
“bun.. Kiky diapain?” tanya Damar
“tuh, kakak kamu protes liat adiknya nangis” ucap Nimas
Damar menatap Kiky dan Kiky pun terhenti terisak mendengar ucapan Nimas, sedang Nimas masih asyik melanjutkan masakannya.
Damar tersenyum pada Kiky dan Kiky seakan bersambut. Ia senang mendengar Nimas yang menyebut dirinya adik Damar. Itu pertanda Nimas bersedia menerima dirinya dalam keluarga tersebut. Dan senyum Damar juga meyakinkan hati Kiky jika ia juga diterima sebagai adiknya.
Kiky pun berada disana seharian penuh. ia senang bersama dengan Nimas. Sore harinya Nimas mengajak Kiky keluar sekedar mencuci mata. Mereka pun pergi bersama. Kiky tampak senang sedang Damar hanya menjadi asisten dibelakang mereka yang siap membawa belanjaan mereka berdua.
Mereka kembali ke rumah Damar saat waktu mulai memasuki senja. Kiky di ajak sholat bersama oleh Nimas. Kiky menangis saat mencium tangan nimas setelah selesai ibadahnya. Nimas memeluk Kiky. Ia sedih melihat anak tersebut seperti tanpa seorang ibu.
“bunda.. bunda mau kan jadi bunda Kiky?” tanya Kiky dalam tangisnya
“Kiky boleh anggap bunda sebagai ibu Kiky, bunda gak keberatan sayang” ciumnya pada dahi Kiky.
Kiky pun senang.
Kiky mengatakan ia akan makan malam di rumah saja, karena ia sudah seharian meninggalkan sang ayah. Nimas bergegas membuat pete oseng pedas agar bisa Kiky bawa pulang, dan akhirnya Handoko menikmati lagi masakan itu. ia pun menambah porsi makannya malam itu hingga dua piring.
Kiky senang melihat perubahan sang ayah, saat ini hanya sang ayahlah yang mampu mengalihkan perhatiannya pada hatinya sendiri yang terus membisikkan nama Bams.
Entah ia lelah atau perasaannya yang berubah, tapi Kiky kini terus mencoba melawan dirinya untuk tak selalu menyebut nama Bams dalam pikirannya.
“pah, aku happy banget hari ini” ucapan itu sangat cocok dengan senyumnya hari ini
“syukurlah” ucapnya yang sudah terlalu kenyang.
“dan papah kekenyangan” jawabnya menyandarka diri. Membuat ia dan Kiky tertawa bersama.
Sedang Bams tertidur sendiri di apartemen Kiky. Ia menunggunya pulang, tapi Kiky tak akan muncul. Sebab pesan Bams tak Kiky lihat sama sekali. Ia meninggalkan ponselnya karena ia tak ingin diganggu.
*
*
*
Setelah seminggu, Ken berhasil membawa Syen kembali. Ken meminta agar Syen tidak menceritakan kemarahan Ryo pada mereka saat Aira pergi. Aira menyambut senang Syen yang kembali bekerja pada mereka.
Siang itu Aira mengajak Aina belanja, sedang Ryo mulai mempelajari dunia bisnis yang akan segera Haris serahkan padanya. Aira belanja banyak untuk Aina. Ia memberikan segalanya untuk Aina. Ryo bahkan memberi kartu kredit khusus untuk Aina, namun ia menolak. Akhirnya Aira harus bertindak untuk memanjakan sang adik.
Kartu hitam itu terus di gesek, paper bag sudah memenuhi tangan mereka bertiga, Syen, Aira dan Aina. Hari ini Aira memanjakan sang adik dengan fasilitas yang diberikan suaminya.
Meski memiliki pengawal khusus, Kedua pengawal yang Ryo suruh tak berani mendekat karena Syen melarang mereka terlihat di sekitar Aira, karena ia tahu, Aira merasa tidak nyaman jika ia tahu ia sedang diikuti.
“Syen, mas Riry bilang kita selalu diikuti dua penjaga” ucap Aira
“benar nona” jawab Syen
"sampai sekarang mereka ngikutin kita?" tanya Aina
"iya nona"
“ni ini berat” keluh Aina membawa paper bagnya
“mungkin kita taruh ini dulu di dalam mobil” ajak Aira
“biar saya yang mengantarnya nona” Syen tidak ingin Aira membawanya
“tapi ini banyak Syen” jelas Aira tak tega
“iya kak, ini terlalu banyak” ucap Aina juga
“nanti saya akan minta salah satu pengawal membawanya” pinta Syen pada semua paper bag yang mereka bawa.
__ADS_1
“ya sudah kalau gitu, nanti kita tunggu kamu disana ya” ucap Aira menunjuk salah satu tempat makan dengan ayam goreng khas yang dulu ia sering kunjungi bersama Aina.
“baik nona”
Syen meninggalkan mereka.
“ah aku lelah banget” keluh Aira duduk di tempat makan santai yang ia pilih.
“aku akan pesan ni, Syen perlu kita pesanin juga gak?” tanya Aina
“iya, kamu pesan sekalian buat dia” ucapnya masih mencoba memijat mijat kakinya.
Aina meninggalkan Aira sendiri di mejanya. Aira masih asyik memijat mijat betisnya yang terasa pegal. Tiba tiba datang seorang lelaki paruh baya mendekatinya.
“kamu pasti putri Andini, kamu Aira bukan?” tanyanya
Pertanyaan lelaki itu seketika membuat tubuh Aira terasa kehilangan nyawa. Wajahnya sontak memucat. Ia menatap takut pada lelaki tersebut.
“wajah kamu sama persis seperti dia, kamu pasti Aira kan?” tanyanya lagi dengan menatap jelas ke wajah Aira.
Aira sudah mulai ketakutan, hal itu terbaca oleh salah satu pengawal yang menjaga mereka. ia bergegas mendekati meja Aira.
“nona apa anda baik baik saja?” tanya sang pengawal
Aira menatap takut pada pengawalnya
“tuan tolong jangan menganggu nona kami” ucapnya mencoba menjauhkan lelaki itu karena wajah Aira sudah terlalu pucat.
Aina melihat sang kakak dari depan meja reservasi, ia meninggalkan pesanannya dan menuju meja kakaknya
Pengawal mereka telah berhasil menjauhkan lelaki itu. Meski sempat lelaki itu terus memaksakan pertanyaannya.
“ni! ada apa?” tanya Aina mendekat
“iya iya!” Aina bergegas membawa Aira keluar dari sana diiringi pengawal mereka.
Aira berjalan cepat menuju parkiran, tubuhnya terasa panas dingin karena rasa takut yang luar biasa. Ketakutan yang tak pernah lagi ia alami selama ini.
“ni?” tanya Aina pada Aira yang mulai setengah tak sadarkan diri.
“panas di” keluhnya.
Suhu AC mobil sudah pada suhu terendah, namun keringat Aira tetap mengucur.
“aku mau langsung istirahat aja” ucap Aira memasuki apartemennya.
“iya ni, ayo! Aku temenin” ajak Aina yang mulai gugup melihat kondisi Aira
Bukan hanya Aira, Syen pun tubuhnya bergetar hebat. Ia ketakutan jika terjadi sesuatu pada sang nona. Ia sangat mengingat bagaimana kemarahan Ryo saat dulu Aira pergi padanya.
“kak! Kamu bisa pulang sekarang?” tanya Aina menghubungi Ryo
“kenapa?” tanya Ryo curiga
“ni.. sepertinya akan kumat” jelas Aina
“apa?” Ryo langsung berdiri di tengah meeting intern dia dan Haris
“aku langsung pulang” jawabnya tanpa peduli dengan Haris
Haris pun mengikutinya dan memilih menjadi supir untuk Ryo siang itu. ia melihat jelas kecemasan di matanya.
Langkah Ryo tergesa memasuki apartemennya. Aira sudah memasuki fase igau dan ketakutan yang membuat tubuhnya bergetar hebat dan berkeringat.
“beib!” Ryo merangkum tubuh itu ke dalam pelukannya. Menyandarkan tubuh Aira di dadanya dan seakan memangku seorang anak kecil.
__ADS_1
Aira terus mengigau. Ia terus mencoba mengusap tubuh Aira dan menenangkannya.
“sstttt.... sssttt... aku disini sayang” ucapnya terus memeluk erat tubuh mungil itu.
Tak berselang lama Haris memasuki tempat itu, melihat kamar mereka terbuka ia memberanikan diri memasukinya.
“permisi tuan muda, apa perlu kita membawa nona ke rumah sakit?” tanyanya
“tidak perlu om, tolong panggilin om Johan, katakan istriku kumat” jelasnya
“beibb... ssstttt.. ssttt...” Ryo terus menenangkan Aira
Berselang sepuluh menit, Aira mulai tenang, tubuhnya telah basah.
“Ai.. tolong kamu ambil baju kakak kamu” pintanya
“kita ganti bajunya dulu” pinta Ryo
Aina pun menurut dan mengambilkan untuk Ryo. ia membantu Ryo mengganti pakaian Aira, sedang yang lain sudah berada diluar.
Ia duduk kembali di samping Aira. ia merapikan rambut rambut kecil di dahi Aira.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kalian ngapain aja sih..” ucap Ryo dengan nada sangat pelan karena ia sangat cemas saat ini menatap sang istri
“tadi kita Cuma belanja, terus pas kita mau makan, ada lelaki paruh baya yang mendekati ni dan bicara dengannya, ni langsung pucat” jelas Aira
Ryo menoleh marah. Ia langsung beranjak keluar
Dan diluar kamar...
“apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Haris pada Syen.
Syen tampak sangat gugup. Ia bahkan tak berani memandang wajah Haris.
“ceritakan pada saya semuanya” ucapnya menyentuh bahu Syen
Ryo keluar dari kamar dan melihat Syen yang terlalu gugup di depan Haris.
“apa aja yang kalian lakukan sampai kalian kecolongan?” tanya Ryo mendekat pada Haris dan Syen. Sedang dua pengawal laki laki itu masih tertunduk berdiri disana.
“KATAKAN!!!” bentak Ryo.
“an anu anu.. “ Syen terbata bata.
Ini kedua kali ia melihat kemarahan Ryo padanya.
“maaf tuan muda” ucap salah satu pengawal mendekat.
“tadi nona menunggu nona Aina mengambil makanan, terus dengan sangat cepat seorang lelaki mendekat dan berbicara dengannya, saya melihat itu langsung mendekati, saya lihat nona sudah ketakutan, jadi saya mengusir lelaki itu”
“apa yang dikatakan lelaki itu?” tanya Ryo
“saya kurang mendengar jelas, yang terakhir saya dengar ia menanyakan jika nona adalah nona Aira” jelasnya
“kenapa Cuma kamu disana? Kamu kemana?” tunjuk Ryo pada Syen.
“saya saya..” Syen terlalu gugup
“Syen dan saya mengantar belanjaan nona ke mobil sesuai perintah nona tuan muda” jelas pengawal yang satunya
“kaaaakkkk!” Panggil Aina pada Ryo dari dalam kamar dengan sangat keras
Ryo berlari menuju kamarnya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1