Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Menunggu


__ADS_3

Konferensi pers berjalan baik, Ryo menjelaskan jika konser tidak dibatalkan. Ia juga mengatakan jika konser ini adalah konser besar dan ia berharap akan mendatangkan kesuksesan untuk Boys dan ME.


Ia tidak menjawab pertanyaan wartawan mengenai kehidupan pribadinya. Ia hanya menjelaskan seputar konser mereka. semua orang seperti bernafas lega,  Ryo menepis semua isu jika konser tersebut merupakan konser terakhirnya bersama Boys.


Bams saling menatap dengan Boman yang berada di sampingnya.


Apa telepon tersebut dari Aira? benak itu menjadi satu satunya kesimpulan dari perubahan semua keputusan atau lebih tepatnya titah yang Ryo berikan beberapa hari yang lalu.


Aina memasuki tempat mereka dan mendengar kakaknya yang menangis di dalam kamar. Ia menangis tersedu hingga didengar jelas oleh sang adik.


“niiii..” lirih Aina tanpa berani masuk untuk bertanya. Ia memilih membiarkan sang kakak menangis sepuasnya, mungkin ia membutuhkan tangisan itu untuk melepas beban pikirannya.


Apa kamu patah hati ni? Apa lelaki itu mencampakkan kamu dan anak itu? atau kamu yang pergi darinya karena sesuatu?


Pertanyaan di benak Aina seolah ingin meledak dalam kepalanya. Rasa penasaran akan kesedihan dan kondisi sang kakak membuatnya sedikit tersiksa. Terus menduga dan terus berburuk sangka membuat Aina merasa lelah, tapi ia tak pernah berani mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Karena ia tahu, itu justru akan menyiksa Aira.


Aina menutup kembali dengan pelan pintu kamar Aira. ia berjalan perlahan menjauhinya.


Suara perut lapar membuyarkan kesedihan Aira. Ia menyadari jika tubuhnya kini untuk anaknya juga. Ia beranjak membersihkan diri di kamar mandi dan keluar menuju dapur. Terdengar suara alat masak dimana seseorang telah sibuk memainkannya dengan fasih.


“udah bangun ni?” tanya Aina seakan tak mengetahui tangisan Aira


“hem.. aku tidur terlalu nyenyak sampai lupa bangun hehehe”


“tunggu bentar lagi ya ni.. bentar lagi mateng ini” Aina mencicip kembali osengan yang ia bikin dan kemudian mengarahkannya ke mulut Aira. Aira ikut mencicipi dari sendok yang disodorkan Aina


“gimana ni?” tanya Aira


“enak.. pas” ucapnya


Aina tersenyum bangga pada sang kakak dan mematikan kompor.


“kamu gak muntah ni pagi ini?” tanya Aina lagi


“gak” jawab Aira Singkat


Aina sibuk menyiapkan meja untuk mereka berdua.


“kita ini makan siang apa sarapan ya ni?” tanya Aina yang waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang


“makan siang gabung sarapan” jawab Aira dengan wajah lebih ceria


Aira makan dengan lahap. Ia menghabiskan tiga porsi makan. setelah makan ia sendawa dan Aina tertawa melihat sang kakak yang bersandar karena terlalu kenyang.


“ponakan ku makannya banyak ternyata” ucap Aina sambil membersihkan meja


“biar nanti aku yang rapikan” cegah Aira


“udah.. bersandar disitu dulu.. nanti muntah lagi”


Aira hanya membalas dengan senyuman.


“ni gak ingin jalan jalan?” tanya Aina sambil mencuci piring


“gak di.. aku betah di dalam rumah gini” jawab Aira


Apa kamu masih takut terlihat orang kaya dulu ni? Benak Aina


“oya! Aku lupa cerita ni.. kemarin pas acara wisuda ku, Ryo datang sebagai tamu kejutan” ucap Aina


Deg


Jantung Aira berasa melompat mendengarnya

__ADS_1


“oya? Terus?” Aira berusaha menutupi kegugupannya


“ya bikin heboh jadinya, ia menyanyi satu lagu.. lagunya sendiri katanya, terus langsung pulang”


“aku panggil panggil dia dan bilang adik kamu, tapi aku gak bisa nembus kerumunan.. jadi gak sempat foto bareng deh” jelas Aina lagi


“ooo... kecewa banget dong kamu?” tanya Aira lagi


“banget ni.. ahh.. padahal sudah sedekat itu sama idolaku” Aina menghela nafas kecewanya


Aira menunduk menyembunyikan ekspresinya


“sekarang aku hanya bisa menunggu lagi ni.. kapan bisa sedekat itu dengan idolaku” jelas Aina


“nanti kita nonton konsernya.. kamu bisa kenalan ma dia” jelas Aira dengan senyum kecut


“beneran ni.. beneran bisa ni?” tanya Aina lagi begitu berbunga bunga


“hemm.. semoga saja managemen yang ngurus konser masih yang aku kenal” ucap Aira merasa ragu


“amin amin .. semoga ni” Aina begitu cerita mendengar akan bertemu idolanya


“kemarin aku pamerin foto yang Ryo tanda tangani sama temen temenku.. nanti aku pamerin kalo aku bisa foto bareng dia” ucapnya tambah antusias mengingat kiriman foto yang Ryo tanda tangani yang dikirim Aira.


“hemm” ucap Aira ikut tersenyum namun hatinya masih menduga duga, bagaimana reaksi Aina jika tahu idolanya adalah kakak iparnya.


“di.. aku boleh pinjam laptop kamu gak?” tanya Aira mengalihkan obrolan


“boleh lah.. lagian minggu depan aku akan pakai komputer kantor ni.. jadi laptop akan ku tinggal di rumah”


“sip tuh” jawab Aira suka


“emang buat apa ni?” tanya Aina curiga


“oo...”


Di tempat lain.


Bams bencoba menghubungi Aira. ia berharap Aira kembali mengaktifkan nomornya.


Nuuuuttt.. nuuuuutttt.. nuuutttt


Suara panggilan menunggu untuk dijawab


“apa?” suara dingin terdengar menjawab panggilan Bams.


Suara jelas dari seorang yang tidak ia harapkan


“ternyata HP Aira loe sita” ucap Bams


“ngapain loe telpon dia?” tanya Ryo


“Cuma mau nanya kabar, karena akhir akhir ini kabar dia gak terdengar lagi” jawab Bams


“sudah gue bilang dia pergi!” ucap Ryo


Tut


Suara panggilan di tutup


Bams menatap layar ponselnya yang menggelap. Segelap perasaannya saat ini. ia menyesali pengungkapan perasaannya malam itu. mungkin jika ia tak mengatakan semuanya, Aira pasti masih ingin berkomunikasi dengannya. Atau mungkin pergi bersamanya.


Ryo masih menatap ponsel Aira. ponsel yang sekarang tak pernah ia tinggalkan meski ia ke kamar mandi. Karena Aira hanya akan menghubungi nomor itu jika ia ingin mendengar suaranya.

__ADS_1


Ryo meminta Ken untuk memeriksa panggilan terakhir Aira. nomor Pribadi yang disembunyikan oleh Aira tak bisa terlihat. Ken mengatakan jika itu tak bisa dilakukan.


Ini kesekian kalinya ia kecewa dengan Ken. Tapi ketika ia menghubungi Haris untuk melakukannya haris juga mengatakan hal yang sama. Akhirnya Ryo hanya pasrah menunggu Aira kembali menghubunginya.


Aina kembali bekerja, Aira memberanikan diri membuka email Ryo, dan terlihat berkas penyelidikan yang diberikan Haris padanya. ternyata benar, operasi ibunya gagal karena kesalahan satu orang yang bernama Lisa. Aira menatap foto Lisa dengan seksama.


“ahhhh!!!” ucap Aira kaget.


Perempuan yang telah menolongnya dulu adalah seseorang yang menyebabkan kematian ibunya.


“jadi kamu dulu baik pada kami karena kamu merasa bersalah kak?” ucap Aira lirih diikuti air matanya.


Ia juga melihat profil Lisa dan seorang wanita tua. Ya.. wanita tua yang dulu ia panggil nenek penyelamatnya.


Ternyata semua sudah mereka setting. Benak Aira semakin sakit.


Mengapa mereka melakukan itu pada dia dan adiknya? Kenapa? Kenapa?


Hanya itu yang ada dipikirannya. Aira kembali sedih dan menangis. Hidupnya seperti sebuah settingan sinetron yang diatur oleh seorang sutradara. Dipermainkan oleh takdir yang seakan diatur oleh seseorang bukan Tuhan.


Tapi mengapa nenek itu rela merawat kami? apa dia ingin menebus kesalahan putrinya?


Aira semakin menurunkan scrool layar laptop untuk terus melihat profil Lisa. Dan lebih mengejutkan untuknya, wanita itu adalah wanita yang dulu menjadi driver wanita yang mengantarnya saat ia pergi dari Ryo.


“aaaaggghhhh!!!” teriak Aira kesal.


Mengapa dunia begitu sempit? Benaknya


Hantaman rasa sakit kini menjalar ke bagian perutnya. Ia kembali merasakan kram pada perutnya


“maafin bunda sayang.. maafin bunda” mengelus perutnya.


Maafin bunda yang lupa menjaga kondisimu..


“ssshhhh.. sshhh..” elusnya pada perutnya yang terbilang sudah mulai menonjol.


Seolah berusaha menenangkan sang anak.


Aira menutup email itu. ia berjalan jalan dalam rumah mereka untuk meregangkan dan berusaha melupakan fakta baru yang ia temukan.


Hari berganti minggu hingga memasuki jadwal konser itu di laksakan. Ryo mengirim pesan pada emailnya sendiri


Sayang...


Konser yang ku janjikan akan ku jalani..


Aku berharap kamu juga memegang janji mu untuk menemuiku di konser terakhir


Aku tahu kamu masih marah padaku, aku salah dan aku minta maaf..


Telpon aku jika kamu sempat, konser akan diadakan malam ini,


Ijinkan aku mendengar suaramu sebentar saja untuk mood bosterku menjalani lelah hariku


Aku mohon.. aku akan turuti apapun kamu kamu..


Aku juga gak akan memaksa kamu untuk kembali ..


Tapi aku mohon ijin aku ya mendengar suaramu


Aira membaca pesan Ryo. Air matanya menggenang. Kerinduannya pada sang suami memang sudah tak tertahan. Ia pun mengambil ponselnya menghubungi Ryo.


Ryo berada ditengah wawancara wartawan yang menggerubunginya bak semut pada gula. Ia merasakan getar ponsel Aira pada dadanya dan bergegas pergi. ia tahu, hanya satu orang yang akan menghubungi nomor itu dengan nomor pribadi

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2