
Saat sarapan bersama, Ryo memberikan roti yang ia siapkan.
“Kenapa kamu gak pernah pakai kartunya?” tanya Ryo menuang susu untuk Aira.
“aku gak ngerti cara pakainya!” jawab Aira asal
Ryo tersenyum melihat kelakuan Aira yang seratus persen bohong.
“bohong kamu ketahuan banget” ucap Ryo melirik Aira
“serius!” jawab Aira ngotot
“kalo aku belanja di pasar dekat rumah ku, gak bisa ku gesek, semua cash disana” jelasnya mengolok Ryo
“Terus kenapa gak tarik cash aja?” Ryo tanya lagi
“belum perlu” jawabnya lagi
Ryo tersenyum karena Aira seakan selalu mempunyai jawaban untuk semua pertanyaannya.
Saat selesai sarapan, Aira mencuci gelas dan piring, Ryo berdiri di sampingnya saat itu. Ia terus tersenyum. Sesekali Aira tertawa ditahan melihat Ryo yang ada di sampingnya.
“kamu tinggal disini aja sekarang!” pinta Ryo
“mulai ngaco kamu” Aira memercikan air padanya
Ryo tertawa dan menyeka air di wajahnya.
Ryo mengajak Aira duduk santai di depan TV. Ia mengambil ponsel milik Aira. ia ingin mengaktifkan salah satu situs belanja online tempat langganan Ryo. tapi Aplikasi belanja itu tidak bisa di akses dari ponsel jadul milik Aira. Akhirnya ia mengambil tablet miliknya. Ia menunjukan pada Aira bagaimana cara belanja online. Ia mencoba membeli salah satu pakaian santai untuk Aira dengan menggunakan kartu kredit milik Aira. dan sukses.
“Ntar siang diantar beib!” ucap Ryo menatapnya
Aira melihat tangan Ryo yang memar. Ia memegangnya
“tangan kamu mending diperiksa” ucapnya terus menatap dan mengusap tangan Ryo yang membengkak.
“iya! rencananya pagi ini aku ke rumah sakit, kayanya ada yang retak” jawab Ryo langsung melihat lagi tangannya.
Aira memegang lembut tangan Ryo yang memar, ia melihat jari jari Ryo yang membesar.
“jari kamu jadi lucu!” usapnya tersenyum tapi sedih.
Ryo menatapnya, ketika Aira menoleh padanya, wajah mereka pun menjadi sangat dekat.
Deg deg deg!
jantung Aira dan Ryo mulai gugup.
“kapan kamu pasang perban tadi malam?” Aira melihat tangannya mencoba menjauhkan wajahnya dari Ryo
“pas kamu tidur” jawab Ryo tersenyum melihat kelakuan Aira yang menghindar.
Pagi itu Ryo ke rumah sakit milik orang tuanya. Ia membuat janji dengan salah satu dokter yang merupakan orang yang ia percaya. Dokter itu adalah paman sepupu dari sodara ibunya.
Ryo dapat membuat janji kapanpun ia mau di sana. Karena rumah sakit itu milik keluarga mereka. Meskipun seperti hari libur seperti sekarang.
Dokter itu bertanya, Ryo sudah melakukan apa sampai tangannya seperti itu, Ryo hanya menjawab
“Jatuh cinta Om” ucapnya tersenyum menunjukan wajahnya kalau dia memang sedang jatuh cinta.
Dokter itu tertawa mendengar jawaban Ryo. Ryo pulang dengan tangan diperban. Meski disarankan omnya untuk sementara ia harus menggunakan supir, tapi ia tetap saja pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri.
__ADS_1
Saat perjalanan pulang, Ryo berhenti sejenak, tangannya terasa sakit karena dipaksa menyetir. Ia berpikir untuk mengambil beberapa baju Aira. ia pun memutar arah.
Om dokter melaporkan pada ayahnya bahwa Ryo datang ke rumah sakit dengan tangan memar dan mengatakan kalau penyebabnya ia jatuh cinta. Sang ayah tersenyum mendengar itu, ia sedikit khawatir mendengar putranya yang harus memeriksakan diri.
Sang Dokter juga bercerita, harusnya Ryo menggunakan supir untuk sementara waktu. Mendengar hal itu, sang ayah pun pergi mengajak supirnya untuk melihat keadaan putranya. Ayahnya terus menghubungi Ryo, tapi tidak diangkat karena saat itu Ryo sedang berada di tempat Aira untuk mengambil baju baju milik Aira yang dulu ia beli. Dan benar, Aira hanya menyimpannya saja, sedangkan ponsel miliknya ketinggalan di dalam mobil.
Ayahnya sedikit khawatir, meski ia tidak akur dengan ibunya, Ryo masih berkomunikasi baik dengan sang ayah.
Suara bel berdering beberapa kali. Aira bergegas kedepan untuk membuka pintu, ia berpikir paket belanjaan yang tadi Ryo pesan sudah datang.
Tapi saat ia membuka pintu, ada seorang pria paruh baya berdiri kaget menatapnya. Pria rapi dengan setelan jas.
Aira tersenyum kecut. Ia tidak bisa berkata apa apa, jelas orang tua itu mencari Ryo karena itu kediamannya. Ekspresinnya pun seakan ia seperti tertangkap tangan berada di apartemen sang bintang.
“Ryo belum pulang ya?” tanya sang Ayah tanpa bertanya siapa Aira
“belum pak!" jawabnya sedikit gugup
Lelaki itu menatap Aira tersenyum. Siapa lagi ini? benaknya menatap Aira yang mengenakan kaos oblong yang kebesaran pada tubuhnya
"oya maaf.. bapak siapa ya?” tanya Aira memecah kesunyian.
Karena Ryo lebih mirip ibunya, maka wajah sang ayah tidak bisa Aira kenali.
Tiba tiba suara dering ponsel sang ayah terdengar kencang
“kamu dimana Ri?” tanya sang ayah dengan menggunakan speaker
“lagi di luar pah” jawab Ryo jelas
Aira mendengar itu kaget, ternyata ia orang tua Ryo.
Waduh.. papanya Ryo. matilah aku! Benak Aira dengan wajah pias
“ooo.. katanya kamu tadi ke rumah sakit?” tanya ayahnya lagi
Aira hanya berdiri terpaku, lututnya rasanya lemas karena terlalu gugup.
“ahh.. dasar om Surya, suka ngadu!” jawab Ryo kesal dengan nada manja
Ayahnya hanya tertawa mendengar keluhan Ryo.
“kamu udah mau pulang?” tanya sang ayah
“belum pah, masih di jalan, lagian masih ada urusan” jelas Ryo. Ryo mengarah ke apartemen Kiky. Karena dari tadi malam Kiky tidak bisa ia dihubungi. (karena Kiky menghindar ya..)
“ya udah kalo gitu” jawab ayahnya menutup telpon.
Ryo merasa aneh, tidak biasanya sang ayah menanyakan ia pulang atau tidak.
“maaf pak, saya tidak mengenali bapak” Aira tidak enak dan menunduk hormat.
“panggil om aja” jawab sang ayah dan mengulurkan tangan
“Aira om” sambut Aira
“silahkan om..” Aira mempersilakan orang tua itu masuk.
Aira yang saat itu memakai kaos milik Ryo merasa risih. Ia merasa sangat malu
“kalian tinggal bersama?” tanya sang ayah memasuki tempat itu
__ADS_1
“gak om” jawab Aira singkat
Aira mempersilahkan sang ayah duduk. Ia bergegas ingin mengambil minum untuk ayah Ryo.
“gak usah” cegahnya
“duduklah, om mau bicara!” lanjutnya
Sang ayah membaca kegugupan Aira saat itu.
“tenang aja, om cuma mau ngobrol bentar” ayahnya sangat ramah dan memahami kondisi Aira.
“Ryo gak pernah cerita soal ceweknya ke om, om taunya cuma dari TV. Dia pun gak pernah ngomong sama sekali soal hubungannya” cerita sang ayah
Aira hanya tersenyum kecil menanggapi cerita itu.
“kayanya kalian sangat dekat dan sepertinya Ryo menyembunyikan hubungan kalian” tebak sang ayah lagi yang memang akhir akhir ini Ryo seakan menghilang di acara gosip.
“iya om, saya dan Ryo memang dekat dan kami juga menyembunyikan hubungan kami” jawab Aira
“Ryo cerita tentang keluarga?” tanya ayahnya
Deb, jantung Aira mulai gugup. Ia seperti sedang diinterogasi mertua
“gak om” Aira takut salah bicara.
“ooo.. jadi dia gak cerita ke kamu soal dia gak pulang ke rumah” gumang sang ayah
“Om bisa minta tolong?” lanjutnya
“ee.. tolong apa ya om?” Aira ragu
“coba Aira ngobrol sama Ryo, bujuk dia biar mau pulang ke rumah” pinta sang ayah
“tapi jangan cerita om yang ngomong” ayahnya meminta
Aira sedikit bingung dengan permintaan itu. Apa mungkin Ryo punya masalah keluarga?
“Ryo udah lama gak pulang, bahkan telepon ke rumah pun hampir gak pernah” jelas ayahnya
Kenapa ya? Benak Aira
“saya usahakan om” jawab Aira ragu
Tiba tiba ada pesan masuk pada ponsel sang ayah
“maaf, om harus balik” Sang ayah berdiri dan pergi dari sana
“Om benar benar minta tolong ya ..?” pinta sang ayah sangat ramah sebelum meninggalkan tempat itu
“iya om” jawab Aira
Saat Aira menutup pintu. Ia termenung sejenak, apa yang terjadi pada keluarga Ryo?
Ryo berkali kali menghubungi Kiky tapi masih tidak aktif. Saat ini ia bahkan seperti seorang penagih utang yang menunggu di depan pintu apartemen Kiky. Ia pun akhirnya meninggalkan tempat Kiky tanpa mendapatkan penjelasan.
Ryo menghubungi Bams ingin menanyakan dimana Kiky, tapi saat Bams mengangkat telepon, Ryo hanya menanyakan kapan ia akan balik. Ryo masih mengingat ketika Kiky dijauhi oleh Bams karena ia keceplosan saat mabuk.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Jangan lupa like dan komentarnya ya..
__ADS_1
Makasih & love you all
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~