
Berita kehamilan Aira tersebar hanya di kalangan keluarga dan teman teman mereka. Aina sangat bahagia mendengar sang kakak kembali hamil. Ia pun ikut menjaga Aira selama dua hari bedrest sesuai anjuran dokter.
“di.. aku bosen di kasur gini aja” keluh Aira yang tak bisa kemana mana.
“sabar ya ni.. kan ini juga salahnya ni” ucap Aina membantu Aira mengupas buah
“ya kan kita gak tahu kalau aku sedang hamil” jawabnya setelah sebelumnya menceritakan mengapa ia dilarikan malam itu ke rumah sakit.
Sedang Ryo masih berbaring di sofa dengan nyaman setelah ia memuntahkan semua isi perutnya.
“ni.. sepertinya yang ngidam kakak deh... untung bukan kamu ni” ucap Aina
Aira hanya tersenyum melirik sang suami dan tersenyum sedih.
“di.. kamu keluar deh”
Aina melongo mendengar permintaan sang kakak. Ia seolah mengartikan permintaan Aira sebagai hal meminta ia keluar agar ia dan Ryo bisa melakukan ‘sesuatu’
“ni yang bener aja kamu.. kondisi kandungan kamu kaya gitu gara gara kalian terlalu banyak melakukannya” protes Aina
“iihhh.. kamu tu pikirannya kotor melulu.. aku Cuma mau bikin mas Riry nyaman.. bukan melakukan itu” jawab Aira tak terima dituduh sang adik
Aina tertawa sendiri dengan dugaannya.
“ku pikir kamu bakalan ngelakuinnya” godanya
“kamu tu.. otaknya sama kayak kakak kamu tuh” protes Aira
“kan kalian lagi bulan madu” ejek Aina lagi
"eh bentar! emang kak Ryo selalu mesum ya ni?" bisik Aina menggoda Aira
“keluar keluar!” usir Aira lagi sambil tertawa
Aina pun keluar dari kamar itu
“mas... mas...” panggil Aira
Perlahan ia turun dari tempat tidur dan mendekati Ryo yang tertidur di sofa. Aira mengangkat perlahan kepala Ryo hingga membuat Ryo terbangun.
“beib.. kamu mau sesuatu?” tanyanya ingin segera bangun
Aira duduk dan memangku kembali kepala Ryo
“istirahat di pangkuan ku mas.. biasanya mual kamu akan hilang” ucapnya
Ryo bangun dan mengajak Aira ke tempat tidur.
“ayo.. kita istirahat di ranjang aja” ajak Ryo lagi
“mas aku bosan disana” keluh Aira
“beib itu demi kebaikan kamu dan anak kita” jelas Ryo
“tapi aku udah gak sakit lagi” jelasnya
“bentar aku periksa ya..” Ryo beranjak mengambil stetoskop miliknya
Aira pun berbaring dan diam saat sang suami yang seorang dokter memeriksanya.
“beneran gak sakit lagi beib?” tanya Ryo
“iya mas.. udah gak papa lagi kok” jelas Aira
“kalau gitu kita pulang malam ini ya..?” pinta Ryo
“hah?” sejenak Aira mencoba menerima keputusan sang suami
__ADS_1
"kalau di rumah kita lebih nyaman.. disini aku rada sedikit khawatir takut kamu kenapa napa.. apalagi disini cuma rumah sakit biasa, bukan seperti punya kita" jelas Ryo
Aira hanya menatapnya tanpa ekspresi
“kamu masih ingin disini?” tanya Ryo lagi
Aira menggeleng, tapi wajahnya terlihat kecewa.
“beib!” Ryo memaksa agar Aira jujur mengatakan ekspresinya
“kasian Aina mas.. dia masih senang disini kayanya.. apalagi dua hari ini dia gak kemana mana jagain aku disini” Aira menunduk sedih.
“terus.. kamu maunya gimana istriku?” belai Ryo
“ya gak gimana gimana ..” Senyumnya lagi
“aku malah takutnya kamu merasa sedih liat mereka senang senang sedang kamu terjebak disini beib” jelas Ryo
“mas... semasih bersama kamu, kejebak dimana pun aku gak pernah sedih, malah senang! Karena kita selalu berdua” jelasnya membelai pipi Ryo
“sungguh? Berarti kamu gak akan pernah ninggalin aku lagi kan?” tanya Ryo
“kamu masih meragukan itu?” tanyanya
“iya! Jujur beib, hanya satu ketakutan dalam hidup ku sekarang... kehilangan kamu, kamu tinggalin, kamu benci” jelasnya
“itu tiga!” ejek Aira
“dasar tukang protes” ucap Ryo kembali mencium sang istrinya yang terkekeh.
“jadi.. kita pulang malam ini?” tanya Aira lagi
“kita akan pulang malam ini, biar mereka meneruskan liburan mereka”
Kini Aira bersandar pada sandaran tempat tidur dan menepuk pahanya agar Ryo berbaring di pangkuannya. Ryo pun menurutinya.
“ahh,.. aku paling senang seperti ini sekarang” ucapnya kemudian memutar wajahnya menghadap ke perut Aira
“maafin papa ya.. papa kemarin terlalu sering nengokin kamu .. tapi sekarang jangan ngambek ya.. biar papa bisa nengok lagi” canda Ryo
Aira tertawa memukul ringan bahu Ryo mendengar ucapannya.
“kamu apa apaan mas” tawanya
“aku lagi ngobrol sama anak ku beib” senyumnya menatap Aira yang menunduk
Aira terkekeh membuat wajahnya semakin manis.
Entah apa yang membuat Aira memang terlihat sangat cantik dan manja beberapa minggu ini dimata Ryo, mungkin karena aura kehamilan yang tak disadari olehnya.
“kamu semakin cantik beib, apa mungkin nanti baby kita cewek ya?”
“kamu ingin cewek apa cowok sayang?” tanya Aira membelai kepala Ryo.
“cewek atau cowok gak masalah” senyumnya
“aku ingin cowok aja.. nanti dia bisa melindungi adik adiknya” ucap Aira dengan senyum penuh kebahagiaan
“adik adik? Berarti kita punya banyak anak dong?” tanya Ryo menggoda
“heum.. aku ingin punya empat anak” ucap Aira semangat
“hmmmm!” Ryo berpikir sejenak
“kenapa? mas gak mau kita punya anak banyak?” tanyanya curiga
“aku sih gak masalah, aku hanya mengkhawatirkan kamu sayang” Ryo mencubit ujung hidung Aira manja
__ADS_1
“berarti boleh kita punya banyak anak?”
“apa saja .. asal janji satu .. kita harus punya banyak pengurusnya juga, aku gak mau kamu kecapean” ucapnya
“satu aja belum tahu gimana.. kamu mikirnya terlalu jauh mas” balas Aira
Ryo tertawa, rasanya saat ini ia hanya ingin tertawa dan tertawa, Ingin mengungkapkan rasa bahagianya. Kebahagiaan mereka kini sangat sempurna.
“kalau kamu mau punya empat anak, berarti setiap hari kita harus bikin empat kali ya..?” goda Ryo
“iihhh..” Aira memukul manja bahu Ryo dan terkekeh malu dengan kata katanya
“kan bener beib” tawa Ryo
"pikiran kamu itu mulu" protes Aira yang membuat Ryo kembali tertawa, Aira memang terlihat imut baginya kalau ia sedikit merasa diusili.
“kalau cowok kita kasih nama siapa mas?”
“nanti saja, aku masih terlalu senang, belum bisa mikir nama anak kita”
“ahh.. aku udah gak sabar” ucap Aira kembali memegang perutnya.
Cup cup cup
Ryo mencium perut Aira dan kembali menenggelamkan kepalanya disana.
“mas geli!” Aira tertawa menahan kepala Ryo yang terus mengusapkan wajahnya di perutnya
Akhirnya sore itu Aira mengatakan pada Aina bahwa ia dan Ryo akan kembali ke negara mereka.
“lho.. kok aku ditinggal ni?” Protes Aina
“bukan ditinggal Ai.. tapi ni kamu ingin kamu lebih lama lagi liburan disini” jelas Ryo
“gak ah.. aku gak mau jauh dari ni” jawabnya
“gak ‘papa di.. nikmati liburan ini.. dua hari aja, nanti kamu dijemput lagi” jelas Aira
“gak asyik ni.. kan lebih asyik kalau liburan sama kamu” jawab Aina
“ya sudah.. padahal Syen dan Ken masih ingin liburan mereka” jelas Ryo
“hmmm.. tapi ni memang gak kenapa napa kan kak?” tanya Aina yang masih mengkhawatirkan Aira
“udah gak ‘papa, hanya dia masih harus banyak istirahat dan gak boleh terlalu lelah” jelas Ryo
“udah di.. tinggal aja yah..? lagian kamu juga belum beli oleh oleh buat rekan kerja kamu kan?” Aira mengingatkannya
“iya sih.. tapi masih boleh kak pake kartunya?” tanyanya lagi
“itu kartu ni kamu.. pakai aja sesuka kamu” jelas Ryo lagi
“limitnya berapa?” tanya Aina yang tak pernah menjadi manusia boros
“no limit!” jawab Ryo
“ah.. ni.. dia gak asyik” jawab Aina mengeluh
“dasar aneh! orang itu kalau dijawab limitnya baru bilang gitu.. kamu malah sebaliknya” protes Ryo
“sapa suruh merit sama kakak orang aneh” balas Aina tak mau kalah
Aira tertawa melihat keduanya
“kalian berdua sama anehnya” ucapnya melangkah meninggalkan mereka
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Mohon maaf sebelumnya, mungkin nanti selama Ramadhan kita libur dulu ya, karena saya gak ingin ganggu yang puasa, karena cerita selanjutnya banyak yang gak cocok dibaca saat puasa.. hehehe
maaf ya kakak kakak.. trims