Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Berkas Biru


__ADS_3

Aira dibangunkan dengan tubuh terasa lelah. Ia tersenyum karena merasa malu sendiri dengan mimpinya tadi malam. Ia tidak pernah merasa jika mimpi itu adalah kenyataan karena saat ia terbangun Ryo tak berada disisinya.


“karena terlalu merindukanmu, aku sampai bermimpi mesum” senyumnya menatap diri di cermin.


Sesaat ia melihat tubuhnya, bercak merah keunguan terlihat begitu banyak.


Apa mimpi juga meninggalkan bekas? Benaknya bertanya saat menyentuh satu persatu bercak bercak percintaan mereka.


Aneh!


Aira pun keluar dari kamarnya. Pagi ini ia tak merasakan mual seperti hari hari ditinggal Ryo. mungkin sang anak memang senang dekat dengan sang ayah, hingga membuat sang bunda merasa nyaman pagi itu.


“Terima kasih sayang tidak rewel pagi ini!” senyumnya kembali mengelus perutnya yang masih rata.


Selama ditinggal Ryo beberapa hari Aira terus muntah saat pagi. Dan acara muntah itu selalu menyiksa dan selalu membuat wajahnya pucat.


Suara panggilan video masuk membuyarkan kesenangan mereka.


“wahh.. ayah telpon sayang!” ucapnya melihat panggilan dari suami tercinta


“pagi sayang!” sapa Ryo dengan senyuman lebar


“pagi!” senyumnya lebar dan manja


“kayanya lagi seneng banget ni pagi?” tebak Ryo


“iya!” masih tersenyum


“kenapa?” tanya Ryo penasaran


“hemmmm.. kasih tau gak ya?” tingkahnya mulai manja


“aahhh... istriku semakin manja” Goda Ryo


“pasti mimpi bersama ku tadi malam?” tebak Ryo


Raut wajah Aira berubah, ia tak menduga Ryo mampu membaca pikirannya


“iihhh...” wajahnya merona


“kenapa? Soalnya aku juga mimpi yang sama” ucapnya tersenyum


“aku gak sabar nunggu kamu pulang” ucapnya lagi


“sabar ya sayang!” ucap Ryo


“aku punya hadiah spesial buat kamu” ucapnya


“oya! Apa itu?”


“nanti kalau kamu pulang baru ku kasih!”


“hemmm...” Ryo menyipitkan mata menebak apa yang akan Aira berikan


Aira terkekeh melihat ekspresi Ryo.


“udah sarapan?” tanya Ryo lagi


“belum, ini udah laper banget!”


“sana, sarapan dulu sayang! aku juga udah dipanggil ini!” senyum Ryo


“he em” jawab Aira tersenyum. Ia melambaikan tangan, tak lupa Ryo memberi kecupan jauh padanya membuat Aira semakin senang. Ia membalas kecupan Ryo di layar ponselnya sebelum panggilan itu berakhir.

__ADS_1


Aira menikmati sarapan sendiri karena sang mertua sudah menghilang dari mension mewah itu. Ia kembali melahap makanan yang tak sedikit, mengisi full perutnya yang dari tadi keroncongan dan bersandar dengan penuh kekenyangan.


Aira mengelus perutnya tersenyum


Udah kenyang sayang? Benaknya berbicara dengan sang anak.


Aira mulai membaca berita pada ponselnya, ia melihat berita tentang wanita Ryo yang diserang.


“jadi karena ini kamu memintaku ke mension?” gumamnya sendiri


Ia hanya tersenyum. Merasakan betapa Ryo melindunginya, bagaimana ia dicintai olehnya.


“kita bersyukur sayang, ayah akan menyayangi dan melindungi kita” gumamnya lagi mengelus kembali perutnya.


Karena merasa bosan hingga siang, setelah makan siang, Aira pun tertidur.


Drrttt...Drrrtt... suara panggilan masuk


“hemm!” jawab Aira malas dengan suara serak khas bangun tidur.


“sayang sorry bangunin kamu, nanti Om Haris ke sana, buat ngambil berkas, tolong kamu ambilin ya?” pinta Ryo


“berkas apa?” tanya Aira


“di brankas, ada map warna putih dengan logo perusahaan, nanti itu berikan ke Om Haris” ucapnya lagi


“brankas?”


Roy menjelaskan dimana letak brankas dan memberikan kodenya pada Aira.


Sesuai perintah sang suami, ia pun mengambil berkas yang dimaksud.


Ini ada empat amplop putih, yang mana ya? Benak Aira melihat beberapa amplop.


Ah! Aku tunjukin aja ke empatnya, nanti om Haris akan pilih sendiri! benaknya mengeluarkan semuanya.


Sore menjelang, Aira masih menikmati camilan dan jus yang dibuat bibi. Suara bel terdengar berdentang, dan tak berselang seorang lelaki paruh baya memasuki rumah mewah itu.


“selamat sore nona besar!” Sapa Haris pada Aira


“selamat sore om!” Aira berdiri menyambut kedatangan Haris.


“bagaimana kabar nona? Maaf saya baru bisa menyapa sekarang” ucapnya sangat sopan


Aira yang tak terbiasa dengan sikap hormat orang yang lebih tua padanya membuatnya tidak nyaman.


“baik om, om gimana?” tanyanya ramah


“seperti yang nona lihat, saya sangat baik!” senyumnya


“saya kesini untuk mengambil berkas yang tuan muda titipkan!” ucapnya


“oh iya, saya akan ambilkan!” ucap Aira


“sebentar om!” Aira permisi


“silahkan nona”


Ia mengambil amplop yang telah ia siapkan, ia tak melihat apa isi dari amplop amplop besar itu.


“ini om, tadi Mas Riry bilang amplop putih, tapi amplopnya ada empat, jadi saya tidak tahu yang mana” Aira memberikannya pada Haris.


“saya akan periksa nona!”

__ADS_1


Haris memeriksa amplop mana yang dia butuhkan. Hingga akhirnya ia hanya mengambil satu amplop saja.


“yang ini nona! Saya akan membawanya” ucapnya


“baiklah! Saya akan mengembalikan ini ke dalam!” jawab Aira


Haris pun meninggalkan rumah mewah itu, sedang Aira kembali ke dalam untuk mengembalikan berkas tadi.


Saat mulai menaiki anak tangga, Aira teringat dengan camilan dan jusnya yang masih setengah. Ia kembali mengambilnya dan membawa ke kamar.


“nona bisa meminta kami membawanya” ucap Bibi


“gak papa bi, saya bisa sendiri” senyumnya


Ia kembali ke kamar mereka, Aira berniat menghabiskan senja di balkon kamar mereka. Nampan yang ia bawa sudah tertata di balkon. Langkah Aira masih semangat, meski merasa bosan berada disana, tapi dia memiliki sebuah keluarga yang membuatnya merasa betah.


Bip bip bip bip bip bip nut!


Suara brankas terbuka ketika satu persatu kode yang merupakan ulang tahunnya selesai ditekan. Aira menyusun kembali posisi amplop yang tadi ia ambil. Tanpa sengaja Aira menjatuhkan sebuah map berwarna biru. Kertas kertasnya keluar dan berhamburan.


Astaga! Benak Aira melihat kertas kertas itu berserakan.


Ia memungut satu persatu kertas dan sekilas, ia melihat namanya disana. Sebuah foto lama dirinya, copy dari foto keluarganya.


Apa ini? benaknya mulai penasaran.


Perlahan ia memungut dan mengumpulkan berkas itu, Aira menutup brankas dan berjalan ke tempat tidur untuk melihat semua kertas kertas tadi.


Kertas pertama yang ia lihat merupakan profil dirinya, dilanjut dengan lembar lembar berikutnya yang berisi lengkap perjalanan hidup Aira, bahkan lengkap dengan tanggal ia berhenti dari sekolah balet.


Jadi kamu menyelidikiku? Benak Aira saat selesai membaca berkas pertama.


Berkas kedua tentang Aina.


Di lembar lembar itu, semua tentang sang adik tertulis jelas, hingga sampai tertulis jelas siapa saja mantan mantan pacar Aina, Aina pernah bekerja dimana dan apa saja aktivitas sang adik.


Berkas ketiga, Tentang orang tuanya.


Profil sang ayah


Seorang yatim piatu yang berasal dari sebuah panti asuhan, dari tahun ke tahun tertulis semua tentang ayahnya. Bahkan yang Aira tidak ketahui tertulis jelas disana. Hingga pada penggelapan dana yang dilakukan ayahnya. Aira pun menemukan faktanya disana.


“ya Tuhan!” ucapnya


Badan Aira kembali merasa panas dingin karena rasa malu pada Ryo yang mengetahui seburuk apa keluarga mereka.


Berkas ketiga tentang sang ibu


Hanya berisi sedikit informasi, tak menceritakan detail jalan hidupnya, tak tertulis nama orang tua dan kerabat. Seolah ibunya sebatang kara.


Data kematian!


Berisi tentang berkas operasi jantung sang ibu tertulis. Keterangan demi keterangan terbaca. Setiap lembar terus terungkap. Detak jantung Aira berpacu, tubuhnya mendadak memanas, Air mata Aira terus menetes tanpa terhenti saat pada lembar terakhir yang ia baca, netranya seakan meyakinkan otak yang tak percaya dan tak terima melihat lembar dimana ...


Bersambung!


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Tolong tinggalin jejak ya..


Saya minta maaf karena tak bisa mengupdate rutin akhir akhir ini karena kondisi saya menurun..


nanti jika saya sehat lagi, insyaallah akan up lebih rutin lagi..

__ADS_1


mohon doa semua ya.. terima kasih atas dukungannya


__ADS_2