
Happy Reading..
Jangn lupa tinggalin jejaknya 🙏🙏
“Ya, kok gue gak liat Aira beberapa minggu ini, bukannya yang lain udah pada mulai masuk?” tanya Bams yang tak bisa lagi menutupi perasaannya yang merindukan sosok yang ia sebut sahabat tapi terus menoreh cemburu saat ia bersama orang lain.
“Aira ngundurin diri!” jawab Soraya singkat
“hah?” Bams kaget dan tak dipedulikan Soraya yang memiliki setumpuk kertas untuk di cek.
Bams mengirim pesan pada Aira dan ini kesekian kalinya pesan itu hanya dibaca saja. Kecurigaan muncul dalam pikiran Bams.
Apa Aira kesal ya? Kenapa dia ngehindarin gue? Dan masih banyak lagi pertanyaan muncul dalam kepalanya.
Ketika Bams menghubungi Aira, nomor itu tak bisa ia hubungi.
Bukan Aira yang menghindarinya, tapi setiap pesan Bams masuk, selalu Ryo yang membuka dan menghapusnya. Ryo masih cemburu dengan Bams karena ia memang merasakan sang sahabat yang memang masih menaruh perasaan pada istrinya.
Ryo dan Aira merahasiakan pernikahannya pada Bams karena takut Bams akan menceritakannya pada Kiky, sedang Kiky bukanlah orang yang bisa Ryo percaya lagi sejak kejadian penyerangan Aira.
Bams menunggu di depan gang dulu ia menurunkan Aira setiap ia mengantarnya pulang, tapi beberapa hari ia menunggu, sosok Aira memang tak terlihat disana.
📲 Ai.. kamu dimana?
📲 Kamu kesal ma aku ya?
📲 Kamu masih sahabat aku gak sih?
📲 Kamu baik baik aja kan?
📲 Apa Ryo melarang kamu temenan ma aku?
Dan masih banyak lagi pesan terkirim untuk Aira.
Hingga akhirnya hari itu Bams memberanikan diri untuk mendatangi Ryo untuk menanyakan keberadaan Aira.
Nit nit nit nit nit nit
Suara pintu depan pertanda kode kunci ditekan. Ryo membuka matanya dan menatap Aira dengan tatapan pertanyaan.
“siapa yang?” tanya Aira
“hem!” Ryo mengangkat bahunya
Ryo keluar dan Aira menuju nakasnya untuk melihat pesan yang barusan terdengar.
📲 ‘kak.. aku main kesana ya? Lagi bosen nih!’ tulis Rya
Ryo berjalan menuju pintu dan membukanya. Matanya menatap datar pada sosok yang kini berdiri tegap di depan pintu.
“Ryaaa!” panggil Aira keluar dari kamar masih menggunakan bath robe dan mematung saat melihat sosok di depan pintu.
“Aira?” ucap sosok tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Bams.
Dalam sepersekian detik, dada Bams terasa sesak dan panas. Menatap Aira tanpa berkedit dengan tatapan datar dan kecewa, dan kembali melihat Ryo yang rambutnya masih basah berdiri dengan binar cahaya mata yang begitu bahagia.
Ryo menoleh pada istrinya. Aira terpaku saling bertatap dengan Ryo dan kembali menatap Bams yang masih mematung dengan sejuta pemikiran dalam kepalanya.
Jadi kalian tinggal bersama sekarang! Benak Bams mencoba mengatur nafasnya menutupi perasaannya yang kini berkecamuk.
“gue ganggu ya?” tanya Bams canggung
“ohh.. gak kok! Masuk aja” ucap Ryo.
__ADS_1
Sedang Aira masih bingung dengan kondisi di depannya.
Aduhhh.. kok jadi gini ya? Benak Aira berbisik
Bams dan Ryo memasuki tempat itu.
“sayang .. kamu ganti baju dulu!” ucapan Ryo membuyarkan lamunan Aira.
“hem.. bentar ya Bi” ucap Aira meninggalkan mereka dan masuk kembali ke dalam kamar. Mata Bams masih menatap Aira yang dengan tanpa canggungnya memasuki kamar Ryo.
“pantes kode pintu loe ganti” ucap Bams ketika duduk di sofa.
Ryo hanya menanggapinya dengan senyuman.
“lo sampai kapan breaknya nih?” tanya Bams memecah kesunyian dan rasa canggung mereka.
“belum tahu gue..” jawab Ryo menggaruk tekuk lehernya yang tak gatal
“Aira tinggal disini sekarang?” tanya Bams langsung
“hhmmm..” Ryo ragu menjawab pertanyaan Bams
“kayanya iya” tebak Bams langsung
“gue gak bisa jauh ma dia lagi” ucap Ryo tersenyum menggambarkan betapa ia mencintai Aira.
“keliatan kok!” ucap Bams menaikkan sedikit sudut bibir kanannya.
Ceklek
Aira keluar dari kamar mengenakan dress rumahan selutut dengan kerah tinggi.
“Bi.. kamu mau minum apa?” tanya Aira
“kopi aja Ai.. hujan hujan gini enaknya kopi” jawab Bams
“hemm.. tapi pake sussu ya” Ryo menjawab dengan kerlingan mata nakal pada Aira
“hemmm!” jawab Aira tersenyum malu membalas tatapan nakal Ryo
Bams hanya menahan nafasnya melihat interaksi dua orang yang masih ia anggap sebagai pasangan mesum semata.
“loe yang minta Aira berenti kerja ya?” tanya Bams lagi
“semua tentang Aira sekarang adalah gue.. jadi loe jangan bingung kenapa Aira gak ada di ME lagi” jelas Ryo
“hmmm! Iya sih, kan dia tunangan loe” jawab Bams
Ting tong ting tong
Suara bell berdentang.
“itu pasti Rya!” ucap Aira keluar dari dapurnya membawa minuman untuk mereka.
“kok kamu yakin gitu?” tanya Ryo
“tadi dia bilang mau kesini” jawab Aira meninggalkan Ryo yang sejenak memegang pinggangnya.
“bentar ya Bi” Aira berlalu menuju pintu
“kakaaaaakkkk ipaarrr!” pekik suara Rya senang langsung menghambur memeluk Aira.
“kamu tu.. kaya gak ketemua tahunan aja” ucap Aira membalas pelukan Rya
__ADS_1
“lagian kakak.. habis nik” mulut Reya dibungkam Aira
“ssttt!”
“kenapa kak?” tanya Rya berbisik
“ada Bams” bisik Aira lagi
Rya membulatkan mulutnya ber oh ria.
Mereka berjalan bersama memasuki apartemen Ryo. Sejenak Rya menyapa Bams dan mengajak Aira memasuki kamar Ryo.
Bams ngobrol bersama Ryo menceritakan hubungannya dengan Kiky dan cerita di ME. Sedang Aira dan Rya asyik mengobrol ala cewek di kamarnya.
“kenapa kak Bams gak dikasih tau kak? Bukannya dia sahabat kak Ryo dan kakak ipar?” tanya Rya
“Ryo melarangku! Aku juga gak tau alasannya apa? Aku gak berani nanyainnya” ucap Aira
“kakak kurusan, padahal baru merit seminggu” ucap Rya mengejek Aira yang terlihat memang lesu
Aira tersenyum memerah mendengar ucapan Rya
“digempur terus ya kak?” tanya Rya dengan menaikkan alisnya sejenak
“kamu Re.. mulut kamu tu gak bisa di rem” jawab Aira semakin memerah
“tapi kayanya bener deh.. tu kakak jadi memerah gitu” ucapnya
“iih.. kamu Re!” Aira menghindar karena terlalu malu diiringi tawa Rya.
Terlalu asyik ngobrol dengan Rya membuat Aira melupakan Bams yang berada di kediaman mereka.
“sayang! Bams mau pamit tuh” panggil Ryo membuka pintu kamarnya
“tunggu bentar ya Re?” Aira beranjak
Ryo menggandeng pinggang Aira dalam rangkulannya, mengantar Bams menuju pintu.
“kamu masih sahabat aku kan Ai?” ucap Bams
“masih dong” ucapnya tersenyum
“kali aja di larang Ryo” lirik Bams
Ryo hanya mengangkat sedikit alisnya dan tersenyum.
“dia super pencemburu Bi” lirik Aira dengan wajah cemberut manja
“kan wajar sayang!” ucapnya mengecup puncak kepala Aira yang bersandar
Gemuruh di dalam dada Bams semakin menjadi, panas laksana lelehan lava terasa mengalir dari tulang belakangnya. Mengapa disaat sekarang perasaannya justru semakin menguat pada Aira.
Bams keluar dari gedung apartemen itu dengan hati dan pikiran yang berkecamuk. Jiwanya terasa membeku ditengah pikirannya dan hati yang memanas. Ia menepikan mobilnya dan berkali kali memukul setir.
“kenapa bodoh! kenapaaaaaa....?” teriaknya sendiri
“kenapa loe baru sadar sekarang... kenapa gak dari dulu loe sadar kalau loe mencintai dia” ia berbicara pada dirinya sendiri seakan ingin memarahi perasaan yang ada di dalam hatinya. Tubuh, pikiran dan hatinya seakan menjadi bagian yang terpisah. Tak bisa menyatu dan mengikat. Mengatakan keinginan berbeda dan selalu saling menentang.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaagggghhhh!!!” teriaknya kesal, tapi tetap tak mampu membuat keluar sesuatu yang mengganjal dalam dadanya.
Bams mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“kamu dimana?” ketika sambungan telpon telah tersambung
__ADS_1
Mobil pun meluncur kembali membawa Bams dengan semua perasaannya yang kacau.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~