
‘jika kamu ingin mengembalikannya, temui aku langsung!’
Aina hanya mampu menatap pesan itu lekat, jari jarinya tak mampu lagi mengetik apapun di layar ponsel pintar miliknya.
Berat rasanya memberanikan diri bertemu dengan orang orang dari masa lalu sang kakak. Tapi jika ia bisa menemui lelaki itu. rasa sesak dan penasaran dalam dadanya akan bisa terlepas. Mungkin ia juga bisa mencari tahu bagaimana kehidupan sang kakak selama jauh darinya.
Merasa tak ada respon dari Aina membuat Bams berpikir gadis itu menolak.
‘please.. aku mohon katakan dimana kalian? Aku sangat khawatir dengan Aira, aku hanya ingin menanyakan kabarnya’ tulis Bams lagi
Aina kembali menelaah pesan yang barusan ia baca. Ia terdiam, rasa penasaraan dalam hatinya semakin meronta. Dengan helaan nafas ia membalas pesan Bams.
‘baiklah, kirim alamat kamu, kita ketemu besok sore’ pintanya
‘baik’ jawabnya
Bams mengirim pesan alamat cafe miliknya. Ia berharap kemunculan Aina akan mampu mengungkap dimana Aira selama ini. dan mengapa Aina baru sekarang mengembalikan uang itu padanya.
Malam yang penuh dengan kegugupan dilalu dua insan yang bukan sepasang kekasih. Namun pertemuan mereka seakan sebuah pertemuan dua kekasih yang lama berpisah. Saling merindukan, membayangkan pertemuan yang mendebarkan.
Minggu sore Aina meminta izin keluar pada sang kakak dengan alasan ingin belanja. Seperti biasa, ia selalu menanyakan apa yang diinginkan oleh sang kakak, tapi selalu mendapat jawaban yang sama.
“gak ada di..”
Hanya itu yang selalu ia katakan. Namun Aina yang sangat mengerti sang kakak selalu bisa membaca apa yang Aira inginkan meski ia diam.
Hembusan nafas Aina berat memasuki cafe yang terlihat sepi sore itu. Ia membaca pesan jika sang lelaki bernama Bambang Sutya itu menunggu dirinya di sebuah ruang VVIP cafe pemilik seorang artis terkenal tersebut.
“permisi..” sapa Aina menyapa seseorang yang bertugas disana
“saya ada janji dengan seseorang di ruang X” ucapnya
“nona Aina?” tanyanya
“betul” jawab Aina
“mari saya antar” ucapnya mengantarkan Aina pada sebuah ruangan khusus
Tok tok tok
“permisi tuan, tamu anda sudah disini” ucapnya membuka pintu
“suruh dia masuk!” perintah lelaki itu terdengar di rungu Aina
Perlahan pintu terbuka lebar, langkah Aina dan helaan nafas membuatnya berani memasuki Ruangan yang begitu nyaman namun tidak dengan dirinya.
“Bams?” ucap Aina ketika melihat jelas seorang lelaki yang menyambutnya
Mata mereka bertemu, tak mampu mengungkap apa yang saat ini mereka rasakan.
“ah! Maaf sepertinya saya salah ruangan” ucap Aina canggung
“enggak kok!” tahan Bams
Aina menoleh kembali pada Bams.
__ADS_1
“aku Bambang Sutya, Aina” ucapnya
Mata Aina memancarkan kebencian dalam seketika
Ternyata uang itu yang mengirim kalian! Karena rasa bersalah pada kami atas kejadian itu? Sekarang aku mengerti kenapa uang itu kamu kirim.
Aina mengingat jelas perkataan Ryo pada saat malam tragedi itu terjadi. Ia mendengar jelas jika Ryo meminta sang manager untuk mengurus semua tentang kakaknya.
Hati Aina mengeras, memanas, menyesak, entahlah! Campur baur semua perasaan yang berujung pada satu kata ‘kesal’. Tatapannya menajam pada Bams, gerahamnya mengeras mencoba menahan emosi.
“aku kesini hanya ingin mengembalikan ini!” Aina meletakkan sebuah paper bag yang penuh berisi uang cash.
Bams dapat membaca jelas kekesalan Aina saat itu. ternyata karakter Aina dan Aira terlihat berbeda. Benaknya bicara.
“tolong kita duduk dulu.. kita bicara sebentar” Ucap Bams lagi
Aina menarik nafas menahan kesalnya. Dadanya terlalu bergemuruh mengingat perlakuan Boys dan ME pada mereka. Aina berasumsi, ketika waktu itu Boman datang mewakili Boys dan ME. Kesalah pahaman yang tak terjelaskan membuat Aina begitu membenci Boys dan ME, terutama Ryo dan manager mereka Boman.
“please..!” pinta Bams lagi meminta Aina untuk duduk
Aina duduk dan menyerahkan kembali uang yang berada didalam paper bag.
“tolong berhenti mengganggu” ucap Aina
“dimana Aira?” tanya Bams lagi
“untuk apa menanyakannya?” tanya Aina dengan senyum sinis
Menanyakannya karena kalian takut ni akan menceritakan perlakuan kalian pada kami? Benak Aina menatap tajam Bams
“sahabat?” aina memberikan senyum mengejek ucapan Bams
“Aira gak pernah bersikap seperti kamu sekarang” ucap bams kesal
“karena ia gak pernah tahu bahwa orang yang mengaku sahabat itu hanya berpura pura” ucap Aina kesal
Entah karena ia sedang mengalami masa masa sensinya tapi saat ini melihat wajah Bams membuatnya sangat kesal.
“apa maksudmu?” tanya Bams lagi
“apa kamu lelaki yang ditangisi kakak ku?” tanyanya lagi
Aina tidak mengenal Ryo? benak Bams bertanya
“bisa jadi! Kenapa kamu bertanya? Apa Aira tidak menceritakan kehidupannya?” tantang Bams
“bukan urusan kamu deh” jawab Aina dingin
“gimana kalau kujawab bisa iya bisa enggak” ucap Bams mencoba membuat Aina bicara
“aku gak peduli, karena aku kesini hanya untuk mengembalikan uang mu” ucap Aina lagi
“ah.. aku baru ingat” jawab Bams
“berapa ini?” tanyanya
__ADS_1
“semua uang yang kamu kirim ada disini beserta bunganya” ucap Aina lagi
“tapi kan aku gak tau jumlahnya kalau ingin menghitungnya”
“empat ratus lima belas juta lebih dan beberapa rupiah saat kamu mengirim pesan” jelas Aina
“oo... itu” ucap Bams
“kalian memang berpunya.. mengirim pesan saja dengan tabungan, kelas kalian seharusnya tak mengganggu kami yang miskin” ucap aina keceplosan
“berarti Aira bersamamu!!” ucap Bams berdiri penuh penekanan.
Aina menutup mulutnya rapat.
Aduh..kenapa aku menyebut kami!! Bodoh bodoh bodoh! Ia merutuki dirinya sendiri
“aku mohon Aina, katakan dimana Aira?” Bams memelas dan memohon
“di suatu tempat!” ucapnya akhirnya menjawab setelah diam
“gimana kabarnya? Apa dia baik baik saja? Apa dia sudah menikah?” Bams memberondong Aina dengan pertanyaan
“untuk apa kamu menanyakannya?” tanya Aina seperti semula
“karena dia seseorang yang spesial buat ku”
Aina menatap bams intens mendengar kata kata itu
“apa hubungan kamu dengan ni?” tanya Aina
“jadi Aira tak menceritakan hidupnya padamu” Bams menunduk
“tolong katakan padaku.. paling tidak kabarnya” pinta Bams lagi
Aina berdiri, ia tak ingin berlama lama disana, ia semakin bingung dengan apa yang ia hadapi. Bams seperti seorang yang peduli dengannya, tapi yang menemui Aira saat terakhir adalah manager mereka atas perintah Ryo. Dan mengapa Bams tidak menanyakan kehamilan Aira?
kenapa kehidupan kamu seperti misteri ni? Tanya Aina dalam hati
Pikiran Aina justru semakin kacau.
“aku harus pergi!”
Bams menahan lengan Aina.
“tunggu.. tolong katakan, aku mohon, bagaimana kabarnya” pinta Bams dengan wajah sedih
“cukup! Tak perlu kamu mengetahui bagaimana kabar dia sekarang!” ucap Aina lagi
“tolong Aina, aku benar benar merasa bersalah padanya” ucap Bams mengingat pertemuan terakhir mereka
“kenapa? Apa kamu yang membuatnya pergi?” tanya Aina
“mungkin aku salah satunya” ucap Bams lirih
“jika kamu masih mengingatnya, doakan dia!” ucap Aina melangkah dan melepaskan tangan Bams
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~