
Bams yang baru selesai mandi masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia melihat layar ponselnya yang menerima pesan. Pesan tersebut dari Arya sang teman.
Sebuah video yang ia kirim berdasarkan berita yang tersebar di dunia maya tentang Kiky saat itu. Bams mengerutkan keningnya kesal. Tapi saat ia menyadari sebuah pesan dari asisten Kiky justru membuatnya merasa bersalah.
Dengan cepat ia mengenakan pakaian dan bergegas mengambil kunci mobil. Ia memacu cepat mobilnya. Di perjalanan ia membuka kembali aplikasi fine phone milik Kiky. Ternyata Kiky sedang menuju apartemennya. Bams terus bergegas memacu mobilnya, ia tak mengenali lelaki dalam video tersebut karena suasana gelap. rasa khawatir melupakan kemarahannya pada Kiky.
Bams memarkir cepat mobilnya dan berlari menuju apartemen Kiky. Bams menatap kesal pada nomor lantai lift yang menyala satu persatu, entah mengapa lift terasa lambat bagi Bams karena gemuruh hatinya yang begitu khawatir.
“Aaaaagghhhhh..” Teriakan Kiky terdengar saat Bams membuka pintu apartemen tersebut
“Ky.. hentikan!!” suara lelaki terdengar memaksa
“aku ingin mati mas... aku ingin mati aja”
“jangan ngaco kamu.. ingat papa”
“aaaagggghhh!!!” teriak Kiky lagi
Perdebatan itu terdengar sengit saat Bams melangkah memasuki apartemen Kiky.
Bams melihat jelas keadaan Kiky yang seperti orang kesurupan. Ia benar benar mabuk dan menggila.
“Ky!!!” Bentak Damar berusaha menyadarkannya
“kamu marahin aku juga.. kamu jahat!” ucapnya kini duduk bersimpuh di lantai dan menangis
Damar menghela nafasnya dan ia baru menyadari jika ada orang lain berada disana. Tatapannya tajam pada Bams. ia membenci lelaki itu yang telah membuat Kiky seperti sekarang.
“kamu juga jahat sama aku... huhuhuhu” ucap Kiky lagi sambil menangis
“kamu juga gitu.. gak ngerti kalau hatiku sakit ... sakit ..sakitt!!!” ucapnya dan terakhir dengan teriakan.
“Hati aku sakit banget, sakit tahu gak!” Kiky terus meracau
“Aku diputusin apa gak ya sama Bams?” gumamnya lagi menundukkan kepalanya semakin dalam
“lihat!! Ini semua karena kamu!!!” ucap Damar menunjuk Kiky dengan tatapan tajam pada Bams
“dia hampir gila sekarang! Puas kamu!!” ucap damar dengan begitu marah pada Bams.
Bams yang tak kalah marah pun menatap tajam pada Damar.
“jaga dia sekarang! Itu tanggung jawab kamu!” ucap Damar beranjak pergi dari sana
“masss....” gumam Kiky yang setengah terpejam
“mass.. jangan pergi.. aku gak punya teman disini..” Kiky terus meracau
“cukup dia yang ninggalin aku.. kamu jangan buang aku juga mas...” matanya masih setengah terbuka dengan tubuh yang tak lagi bisa bergerak.
Hati Bams meradang karena kebencian dan amarah pada Kiky. Karena saat ini Kiky justru mengharap lelaki itu yang berada disana.
Damar meninggalkan tempat itu dan berharap besok sang adik bisa senang melihat kekasihnya berada di sampingnya. Karena ia mampu memahami kondisi Kiky dan seperti apa perasaan adiknya tersebut.
Kiky kini terbaring di lantai tak sadarkan diri, campuran bau alkohol dan muntahan seakan kombinasi menjijikkan yang sempurna. Namun anehnya, bagi Bams hal itu tidak berpengaruh sama sekali.
“Kiky..!” Bams berusaha mengangkatnya menuju ke kamar yang sering mereka tempati.
__ADS_1
Mata Kiky membuka sejenak, namun kemudian memejam kembali.
“Mas.. kamu denger.. aku denger suara dia lagi.. rumah ku selalu terdengar suara dia mas..” ucap Kiky masih dalam keadaan setengah tak sadarkan lagi.
Bams hanya menatapya marah, tapi ia tak bisa meninggalkan Kiky seperti itu.
“mas.. aku mencintai dia.. kenapa dia gitu sama aku” Suara itu hampir tak terdengar
“sekarang dia udah ninggalin aku mas.. akhirnya dia ninggalin aku” gumaman itu terus terdengar di bibir Kiky saat Bams menggendong tubuh itu.
Gumaman Kiky terdengar menyakitkan, menyayat sebagian hati Bams yang masih tak mampu memahami keinginan hatinya.
Perlahan tubuh itu lunglai, kini Kiky tak sadarkan diri lagi. Ia tertidur dengan gumamannya.
Bams membersihkan tubuh Kiky dan mengganti pakaiannya. Ia menidurkan tubuh lemah itu dengan perlahan, memberi selimut dan membuat posisinya senyaman mungkin.
Hati Bams sakit melihat Kiky seperti itu, tapi hatinya masih marah karena yang justru membawa Kiky pulang malam ini adalah lelaki itu lagi.
Kiky justru menghubungi lelaki itu dari pada dia. Hal itu semakin membuat hati Bams sakit. Ia sangat kecewa dan marah, tapi ia juga begitu khawatir pada Kiky saat itu.
Sejenak Bams berpikir. Ia duduk membelakangi tubuh Kiky yang kini terlelap. Sikunya bertopang pada kedua lututnya, sedang kedua tangannya menangkup menyangga wajahnya yang menunduk.
Apa yang harus ku lakukan Ky? Hatiku sangat sakit saat ini! aku marah, aku kecewa! Tapi kenapa aku justru tak bisa melepas kamu! benak itu terus bicara
Amukan perasaan yang tak ia pahami membuat Bams tersiksa, tak mampu mengeluarkan sesuatu yang tak ia pahami dalam benaknya.
Pagi menyapa meninggalkan malam, Kiky membuka matanya perlahan. Ia hanya sendiri di kamarnya.
“ternyata tadi malam Cuma mimpi” ucapnya kecewa, karena ia sempat mengingat wajah Bams yang membawanya ke kamar.
*
*
*
Muntahan Ryo terdengar lagi ketika mereka akan berangkat sarapan di sebuah resto. Kamar mereka yang langsung menjorok ke laut membuat angin laut terasa langsung ke kulit mereka.
“mas.. kita pindah kamar aja ya.. kamu masih maasuk angin ini” ucap Aira kembali membantu Ryo
“kok aneh ya.. ak.. hoeek hoekkk” Ryo terus muntah
Ia pun terlihat pucat. Perlahan ia membersihkan mulutnya dari sisa muntahan.
“kamu pucat mas” tatap AIra khawatir pada sang suami.
Namun suara perut Aira kembali terdengar membuat Ryo tak tega membuatnya berlama lama.
“ayo kita sarapan!” ajak Ryo
“tapi kondisi kamu kaya gini” tahan Aira
“gak papa kok beib... kamu lupa ya suami kamu ini seorang dokter yang sangat tahu kondisinya” jawab Ryo yang tak ingin membuat Aira khawatir.
Mereka pun melangkah pergi menuju tempat yang sudah dipesan.
Selama perjalanan Ryo terus berusaha menahan mualnya karena ia tak ingin membuat Aira khawatir. Selama di jalan, Aira meminta Ryo berbaring di pangkuannya seperti sebelumnya, dan itu berhasil menghilangkan mual Ryo. setiap Ryo memasukkan wajahnya ke perut Aira, mual itu seakan menghilang.
__ADS_1
Ryo menggandeng tangan Aira memasuki resto bawah laut. Sedang Aira menoleh tersenyum pada sang adik yang mengikuti mereka di belakangnya. Ia puas menunjukkan betapa menakjubkannya tempat tersebut.
“beib.. lihat ikan ikan itu” Ryo menunjukkan pada Aira
“aku berasa berendam mas” ucapnya takjub melihat birunya air laut yang mengelilingi mereka.
“kamu suka beib?” tolehnya dan menatapnya penuh cinta
Anggukan dan senyuman Aira membuat Ryo merasa melayang.
“sayang banget ada mereka, kalau gak ku lahap kamu disini” bisiknya pada Aira
Aira memukul manja lengan bahu Ryo
“mesum” ucapnya
“habis sarapan kita lanjut!” ucapnya lagi
“iihhhh..” Aira merasa malu dengan kemesuman sang suami.
“emang kuat? Paling habis ini muntah muntah lagi” balas Aira
“nah.. kamu nantang ya..” jawab Ryo menaik turunkan alisnya
“siapa yang nantang” jawab Aira menoleh ke kiri membuang wajahnya yang merah
“kamu harus tanggung jawab Beib sama ucapan kamu” Ryo menarik dagu Aira ke arahnya dan kembali mengecup bibir Aira dengan cepat
“mas...” Aira merasa malu karena jelas dibelakang mereka ada Aina, Ken dan Syen.
“biarin.. istriku sendiri kok” jawabnya
“malu maluin” protesnya
“disini sudah biasa beib ciuman dimana mana” jawab Ryo tak mau kalah.
“au ah..” Aira Duduk di kursinya
Sejenak Ryo mengusap puncak kepala Aira. mereka pun akhirnya sarapan dengan saling menatap penuh cinta, sedang Aina dan Syen makan bersama sambil menceritakan hal hal terbaru.
“Ni.. habis ini aku boleh ya pergi sama Syen aja..? aku mau jalan jalan sendiri.. aku bosen liat kalian” pinta Aina saat mereka selesai sarapan
Ryo tersenyum, itu berarti ia hanya akan berdua dengan Aira.
“kenapa gak bareng bareng aja sih?” protes Aira
“biarkan mereka beib.. mereka juga ingin menikmati liburan mereka sendiri” jelas Ryo
“Ken! Kamu kawal nona nona ini.. dan kamu adik ipar.. pakai ini sesuka mu” Ryo memberikan kartu berwarna hitamnya pada sang adik ipar
“yeesss!!!” jawab Aina girang, Tapi tidak dengan Aira. Ia terlihat khawatir pada sang adik.
“tapi ingat!! Jangan lupa bawa ponsel satelitmu.. nanti ni kamu khawatir” ucap Ryo lagi
"Asssiaap kak!!" jawab Aina dengan gaya tentara.
__ADS_1
Aira tersenyum melihat perlakuan suaminya pada sang adik yang sangat ia sayangi dan memahami seperti apa dia terhadap adiknya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~