
Aira dibangunkan oleh Cahaya matahari yang mulai memasuki jendela kamar Ryo. Ia melihat keindahan pagi ini dari apartemen Ryo yang berada dilantai paling atas. Sejenak Aira menoleh melihat Ryo yang tertidur pulas. Ryo bahkan belum mengganti pakaiannya.
Ia pasti sangat lelah. Benak Aira.
Aira menurunkan kakinya pelan agar tak membangunkan Ryo. Ia pergi ke kamar mandi. Badannya masih terasa sakit. Mungkin karena pengaruh demam tadi malam.
Saat terbangun, Ryo melihat Aira yang tidak berada di sampingnya menjadi panik. Ia memanggil manggil Aira berkali.
“Aira.. Ai!” panggil Ryo berjalan menuju kamar mandi.
Ryo langsung membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuknya. Ada Aira yang masih duduk di tepi bath up. Ia kaget melihat Ryo yang masuk tiba tiba.
“ternyata kamu disini” ucapnya menghela nafas.
“aku gak nemu bajuku” ucap Aira yang melihatnya di depan pintu
Ryo menghela nafas lega saat melihat Aira disana. Ia berpikir Aira sudah pergi
“kamu mau mandi?” tanya Ryo
Aira mengangguk
“Demam kamu masih belum sembuh, apa gak takut ntar menggigil?” tanyanya mendekati Aira
“aku udah gak papa” jawabnya dengan tatapan yang masih sayu
Ryo menjongkok, meraih tangan Aira yang masih terpasang selang infus. Ia melepaskan selang infus dan menutupnya. Lama ia memandangi tangan Aira yang ia pegang. Aira hanya diam membiarkan Ryo melakukan itu.
“baru hari ini aku mensyukuri sesuatu yang dulu aku tentang” ucapnya masih memandang tangan Aira yang ia pegang
Ryo diam lagi. Ia mengangkat wajahnya dan memandang Aira yang dari tadi menunduk menatap genggaman tangan Ryo.
“aku masih marah lho ya...” ucapnya ke Aira dengan nada mengancam tapi dengan sangat lembut.
Aira hanya tersenyum tipis mendengar itu
“jangan sakit lagi!” ucapnya lembut pada Aira yang menatapnya
Saat itu jantung Ryo berdetak kencang, begitu juga dengan Aira. Ia sering tertawa saat bersama Bams, tapi ia tidak pernah merasakan ini padanya.
Jantung ku! Benak Aira mengalihkan pandangannya.
“aku siapin dulu..” ucapnya melepaskan tangan Aira dan menyiapkan bath up dengan air hangat untuk Aira.
Ryo mengambil jubah mandi dan handuk untuk Aira. ia meletakkan tepat disana.
“mau ku bantu?” candanya ke Aira
Aira tertawa kecil mendengar itu. wajahnya masih sangat pucat, tapi senyumnya terasa indah bagi Ryo.
“aku senang liat kamu tersenyum seperti itu” ucapnya mendekati Aira yang berdiri
Ia menggenggam tangan Aira sebentar dan pergi dari sana.
“jangan lama mandinya, demam kamu belum bener bener turun” ucapnya sebelum menutup pintu.
Aira membersihkan diri. Sementara Ryo duduk di pojok tempat tidur asyik memainkan tablet miliknya. Ia seperti sangat fokus melihat sesuatu disana.
Selang beberapa lama Aira keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat sangat segar meski tatapan matanya masih sayu. Rambutnya masih tergulung handuk pengering, dan tubuhnya terbungkus baju mandi yang besar.
“baju ku kamu taruh dimana?” Aira menanyakan
__ADS_1
wihhh.. kenap gue gugup gak jelas gini? Benak Ryo
Ryo hanya menatap Aira tanpa bicara. Dadanya terasa panas saat melihat Aira yang begitu segar. Desiran darahnya terasa panas di tulang belakang. Rasa yang tak pernah ia rasakan saat menatap para wanita yang dulu ia tiduri.
Dep Dep Dep!
Ryo.. nyebut Ryo.. nyebut.. lo salah langkah dikit dia bakalan lari dari lo! Benak Ryo lagi
Ryo memejamkan mata berusaha menahan diri. Bagaimana pun ia yang telah lama berpuasa dari belaian wanita tak memungkiri jiwanya yang kini bergetar melihat Aira seperti itu.
“baju kamu dibawa ke loundry sama bibi” jawabnya kembali melihat tabletnya dan menelah salivanya.
Aira menganga mendengar itu.
Terus aku harus menunggu bajunya dulu baru bisa pulang atau gimana? Ia bingung sendiri.
“berapa lama katanya? Loundry mana?” Aira bingung menghadapi situasinya sendiri
“3 hari” jawab Ryo menatapnya lagi
“jangan bercanda kamu!” Aira kesal melihat keseriusannya di buat bercanda oleh Ryo
“aku serius!” jawabnya lagi dan tersenyum melihat Aira yang terkesan ngambek.
“Sini deh!” panggil Ryo pada Aira dan meminta dia untuk duduk disampingnya
Aira menatapnya sejenak untuk ragu
“hem?” pinta Ryo kembali menepuk tepi ranjang meminta Aira duduk di sampingnya.
Aira mendekat. Ryo menariknya untuk duduk. Ia menunjukan beberapa potong jenis pakaian.
“kamu suka warna apa?” tanya Ryo masih melihat tablet
“yang ini gimana?” Ryo menunjukan salah satu koleksi pada sebuah butik online di kota itu
“bagus!” jawab Aira melihat
“ukuran, warna, jumlah” Ryo mencentang beberapa spesifikasi pesanannya
Ryo menambahkan ke keranjang belanja online miliknya
“kamu beli?” tanyanya lagi
“iya, tapi sore baru diantar!” jawabnya lagi
“aku mau pulang!” ucap Aira lagi
Ryo menoleh pada Aira yang duduk disamping. Wajah mereka sangat dekat. Bahkan nafas Aira bisa ia rasakan, sontak Aira memundurkan kepala.
“Sarapan dulu!” Ryo berdiri dan menarik tangan Aira
Aira menahannya
“aku kurang nyaman...” Aira menunjukan apa yang ia kenakan saat itu
“hhmm.. bentar!” Ryo mengambil beberapa potong baju dan celana pendeknya
“pake ini!” Ryo memberikan pada Aira
Aira ragu untuk menerima, tapi bagaimana lagi, ia tidak punya apa apa untuk ia kenakan. Akhirnya terpaksa ia terima.
__ADS_1
Ryo keluar untuk mempersiapkan sarapan untuk Aira. Ada bubur yang harus ia panaskan sebentar.
Aira keluar dengan mengenakan baju Ryo yang tampak terlalu besar. Celana pendek yang Aira kenakan membuat jenjang kakinya terlihat indah. Pemandangan yang sangat Ryo suka. Ia terlihat seksi.
Ryo tersenyum sendiri saat mengaduk bubur. Baginya saat ini ia seakan resmi pacaran dan bersama Aira. Ia merasa kini sudah memiliki Aira.
Aira terus melihat lihat apartemen Ryo, Sangat mewah! Benaknya. Ini bukan pertama kali Aira melihat apartemen mewah, karena ia sering bekerja sebagai asisten rumah tangga panggilan.
Ryo membawa bubur untuk sarapan Aira. dan dia hanya mengambil beberapa lembar roti seperti biasa.
“makasih!” Aira menerima bubur dan mulai menyuap suap demi suap.
Ryo terus memandang Aira yang menikmati bubur. Aira mengaduk bubur itu untuk mendinginkan. Sesekali ia mengangkat wajah dan memandang Ryo yang tepat di depannya. Ryo hanya tersenyum, ia tidak mengatakan apapun. Ia seperti sedang menikmati momen itu. Aira menyantap pelan bubur itu, ia tidak memiliki selera sedikitpun.
Aira minum setelah menyelesaikan mangkuk bubur yang masih banyak. Ia berdiri untuk mencuci. bergegas Ryo menahannya
“Abisin dong!” pintanya
Aira hanya menggeleng lemas. Aira ingin mengantar mangkuk itu menuju wastafel
“gak perlu!” larangnya
“gak papa” Aira bersikeras
“nanti ada yang bersiin” Ryo mengambil mangkuk dan menaruh di washtafel. Ia mengajak Aira duduk di ruang tengah
“Bentar aku cek dulu.. “ Ryo mengambil peralatan medis dan membawa pengering rambut.
Ia meminta Aira untuk membuka mulut dan menaruh termometer. Suhu tubuh Aira sudah normal
“masih demam!” Ucap Ryo
“heh?” Aira kaget. Karena sekarang ia merasa lebih baik. Ryo tersenyum menanggapi protes Aira.
Ryo mengambil stetoskop, ia memeriksa detak jantung Aira. kini ia tahu, detak jantung Aira yang gugup berada didekatnya. Ryo menatap Aira dan tersenyum senang saat memeriksa.
Aira yang melihat wajah Ryo merasa malu, kini detak jantungnya makin tidak karuan karena malu. Melihat reaksi Aira, Ryo berhenti memeriksa. Ia merapikan peralatan dan mengambil hair drayer. Ia duduk di belakang Aira untuk mengeringkan rambutnya.
“aku bisa kok” Aira melarang
“harus dikeringkan, aku takut kamu demam lagi” alasannya meneruskan tanpa peduli larangan Aira.
Ryo mengeringkan rambut Aira. Sesekali ia bercanda. Ia tak henti hentinya tersenyum sendiri. Ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya, dan ternyata sangat menyenangkan
Rambut Aira mulai mengering. Ryo mematikan hair drayer. Ia diam sejenak yang melihat Aira dari belakang. Dengan tiba tiba ia memeluk Aira dari belakang.
“aku sangat marah...” ucapnya
“aku merasa seperti mati melihat kamu sakit kaya gitu” lanjut Ryo
Aira hanya diam mendengarkan Ryo bicara.
“aku kesal sama diriku sendiri yang gak mampu ngelarang kamu tadi malam..”
“baru pagi ini aku bersyukur atas paksaan mamah aku menjadi seorang dokter” Ryo memeluknya tambah erat. Aira merasakan pelukan Ryo semakin erat
“jangan sakit lagi!” ucapnya setelah lama diam
Terima kasih sudah menjaga dan merawatkan aku... maafin aku! Benak Aira. ia tak berani mengeluarkan kata itu dari mulutnya. Karena ia tahu, Ryo akan mengartikan lebih dari sekedar ungkapan terima kasih dan ucapan maaf.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Makasih ya yang udah baca novel ini..