
Kondisi ngidam Ryo semakin membaik, mereka kini mengerti jika satu satunya yang membuat Ryo mampu melawan mabuk ngidamnya hanya dengan mencium perut Aira.
“beib! Aku senang!” ucapnya setelah lemas menumpahkan semua isi perutnya
“habis muntah muntah gitu senang?” belai Aira dengan kepala Ryo yang ia pangku
“aku senang aku yang menjalaninya, bukan kamu” jelasnya kembali memasukkan kepalanya lebih dalam ke perut Aira
“geli mas” kekeh Aira mencoba menahan kepala Ryo yang terus mengusap wajahnya disana.
“aku lagi ngobatin pusingku” ucapnya
Aira bahkan terbahak menahan rasa gelinya.
“anak papah yang baik, tau aja kalau papahnya gak bisa jauh dari mamah” ucapnya lagi menciumi perut Aira
“terima kasih mas! Terima kasih telah memberiku kebahagiaan yang tak pernah aku bayangkan” ucap Aira membelai puncak kepala sang suami
“terima kasih telah menerimaku yang bukan siapa siapa menjadi seorang yang luar biasa kamu cintai” lanjut Aira dengan mata berkaca kaca karena rasa syukurnya
“tapi kamu sekarang justru melebihi siapa siapa” ucapnya
“aku gak pernah menganggap itu” raut wajah Aira protes
“sayang..” Ryo bangun dan duduk bersila menghadap istrinya
“meski kamu melawan dengan apapun, tetap saja darah kakek kamu masih mengalir dalam darah kamu” ucap Ryo melembut
“dia bukan kakek ku, dia yang mengusir mamah” ucapnya emosi
“tapi dia tetap mencintai kalian, buktinya dia mewariskan semuanya padamu” ucap Ryo lagi
“tapi aku gak menginginkannya, hidup begini saja udah lebih sayang!” wajah Aira menunduk
“iya, aku tahu ... tapi paling tidak, jangan menolak mereka, Om Hendrawan menceritakan semua padaku, bagaimana kakek berusaha mencari keluarga kalian” ucap Ryo lagi
Beberapa waktu sebelumnya, Hendrawan memohon untuk kembali bertemu dengan Aira, tapi Ryo menjelaskan kondisi Aira yang hamil dan tak boleh tertekan, Hendrawan dapat memahaminya, ia mencoba menceritakan semuanya pada Ryo dan berharap Ryo mau menjelaskan pada Aira.
“Om Hen, dulu kamu memanggilnya seperti itu, dia bahkan menunjukkan foto foto mamah sejak kecil” lanjut Ryo
“mamah kecil?” tanya Aira lagi
“hem! Foto kamu juga, ternyata sebelum keluarga kamu pergi menghilang, kakek selalu mengawasi kalian”
Aira menunduk sedih.
“beib!” Ryo kembali menggenggam tangan Aira
“bukankah Om Hen tidak bersalah padamu, aku selalu merasa kasihan melihatnya memohon untuk ketemu kamu, dia seperti seorang ayah yang berharap bertemu putrinya” ucap Ryo lagi
Aira menyadari, kematian ibunya karena pembunuhan orang lain, bukan karena lelaki itu.
“apa dia menemukan siapa dalang pembunuh ibu?” tanya Aira
“hem!” angguk Ryo
“siapa?”
“paman tiri kamu, Tony” jawab Ryo
“aku ingin dia dihukum!” ucap Aira dengan mata tegas
“dia sudah di hukum” ucap Ryo
“darimana kamu tahu?”
“kamu ingin melihatnya sendiri? tanya Ryo
“apa tidak bahaya untuk anak anak ku jika aku emosi?” tanyanya lagi mengusap perutnya
Ryo tersenyum
“dia telah di hukum Tuhan sayang, aku yakin, kamu tidak akan emosi melihatnya” ucap Ryo lagi
__ADS_1
Wajah Aira datar, mencoba memahami ucapan Ryo.
Akhirnya Aira mau menemui Hendrawan dan meminta ia mempertemukan dirinya dan Tony.
Hendrawan mengajak Aira dan Ryo ke sebuah rumah sakit.
Saat memasuki sebuah ruangan yang terdengar suara EKG, Aira menatap ragu pada Ryo. Tampak seorang gadis menemaminya disana. Gadis berambut panjang dengan wajah sendu, tatap matanya sayu sambil memegang handuk basah dan sebuah baskom berisi air hangat.
“Tuan Rasoeka!” sapanya pada Hendrawan dengan menunduk hormat
“bagaimana dia?” tanya Hendrawan dengan nada dingin, tak selembut ia berbicara dengan Aira.
“masih sama, saya baru saja selesai memandikan papah” ucapnya
Hati Aira terasa teriris menatap gadis tersebut. ia kembali merasakan pedih dalam dadanya, tak terasa matanya mengembun. Ia memegang kuat lengan Ryo yang ia gandeng.
“beib!” Ryo menoleh pada sang istri ketika merasakan pegangan tangan Aira menguat di lengannya
Gadis tersebut melirik sejenak dan tersenyum pada Aira dan Ryo.
“mereka ingin melihat Tony” ucap Hendrawan.
“oo.. silahkan tuan dan nona” ucapnya membimbing mereka mendekat.
Ryo dan Aira mendekat. Aira melihat lelaki yang terbaring dengan wajah tak tenang dibantu banyak peralatan yang tersambung di tubuhnya sebagai penopang hidup.
Aira yang awalnya merasa marah ketika berangkat, kini justru melupakan amarahnya.
“kenapa dia?” tanya Aira
“papah kecelakaan dua belas tahun yang lalu, sejak itu dia tak pernah lagi membuka matanya” ucapnya tersenyum sedih seakan membantu semangatnya
Dua belas tahun yang lalu? Ternyata tuhan begitu cepat membalasmu! Benak Ryo mencoba menghitung kejadian yang terjadi di masa lalu.
Aira menunduk! Ia bukan lagi marah pada lelaki yang terbaring tersebut, tapi sedih menatap gadis yang mungkin masih duduk di bangku kuliah tersebut.
“apa kamu setiap hari disini?” tanya Aira
“iya nona! Karena papah hanya memiliki saya” ucapnya
“sayang!” Ryo menyeka air mata Aira
“terus siapa yang mengurusmu dik?” tanya Aira
Hana menoleh pada Hendrawan, ia menatap takut sebelum menjawab pertanyaan Aira.
“jawablah! Jangan takut!” ucap Aira
“Tuan Rasoeka” ucapnya takut
“terus kalau kamu sekolah? Siapa yang menjaga papah kamu?” tanya Aira lagi
“tidak ada! Itu sebabnya saya berhenti sekolah, biar papah tetap ada yang mengurus” ucapnya
Hati Aira semakin sakit, gadis itu mengatakan ia tidak sekolah, tapi terlihat begitu banyak buku disana, itu berarti dia mencoba belajar sendiri. ia kembali mengingat dirinya dan Aina, rasa sedih itu semakin menusuk hatinya.
“ibu kamu?” tanya Ryo
“mamah pergi saat kecelakaan itu” ucapnya masih mencoba tersenyum ramah pada Aira meski matanya berkaca kaca
“mas!” tubuh Aira melemah mendengar cerita itu.
Dengan sigap kedua tangan Ryo menahan tubuh Aira
“kamu gak ‘papa?” tanya Ryo khawatir, Aira menggeleng.
“aku gak ‘papa” jawabnya
“nona!” Hendrawan mendekat.
Aira menelan ludahnya dengan susah. Ryo mengajak Aira duduk di sofa yang tersedia di ruang tunggu.
“sayang kita pulang aja ya?” pinta Ryo dengan intens merengkuh bahu Aira
__ADS_1
Aira menggeleng, air matanya masih menetes.
“minum dulu nona” Hendrawan memberikan air minum.
“Nona?” tanya Hana kembali menatap Aira mendengar Hendrawan yang memiliki posisi tertinggi menyebut wanita itu nona, itu berarti?
“apakah anda Nona Aira?” tanyanya lagi
“iya, siapa namamu?”
“saya Hana nona, nona.. !” Hana langsung berlutut dan bersimpuh di depan Aira.
“Nona.. saya tahu papah telah melakukan dosa yang sangat besar pada keluarga nona, saya memang tidak pantas memohon ini pada nona.. tapi ... saya mohon.. saya mohon.. ampuni papah, ampuni papah.. saya mohon ampuni papah nona!” tangannya mengatup, tangisnya pecah, ia memohon dengan isakan menyedihkan.
Permohonan itu justru membuat mata Hendrawan membulat, tak percaya dengan apa yang Hana ucapkan
“saya tahu saya tidak pantas meminta permohonan maaf ini, tapi saya mohon nona, tolong bebaskan papah, tolong nona.. saya mohon” ucapnya lagi lagi
“nona..! Saya akan menebus kesalahan papah dengan hidup saya, terserah nona ingin melakukan apa pada saya, tapi saya mohon ampuni papah”
“saya akan menjadi pelayan nona seumur hidup, saya akan menyerahkan hidup saya di tangan nona, saya mohon nona!” ia terus berucap di tengah isak tangisnya.
Aira semakin menangis dan turun duduk disamping Hana.
“sayang!” tahan Ryo
“kamu berdirilah!” perintah Ryo karena ia tak ingin istrinya duduk disana.
“bangun!” perintah Hendrawan membuat gadis itu beranjak.
Aira kembali duduk di sofa sedang Hana kembali berlutut dan mendekat pada Aira dan memegang lutut Aira.
“kau!” Ryo dan Hendrawan mencegahnya.
“ayo! Bangunlah!” Aira mengajak Hana duduk di sebelahnya.
“beib! Jaga emosi kamu, ingat anak kita” ucapnya pada Aira
“aku baik baik aja mas” ucapnya sebelum menoleh pada Hana
“tuan! Tolong tuan, tolong bujuk istri tuan, saya siap menerima pembalasan apapun atas kesalahan papah, tapi saya mohon bebaskan papah, saya mohon maafkan papah” tangisnya
“jadi selama ini kamu mengetahui perbuatan dosa ayahmu?” ucap Hendrawan geram
“Om!” tegur Aira melirik kesal pada nada suara Hendrawan
Hana menceritakan semua yang ia dengar tanpa sengaja waktu ia masih kecil. Ia menunduk sedih menceritakannya. Sedang Hendrawan terlihat sangat emosi menatapnya
Tangis Hana terus terdengar. Ia terus memohon pada Aira.
“sudah! Jangan menangis lagi!” usapnya pada wajah Hana
Ryo menatap istrinya terharu, perempuan yang sering merajuk padanya justru berhati sangat lembut. Ia menatap istinya semakin cinta.
“aku berharap nona memiliki maaf seluas samudra untuk papah ku” ucapa Hana menunduk yang menyerah memohon.
“kamu tenang Hana... aku memaafkan papahmu” ucap Aira
Tiiit tiiit tiiit!
Dalam seketika suara EKG Tony berubah cepat. Kode emergency pun menyala dalam ruang khusus perawatannya.
“papah!” Hana menghampur mendekati tubuh terbaring diatas brangkar tersebut.
“papaaaaah!” teriaknya panik
Dokter dan perawat seketika memasuki ruang tersebut. Aira merasa gugup dan memeluk lengan sang suami. Ryo menarik Aira dalam dekapannya berharap tak terjadi apapun disana.
Tony dalam penanganan intensif, sedang Hana menangis sejadi jadinya berdiri melihat tim dokter yang menangani sang ayah.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttt
Pertanda jantung itu telah berhenti!
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~