Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Berharap Mampu Menyudahi


__ADS_3

Jadi kamu nyaman selama gak ada aku? Tulis Bams


Kiky menjadi serba salah. Kini maksudnya disalah artikan Bams lagi!


Kiky hanya menghela nafas mencoba terus bersabar dengan sang kekasih. Ia ingin membalas pesan itu, tapi hatinya kembali meragu.


Bams tak pernah bertanya keadaannya, hampir tak pernah berinisiatif menghubunginya selain ketika ia menginginkan dirinya. Namun ketika sebuah berita gosip muncul. Ia seakan langsung menebang tanpa bertanya. Memvonis seolah ia seorang penyelingkuh.


Aku hanyalah seorang yang tak bisa melepas cintaku pada seorang Bams, aku terlalu mencintainya melebihi diriku sendiri. selalu berharap cintaku berbalas. Aku telah memberikan segalanya, tapi apa? dia selalu saja tak percaya.


Tak bisakah perasaan kita sama? Apa tak mungkin jika hatimu untuk ku? Apa sesulit itu mencintai ku?


Perasaan dan pertanyaan itu selalu hadir dalam detik hidupku, bukan karena aku tak mempercayaimu, tapi karena memang hatimu tak pernah untukku


Kiky bermonolog


Setetes air mata menetes di sudut matanya, mengungkap kepedihan yang ada dalam hatinya.


Sedang di kejauhan, hati Bams seperti terbakar, karena Kiky hanya membaca pesannya tanpa membalas. Ia tak menerima semuanya hingga ia menghubungi Kiky via Video.


Kiky menatap panggilan Bams. Kini lelaki itu mengingatnya. Atau hanya akan mengatakan kemarahannya?


Dengan berat Kiky menyentuh tombol angkat pada panggilan itu.


“jadi pesanku Cuma dibaca?” tanya Bams kesal dan tentu saja dengan wajah yang sudah terpasang masam.


Kiky menatap wajah Bams dengan tatapan sayu, matanya memerah karena tangisan.


“aku selalu salah!” keluh Kiky menurunkan pandangannya


“tadinya aku berharap setelah beberapa hari menahan diriku untuk gak menghubungi kamu, kamu akan menanyakan, kamu akan menghubungiku, kamu akan menanyakan keadaanku... tapi nyatanya aku salah.. kamu hanya mengingatku saat ada berita tentangku” ucap Kiky sedih dengan air mata yang mengikuti omongannya


“jangan memutar balikkan fakta!” ucap Bams masih marah


Kiky hanya menggeleng pelan


“aku hanya mencoba menjelaskan hati dan perasaan ku” ucap Kiky lagi


Bams terdiam. Sesaat ia membuang muka karena merasa bersalah.


“sudahlah .. jika kamu gak ingin menjelaskan, aku gak bisa memaksa” ucap Bams tak lagi dengan nada marah. Nada bicaranya seolah mengerti, seolah menerima dan seolah memahami bahwa berita itu hanya diperbesar oleh media.


Tatapan Kiky semakin sedih. Bams seakan tak cemburu lagi padanya seperti tadi. Semua itu seperti memperkuat opininya bahwa Bams memang tak pernah mencintainya


“kenapa? Kamu gak ingin tahu?” tanya Kiky


“gak!” jawab Bams ketus


Hati Kiky semakin sakit.

__ADS_1


Tut!


Panggilan itu tiba tiba saja berakhir. tangis Kiky pecah. Ia membenamkan wajahnya didalam bantal. Tak ingin suaranya terdengar. Dan ia menangis sejadi jadinya, ingin mengungkapkan betapa sakit ia sekarang.


Ia memilih menangis dan menangis, tak ingin memohon, tak ingin meminta lagi. Ia hanya bertahan dengan sakitnya sendiri.


Di lain tempat, Bams yang tak sengaja menyentuh tombol tutup membuat ia merasa cemas. Ada perasaan takut akan kemarahan dan kesalah pahaman Kiky padanya. Ia menunggu panggilan kembali dari dari Kiky, namun sepertinya Kiky tak menggubris kemarahannya kali ini. ada sedikit cemas dalam dada Bams dengan berubahan sikap Kiky padanya akhir akhir ini.


Apa mungkin kamu dah bosan menunggu ku? Benak Bams kembali bertanya.


Ia melihat kembali foto profil Kiky yang tersenyum di pelukannya. Berbeda dengannya yang hanya menampilkan sebuah foto senja yang disukai seseorang, seseorang yang dulu ya harap akan bisa ia raih.


Helaan nafas mereka seakan menyudahi semua perasaan yang berkecamuk. Perlahan mereka larut sendiri dengan waktu yang mereka jalani. Kiky lebih memilih pergi ke tempat lain. Mencoba melawan diri untuk tetap tegar dan kuat. berjalan dengan kaki dan tubuhnya, melawan jiwa dan hatinya yang meronta selalu memanggil nama Bams.


Sedang Bams memilih tidur untuk mengisi kembali tenaganya dimana mereka akan kembali terbang menuju kota tempat konser selanjutnya dilaksanakan.


***


Konser tersebut berjalan dengan baik, setiap konser dilaksanakan, Aira selalu menghubungi Ryo untuk memberinya semangat. Setiap akhir konser Ryo selalu membaca sebuah puisi yang berisikan kerinduan pada seseorang yang masih dianggap misterius oleh publik.


Hubungan Bams dan Kiky pun merenggang sejak kejadian awal konser. Meski Bams sekarang berinisiatif untuk lebih agresif, namun Kiky telah memutuskan untuk membentengi dirinya, terus melawan dan melawan untuk tak terlalu berharap. Kiky seakan ingin perlahan mengendurkan ikatan ia dan Bams, seakan ingin melepasnya meski


ikatan itu akan meninggalkan bekas luka yang selamanya tak akan mampu ia hapus.


Ddrrrttt Dddrrrtt


Ditengah meeting ponsel Kiky terus bergetar. Bams terus menghubunginya tanpa henti membuat Kiky merasa tak nyaman. Entah apa yang terjadi dengan Bams, tapi panggilan itu merupakan pangggilan ke 30 dalam waktu satu jam terakhir.


“kamu kemana aja?” ucap Bams menghela nafas


“kan udah ku bilang meeting” ucap Kiky


“dulu tiap meeting .. mau bisa aja ngangkat telponku” keluh Bams


“ya ampun, aku beneran meeting” jawab Kiky lagi


“kamu datang kan minggu depan?” tanya bams lagi


“bukannya aku dah bilang aku usahakan” ucap Kiky


“kamu bosan dengan ku ya Ky?” tanya Bams lagi


“kamu ingin nyalahin aku lagi?” Kiky justru balik bertanya


“aku lagi meeting, dan aku lagi butuh fokus karena masalah perusahaan ku sekarang, apa gak bisa kamu gak ngajak aku ribut Bams?” tanya Kiky kesal


“maaf.. aku hanya kangen!” ucap Bams


Jantung Kiky berdansa bak penari salsa dengan hentak irama yang tak berkesudahan.

__ADS_1


Kangen tubuhku!


Pikiran itu seakan menghentikan semua musik yang membuat tarian itu berhenti. Membekukan kembali rasa yang baru saja menghangat dan kembali menghadirkan peperangan antara benak, pikiran dan hati Kiky.


“Ky..” panggil Bams


“hem” jawab Kiky


“ya udah kalo kamu sibuk.. aku tutup dulu” ucap Bams


“hem!” jawab Kiky yang kembali kacau


“kangen?” gumam Kiky pelan menatap keluar jendela dimana terik matahari sore terlihat menguning keemasan.


Helaan nafas lelah dan sorot mata lelahnya tak mampu menatap semua keindahan karena hatinya yang terus mengukir keraguan.


Ditempat lain!


“Di..!” panggil Aira pada Aina yang terlihat lelah sepulang bekerja.


“ya ni?” Aina menoleh pada Aira.


Wajah AIra terlihat lebih baik akhir akhir ini, masa kandungannya yang memasuki bulan ke lima membuat ia terlihat membuncit disela tubuh kurusnya.


“hmmm...” Aira ragu untuk mengatakan maksudnya


“ada apa ni?” Aina menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar lelah pada sofa ruang tengah.


“hmmm.. minggu depan kan konser terakhir Boys... kita jadi pergi ya?” tanya Aira lagi.


“ni... itu di kota B” Aina sedikit terkekeh mengejek sang kakak


“iya.. apa bisa kamu ijin sehari saja, kita kesana!” ucap Aira dengan tatapan keyakinan


Aina menatap serius sang kakak seakan membaca  kembali misteri di raut wajah Aira.


“aku akan kenalkan kamu dengan ayah dari anakku” ucap Aira dengan suara bergetar karena ragu dan kegugupan akan mengungkap sebuah kebenaran yang mungkin membuat posisinya sulit.


“ni....”


Bersambung


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Terima kasih pada readers yang masih setia baca dan menunggu update dari novel ini...


Maafin saya yang akhir2 sedikit sulit untuk mengaupdatenya karena kondisi tubuh yang belum sepenuhnya bisa..


Jangan lupa tinggalin dukungannya ya.. biar buat nambah semangat saya sembuh dan bisa lebih banyak menulis lagi.. 

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2