
“kalau kamu ingin ku maafkan... dan kamu benar benar tulus ingin melakukan sesuatu untuk ku...?” ucap Aira menarik nafas disela tangisnya.
Ryo menunggu kata kata yang akan membuatnya mampu memiliki kesempatan lagi bersama sang kekasih.
“maka menghilanglah dari hidupku, aku akan maafin kamu” jawab Aira setelah lama diam.
Dua hal bertentangan yang tidak mampu Ryo lakukan, ia berlutut dan menunduk. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, tubuhnya tiba tiba terasa lemas, ucapa Aira seakan menyedot semua tenaganya saat itu.
“ampuni aku ai, aku mohon, jangan tinggalin aku!” pintanya dan meraih tangan Aira
Aira menampik tangan Ryo.
“Aira aku mohon.. aku tau kesalahan ku tak termaafkan, tapi kasih aku kesempatan untuk menebusnya.. pliss???” mohon Ryo
“muncul di hadapanku hanya akan membuatku lebih tersiksa, jadi tolong biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang” Aira mengatakannya dengan wajah memohon pada Ryo.
Melihat semua itu, Ryo tidak mampu mengatakan apapun lagi.
“aku mohon, putuskan semuanya, lupakan aku!” pinta Aira lagi
Ryo terdiam, panggilan kedua agar penumpang memasuki pesawat terdengar lagi.
“aku harus pergi, ini milik kamu” Aira meletakan kartu kredit yang Ryo berikan padanya
“maaf aku gak bisa terima apapun lagi!” Ucap Aira menangis.
Ryo terdiam, ia sadar dia tidak mampu untuk menahan Aira lagi. Ia kehilangan Cintanya. Ia pun menunduk.
“pakai tiket bisnis itu Ai, anggap itu hadiah terakhir dari ku, tolong kamu terima, aku tulus memberikannya untukmu” ucap Ryo sebelum Aira melangkah
“aku janji, aku akan buktikan ke kamu, aku tulus!” ucap Ryo
“seperti yang kamu minta, aku akan menghilang!” lanjutnya
Aira berjalan menuju pintu keluar
“selamat tinggal!!” Aira menutup pintu dan menangis. Suara tangisannya dapat Ryo dengar dengan jelas.
Aira memasuki pesawat dengan mata sembab, ia menutupnya dengan kaca mata hitam miliknya.
Dia sengaja mengatakan semua hal buruk itu agar Ryo merasa kecewa dan membencinya. Biarlah ia sendiri yang menanggung sakit dari hubungan mereka. Ini adalah kesempatan agar Ryo meninggalkan dan melupakannya. Karena dia takkan sanggup jika mendengar kata kata yang pernah dikatakan Ryo dikatakan oleh orang lain untuk kekasihnya.
‘Dengan orang rendahan seperti kamu’ kalimat itu seperti terngiang.
Aira memejamkan mata, Ia pun meninggalkan Ryo dan juga meninggalkan kota itu. Aira berpikir ketika ia pulang, ia tidak ingin kembali kesana lagi, ia berharap mendapat pekerjaan baru di kota kecil tempat adiknya sekarang.
Ryo keluar dari tempat itu dengan banyak sorotan, banyak orang yang mengenalinya. Dia yang pergi tanpa assisten maupun pengawalan dari agensi membuatnya diserang oleh penggemarnya, tapi hari itu, Ryo bersikap dingin dan menolak semua penggemarnya yang ingin berfoto ataupun menyapa. Matanya yang tertutup kaca mata hitam, namun raut wajahnya sangat terlihat ia sedang kecewa.
Ia hanya pergi dari sana, Ryo memacu mobil sportnya dengan kecepatan tinggi, meski di Tol tersebut tidak ada hambatan.
Beruntung Aira berada dikelas eksekutif, karena kalau tidak, ia tidak tahu harus bagaimana ketika orang orang melihat ia menangis saat itu. Aira menatap foto Ryo yang akan ia hapus pada layar ponselnya.
'Delete'
Tepat saat Aira tombol itu Aira sentuh dan Aira memejamkan mata meneteskan air mata
Srriiiiiiittttt.... prang bugh preng..
Ryo kehilangan fokusnya dan sebuah kecelakaan pun tak bisa dihindari.
"Selamat tinggal beib!" ucapnya sebelum benar benar kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
**************************************
Suara sirine ambulans nyaring di sepanjang jalan menuju rumah sakit, kondisi parah sang pengendara membuatnya sulit dikenali, Ryo yang bersimbah darah berkali kali mendapat pertolongan. Kondisi mobilnya pun hampir tidak berbentuk.
Ayah Ryo mendapat telpon sebelum Ryo sampai di IGD, ia sangat syok. Ayahnya tidak menyampaikan pesan itu pada sang ibu yang sedang berada di luar negeri.
Seluruh dokter spesialis menangani Ryo, operasi pun dilakukan untuk membuang gumpalan darah di kepalanya. Ayahnya yang menunggu seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia menunggu dengan cemas di depan ruang operasi.
Bams yang mendengar kabar itu, langsung berlari ke rumah sakit. Boman yang mendengar pun seakan mendapat serangan jantung. Ia memberitahu Soraya untuk tidak memberitakan dulu tentang kecelakaan yang dialami Ryo.
Bams berusaha menghubungi Aira, tapi dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Bams jadi cemas.
“Ryo dari mana Bams?” tanya sang ayah
“saya juga kurang tau om, setau saya Ryo tidak ada jadwal di luar kota” jawab Bams
Boman datang dengan sedih.
“Gimana kondisinya?” tanya Boman
“Masih menjalani operasi” jawab Bams
“ngapain dia di bandara?” tanya Boman
“lo gak tau?” jawab Bams heran
“gue taunya dia tadi di bandara, karena ada beberapa status medsos yang mengatakan Ryo sombong” ucapnya
Bams terus berpikir, ia baru teringat Aira. karena pagi tadi Ryo menanyakan penerbangan Aira. mengingat itu Bams kembali menemui pusat informasi di rumah sakit
“anda yakin Ryo hanya sendiri dalam kecelakaan itu?” tanyanya lagi merasa tidak yakin
“iya, karena informasi dari kepolisian, hanya ada satu korban di dalam mobil” jawabnya jelas
Operasi yang berlangsung lebih dari lima jam pun akhirnya selesai. Ryo keluar dengan alat bantu hidup. Kondisinya masih kritis. Semua dokter yang menangani pun berharap Ryo bisa selamat. karena bagaimana pun, jika Ryo tidak selamat, maka mereka akan ikut tidak selamat.
Aira melangkah masuk ke tempat tinggal adiknya. Ia melihat sekitar ruangan itu. sangat sederhana dan sangat berantakan. Hal itu membuatnya semakin lelah, penerbangan selama empat jam, belum lagi ia harus naik bis selama dua jam menuju kampungnya, membuat Aira rasanya tidak bisa berbuat apa apa lagi.
Hari mulai gelap, ia pun berbaring sejenak di tengah tumpukan cucian yang belum dirapikan oleh Aina. Ia pun tertidur pulas. Aina yang baru pulang dari tempat kerjanya tersenyum melihat sang kakak yang tertidur pulas di atas cucian yang berantakan.
“kamu pasti capek banget” ucapnya merasa bersalah melihat sang kakak yang tidur mendengkur
Ia terus melihat kakaknya, tak terasa setettes air mata jatuh. Ia merasa sedih dengan kondisi sang kakak yang seharusnya sekarang mungkin seharusnya sudah memiliki seorang putra atau putri di usianya.
Di kampung mereka, seseorang yang berumur diatas dua puluh tahun pasti sudah berumah tangga. Tapi berbeda dengan Aira, ia lebih memilih bekerja, menjadi pundak untuk sang adik.
Bahkan Aira pernah berkata, jika Aina menikah. Ia akan menyelenggarakan pesta layaknya orang orang yang memiliki orang tua. Mengingat kata kata itu Aina menangis sendiri. Ia bertekat jika ia sudah selesai kuliah, ia akan mencari kerjaan yang memiliki bayaran tinggi. Ia ingin membahagiakan kakak satu satunya itu.
“ni... bangun..!!” Aina membangunkan Aira yang sering ia panggil Ni
Aira membuka matanya, ia baru menyadari ternyata hari sudah gelap.
“kenapa gak bilang kalo udah landing?” Aina protes
“Hp ku mati” jawabnya tersenyum
Aina memeluk Aira dan menangis. Aira hanya tersenyum. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa bertemu lagi. Meskipun sering melakukan panggilan video, tapi bertemu langsung seperti ini tetap saja membuat Aina terharu.
“kamu bau ni..” canda Aina di pelukan Aira
Aira tersenyum mendengar ledekan adiknya. Seperti biasa, dia selalu manja dengannya.
__ADS_1
“kamu juga bau” jawab Aira bangun dan membongkar tasnya untuk mengambil handuk.
Aina membantu membongkar koper Aina, ia melihat pakaian kakaknya yang sudah lama, tidak ada satu pun baju/pakaian baru disana. Ia menunduk sedih.
Aira meninggalkan semua pemberian Ryo. Ia tidak ingin Aina menganggap ia belanja untuk dirinya sendiri. ia sendiri tidak pernah menceritakan tentang Ryo padanya. Karena Ryo adalah idola Aina. Aina pasti akan kecewa jika ia mengetahui hubungannya.
Malam itu Aira menceritakan tempat kerjanya.
“bambang itu statusnya pacar kan?” tanya Aina tiba tiba
“ya gak lah, dia atasan di tempat kerja” jawab Aira sambil merapikan pakaian pakaian yang ia bongkar
“aku malah senang kalau ni punya pacar” ucap Aina tulus
“aku gak punya waktu buat pacaran” jawabnya menatap adiknya dengan senyuman
Aina merasa bersalah, ia merasa semua karena dia.
“maafin aku ni..” ucapnya dalam tunduk
“kok kamu minta maaf?” tanya Aira lagi
“karena aku, ni gak bisa pacaran” jawabnya sedih
“bukan itu.. tapi gak ada yang mau pacaran sama aku..” jawabnya tersenyum dengan tawa yang ditahan.
Aina tertawa mendengar itu.
Mereka ngobrol sepanjang malam. Aira ingin melupakan semuanya. Ia bahkan tidak ingin melihat ponselnya. Ia takut melihat pesan apa yang Ryo tulis untuknya.
Berita kecelakaan itu akhirnya tercium oleh media. Mendadak ME & Rumah sakit jadi seperti sebuah tempat yang sangat ramai. Mereka menunggu konferensi pers yang akan Boman dan personel Boys hadiri. Presscon itu akan menjelaskan kondisi Ryo saat itu.
Sedang di rumah sakit, penjagaan menjadi super ketat. Hanya beberapa orang yang boleh memasuki ruang dimana Ryo dirawat. Siang itu ibunya baru mengetahui kalau putranya sedang terbaring koma di RS. Ia pun langsung terbang untuk pulang.
Aina pulang ke tempatnya untuk makan siang bersama sang kakak. Ia terlihat malas berjalan memasuki ruang sempit itu.
“kaya habis nguli aja” ejek Aira melihat adiknya yang datang dengan terlihat lelah
“lagi sedih ini..” keluhnya langsung berbaring malas.
“sedih kenapa lagi?” tanya Aira masih sibuk di depan kompor tanpa menoleh pada Aina yang berbaring malas dekat meja kecil
“ni gak liat berita?” Aina menanyakan pada kakaknya
“gak ada TV! Gimana mau liat?” tanya Aira tertawa lagi
“HP?” Aira terus aja
“Hp belum ku nyalakan dari kemarin” ucap Aira lagi
“ada apa sih?” ucapnya sambil mencicipi osengan yang ia masak
“Idolaku kecelakaan” ucapnya sedih
“idola kamu banyak” Aira protes dan mengambil mangkok steinless untuk sayur yang barusan ia angkat
“Ryo Boys” ucap Aina lagi
Preeengggg!!
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Tolong dong tinggalin jejaknya ya.. Like, dan komennya juga
makasih & Love you all