
Pagi yang menyakitkan bagi Aira. perutnya seperti terasa di obok obok sesuatu. Efek akibat ia makan rujak yang ia beli saat ia belanja kemarin. Kemarin saat ia pulang belanja, ia turun di salah satu taman kota yang ia lewati. Ia meminta taksi menurunkannya disana karena matanya menangkap sesuatu yang sangat ia inginkan, ya! Rujak buah pinggiran jalan.
Alhasil, pagi ini ia seperti disiksa makanan tersebut karena ia memakan terlalu banyak.
“hoeeekkk hoeeekkk!” muntah itu seperti tak berkesudahan.
“ahhhhh!” keluhnya lemas di kamar mandi.
“untung kamu gak disini sayang.. kalau gak .. omelan kamu lebih mengobok obok perutku” ucapnya sendiri mengingat tak adanya Ryo di sampingnya.
Tak berselang lama, Aira kembali muntah hingga tak ada lagi yang mampu keluar dari mulutnya.
Dering telpon membuatnya tersadar dari kenyamanan bersandar di kamar mandi. Ia membersihkan wajahnya sejenak dan keluar. Ia melihat sang suami yang menghubunginya dengan video call.
“pagi sayang, muaacchhh!” Ryo menyapa dengan senang dan ceria dengan wajah sudah segar.
“pagi!” jawab Aira dengan wajah sedikit pucat.
“sayang kamu gak papa?” ekspresi Ryo langsung khawatir.
“apa an sih?” Aira mencoba menutupi kondisinya dengan berpura pura tidak mengerti
“kamu pucat gitu?” tatapan Ryo semakin khawatir.
Kamu pasti mimpi buruk lagi tadi malam! Benaknya
“kan udah biasa kaya gini” Aira tersenyum padanya
Ryo menanggapinya dengan senyuman tak nyaman dan merasa sedih.
“kamu kok udah bangun jam segini?” tanya Aira
“iya, ada syuting pagi” memberitahu
“aku masih ngantuk!” ucap Aira mencoba menyudahi panggilan itu
“ooo ya udah, tidur lagi” ucap Ryo
“dahhh..”
“muachh love you” Ryo menutup panggilannya
Pasti tadi malam kamu kumat! Pikiran Ryo merasa bersalah karena tak disisi istrinya.
Sedang Aira kembali berbaring dan mencoba mengusap perutnya dengan minyak kayu putih agar terasa nyaman.
“ahhhh.. perutku!” keluhnya
Selang beberapa jam perutnya mulai terasa nyaman, namun lapar luar biasa. Ia pun beranjak menuju dapur. Tercium aroma begitu sedap saat pintu kulkas terbuka.
“ahhh.. kulkasku wangi hari ini” ucapnya mengeluarkan bahan yang ingin ia makan.
Sementara memasak, mulutnya terus mengemil makanan ringan yang ada disana untuk menahan sementara perutnya yang terus teriak.
__ADS_1
Selesai sarapan yang disebut menjelang makan siang. Aira menyandarkan dirinya di sofa dengan perut yang benar benar penuh.
Ahhh.. selera makanku hari ini kok luar biasa ya! Dia tersenyum sendiri mengingat menghabiskan tiga piring nasi.
Aira berjalan kembali ke kamarnya. Mandi dan membenahi dirinya yang sepagi ini berkutat di dapurnya.
Aira melirik pada pembalut yang tak pernah ia pakai selama hidup bersama Ryo. Ia mengingat kembali kapan terakhir ia memakai benda itu.
Pikiran Aira melayang memegang perutnya.
Ya tuhann... mungkinkah?
Detak jantungnya langsung berpacu. Senyumnya mengambang sendiri tanpa ia sadari. Jiwanya berasa ringan menebak kemungkinan yang sangat membahagiakan.
“apa mungkin kamu sudah ada disini?” ucap Aira menatap dirinya di cermin dan terus memeluk perutnya dengan tagannya.
Tak terasa air matanya menetes. Senang, terharu dan bersyukur! Campur aduk pikiran yang saat ini ia rasakan menjadi satu. Sesat kemudian ia berpikir kembali
“tapi kalau bukan gimana?” ucapnya kembali menatap dirinya
Apa mungkin setelah melakukan hubungan itu membuat dapetku tidak teratur? Ucapnya lagi menyudahi ueforia yang tadi menyelimutinya.
Tespack! Pikiran itu langsung muncul.
Aira memakai pakaiannya dengan rapi. Ia berjalan dengan cepat keluar dari apartemennya. Ia menuju salah satu dept store dekat apartemen mereka. membeli benda yang dapat menghilangkan keraguannya.
Ia membayar cash belanjaannya dan berjalan kembali dengan cepat menuju apartemen dengan beberapa belanjaan yang lain yang ia ingini.
Dengan gugup Aira membuka benda berbentuk panjang itu dari pembungkusnya. Ia mempersiapkan diri dengan detak jantung yang berpacu.
*****
Siang itu beredar sebuah berita terbaru tentang Ryo.
RYO MAKAN MALAM DENGAN SANG TUNANGAN DI SKY LOUNGE XXXX
Terlihat tulisan tersebut menjadi tranding dan dilengkapi dengan sebuah foto. Meski foto tersebut hanya menunjukkan punggung Aira yang memakai jas Ryo dimana tangan Ryo merangkul mesra di pinggangnya. Foto mesra yang memperlihatkan Aira bersandar manja dirangkulan Ryo memandang pemandangan malam kota.
Berita itu menjadi tranding topik yang kembali bertengger menempati urutan nomor satu. Boman kembali mendapat serangan telepon dari berbagai media. Hal yang merepotkan namun menguntungkan baginya karena tak perlu melakukan promo tanpa mengeluarkan banyak uang.
Berita heboh itu tak tercium Aira. Ia sibuk sendiri dengan dirinya yang merasakan kehamilan. Ia memang tak menonton berita gosip, tak membaca berita, ia hanya sibuk dengan tangannya yang terus membuat makanan yang ia inginkan.
Berita itu terus heboh dan memunculkan kecemburuan mendalam bagi pecinta Ryo.
Ryo menghubungi Aira tapi tak kunjung Aira jawab. Kegelisahan menyelimutinya, pagi tadi sang istri begitu pucat dan ia menganggap istrinya kembali kumat. Ditambah dengan berita siang ini, membuat Ryo semakin khawatir, sedang dia belum bisa kembali dari kegiatan syuting yang sekarang seakan menyiksa.
Suara bel berdentang beberapa kali. Aira keluar untuk melihat siapa tamunya. Tampak terlihat seorang lelaki berjas dengan tampang garang berdiri.
Rasa takut menyelimuti Aira mengingat kejadian masa kecilnya. Dengan gemetar ia menjawab tombol pada layar yang tertera.
“maaf, ada perlu apa ya?” tanyanya berusaha tidak gugup
“nona, saya salah satu pengawal, tuan muda mengkhawatirkan nona karena nona tidak menjawab telpon tuan muda” jawabnya
__ADS_1
“oohh.. iya, saya akan menghubunginya” jawabnya lagi
“baik nona!” lelaki itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dan berlalu dari sana.
“ahhh...” Aira bernafas lega.
Ia mengambil ponsel dan ternyata ponsel itu berlayar gelap dalam kondisi mati total.
“Pantes saja kamu khawatir” ucapnya mengecharge ponselnya.
Selang beberapa menit, Aira menyalakan ponselnya dan mengirim pesan pada Ryo mengatakan ponselnya telah kehabisan daya.
Ryo meminta ijin sejenak menghentikan syutingnya.
“sayang kamu gak papa?” tanyanya khawatir
“sorry aku terlalu asyik di dapur, HP ku mati”
“ahhh.. nanti Ken akan belikan satu lagi HP buat kamu, jadi kalau yang satunya mati aku masih bisa hubungin kamu” jelasnya
Aira terkekeh mendengar suaminya yang begitu posesif
“kok ketawa gitu?” tanya Ryo.
“kamu kelewat posesif!” jawabnya
“biarin, dari pada aku disini serangan jantung mikirin kamu kenapa kenapa” ucapnya lagi
“iya iya maaf.. lakin kali aku perhatiin HP ku” Aira masih senang.
“kamu kayanya seneng banget deh!” Ryo curiga
“cake ku berhasil hari ini.. aaaaaaa...” Aira sangat senang, padahal ia senang karena hasil tespack tadi.
“hahahaha .. dasar.. gitu aja dia seneng banget!” Ryo senang mendengar istrinya yang begitu bahagia hanya kerena sebuah cake.
“udah ya.. aku mau lanjut nih!”
“hem.. aku juga masih sibuk..”
“dah sayang!” ucapnya
“dah cinta! Muaachh” Ryo menutup paggilannya
"Ahhhhhh..." Ryo menghela nafas lega. Itu berarti Aira tidak melihat berita hari ini. ia khawatir dengan kecemasannnya.
Ia menghubungi Rya untuk menemani Aira di apartemen, tapi ternyata Rya sedang berada di Singapura terkait seminar yang diadakan WHO.
Sedang di tempat lain, seorang penggemar berat Ryo melihat foto itu dengan seksama.
“kaya punggung kamu ni” ucapnya tersenyum melihat foto itu.
Namun dia tak lagi memperhatikannya karena kembali bekerja.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~