
“bukannya orang orang kalian yang dulu ingin menculiknya?” tanya Ryo dengan sorot mata kemarahan pada Hendrawan.
Bak sebuah kejutan yang luar biasa mendengar kata kata itu membuat Hendrawan memucat dan membelalakkan matanya
“menculik? Jadi nona pernah diculik?” tanya Hendrawan lagi
“kenapa? anda kaget karena saya tahu tentang itu?” tanya Ryo lagi
“kapan nona diculik?” tanya Hendaran dengan ekspresi kemarahan
“untuk apa anda bertanya? Tanyakan pada anak buah anda sendiri?” jawab Ryo
“anak buah saya?”
“iya, kami masih memiliki bukti jika anak buah andalah yang mencoba menculiknya” jelas Ryo
“tidak mungkin! kami memang mencari nona sejak orang tuanya meninggal, dan tak satupun anak buah saya menemukannya”
“nah.. anda akhirnya mengakui, jika orang yang mengejar istri saya adalah anda!!” ucapan Ryo meninggi.
“bukan seperti itu, sulit saya ceritakan jika nona tidak ada, tolong izinkan saya menemui nona tuan”
“tidak akan! Saya tidak akan membuat istri saya dalam bahaya” ucap Ryo berdiri ingin meninggalkan ruang makan VVIP tersebut.
“Tuan!” Hendarawan tiba tiba berlutut.
Tindakan itu membuat semua mata yang berada disana terbelalak. Ken dan asisten Hendrawan merasa tak percaya melihat tindakan sang tuan.
“Tuan!” Sang asisten mendekat
“mundur kamu!” perintahnya
“tuan saya mohon jangan seperti ini!” sang asisten merasa tak nyaman dengan perbuatan Hendrawan
“aku bilang mundur!! Kamu jangan ikut campur!” jawabnya
Ryo masih mematung menatap Hendrawan yang berlutut di hadapannya.
“tuan Ryo, saya mohon pertemukan saya dengan nona Aira Amira” mohon Hendrawan.
Ryo menjongkokkan tubuhnya.
“Tuan Hendrawan! Tolong berdirilah!” pinta Ryo
“saya mohon tuan, izinkan saya bertemu nona” pinta Hendrawan memohon.
“berdiri dulu, kita duduk dulu, ceritakan semuanya, maka saya akan pertimbangkan”
“saya mohon tuan” pintanya lagi karena rasa putus asa.
“mari tuan!” Ryo mengajak lelaki yang umurnya mungkin di kepala lima itu untuk berdiri.
Hendrawan menurut dan kembali duduk.
“saya akan mengijinkan tuan menemui istri saya, tapi jika tuan hanya datang sendiri, tanpa siapapun, tanpa pengawal atau siapapun!!” jawab Ryo dengan penuh penekanan
Hendrawan menghela nafas.
“baik lah” ucapnya melega
“tuan!” sela sang asisten yang sangat tahu itu sangat berbahaya untuk seorang Hendrawan.
“tidak apa” Hendrawan mengangkat tangannya
“dan Anda bisa menemui dia di apartemen kami! Untuk waktunya, akan saya tanyakan dulu dengan istri saya” jelasnya
“baiklah.. lebih cepat lebih baik tuan” ucap Hendrawan lagi
Ryo masih menatap tajam ke arah Hendrawan, kecurigaan dia terhadap Hendrawan seoarang lelaki jahat semakin kuat. Apalagi hasil penyelidikan Haris mengatakan jika Hendrawan menguasai Ai & Din yang bukan miliknya. Hendrawan adalah seorang asisten komisaris sebelumnya yang meninggal dunia karena serangan jantung.
“apa yang membuat anda rela berlutut hanya untuk menemui istri saya yang hanya berasal dari sebuah desa kecil?” tanya Ryo lagi
“saya akan mengatakan semuanya ketika saya bertemu nona” jawab Haris masih tak ingin mengatakan maksudnya. Ia juga memiliki pemikiran dan kewaspadaan pada seorang Ryo.
*
*
*
Aira duduk santai bersama Aina menikmati capucinno setelah selesai makan malam bersama sang adik dan tentu saja bersama Bams sang sahabat. Mereka bersantai di ruang kantor cafe Bams.
“tumbennya kamu bebas hari ini ai?” tanya Bams
“dia masih ada pertemuan bisnis katanya, jadi aku pulang nanti bareng Aina aja” jelasnya
“wahh.. tapi aku senang kalian di kawal gini, cafeku jadi tambah banyak pemasukan” jelas Bams
“tapi Aina Cuma bentar aja lagi kerja disini” jelas Aira lagi
“ni...” cegah Aina
__ADS_1
“lho.. kamu udah dapat kerjaan na?” tanya Bams
“aku belum mutusin kok ni” jawab Aina
“bukannya kamu udah bilang iya” tanya Aira lagi
“belum ni.. aku belum memutuskan” jawab Aina lagi
“memangnya kamu mau kerja dimana na?” tanya Bams
Aina menoleh pada Aira
“di tempat mas Riry” jawab Aira
“ooo... bagus itu na” jawab Bams
“tapi aku gak suka bau bau nepotisme Bams.. aku lebih senang karir dengan kinerjaku sendiri.. seperti dulu di Ai & Din, mereka mengangkat ku langsung karena kinerja ku baik” jelas Aina
“toh kamu tetap kerja, disana juga nanti kamu bisa tunjukin kinerja kamu” jawab Aira lagi
“kan beda ni.. masuk karena orang dalam, apalagi orang nomor satu, mereka pasti nanti akan selalu menjilat” jelas Aina
Bams dan Aira tersenyum saling pandang mendengar penjelasan panjang Aina.
“ekheemm!!” suara serak lelaki yang berdiri di pintu mengejutkan mereka bertiga.
“mas!” senyum Aira mengambang menyambut sang suami. tatapan cinta tergambar setiap sirat wajahnya.
Ryo mendekat dan langsung mencium puncak kepala sang istri.
“udah makan malam beib?” tanyanya
“udah! gimana makan malam kamu mas? Lancar?” tanyanya lagi
“heum!” jawab Ryo tersenyum dipaksakan.
Aira mampu membaca senyum sang suami. ia menahan sesuatu! Benak itu berbisik.
“di.. ayo pulang sekarang aja” ajak Aira pada sang adik.
“lho.. Ryo baru datang kamu ajak pulang?” tanya Bams
“kayanya udah gak tahan bams” jawab Ryo tanpa filter
Sontak Aira memukul lengan bahu Ryo disampingnya
“sakit beib!” keluhnya manja mengusap
Interaksi mereka membuat dua senyum terlukis di bibir dua insan manusia lain yang berada disana.
“ngomong gimana? Kan bener kamu udah gak tahan ingin pulang” jelas Ryo dengan tatapan menggoda.
Wajah Aira seketika memerah, Aina berusaha menahan tawanya melihat sang kakak yang kena omongannya sendiri.
“emang? Ada gak tahan yang lain beib?” Ryo semakin memajukan wajahnya mendekat.
Aira semakin malu pada Bams. Ryo sengaja mengejeknya seperti dulu ketika membahas masalah tidur bersama
“iisshh..” Aira berdiri dan ingin pergi karena tak kuat lagi merasakan malunya.
Aina dan Bams semakin menahan tawanya.
“beib..kok pergi gitu aja” goda Ryo senang membuat istrinya merajuk
“B, makasih, aku pulang dulu” ucap Aira melirik sejenak pada Bams
“ni.. aku nanti aja pulangnya.. masih mau bikin rekapan hari ini”
“hem!” jawab Aira beranjak
“tunggu aku beib!” Ryo beranjak
“kamu disini aja, awas kalau pulang! Kamu hari ini tidur di luar!!” ucapnya kesal
“ah?” Ryo kaget
Suara gelak tawa Ryo dan Aina terdengar nyaring saat Aira melangkah meninggalkan ruangan itu. ia tersenyum puas membalas sang suami
“beib..!” Rengek Ryo mengikuti Aira
“mampus kau!” ejek Bams
“sapa suruh bikin ni kesal!” jawab Aina sambil terbahak bersama Bams.
Langkah Aira pasti keluar dari Cafe diikuti oleh Ryo. ia menuju mobil yang tadi ia tumpangi. Syen masih mengikuti langkahnya di belakang Ryo yang masih merengek pada Aira agar Aira mengubah keputusannya.
“beeeiibbb...”
Aira menoleh ke belakang, namun bukan pada Ryo tapi ia mencari Syen.
“Syen! Ayo cepat!” ajaknya
__ADS_1
“Syen! Kamu akan ku pecat kalau kamu sampai mendekati mobil itu!” ancam Ryo
“non?” Syen hanya menatap pasangan suami istri itu bergantian
“beibbb.. sorry sorry..” ucapnya mendekati Aira
“gak mau! Menjauh dari ku” jawabnya mengerjai kembali Ryo yang merasa takut padanya
“beib.. iya iya.. tadi kan aku Cuma becanda sayang” Ryo mencoba meraih tangan Aira, tapi Aira menepisnya. Ia berusaha menahan tawanya karena puas membuat suaminya seperti itu.
Ryo
menarik tubuh Aira hingga memutar menghadapnya. Dalam sekejap, ciuman itu mendarat di bibir Aira yang membuat matanya memejam dan menikmati ciuman sang suami.
“hhemmm” gumamnya melepas ciuman itu.
“aku suka kamu ngambek!” senyum Ryo menoel hidung Aira.
“jangan senang dulu sayang! Kamu masih dalam masa hukuman” Aira menaikkan alisnya dan tersenyum devil pada Ryo
Seketika senyum Ryo memudar.
“beib.. ayolah.. jangan gini dong” persis seperti kucing jantan yang menginginkan betinanya, mengikuti Aira yang kini justru berjalan menuju mobil Ryo.
“gak.. pokoknya gak!” jawab Aira memasuki mobil yang pintunya sudah terbuka oleh tangan Ken.
“nona!” sapa Ken menunduk
“malam ken!” sapa Aira dengan senyuman
Ryo menatap tajam pada Ken yang ikut tersenyum membalas senyuman sang nona.
“sekali lagi kamu menatap istriku seperti itu! besok bola matamu akan aku taruh di depan resepsionis gedung Callin sebgai cenderamata!!!!” ancam Ryo dengan tatapan sangat marah
Ken menelan salivanya, ia telah salah berada di situasi yang justru membuatnya terancam
“ayo Ken! Aku dah ngantuk!” ucap Aira dari dalam mobil
Dan mata Ryo membulat sempurna mendengar suara manja Aira dari dalam mobil.
“sayang!” Ryo memasuki mobil
Aira menggeser duduknya mencoba menjauh dari Ryo.
“jangan dekat dekat!” Aira ingin menghindar
“beib.. plisss... jangan gini dong!” Ryo memelas dan membuat perut Aira semakin mengeras menahan tawanya. ‘
“gini gimana?” tanya Aira lagi
“ngomong yang jelas dong sayang!” lanjut Aira
“beib..!” Ryo terus mendekat, sedang mobil masih melaju menuju apartemen mereka.
“ahhh.. aku ngantuk banget” ucap Aira sambil pura pura menguap
Ryo menatap lagi dengan seksama pada sang istri.
“enak deh malam ini bisa tidur nyaman sendirian” ucapnya lagi
“beib.. kamu jangan ngomong gitu dong, maafin aku ya.. janji deh gak gitu lagi” ucapnya merayu
“hemmmm..” Ara pura pura berpikir
Usaha rayuan itu pun berlangsung hingga mereka tiba di apartemen mereka. saat Aira memasuki kamar mereka, Ryo bergegas mengikutinya memasuki kamar.
“kalau gitu aku tidur di sebalah ya?”
Ryo memeluk Aira dari belakang
“gak boleh jadi pendendam sayang” ucap Ryo
“soalnya aku udah gak tahan sayang! Aku mau tidur” ucap Aira membelai wajah Ryo yang bersandar di ceruk lehernya. Mengatakan ucapannya yang menjadi biang acara rajuk merajuk malam ini.
“jangan marah dong beib”
“nanti kita bulan madu ya?” kembali bujukan itu keluar
“heemmm...” Aira berpikir
“katakan beib.. aku akan turuti apapun mau kamu” Ryo melepas pelukannya dan memutar tubuh Aira menghadapnya
“kalau gitu, mau aku.. kamu tidur di kamar sebelah malam ini” ucapnya dengan senyuman manis dan mata nakal pada Ryo
“gak! gak mau!” Ryo menarik tekuk leher Aira dan memulai malam mereka.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Insyaallah tinggal beberapa episode lagi ya kak..
Karena semakin sepi pembaca, maka kita percepat aja ya endingnya..
__ADS_1