
Ryo membuka daftar panggilan, tertulis Bams melakukan panggilan siang itu.
“Bams! apa karena dia kamu gini?” tanya Ryo curiga dan melirik marah.
“kembalikan!” pinta Aira menatap Ryo tanpa rasa bersalah.
“apa yang Bams katakan sampai kamu kaya gini?” tanyanya lagi
Tapi Aira tak menghiraukan pertanyaan Ryo, ia berpaling ingin keluar dari kamar. Bergegas Ryo menahan lengan Aira.
“katakan!” kini terdengar nada amarah Ryo mulai keluar dari mulutnya. Ia cemburu!
“jadi kamu berpikir aku ada sesuatu dengan Bams?” tanya Aira balik dengan tatapan yang tak kalah tajam. Rasa kecewanya kini semakin bertambah karena Ryo seakan meragukannya hanya dengan satu panggilan telpon dari Bams
“apa Bams mengatakan sesuatu? Katakan Aira!!” setelah sekian lama, Ryo kini memanggil namanya
Aira? jadi kamu sekarang tak memanggilku sayang? Benak Aira diikuti tetesan bening yang lolos jatuh tanpa ijin.
“Tadi siang aku seharian Cuma di ME seharian, tadi malam beneran meeting! Aku gak kemana mana, kalau Bams mengatakan sesuatu yang membuat kamu marah, itu semua bohong!” jelas Ryo
“aku gak pernah bilang aku meragukanmu” tatap Aira kecewa dan menarik lengannya kasar dan ingin melangkah.
Ryo kembali menahannya. Ia memeluk Aira dari belakang dan mengeratkan tangannya.
“sayang maafin aku, tolong katakan salah ku” kini nada bicara Ryo melemah, lembut dan memohon.
Aira terisak dalam tangisnya. Dadanya begitu sakit.
“kamu gak ada salah apapun, sudah ku bilang aku hanya sedang sensitif” ucapnya ingin melepaskan tangan Ryo. tapi Ryo menahan lagi.
“gak mungkin! sesensi apapun kamu, aku tau.. kamu seperti ini karena kamu marah” ucap Ryo lagi yang memang memahami Aira
“aku hanya lupa diri!” jawab Aira
Ryo mengerutkan keningnya mencoba memahami arti lupa diri yang Aira sebut.
Ryo memutar tubuh Aira, ia menangkup kedua rahang Aira dan mengecup bibir istrinya, mengesap dengan mesra dan lembut, mencoba meraih gairah Aira. Aira hanya memejamkan matanya, tapi air matanya terus menetes tanpa mengikuti kata hatinya.
Ya, aku harus melayani kamu .. benaknya pedih.
Ryo memainkan lidahnya agar Aira kembali memanas dalam gairah pengantin baru mereka. tapi sepertinya tubuh itu terlalu dingin. Ryo merasakan ibu jarinya yang basah karena air mata Aira yang terus lolos.
Ryo melepas ciumannya menyadari Aira yang terus menangis. Ia menautkan kedua dahi mereka.
“beib.. apa yang salah dengan kamu?” menyeka air mata Aira dengan ibu jarinya
“aku salah apa? Apa yang bisa ku lakukan biar kamu bisa maafin aku? biar kamu gak nangis lagi” ucap Ryo dengan sedih.
Aira hanya mematung, ia bahkan tak mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Ryo. ia hanya berdiri seakan tanpa nyawa.
“aku akan siapin makan malam!” ucapnya menjauhkan tubuhnya.
“aku gak bisa makan saat kamu kaya gini.. jadi gak perlu kamu siapin” ucap Ryo beranjak ke kamar mandi
Aira kembali mematung di tempatnya berdiri. Ia menggelengkan kepalanya.
Begitu sulit untuk menerima keadaan ku.. terimalah Aira! benak Aira lagi
Mungkin bagi sebagian orang hal seperti ini sangat lah sepele, tapi bagi Aira yang berada di zona super sensitif, hal ini sangat membuatnya tersinggung. ‘Ryo gak menganggapnya’ itulah yang membuatnya begitu kecewa. Perasaan tak dianggap sebagai seorang istri membuat Aira begitu tersinggung.
Tapi sesaat kemudian ia menyadari, ia telah menjadi seseorang yang menuntut lebih atas apa yang peroleh saat ini. dicintai Ryo seharusnya sudahlah cukup, tidak menuntutnya untuk menjadikan dia sebagai orang yang berbagi segala hal dalam hidupnya. seharusnya ia sadar diri siapa dirinya.
Aira keluar dari kamar itu dan pergi ke apartemen sebelah. Ia menangis dan menangis sendiri di kamarnya. Sedang Ryo mengguyur tubuhnya yang kecewa dengan air dingin, mencoba meredam pikirannya yang panas.
Ryo keluar dari kamar mandi dan tak menemukan sang istri di dalam kamar mereka. ia kembali ke ruang ganti untuk mengganti baju. Ryo mengambil ponselnya dan menghubungi Bams. Ia masih penasaran, obrolan apa yang mereka bicarakan hingga membuat Aira seperti sekarang.
Dering telpon membuyarkan lamunan dan pikiran buruk Bams yang bicara. Ia tersenyum mendengar ponselnya berdering karena berharap Kiky lah yang menghubungi.
“what’s up?” jawab Bams kecewa saat menjawab panggilan Ryo
“loe ngomong apa tadi siang sama Aira?” dengan nada curiga
“ah.. loe negecek HPnya ya?” tanya Bams
“jawab Bams, Aira sekarang marah sama gue!” jelas Ryo
“gue cuma tanya kabar dia aja” jelas Bams
“loe gak usah bohong deh” Ryo mendesak
“gue tanya keputusan loe mundur dari ME apa dia yang minta, itu aja” jelas Bams
Ryo terdiam memejamkan mata.
__ADS_1
“astaga.. jadi karena itu!” ucapnya dan menutup panggilan tanpa berbasa basi lagi
“hah! Halo halo” panggilan telah terputus
“heissss.. kenapa sih malam ini semua orang menyebalkan” keluhnya sendiri.
Ryo bergegas mencari Aira. kini ia mengerti kenapa Aira marah dan dingin padanya.
“sayang! Sayang!” panggilnya mencari ke dapur.
Ryo menuju apartemen sebelah, dan ia langsung berlari menuju kamar sang istri. Ryo berdiri di depan pintu dengan ragu sebelum menyentuh gagang pintu.
Semoga gak dikunci! Benak nya
Ceklek
Suara pintu terbuka
Ahh syukurlah! Ryo lega
Terlihat Aira yang berbaring meringkuk didalam selimut. Matanya terpejam sempurna. Sisa jejak tangisan masih terlihat di wajahnya. Gambaran kekecewaan jelas terlukis dalam lelapnya.
Aira belumlah tidur, tapi saat mendengar suara pintu terbuka. Ia memejamkan matanya karena tak ingin membahas lagi masalah itu dengan Ryo.
“sayang!” ucap Ryo masuk ke dalam selimut dan membawa tubuh Aira ke dalam pelukannya. Ia memeluk Aira yang sedang membelakanginya.
“maafin aku, aku salah, memang seharusnya aku mengatakan rencanaku yang ingin mundur dari ME ke kamu” jelasnya
“maafin aku .. ku pikir itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan untukmu” Ryo mencoba berdalih.
Ia tak berani mengatakan ia lupa perjanjiannya dulu dengan Aira. Bahwa setiap keputusan akan mereka ambil bersama.
“aku pikir kamu akan senang jika aku tak lagi menjadi artis. Karena dengan begitu, kita tak perlu lagi menghindari wartawan, dan kita bebas kemana pun kita pergi” ucapnya lagi
“Karena ingin memberimu kejutan, aku lupa bahwa itu adalah sebuah keputusan yang seharusnya kita ambil bersama... maafin aku!” ucapnya mengeratkan pelukannya pada Aira.
Aira terisak mendengar kata kata Ryo.
“tolong jangan marah lagi, jangan sedih lagi, hatiku sangat sakit liat kamu menangis” ucap Ryo sedih
“kamu tau aku sangat mencintai kamu.. hem?” ucap Ryo mencoba merayu sang istri
“jangan marah lagi ya..?” pintanya lembut memohon mengecup tengkuk sang istri. Membenamkan kepalanya disana dan menghirup aroma khas dari wangi tubuh Aira yang kini telah menjadi candunya.
“maafin aku!” ucap Aira
Ryo membuka matanya tersenyum mendengar suara sang istri.
“seharusnya aku tau diri jika aku bukan apa apa!” lanjutnya
Ryo memutar tubuh Aira untuk menghadap padanya. Aira hanya seperti boneka tak bernyawa. Menuruti keinginan Ryo.
“maafin aku yang lupa..” tatap Aira pada mata Ryo dengan tatapan begitu sedih.
“aku lupa diri dan menganggap diriku memiliki posisi yang dimana aku dan kamu sejajar. Menganggap diriku memiliki arti bagimu, padahal aku bukan siapa siapa dan bukan apa apa” ucapnya lagi
“aku lupa diri karena terlalu bahagia selama sebulan ini hingga aku melupakan jati diriku” ucap Aira lagi
“sayang jangan katakan itu.. demi tuhan, aku khilaf..” Ryo menarik tubuh Aira yang bergetar karena menahan tangisnya.
“pikiranku terlalu sempit dan kampungan, maafin aku” ucap Aira
Ryo menggeleng mendengar bagaimana Aira merendahkan dirinya karena kesalahannya. Ryo kini mengerti seberapa kecewa Aira. Ia pasti merasa tak dianggap olehnya. Memikirkan itu Ryo begitu menyesal. Ia telah lupa lagi.
“maafin aku .. aku mohon maafin aku” ucap Ryo memeluk erat sang istri.
“kamu segalanya bagiku, kamu tempat ku berbagi, kehidupanku kini milik mu” ucap Ryo lagi
“maafin aku sayang.. maafin aku..” ucap Ryo terus dan mengecup puncak kepala Aira dalam pelukannya.
“aku memang berencana mundur, baru berencana sayang.. aku belum memutuskannya..” Ryo melepas pelukannya dan menatap wajah Aira. ia menyeka Aira matanya.
“itu semua ku lakukan untuk kamu” ucap Ryo tersenyum
“untuk kita! Tapi salah, seharusnya aku membicarakannya dengan kamu dulu” ucapnya lagi
“aku salah .. maafin aku” Ryo kembali memohon
Aira menatapnya tanpa kata
“sayang katakan sesuatu.. aku mohon” mata Ryo sayu dan memohon membuat Aira tak tega.
Ryo mengambil tangan Aira dan memukul ke wajahnya sendiri
__ADS_1
“pukul aku, hukum aku apapun, tapi jangan seperti ini” ucap Ryo saat Aira menahan tangannya.
“hem? Maafin aku ya sayang?” pinta Ryo lagi
Aira tersenyum tipis melihat wajah Ryo memelas. Ia benar benar tak tega melihat wajah suaminya.
“sudahlah!” jawab Aira
Ryo menggeleng
“kamu pasti gak mau maafin aku kan?” ucapnya lagi
“aku maafin kamu kok!” ucapnya
“sungguh?” tanya Ryo ragu karena Aira tak tersenyum sama sekali
“hem!” jawabnya datar
Ryo menarik tubuh Aira kedalam pelukannya.
“beneran gak marah lagi kan?” Ryo mencoba meyakinkan
“heeemmm” jawab Aira panjang
Terdengar suara perut Ryo yang lapar membuat Aira melepas pelukannya.
“ayo makan!” pinta Aira
“istriku dingin dengan ku, gimana aku bisa makan” tatap Ryo penuh pengharapan.
Aira mengecup cepat bibir Ryo.
“makan ya?” bujuknya
Tapi Ryo justru menarik kembali Aira dan menautkan bibir mereka.
“aku makan kamu aja” ucapnya melepas ciuman Aira.
“makan atau akan puasa?” ancam Aira.
Ryo menunjukkan giginya dengan ekspresi ngeri dan membuat Aira terkekeh.
“akhirnya.. istriku tertawa!” ucapnya mengecup pelipis Aira dan mengangkat tubuhnya bangkit dari tempat tidur.
“maafin aku!” ucap Aira ditengah mereka menikmati makan malam.
Ryo menghentikan kunyahannya menatap Aira.
“aku kalau lagi sensitif memang gak bisa ngendaliin diri”
Kunyahan Ryo melambat
Lagi sensitif? Hah? Gue puasa dong! Benaknya
Raut wajah Ryo menurun. Aira membaca kekecewaan dimata Ryo.
“kamu pasti sulit nerimanya” gumam Aira menyendok makannya
“sayang, biasanya berapa hari?” tanya Ryo
Aira mencoba mencerna pertanyaan Ryo. Ia pun tersenyum dikulum. Ternyata Ryo membaca lain dari kata katanya.
“tergantung kondisi” jawab Aira dengan senyum ditahan
“huuuuhhh...” nafas panjang terdengar berhembus di bibir Ryo.
Ryo seperti tak selera menikmati makan malamnya tadi terasa begitu enak. Aira hanya diam mendengar deru keluh nafas Ryo.
Sedangkan ditempat lain, seseorang yang kecewa terus saja terbakar oleh emosinya sendiri, arti dari kemarahan yang tak bisa pahami. Bams hanya bisa menghela nafas, membuka pintu mobil dan melangkah....
Bersambung
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Mohon maaf untuk para reader yang setia baca, jika akhir akhir ini Author tidak mengupdate episode baru.
Hal itu karena kesibukan Author di dunia nyata dengan pekerjaan yang luar biasa akhir akhir ini.
Semoga kedepannya Author bisa lebih aktif lagi menulisnya.
Dukung Author terus ya dengan tinggalkan jejaknya
Terima kasih
__ADS_1