
“kalau ini gimana?” akhirnya Arya menunjukkan video itu
Bams menatap tajam pada ponsel Arya. Jantungnya terasa lepas saat itu, matanya menajam, diikuti deru nafas karena dalam seketika tubuhnya memanas karena dibakar api cemburu yang luar biasa.
Raut wajah Bams dapat terbaca Arya dan Jordi dengan jelas. Kecemburuan itu membakar tubuhnya.
“sejak kapan ini?” tanya Bams dengan geraham menatup pada mereka berdua
“sudah dua hari ini” jawab Arya
Bams mengambil ponselnya sendiri. ia mengecek berita yang beredar tentang dia dan Kiky. Ternyata begitu banyak foto Kiky bersama lelaki itu, bahkan ada salah satu komentar yang mengatakan jika Kiky sering berada di rumah lelaki tersebut.
Bams duduk termenung menatap ponselnya. sedang Arya dan Jordi hanya saling pandang menanggapi kondisi Bams saat ini.
“gue ke kantor dulu” Bams beranjak meninggalkan mereka berdua
“hem!” jawab Arya
Ia berjalan cepat menuju kantornya yang terletak di lantai paling atas cafe tersebut. Bams menjatuhkan dirinya di kursi kebesarannya. Melihat kembali senyum Kiky pada video tersebut.
Ia mengingat ketika dia berada di kampung beberapa hari, Kiky hanya menanyakan kondisi orang tuanya saja dan tak setelah itu dia tak menghubungi Bams selama dua hari disana. Bahkan saat ia kembali Kiky tidak menantinya seperti dulu setiap ia memiliki job di luar kota. Kiky memang telah berubah! Benak Bams.
Sakit dan perih yang terasa begitu menyayat menyadari pikirannya sendiri. Seluruh otot tubuhnya serasa melemas diikuti rasa sakit yang ia rasakan di dalam dadanya.
Perlahan Bams mengambil ponselnya dan menghubungi Kiky. Namun hanya nada dering tak diangkat olehnya. Hingga beberapa kali ia menghubungi Kiky..
“halo!” jawab Kiky terdengar ceria disela tawa.
Terdengar suara berisik dan angin yang menerpa ponsel Kiky
“lagi dimana?” tanya Bams langsung
“ayo cepetan! Bunda nungguin tuh” terdengar suara seorang lelaki dari jarak yang tak jauh dari Kiky
Tubuh Bams kembali terasa terbakar. Jelas sekali Kiky sedang bersama lelaki yang berada di video yang ia lihat, karena sama sama menyebut kata bunda.
“aku lagi dirumah.. nanti ya ku telpon lagi” jawab Kiky langsung mematikan ponselnya.
Prangggg!!!
Ponsel itu terlempar dengan mudah ke dinding. Nafas Bams menderu, tatapannya tajam. Ia duduk dengan menopangkan sikunya pada meja, mengusap wajahnya kasar, mencoba menurunkan tensi emosinya yang terlalu tinggi.
“apa arti ketakutan kamu waktu itu Ky? Kalau kamu justru merasa nyaman dengan orang lain” gumamnya sendiri dalam tunduknya.
“Kamu telah bermain Ky!!!!” geram Bams mengeratkan kedua rahangnya
Sedangkan Kiky dengan rasa tak bersalah justru bersenang senang bersama keluarga barunya. Nimas dan Handoko yang kini memang sudah menjalin lagi hubungan mereka membuat anak anak mereka juga menjadi senang. Kiky Merasa kembali memiliki seorang ibu dan Damar yang senang bersama Handoko yang memang ayahnya juga merasakan hal sama.
Meski Nimas belum mengatakan jika Damar adalah putranya, Handoko merasakan kasih sayang yang sama pada Damar seperti halnya pada Kiky putrinya.
“gimana mas?” tanya Kiky mendekat melihat Damar yang menyiapkan panggangan
“belum siap, kayanya masih nunggu dulu” lihat Damar
“emang beneran bisa kamu?” tanya Kiky dengan anda menggoda.
“jangan meremehkan mas mu ini..!” Damar memainkan pencapitnya ke arah Kiky
Membuat mereka berdua tertawa.
Kiky mengambil stik pengatur arang yang menancap dan memainkan itu ke arah Damar
“Ky.. jangan main api kamu” Damar menghindar
__ADS_1
Kiky tertawa melihat Damar yang jelas ketakutan.
Acara barbeque kedua keluarga itu pun menyenangkan, ada cerita dan tawa bersama. Hujan harus membubarkan mereka semua.
Damar dan Kiky memilih mengobrol di balkon. Seperti biasa, Damar selalu menanyakan cerita tentang Handoko, baik itu makanan kesukaan atau kebiasaan. Dan seperti biasanya Kiky selalu sabar menceritakan semua detail tentang sang ayah.
Sedang Handoko memilih mengobrol di teras belakang rumah. mereka menikmati hujan bersama seperti dulu.
“setiap hujan, aku selalu merindukanmu” ucap Handoko menatap rintik hujan yang seakan romantis.
“hanya saat hujan?” tanya Nimas
“merindukanmu setiap saat, tapi yang paling menyiksa disaat hujan” ucapnya lagi
“kenapa mas?” tanyanya
“karena kenangan terakhir kita saat hujan tak mampu ku lupakan hingga saat ini” ceritanya
Nimas tertunduk mengingat memori yang akhirnya menghadirkan Damar atas hasil buah cinta mereka.
Handoko menatap Nimas yang diam dalam kesunyian.
“kamu pergi setelah kejadian itu tanpa memberiku sebuah pesan atau pun perpisahan” ingat Handoko
“mas.. sebenarnya ..” Nimas menahan kembali bibirnya untuk berkata. Hatinya kembali meragu untuk mengatakannya saat ini.
Nimas takut jika Handoko tak mampu menerima kenyataan jika ia menceritakan semuanya. Terbesit ketakutan jika Handoko akan marah padanya karena telah menutupi kenyataan tentang Damar.
“apa yang kamu khawatirkan?” tatap Handoko yang memahami ekspresi Nimas. Ia sangat hapal jika Nimas mencemaskan sesuatu, ia tak mampu menutupinya dari Handoko.
“mas.. aku..” kata kata itu kembali tertahan
“Ada apa?” Handoko mengambil tangan Nimas dan menggenggam erat.
Jantung handoko mulai berdetak kencang. Tatapan itu terlihat sama pada saat ia meninggalkan Nimas ketika ia berangkat ke luar negeri dulu. Ucapan itu pun terdengar sama. Ucapan permintaan maaf yang akhirnya ia mengerti sebagai maaf atas kepergiannya.
“jangan bilang kamu ingin kita berpisah lagi” ucap Handoko menebak karena rasa takut.
Nimas tersenyum tipis dan dikulum. Ia menatap manik mata Handoko dengan penuh cinta
“tidak mas.. bukan itu”
“aahhh...” Handoko bernafas lega
“ada hal yang ingin ku katakan! tentang sebuah kenyataan yang mungkin akan membuat kamu akan sangat marah padaku mas” ucap Nimas dengan merasa bersalah.
“mana mungkin aku bisa marah ke kamu” jawab Handoko mencium tangan Nimas.
"jangan membenciku ya...?" pinta Nimas dengan sorot mata memohon
Handoko hanya membalasnya dengan tatapan bertanya
“ini soal masa lalu kita.. ada sebuah rahasia yang ku simpan yang tak bisa ku katakan ke kamu dulu” lanjut Nimas
“rahasia?” Handoko menatapnya penasaran
“berjanjilah jangan marah padaku ya mas?” pintanya
“tentu cinta” jawab Handoko seperti dulu
Nimas tersenyum mengingat panggilannya dulu
“aku akan cerita dari awal ya?” ucapnya
__ADS_1
“hem!” jawab Handoko dengan penuh pengertian dan cinta, sebuah kecupan di tangan yang kini mulai terlihat keriput.
“waktu kamu mengatakan pada tuan dan nyonya soal hubungan kamu dengan gadis pelayan, aku mendengar semuanya” ucap Nimas
“waktu itu aku tidak jadi ke pasar, jadi aku mendengar semua obrolan kalian” jelasnya lagi
“hem!” Handoko mendengarkan
“saat mendengar nyonya dan tuan yang menentang hubungan kita, aku memutuskan untuk meninggalkan kamu... bukan karena karena aku menyerah pada cinta kita, tapi rasa hutang budi yang ku punya tak tega membuat nyonya dan tuan kecewa.. mereka terlalu baik padaku hingga aku tak sanggup menyakiti hati mereka” kenang Nimas
“saat kamu diminta ke luar negeri, sebenarnya tuan dan nyonya ingin menyelidiki siapa perempuan itu” jelasnya
“maka saat itu aku memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan memilih melupakan tentang kita”
“aku bekerja pada sebuah project, menjadi kuli masak untuk mereka. Dua bulan sejak kejadian kita.. kondisiku semakin menurun, suatu ahri aku pingsan karena tak mampu lagi menahan lelah tubuhku, dan seorang duda membantu dan membawaku ke rumah sakit” kenang Nimas menarik tangannya dari Handoko.
Handoko terdiam.
Apa kamu akan bilang masih mencintai almarhum suami kamu? benak Handoko
“dia adalah pemiilk project tempatku bekerja” tatap Nimas dengan mata mengembun.
“saat itu dia bertanya pada ku, apa aku sudah menikah? Aku bilang aku ... aku belum menikah” Nimas merasa ragu meneruskan ceritanya
“dia menanyakan dimana kekasih ku.. dan seketika aku menangis, aku mengatakan aku pergi dari kekasihku”
“saat itu juga dia memintaku menikah dengannya, dan aku sangat syok, karena aku hanya bertemu dengannya saat itu”
“dia mengatakan aku harus menikahinya karena.. karena..” Nimas tak berani menceritakan semuanya.
“karena?” Handoko penasaran
“karena aku sedang .. Hamil!” tatap Nimas pada Handoko
Wajah Handoko menegang dalam seketika. Ia mematung menatap nimas. Matanya seakan tak berkedip. Tubuhnya gemetar menerima fakta yang baru ia ketahui setelah selama ini Nimas menghilang.
“mas... aku minta maaf” ucap nimas menangis.
“Nimas!” ucap Handoko merasa tak percaya.
“kenapa hal sebesar itu kamu ...” Handoko tak mampu meneruskan kata katanya
Jantungnya terasa nyeri. Ia menggenggam erat gagang kursi yang ia duduki. Matanya membulat mengingat umur Damar yang cocok dengan waktu mereka. tubuh Handoko semakin menegang. Ia memejamkan mata
“masss...” Nimas mendekat dan menangis melihat handoko yang terihat sangat Syok
“apa Damar? ... Dia putraku?” tatap handoko
Nimas hanya mengangguk dalam tangisnya.
“aahhhh...” nafas itu lepas diiringi dengan matanya yang mengabur.
"maaassssss!!!" teriak Nimas dan Kiki bersamaan
“paaaahhhhh!” teriak Kiky yang dari tadi menguping pembicaraan mereka.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Akhirnya perlahan satu persatu terungkap.
Siap siap ya.. kita akan ungkap Aira setelah ini
jangan lupa semangatnya ya kakak semua.. like, vote, gift atau sepatah dua patah kata komentar juga boleh.. hehehe (edisi ngarep nie)
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~