
“nona Rya!” tiba tiba seseorang memanggil namanya lagi dan mendekat
“heisshh!” keluh Rya kesal, sedang Aira hanya melihat pada Rya dan orang itu secara bergantian.
“maaf nona, saya tidak mengetahui kalau nona hari ini berkunjung” ucapnya menunduk hormat.
“maaf pak.. saya hanya menemani teman saya kesini” ucapnya dengan senyum terpaksa
“ohh.. nona ingin pindah ke ruang VVIP?” tanyanya lagi
Rya terlihat semakin kesal dengan lelaki di hadapannya.
“tolong pak! Apa bisa bapak pura pura tidak mengenal saya disini?” tanya Rya pelan dengan kesal
Sang lelaki hanya tersenyum melihat kekesalan Rya yang memang selalu terlihat manja.
“maafkan saya nona.. saya hanya menjalankan tugas, saya hanya takut Pak Haris tau saya tidak memberikan pelayanan pada nona” ucapnya lagi
Semua orang disana terus menatap pada mereka, karena yang sedang berbicara dengan Rya adalah lelaki yang dikenal sebagai CEO dari mall tersebut.
Rya memijat kedua keningnya.
“kalau kamu gak pergi, saya akan telpon Om Haris sekarang dan bilang, diperlakukan tidak baik di mall ini” ucap Rya semakin kesal dengan tatapan tajam yang mengancam
“baik lah nona.. maafkan saya yang mengganggu!” ucapnya menunduk hormat dan bergegas pergi
“huh!” keluh Rya melihat orang tersebut telah menghilang
Aira hanya menatap Rya biasa. Ia tak berani bertanya padanya
“hah.. bikin kesal aja” ucapnya lagi
Merasa Aira tidak bertanya. Rya pun melirik.
“kakak gak penasaran sama orang tadi?” tanya Rya
Aira hanya menggeleng pelan. Ia memang bukan tipe orang yang mengurusi urusan orang lain. Apalagi dengan apa yang telah menimpanya dulu. Urusan orang lain merupakan hak orang lain baginya. Bukan ia tidak peduli, tapi ia tak ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan dulu, yaitu terlalu diurusi orang lain.
“dia adalah CEO mall ini, dan dia orang yang sangat sangat gak aku suka!” ucap Rya santai
Aira membulatkan mata mendengar kata kata Rya.
Wih.. CEO mall kamu ancam? Benak Aira
“bener.. dia CEO mall ini dan auto dia bawahan om Haris” jelas Rya
“ooo..” jawab Aira
“Emang kakak udah kenal om Haris?” tanya Rya melihat tanggapan Aira
Aira menggeleng tersenyum dan membuat Rya terkekeh.
“ku pikir kakak udah kenal jawab gitu” Rya masih merasa lucu
Rya menjelaskan semuanya. Suasana makan siang itu menjadi berjam jam karena mereka terlalu asyik mengobrol.
“om Haris itu tangan kanan Kakek. Dia yang menjalankan bisnis kakek diluar bidang kesehatan, mall ini salah satunya. Sebenarnya kakek meminta kak Ryo menjadi penerus untuk bidang kesehatan dan aku diluar itu. Tapi aku gak minat dunia bisnis kak, aku ingin menjadi seorang dokter. Sedang kak Ryo sangat ingin keluar dari kedokteran..” jelas Rya.
Sedang Aira hanya mangut mangut sambi menikmati makanannya.
“Makanya kak Ryo mendirikan ME dengan kemampuannya sendiri. Dia gak mau jadi penerus dinasti dokter”
“mendirikan ME? Bukannya dia hanya salah satu pemegang saham?” tanya Aira
“bukan! Memang dia diketahui orang sebagai pemegang saham. Tapi itu hanya untuk menutupinya. Soalnya kakak tidak ingin diketahui Om Haris” ucap Rya pelan
__ADS_1
“kamu ternyata dekat sama kakak kamu ya? Padahal kalian kelihatan sering gak akur” ucapnya tersenyum
“aku juga tahu gimana kak Ryo ngejar kakak” ucap Rya
“hah?”
“iya.. kakak dulu sampai di kira hantu” ucap Rya tertawa
“hantu?” ucap Aira tidak mengerti
“kakak menari balet kan?”
“iya”
“nah.. kak Ryo itu suka nonton balet.. waktu itu liat kakak nari balet malam malam, tapi besoknya dia tanyain gak ada yang nari balet, kak Ryo sampai ngeduga kakak hantu” ucapnya semakin terbahak tanpa pedulu orang orang yang disana
Aira ikut tertawa mendengar semua itu.
“jadi dia cerita semuanya ke kamu?” tanya Aira
“kakak jangan bilang ya aku cerita?” pinta Rya mengusap matanya yang berair karena tertawa.
Aira mulai merasa gugup mendengar Rya yang mengetahui semua tentang hubungannya dengan Ryo.
“apa Ryo cerita siapa aku juga?” tanya Aira menatap gugup pada Rya
“hem!” ucap Rya mengangguk santai menyedot minumannya. Berbeda dengan Aira, ia mulai merasa gugup ketika Aira mengiyakan pertanyaannya,
Berarti Rya juga tahu seberapa miskin aku? seberapa tak pantasnya aku dengan Ryo? benak Aira berpikir menatap Rya yang santai menikmati makannya
“termasuk kejadian sebelum kecelakaan?” tanya Aira lagi
“iya.. kasus dengan kak Bams kan?”
Aira memejamkan mata.
“kakak kerja bersih bersih di apartemen kak Bams” jawab Rya santai
Deg!
Desiran kegugupan semakin terasa panas di sekujur tubuh Aira mendengar Rya mengatakan itu.
Itu berarti dia tahu kalau dulu aku Cuma seorang assisten rumah tangga. Benak Aira.
Rya melihat perubahan wajah Aira yang tak lagi santai. Ia sangat mengerti dengan raut wajah dimana trauma Aira seakan muncul.
“kakak tenang aja! Di keluarga kami, status itu gak ada! Apapun masalalu seseorang buat kita gak masalah. Jadi kakak jangan canggung ya?” Rya meraih tangan Aira dan menggenggamnya.
Aira hanya tersenyum kecut.
“Aku hanya dibilangin sama kak Ryo.. kakak katanya punya trauma masa kecil. Memang apa yang terjadi kak?” tanya Rya lagi
Aira hanya menanggapinya dengan senyuman.
“apa itu yang membuat kakak berhenti jadi balerina?” tanya Rya lagi
“salah satunya” ucap Aira meraih gelasnya meminum hingga habis.
“trauma itu harus dilawan kak.. dihadapi.. kalau enggak.. kakak akan selamanya terkungkung disana” jelas Rya
“aku masih mencoba melawannya sampai sekarang” Aira tersenyum kecut
“kakak bisa konsul ke dokter juga, untuk masalah rahasia.. tenang aja.. aman kok” ucap Rya.
“nanti aku pikirin lagi” ucapnya tak ingin memperpanjang cerita pada Rya
__ADS_1
“hemm!” Rya mengangguk memberikan semangat untuk Aira.
“aku ke toilet dulu ya? Udah penuh nih” ucap Aira beranjak dari kursinya.
“aku juga!” Rya mengikutinya
Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan acara jalan jalan mereka. Aira yang tak pernah menikmati dunia santai seperti saat ini merasa begitu berbeda. Selama ini hari harinya selalu bekerja dan bekerja, dan selama bersama Ryo, ia hanya menghabiskan waktu bersama sang kekasih di dalam apartemen atau tempatnya yang sempit.
“kak aku ke toilet dulu ya!” ucap Rya lagi saat mereka berjalan jalan di sebuah taman hiburan sore itu.
Aira berdiri sendiri menunggu sambil menikmati minumannya.
“Aira?” ucap seseorang lelaki paruh baya dengan berpakaian formal yang mendekatinya
“ya?” jawabnya ragu
Apa mereka salah satu bodyguard juga? Benak Aira melihatnya
“benar.. kamu putri Andini! Saya langsung bisa mengenalimu karena kamu sangat mirip dengan ibumu” ucapnya lagi
Aira mundur melihat orang saat mengulurkan tangannya. Kegugupan melanda Aira saat itu juga, wajahnya pias dan pucat dalam seketika. Tubuhnya mulai merasakan panas yang tak bisa ia tahan.
Melihat wajah Aira yang ketakutan melihat sosok lelaki yang menyapanya, pengawal yang tadi terus menjaganya mendekat.
“nona anda tidak apa apa?” tanyanya mendekat. Tapi Aira mentap orang itu dengan sorot mata takut.
Lelaki itu pun menoleh pada sang pengawal.
“maaf tuan, tolong menjauh, sepertinya nona tidak suka anda mendekatinya” ucap orang tersebut berdiri di depan Aira dan membuat tubuh Aira mundur.
“anda siapa?” tanya lelaki itu pada sang pengawal
“saya bertugas menjaga nona!” jawabnya dengan dingin.
Memang pengawal yang mengikuti mereka menggunakan pakaian santai. Membuat semua orang tidak mengenali mereka sebagai pengawal kedua perempuan cantik itu.
“izinkan saya bicara sebentar dengannya” pinta lelaki itu
Tapi Aira tidak mampu mendengar jelas karena pikirannya mulai menghantui.
“maaf tuan, sepertinya nona tidak ingin berbicara dengan anda” ucapnya lagi mengusir lelaki itu.
Lelaki itu pergi dengan sedih. Sejenak ia melihat pada Aira yang menunduk berlindung di belakang pengawalnya.
“nona, anda tidak apa apa?” tanya sang pengawal setelah membawa Aira untuk duduk.
“maafkan saya yang lalai menjaga anda!” ucapnya yang berjongkok melihat kondisi Aira
Aira menoleh, ia baru menyadari dirinya.
“jangan bilang ke Rya ya?” ucap Aira gemetar
“baik nona!” ucapnya
“nona minumlah! Dan tarik nafas pelan..” sang pengawal memahami kondisi Aira yang kebetulan seperti adiknya yang takut akan gelap.
“tenanglah nona, saya akan menjaga anda disini” ucapnya lagi seakan membujuk adiknya.
Aira pun menghela nafasnya. Sesaat kemudian Rya mendatanginya.
“kakak kenapa?” tanya Rya panik dan mengambil tangan Aira mengecek denyut nadinya.
“nona” belum selesai ia bicara, Aira memotongnya.
“aku pusing, kepanasan kayanya” ucap Aira menoleh pada sang pengawal.
__ADS_1
“ya sudah .. kita pulang aja!” Rya mengajaknya berdiri dan Rya dapat merasakan tangan Aira yang gemetar.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~