Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Asumsi & pikiran


__ADS_3

Tuuuut.. tuuuuuutt... tuuuuuuutt


Suara menunggu panggilan diangkat terus memenuhi rungu Ryo. Ryo menelan ludah dengan sulit karena panggilan itu dilakukan untuk kesekian kali. Ia kembali ke hotel lebih cepat dari Boys yang akan merayakan kesuksesan konser mereka.


Capek, lelah dan ingin beristirahat adalah alasan yang Ryo berikan agar mampu menghindar dari sahabat, teman, manager, rekan dan tim Boys yang akan menghabiskan malam dengan pesta.


Ryo masih duduk terpaku menatap ponsel Aira. ia melupakan ponsel miliknya karena hanya ponsel yang sekarang berada di genggamannyalah yang paling penting saat ini.


Di tempat lain.


“kalian!! Batalin pestanya!” perintah Boman berdiri setelah menerima sebuah panggilan


“kenapa bo?” tanya Arya


“ada tribun yang runtuh sekarang mereka sedang mengevakuasi korban ke rumah sakit” jawabnya


“apa???!” jawaban itu hampir keluar dari mulut semua orang.


“gue dan managemen akan kesana liat mereka! loe loe pada istirahat, besok kita batalkan penerbangan pagi, kita mundurin siang, sekarang juga gak mungkin kita prescon, jadi loe semua siapin diri, besok prescon dan kunjungan buat fan Boys yang dirawat dan bla bla bla..” instruksi boman panjang lebar dan di dengar semua personil yang mendengarkannya.


Bams terus menghubungi Ryo. namum dari tadi panggilannya gak dijawab


‘loe dimana?’ pesan itu terus tertulis


Kecurigaannya akan hilangnya Ryo yang menyukai pesta membuatnya semakin kuat. Bams berasumsi Ryo melakukan pertemuaan dengan 'kekasih tersembunyinya' Aira.


Mereka membubarkan diri, pesta dibatalkan, semua persiapan yang sudah matang menikmati dunia keglamoran sirna dalam sekejap. Ditelan sebuah tragedi yang menjadikan semua bayangan kesenangan pudar di sapu berita menyakitkan.


“loe gak usah hubungin Ryo, ni hpnya sama gue!” tunjuk boman yang melihat Bams yang terus menerus menghubunginya.


Niu niu niu niu niu


Suara ambulans dengan nyaring menuju sebuah rumah sakit membawa seorang pasien yang mengalami pendarahan. Dia dirujuk dari rumah sakit terdekat karena harus mendapat penanganan khusus. Seorang ibu hamil yang dalam kondisi kritis harus dilarikan kerumah sakit yang mampu khusus menanganinya. Tubuh itu tak sadarkan


diri, wajahnya memutih. Ia hanya diam dalam ombang ambing laju mobil ambulans yang membawanya terbaring.


Wanita yang tak memiliki identitas itu harus segera diselamatkan. Nona fans Boys, hanya nama itu tertulis. Ia mendapat penanganan operasi karena cidera yang dialaminya.


Tak ada seorang pun yang menunggu di depan ruang operasi, Ia seorang diri. Dokter harus melakukan penanganan karena nyawa korban harus diselamatkan, berkas hanya ditanda tangani oleh sang penolong.


Nit nit nit


Kondisinya masih kritis setelah menjalani operasi panjang selama tiga jam.


Dan ditempat lain, Seorang lelaki tengah duduk termenung dalam menatap malam yang semakin pekat dan dingin, memandang layar ponsel dengan dada yang bergemuruh. Nomor itu tak lagi bersuara tut tut tut. Tapi telah di jawab suara seorang wanita operator telpon yang mengatakan jika ponsel yang dihubungi telah tak aktif lagi.


Benci, marah, kerinduan menyatu seakan menjadi sebuah momok menyakitkan akan pengkhianatan dan kebohongan. Pemberi harapan itu telah menghempasnya pada sebuah kesimpulan.

__ADS_1


Apa kamu mempermainkan perasaan ku?


Benak itu terus bicara


Kamu telah mempermainkan ku!!


Dadanya semakin panas karena benci, merasa dikhianati, merasa telah didustai untuk kesekian kali. Seorang Aira kembali membuatya terhempas dalam zona kemarahan, kebencian, kekecewaan dan sakit.


Waktu telah menunjukkan hampir subuh, tapi telpon itu tak berdering. Kemarahan yang membakar Ryo tak mampu menghadirkan kantuk di pelupuk matanya.


Pikiran Ryo semakin bicara dan bicara, semakin bertanya semakin ia kecewa, hingga pecahlah semua kemarahannya dalam sebuah teriak panjang di dalam sebuah kamar suite yang ia siapkan sebagai singgasana cinta bersama sang istri.


Ryo mengamuk, melempar, menendang, membuang dan memecahkan semua benda yang ada. Ia mengamuk sendiri mengikuti emosi yang luar biasa, bak sebuah gunung berapi yang mengeluarkan awan panas yang mambabat habis apapun yang ia lewati.


Deru nafas amarah masih terdengar, keringat dan darah terlihat mengucur akibat dari pecahan beling guci lampu tidur yang membuat tangan Ryo terluka.


Hening... hening dan hening. Hanya ada suara deru nafasnya sendiri yang ia dengar.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat matanya berbinar, Ryo melirik jam yang hampir subuh. Senyumnya mengambang, seketika marah itu menghilang. Bayangan kekasih dibalik pintu membuatnya panik karena kamar itu telah menjadi pusat dari pecahnya kapal karam bak dihantam bola meriam.


Ia membenahi diri, mencoba kembali meraup harapan yang tadinya berceceran. Berusaha menemukan kembali asa yang telah terbang menghilang.


Ryo pasrah! ketukan itu semakin terdengar cepat. Ia berlari menghambur menuju pintu. Seketika tubuhnya lemas dan raut wajahnya kembali kecewa.


 “ada apa?” tanya Ryo dingin


Ryo mengambil dengan tangan yang penuh tetesan darah.


“loe kenapa?” tanya Boman seketika melihat tangan Ryo berdarah.


“gue gak papa” ucap Ryo semakin dingin dan ingin menutup pintu.


“Ryo!” tegur Boman tegas


Ryo hanya menatap lelaki itu dengan tatapan tajam seakan ingin menjadikannya bahan pelampiasan emosi dan kecewanya saat ini.


“loe jangan nyulut gue” ucapnya


“loe dah tahu ada kejadian sehabis konser?” tanya Boman mendorong pintu yang Ryo tahan


“apa an?” Ryo melangkah masuk tanpa peduli dan diikuti boman.


“ada tragedi yo!” beritahu boman ragu karena melihat kondisi kamar yang tak kalah dengan lokasi yang ia lihat tadi. Namun bedanya, kamar itu tak memiliki garis polisi.


“apa? Tragedi?”

__ADS_1


Boman menceritakan kejadianya secara detail. Namun matanya terus saja melihat sekitar kamar yang sangat berantakan.


Ryo kenapa? Benak Boman disela diamnya


Ryo diam mencerna semua cerita boman. Pikiran itu muncul.


“apa mungkin ada Aira diantara korban itu?” tanya Ryo


Boman menggeleng


“gue harus ke rumah sakit sekarang!” ucapnya beranjak mengajak boman


“gak ada pasien bernama Aira yo!” ucap Boman nyaring


“loe ikut gue sekarang!” suara ketegasan itu tak berani Boman lawan. Ia hanya pasrah kembali ke rumah sakit. Ia begitu lelah karena sebentar lagi matahari akan menyapa, sedang ia belum menikmati yang disebut malam.


Hening terjadi di dalam mobil menuju rumah sakit. Boman lebih memilih menggunakan supir untuk mereka karena takut ia akan larut dalam lelah dan kantuknya saat menyetir.


Ryo memasuki koridor rumah sakit yang terlihat masih sangat sepi. Menatap kembali satu persatu pasien yang terlelap setelah mendapat perawatan malam itu.


Ryo terus berjalan mencari seseorang. Meski tak ingin berharap menemukannya diantara mereka yang terluka, tapi ia tetap mencoba menduga ketidak datangan Aira karena ia menjadi salah satu diantara mereka.


Hingga pasien terakhir. Ryo tampak kecewa, tak ada sosok ia yang ia harapkan meski ia takutkan. Pikiran kekecewaan kembali, kebencian karena dusta kembali menggema dalam kepalanya. Harapan tetap lah harapan yang berujung pada kekecewaan.


“apa tak ada korban lagi selain ini?” tanya Ryo pelan


Seorang perempuan terbangun dari tak sadarnya. Ia mendengar suara sang idola dengan samar di tengah sunyinya subuh.


Boman menjelaskan pada Ryo.


“ada ibu hamil yang dilarikan ke rumah sakit ibu dan anak karena harus mendapat penanganan khusus” jelas boman pelan


Perempuan itu semakin mendekat. Ia membuka tirai yang menghalangi netranya.


Terlihat Ryo yang berdiri dengan wajan dingin dan kecewa. Kemarahan terlihat diwajahnya. Ia memegang bahu sang manager


“urus wanita itu, gue gak mau tau, loe harus mengurus semuanya, besok gue harus balik ke ibukota” ucapnya kemudian melangkah.


Perempuan itu tertegun, wajah marah Ryo dan perempuan itu! kata kata dinginnya yang ia dengar tanpa tahu siapa yang Ryo bicarakan.


Ternyata Ryo bukan hanya berwajah dingin, tapi dia berhati kejam! Benaknya kecewa dengan sang idola


“aku kecewa sama kamu yo!” ucapnya lirih. Idola yang ia idolakan selama ini ternyata tak sebaik harapannya. Lelaki itu tetap seorang berengsek berhati dingin.


“Ni? Ni?” pikirannya mulai mengingat sang kakak yang tak berada di dekatnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Terima kasih buat yang masih setia memberi like


terima kasih juga buat doanya, moga kedepan saya bisa update tiap hari lagi.. amin!


__ADS_2