Torehan kepedihan semakin mendalam dalam benak Bams saat melihat Kiky yang tidur memeluk sebuah bingkai foto, Foto Bams yang ia cetak yang ia ambil dari salah satu dari sekian ribu foto Bams yang berada di dunia maya.
Bams menutup mulutnya menahan dada yang sakit. Ia duduk di tepi ranjang menatap wajah sedih itu. Meletakkan telapak tangan pada pipi pucat yang seakan tak bernyawa.
“sayang!” panggilan itu tergumam pelan.
Bams seperti tak mampu mengatakan apa apa. Rasa yang ia yakini sebagai rasa kasihan saat ini menyelimuti seluruh nadinya. Menusuk hingga tembus ke tulang belakang. Rasa kasihan yang aneh yang luar biasa menyakitkan ketika melihat sosok Kiky yang begitu lemah.
“Ky....” panggilnya lembut selembut belaian tangannya di pipi sang kekasih.
“Ky aku disini!” panggilnya lagi mencoba membangunkan
Sejenak tubuh Kiky bergerak merespon panggilan dari sang pemilik hatinya.
“bangun sayang!” ucap Bams lirih mengikuti hatinya yang sakit.
Samar terdengar suara yang ia rindukan di telinganya membuat bibir Kiky terangkat mengukir senyum begitu tipis dalam pejamnya. Namun senyum itu seakan menyakitkan di mata Bams.
“kamu gak ingin melihat ku?” tangan Bams masih membelai lembut pipi kekasihnya. Sedang tangannya yang lain menggenggam tangan Kiky.
Merasa seperti mimpi, Kiky seakan tak berani membuka mata. Ia meyakini mimpi indahnya saat itu.
“Bams..” gumannya
“buka mata kamu sayang!” pinta Bams
Perlahan Kiky menyadari, ia sedang tak berada di alam mimpi, suara itu begitu nyata, begitu jelas terdengar, begitu indah, suara yang seakan menyembalikan nyawanya.
Kiky membuka mata perlahan, manik matanya tertuju pada hitamnya mata Bams yang sedang manatapnya.
“kamu disini?” ucapnya lirih dan lemah
“hemm... aku disini!” Bams mengeratkan genggamannya dan terus membelai wajah Kiky
“aku tidak bermimpi kan?” tanya Kiky kini dengan mata berkaca kaca
“tidak sayang” Bams menggeleng kecil
Seakan mendapat tenaga baru, Kiky mampu mengangkat tubuhnya memeluk Bams. Tangisnya pecah saat itu juga.
“maafin aku... maafin aku!” ucap Kiky disela deru tangisnya.
“sudah sudah...ssshhhtttt.. sshhhhtt” Bams menenangkan Kiky. Apa yang dirasakan Bams saat ini? kenapa ia begitu sakit?
“Aku benci kamu kalau kamu sakit gini” ucap Bams melepas pelukannya menatap kedua mata Kiky
Kiky masih menangis. Ia tak menyangka Bams mengatakan kata kata sepedih itu
“Aku sakit aja kamu membenciku” ucapnya lirih menunduk
“Makanya jangan sakit kalau gak ingin ku benci”
“Jaga kesehatan kamu! hem?”
Bams menarik tubuh lemah Kiky kedalam pelukannya lagi
“Aku gak ingin kamu sakit, jadi jaga diri kamu! hem?” Bams mengusap lembut kepala Kiky yang bertopang di ceruk lehernya
“Hati ku sakit liat kamu kaya gini” gumam bams dan membuat seutas senyum keluar terukir di bibir Kiky
Kiky memeluk erat Bams dan semakin erat, melepas semua kerinduannya yang tertahan
“Aku mohon jangan siksa diri kamu lagi.. ya?” Ucap Bams mengusap air mata yang menganak sungai di pipi kiky
__ADS_1
Kiky tersenyum mengangguk
“Janji?”
“Janji” suara seraknya terdengar
“Sekarang makan dulu ya?” bujuk Bams, seperti anak kecil ia mengangguk menurut dengan senyuman.
Bams keluar kamar dan ternyata di depan kamar Kiky mereka masih setia menunggu.
“gimana?” tanya sang ayah
“Kiky mau makan!” jawab Bams tersenyum sopan
“ayo bi! Cepetan ambilin buburnya” perintah sang ayah terlihat senang mendengar putrinya semata wayangnya mau makan lagi.
“terima kasih nak .. terima kasih..” ucapnya senang dengan mata berkaca kaca.
Tampak terlihat begitu khawatirnya lelaki itu pada sang putri.
“Om.. maafin saya.. saya tidak mengetahui kondisi Kiky karena Kiky gak ngomong kalau lagi sakit” ucapnya merasa bersalah
“Om tahu .. kamu pasti gak akan tega menyakiti putri Om” ucapnya menepuk bahu Bams
“kalian bisa masuk sekarang. Saya akan pulang dulu Om, udah jam segini” ucap Bams pada perawat dan kemudian pada Handoko
“jangan pulang dulu ya.. paling gak sampai Kiky selesai makan ya..?” pinta ayahnya
“baiklah om, saya akan pulang setelah Kiky istrirahat”
Dokter pribadi dan perawat memasuki kamar Kiky
“lho.. Bams mana?” tanyanya sedikit panik
Suaranya terdengar hingga keluar kamar karena pintu kamarnya masih terbuka.
“apa om tidak berlebihan jika meminta kamu tinggal malam ini?” tanya Handoko lagi
“sepertinya Kiky masih membutuhkan kamu malam ini” lanjutnya
Aneh! Baru kali ini ada bapak yang gak keberatan cowok nginep dirumah anak gadisnya! Bams berpikir sejenak.
“om tahu kalian sering bersama di apartemen Kiky” ucapnya lagi
Membuat Bams sedikit menegang
“jadi tinggallah malam ini!” ucap Handoko
Sedang Bams masih mematung tak percaya. Seharusnya ia menerima bogem mentah dari ayah Kiky tapi justru mendapat restu atas kelakuan salahnya.
“ayo masuk!” ajak Handoko melangkah
“pah!” sapa Kiky dengan wajah terlihat lebih baik
“gimana sayang? Udah baikan kan?” sang ayah duduk menatapnya
“mendingan pah” jawabnya tersenyum. Tampak kebahagiaan seakan terpancar dari wajahnya.
“ya sudah.. papah ngantuk... papah tinggal ya? Kan udah ada yang nemenin” goda sang ayah yang sangat memanjakan putrinya.
Bams mengambil mangkok berisi bubur yang diantar Bibi dengan senyuman senang melihat sang nona seakan membaik.
“ini teh hangat buat tuan muda, Tuan ingin yang lain?" Tawar Bibi ikut senang
“Tidak, terima kasih bi!” terima Bams
Dengan setia dia menyuapi Kiky suap demi suap, sedang mata Kiky terus menatap mata Bams
“Jangan menatap ku seperti itu, aku masih marah karena kamu sakit, jadi cepat sembuh kalau ingin aku gak marah lagi” bujuk Bams
Kiky melirik buburnya dan tersenyum. Kini aliran darah yang tersumbat telah menghangat mengalir ke seluruh tubuh dan kulitnya. Membuat wajah Kiky yang pucat kembali merona.
Handoko memulangkan dokter dan perawat yang beberapa hari ini menginap disana.
Malam itu Kiky terlelap dalam pelukan Bams. Ia tidur dengan senyuman. Sedang Bams masih memikirkan perasaannya sendiri, karena meskipun saat ini ia sedang memeluk Kiky, tetap saja ada terukir nama lain di sudut hatinya.
*Bantu dukung novel Author ya*...
*Like,Share, Favorit, Komentar, Vote & Gift*
*Makasih semua, Love You All*
__ADS_1