
Saat break latihan dari studio, Bams selalu meninggalkan tempat lebih awal dan tergesa, Ryo mulai menanam bibit curiga dalam kepalanya. Perubahan Bams sangat terlihat, belum lagi ditambah curhatan Kiky yang terus mengatakan Bams seakan menghilang dan dengan alasan kesibukan bisnisnya yang melebar.
Sore itu, Aina duduk sendiri termenung saat cafe mulai lengang. Disaat boys tidak datang ke cafe, maka secara auto cafe sedikit sepi. Aina menikmati secangkir cappucino hangat dengan sepotong lemon cake. Balkon kantor di lantai dua adalah tempat favoritnya saat menikmati minuman hangat tersebut di kala mendung seperti sekarang.
Pandangannya menerawang mengikuti pikirannya yang terus berpikir seorang Ryo yang jatuh cinta pada kakaknya yang biasa.
Kok bisa ni? apa karena aku yang ngefans sama Ryo membuat kamu tak berani cerita? apa karena aku kamu terus melawan perasaan kamu ke dia? Karena aku kamu harus menanggungnya sendiri dan menahan sendiri masalah kamu selama ini! benak Aina terus bicara. Ia berusaha menelaah semua fakta yang baru ia terima beberapa hari ini.
“Na!” sebuah tangan memegang lembut bahunya
Aina mengangkat wajah melihat Bams yang dari belakang, ia dari tadi menyapanya namun tak Aina respon.
“mikir apa?” tanya Bams
“kenapa kamu gak bilang lelaki itu Ryo?” ucap Aina
“dari mana kamu tahu?” Bams kaget
“kemarin kemarin, saat kamu dan ni ngobrol, aku dengar semuanya” ucapnya
“aina” Bams menatapnya dengan tatapan tak terbaca
Bams mengambil kursi dan duduk bersama di meja bulat yang terbuat dari rotan dengan berlapis kaca.
“dulu ni selalu becanda, mengakui dirinya kekasih Ryo, tunangannya, dan aku selalu menjawab akan bunuh diri jika itu benar. Aku tak menyangka, candaan itu ternyata kenyataan yang ingin ni ungkapkan..” Aina menunduk melihat tangan yang ia pangku.
“kasihan ni.. dia mungkin tak punya teman curhat saat hubungannya kacau dengan Ryo, karena ni hanya punya aku” ucapnya
“malam itu Aira meminta bantuanku untuk pergi” ucap Bams
Aina menoleh pada Bams dengan mata mengembun.
“malam itu seharusnya aku sendiri yang mengantarnya, tapi Aira justru pergi terlebih dahulu” jelas Bams
“sejak malam itu tak ada kabar lagi darinya”
“ni dan Ryo janji bertemu di konser terakhir kalian”
“iya, aku sudah menduga, karena Ryo memegang sebuah ponsel yang tak pernah ia tinggalkan bahkan sejenak”
“tapi tragedi malam itu membuat semua menjadi berakhir” ucap Aina
“maksud kamu?” Bams menyelidik
“iya.. aku dan ni adalah salah satu korban tragedi malam itu” jelas Aira
“tidak mungkin! kami datang sendiri mengunjungi semua pasien yang menjadi korban malam itu” jelas Bams
__ADS_1
“tidak! Tidak semua..” jawab Aina
“Ryo datang terakhir saat itu bersama manager kalian, dia sendiri yang meminta mengurus semua” jelas Aira dengan geraham ditangkup dengan kesal
“manager kalian sendiri yang menemui ni dan bicara dengan ni” ucap Aina
“Boman?” tanya Bams
“ya! Boman” jawab Aina
“jadi Boman tahu jika Aina menjadi korban disana?” tanyanya
“dia sendiri meminta ni agar tidak memperpanjang masalah kejadian itu, dia juga menjelaskan bahwa semuanya ditanggung oleh ME hingga ni sembuh” jelas Aina
Kemarahan Bams seakan sampai ke ubun ubun, bagaimana mungkin Boman tidak mengatakan pada Ryo atau padanya tentang Aira yang menjadi korban malam itu.
Bams berdiri dan meninggalkan Aina tanpa sepatah katapun. Ia berjalan dengan bergegas meninggalkan cafe.
Aina hanya terpaku menatap kepergian Bams. ia tak mampu membaca situasi apa yang membuat Bams pergi dengan tergesa. Aina menyeruput minumannya dan kembali menatap cake yang masih utuh tanpa tersentuh.
Sedang di jalan, Bams memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Rasa marahnya memuncak, tak sabar ingin menelan hidup hidup seorang Boman yang seakan menjadi penyebab semua kesengsaraan Aira.
Sriiiitttt!!
Suara ban di rem dengan cepat. Bams keluar dengan berlari menuju ruang Boman. Soraya yang berada di mejanya belum sempat menahan. Ia masuk dengan tergesa. Saat pintu terbuka, dua pasang mata langsung menatap Bams, sedang Bams hanya tertuju pada satu orang yaitu Boman.
Bugh! Bugh!
Hantaman itu terdengar.
“BAMS!!” teriak orang yang bersama boman yang tak lain adalah Ryo.
Dengan sigap Ryo berusaha menarik Bams agar menghentikan pukulannya pada Boman. Tapi Bams seperti kerasukan setan yang memenuhi dadanya yang penuh amarah, hingga pukulan itu jatuh bertubi tubi di wajah Boman.
“Bams, Hentikan!” teriak Ryo terus mencoba melerai Bams yang terus memukul Boman
Sedang Boman tak bisa berkata apa apa. Ryo akhirnya mampu melepas Boman dari Bams. Tampak darah segar mengalir di hidungnya dan sisi bibirnya
“Loe kenapa?” kedua lengan Bams tertahan ke belakang oleh Ryo
“Lepasin gue!!” Bams melepas tangan Ryo yang menahannya
“loe marah ma gue?” tanya Boman menyeka darah yang menetes
“loe bersyukur gue yang mukul loe hari ini... karena kesalahan loe tak termaafkan” ucap Bams menunjuk pada boman dengan penuh amarah
“gue salah apa?” teriak boman tak mau kalah
__ADS_1
“loe pikir sendiri, kesalahan apa yang loe perbuat” ucap Bams
“loe apa apaan Bams” Ryo mencoba memahami situasi kemarahan Bams
Bams masih mencoba mengatur nafas karena amarah yang menguasai tubuhnya. Matanya seakan memerah karena kebenciannya pada boman.
“salah gue apa?” tanya Boman lagi
Bams mendekat pada boman, tapi Ryo menahanya.
“lepasin, gue gak akan pukul dia” ucap Bams masih dengan nafas ngos ngosan
Bams mendekati Boman dan berbisik.
“kalau gue sebut salah loe di depan Ryo, loe pasti mati sekarang, loe pikir aja sendiri, kesalahan apa yang loe perbuat sampai Ryo akan membunuh loe kalau dia mengetahuinya” bisik Bams
Boman menatap tajam mata Bams. sedang Bams tersenyum smirk dengan tatapan mengancam.
Ia bergegas membalikkan badan untuk pergi
“Bams?” panggil Ryo
“loe akan berterima kasih suatu saat nanti” ucap Bams menatap Ryo dan meninggalkan tempat itu.
Bams menuju tempat Aira dengan pikiran dan hati yang berkecamuk. Kemarahan yang membuat ia lupa, rasa sakit hati yang Aira rasakan seakan ikut ia rasakan saat ini. Bams terus menahan gejolak emosi dalam dadanya, nafas pun seakan sulit untuk ditarik, apalagi ia hembuskan. Berkali kali ia menghela nafas agar menghilangkan bongkahan kesal dalam dada, tapi tetap saja sesak itu masih terasa.
Langkahnya menaiki tangga tua rusun rapuh itu seperti tak berasa. Memasuki tempat yang tak bisa disebut layak itu dengan gemuruh yang seakan mendatangkan badai.
Aira membalikkan badan saat mendengar suara pintu terbuka
“di?” tanyanya
Bams yang melihat Aira berdiri mematung langsung berlari memeluknya.
“bi?” ucap Aira seketika saat Bams memeluk erat dirinya
Tubuh Bams gemetar karena tangis, namun dalam seketika ada kelegaan dalam hatinya saat tubuh Aira ia rengkuh dalam pelukannya.
“bi.. jangan gini!” ucap Aira berusaha melepas pelukan Bams
“maafin aku... tolong .. hanya sebentar” ucapnya jelas terdengar serak karena menahan tangis.
Aira pun diam, pelukan Bams semakin erat dan isak tangisnya terasa di tubuh Aira. Aira mengusap punggung Bams lembut. Berusaha menenangkannya
“ni? bams?” suara Aina terdengar membuat Aira dan Bams sontak saling melepaskan diri
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1