
Drrtttt.. drrtttt.. drrrttt
Ponsel Ryo bergetar.
“Ya Om?” jawabnya
Ryo terdiam sambil menatap sang istri mendengarkan sebuah penjelasan dari panggilan yang ia terima.
“saya kesana sekarang!” jawabnya tak mengalihkan pandangannya pada Aira.
Aira memandang Ryo dengan ekspresi khawatir.
“aku mau ketemu Om Haris dulu ya, ada yang mau dibahas Om Haris soal perusahan” jelas Ryo memeluk istrinya tanpa menghiraukan sang adik yang melongo
“halo halo halo.. disini ada orang!” ucap Rya membuat Aira melepas pelukan Ryo
“huh.. ni makhluk kok gak pulang pulang, jadi susah deh mesraan sama istri!” Ryo memukul lembut kepala Rya.
Mereka berdua terkekeh.
“aku tinggal ya sayang.. dan kamu temenin kakak iparmu disini!” ucap Ryo bergantian pada kedua perempuan kesayangannya
“tadi aja ngusir! Sekarang ngelarang pulang!” ejek Rya
Aira tersenyum.
Aira mengantar Ryo hingga pintu mereka tertutup. Sejenak ia mencuri kecupan di bibir Aira dan meninggalkan istrinya untuk pertama kali keluar dari apartemen mereka.
Detak jantung Ryo gugup menuju kantor sang komisaris besar Callin Grup, kata kata yang tadi terucap saat di telpon membuatnya sedikit takut.
Semoga bukan fakta yang mengerikan! Benak Ryo di dalam lift menuju lantai puncak gedung itu.
Langkah kaki seakan meragu memasuki ruangan sang komisaris.
“masuklah tuan muda” ucap Haris menyambutnya. Mereka duduk bersama di kursi tamu.
“gimana om?” tanya Ryo lagi
“ini!” Haris memberikan berkas yang sudah siap.
Ryo membukanya dengan ragu. Dia melihat semua catatan tentang sang istri. Lembar per lembar ia lewati, saat pada laporan tentang kematian sang ibu, Ryo seakan berhenti bernafas dan mengangkat kepalanya memandang Haris yang duduk dengan tatapan cemas.
“om?” ucap Ryo merasa gugup. Ia menelan ludah dengan berat. Catatan itu memunculkan kembali katakutan lama yang telah tertutup.
“Hal itu akan saya selidiki kembali tuan muda” jelas Haris
“saya hanya ingin menyampaikan dulu, karena takutnya nona akan menemukan duluan dan ...” Haris tak berani melanjutkan kata katanya.
Ryo menutup kembali berkas yang belum selesai ia baca. Ritme jantungnya kini terasa lebih cepat, Ryo berusaha menurunkan tensi kegugupannya.
“tutupi semua data tentang Aira dan keluarganya, saya takut ada orang yang menyelidikinya nanti jika ia muncul ke publik” ucap Ryo
“termasuk adiknya” perintahnya
“baik tuan muda!” jawab Haris
__ADS_1
“saya minta om menuntaskan semuanya sebelum saya mengumumkan dia!”
“baik tuan muda!”
“bersihkan namanya om, dan.. cari tahu lagi bagaimana kehidupannya dulu, saya masih belum menemukan pemicu traumanya”
“baik tuan muda!”
Ryo menghela nafas lelah. Saat ini ia telah dilambung oleh kebahagiaan bersama Aira. Hari hari mereka yang seakan berada di atas khayangan telah terhempas oleh sebuah arsip dengan map berwarna biru yang ada di tangannya.
Arsip rahasia yang hanya diketahui oleh Ryo dan Haris.
Ryo keluar dari gedung itu dengan langkah gontai. Berkali kali ia menghela nafas. Membawa berkas dengan cover warna biru seakan membawa sebuah sebuah pedang. Pedang yang akan membuat sebuah luka bahkan mungkin kematian jika ia ditarik dari sarungnya.
Ryo menepikan mobil sejenak. Ia tak bisa fokus saat ini. Pikirannya terus menerawang pada lembaran lembaran yang tadi ia buka. Ia menundukkan kepalanya pada setir yang ia pegang.
“Tuhaaannnn.. kenapa takdir kami begitu kejam?” teriaknya
Ryo bahkan meneteskan air mata. Tak terima dengan apa yang baru saja ia ketahui. Batinnya terus berkecamuk mencoba menghadapi kenyataan pahit saat ini.
Ryo mamacu mobilnya menuju kediaman utama. Kakinya seakan ragu melangkah memasuki yang dia sebut sebagai rumah. Ingin pergi dari sana dengan cepat, Ryo membawa berkas biru itu menuju kamarnya. Menyimpan rapi di dalam brankas pribadi miliknya.
Saat Ryo menuruni tangga dengan tergesa, ia dikejutkan oleh suara bariton sang ayah
“Ryo? mana Aira?” tanya sang ayah yang melihat Ryo datang sendiri
Ryo menatap ayahnya dengan tatapan tak mampu terbaca. Perasaannya menggambarkan sebuah rasa yang berkecamuk dalam kepalanya. Ia menatap dingin dan tak mampu berkata.
“ada apa nak? Apa kalian ribut?” tanya ayahnya lagi
“aneh! Apa ada sesuatu antara mereka?” gumam sang ayah saat melihat punggung anaknya menghilang dibalik pintu.
Ryo memacu mobil dengan kecepatan penuh, ingin kembali ke apartemen dan memeluk istrinya. Kegundahannya saat ini tak bisa ia ungkapkan hanya dengan teriakan semata. Saat ini ia seakan menyesali dirinya terlahir sebagai Ryo.
Aira tengah asyik membuat cake yang ia pelajari beberapa waktu lalu. Rya yang mulutnya terus saja bicara membuat Aira tak merasa kesepian. Suara pin pintu terdengar dari dalam dan membuat kedua perempuan itu saling bertatap.
Ryo memasuki aparteman dengan langkah cepat.
“sayang.. sayang!” teriaknya memanggil sang istri
“wih.. kakak lebay banget nyari istri dalam rumah” ucap Rya mendengar teriakan Ryo
“aku di dapur yang!” jawab Aira nyaring meletakkan spatula
Ryo berjalan menuju dapur dan disambut Aira yang masih mengenakan celemek. Ryo menghambur memeluk erat sang istri.
Rya yang mau menggodanya seketika membatalkan, setelah melihat raut wajah kecemasan sang kakak. Tubuh Ryo seakan gemetar memeluk Aira. Raut wajahnya yang memejam bukan menggambarkan kerinduan pada sang istri, tapi menggambarkan sebuah ketakutan dan kekhawatiran.
Apa yang om Haris katakan sampai kakak kaya gini? Benak Rya.
“sayang kamu jangan gini! Ada Rya” ucap Aira yang tak mengetahui keadaan suaminya
Ryo justru mempererat pelukannya. Ia seakan takut melepaskan Aira saat ini. Tubuhnya gemetar membayangkan Aira yang mungkin akan meninggalkannya.
“sayang kamu kenapa?” tanya Aira lagi merasakan pelukan Ryo yang terasa lain.
__ADS_1
“aku kangen banget ma kamu” ucapnya pura pura, tapi wajahnya terus ketakutan.
Rya masih tertegun mencoba membaca sang kakak. Ia benar benar ketakutan, raut wajahnya yang dulu menatap Aira ketika sakit kini terlihat jauh lebih takut.
“iiihhh.. kamu tu lebay deh mas” Aira melepas pelukannya.
Ryo mencoba tersenyum palsu pada sang istri ketika manik mata mereka saling bertatap.
“kangennya nanti dulu ya.. aku lagi bikin cake sama Rya” Aira membelai wajah cintanya yang terlihat lelah
“hemm!” Ryo mengangguk.
Sedang Rya masih menatap sang kakak dengan khawatir, ia paham dengan ekspresi kakaknya yang menyembunyikan sesuatu.
“ayo Re!” ajak Aira menuju dapurnya
Sejenak Rya menatap Ryo, dan Ryo seakan menjawab tatapan Rya dengan senyum palsu.
Pasti terjadi sesuatu! Pasti ada sesuatu yang pelik yang dibicarakan Om Haris dengan kakak! Tapi apa mungkin menyangkut kakak ipar ya? Pikiran Rya terus bicara dan tanpa ia sadari Aira dari tadi mengajaknya bicara.
“Re!” panggil Aira nyaring yang membuat Rya tersadar
“ah! Ya kak!” jawabnya kaget
“kamu kenapa? Kok jadi mendadak diam gitu?” tanya Aira tanpa curiga
“ah.. aku tiba tiba ingat pasien ku kak” jawab Rya canggung
Acara membuat cake itu pun diteruskan, sedang Ryo kini mengurung dirinya di kamar di apartemen Aira.
Rya pergi setelah terdengar pesan masuk pada ponselnya. Aira membersihkan dapurnya dan baru menyadari sang suami yang tak berada disana. Ia mencari Ryo di kamar mereka tapi tak ia temukan.
“sayang kamu dimana?” Aira mencari Ryo. ia berjalan menuju pintu ajaib dan mencari disana.
Mendengar suara pintu yang terbuka, Ryo menutup matanya. Ia berpura pura tertidur.
“baru kerja sedikit udah lelah dia!” gumam Aira menyetel pendingin ruangan dan memberi selimut pada sang suami.
Ia duduk sejenak menatap wajah yang kini telah memiliki hidupnya.
“akhirnya kamu tenang, dan aku bisa istirahat sejenak dari sesi bercinta kita” ucapnya terkekeh membelai wajah sang suami.
“siapa bilang!” Ryo membuka matanya dan sontak membuat Aira begitu terkejut.
Ia menarik tubuh Aira hingga masuk kedalam pelukannya.
“kamu dah bangun?” tanya Aira
“bangun semuanya!” goda Ryo dengan alis turun naik
“iissshhhh!” keluh Aira dan ia kemudian hanya pasrah dengan ulah sang suami yang membawanya kembali ke dalam kenikmatan surga dunia.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ... makasih semaunya
__ADS_1