Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Aku ingin tahu


__ADS_3

“jadi menurut saya, kalau kita ingin mengungkap semuanya kita harus memancing mereka dengan menunjukkan nona” jelas Haris


“tidak! Itu akan membahayakan Rara ku” jawab Ryo tegas


“aku mau om!” jawab Aira yang sudah berdiri di depan pintu


“beib!”


Aira berjalan memasuki ruangan. Ia meletakkan minuman dan beberapa camilan untuk mereka.


“Terima kasih nona” ucap Haris sopan


Aira memegang nampannya.


“sini!” Ryo memanggilnya mendekat dan meminta untuk duduk di pangkuannya.


Aira menatap tajam pada Ryo dan membuat Ryo terkekeh.


“om.. apa itu satu satunya jalan untuk mengungkap orang yang ingin menyakiti ku dulu om?” tanya Aira


Haris mengalihkan pandangannya pada Ryo. ia tak berani menjawab pertanyaan Aira padanya


“Om tolong jawab tanpa melihat ke Mas Riry” ucapnya


Ryo menggeleng pelan, dan terlihat jelas oleh Aira


“mas.. aku berhak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan” jelasnya


Ryo berdiri mendekat pada Aira yang berdiri masih memegang nampan.


“beib.. aku bukan melarang kamu mengungkapnya, tapi..  aku akan bicarakan ini dulu dengan om Haris, apa yang akan terjadi dan apa yang harus kita lakukan dalam menghadapinya...” Ryo memberi pengertian dengan merangkul bahu Aira


Aira menatap Ryo mencoba mencari kebenaran dalam kata katanya.


“mas, aku ingin mengungkap semua yang terjadi di masa lalu ku” jelas Aira lagi


“aku tahu sayang” ucapnya mengecup pelan kepala Aira


“Om, aku juga ingin mengungkap semua tentang kematian mamah” ucap Aira melepas rangkulan Ryo dan duduk di samping Haris.


“tolong bantu om!” ucap Aira menatap dengan mata memelas


Haris masih terdiam, ia tak berani memutuskan sesuatu yang hanya Ryo bisa putuskan.


“nona..”


“beib..” Ryo duduk mendekat pada Aira


“please.. aku pasti akan mengungkap semuanya, tapi tolong.. satu satu sayang” pintanya lembut memberi pengertian karena Aira terlihat sudah emosi.


“maasss...” rengek Aira


“iya beib.. semua pasti akan kita ungkap, sabar ya” Ryo membelai puncak rambut Aira hingga ke punggungnya.


Aira meliriknya kesal. Ia seperti anak kecil yang tak senang tak mendapatkan permen yang ia mau, sedang Ryo membalasnya hanya dengan senyuman pengertian dan tatapan yang begitu lembut pada sang istri.


“Om, aku ingin ketemu dengan wanita yang bernama Lisa” pinta Aira tiba tiba


“maaf nona!” Haris merasa kurang yakin dengan apa yang ia dengar


“Beib! Ayo kita bicara dulu” Ryo mencoba meraih tangan Aira


“Om tunggu bentar ya!” ucapnya meninggalkan ruangan tersebut dan mengajak Aira keluar dari sana


“Ayo sayang!” Ryo merangkul bahu Aira mengajaknya keluar.


Ryo mengambil nampan Aira dan meletakkannya di sofa yang mereka lewati. Mereka menuju kamar mereka.


“Beib..”


“aku dulu!” tahan Aira


“mas.. aku ingin bicara langsung dengan kak Lisa, aku ingin tahu alasan dia sebenarnya” jelas Aira


Ryo mulai cemas dengan keinginan Aira, ia takut Aira akan semakin terluka jika mengetahui kebenaran yang ia tutupi. Kebenaran jika kesalahan operasi tersebut adalah sebuah kesengajaan, sebuah pembunuhan yang berkedok mallpraktek di rumah sakit milik ibunya.


“beib!” belum lagi Ryo bicara Aira kembali menahannya


“dia wanita yang menolongku!” ucap Aira


Ryo tertegun mendengar ucapan Aira


“dia menolong aku dan Aina waktu kami melarikan diri, wanita tua yang bersama kami adalah ibunya, pikiranku sangat kacau saat ini! aku terus bertanya.. dan aku ingin mencoba memecahkan pertanyaan dalam kepalaku tapi selalu bertentangan” jelas Aira lagi


“disatu sisi dia telah melakukan kesalahan yang menyebabkan kematian mamah, tapi dia justru menjadi orang yang bertanggung jawab pada aku dan Aina” jelasnya lagi


“aku harus menemuinya, aku ingin menemuinya mas” ucap Aira semakin memaksa


“iya iya iya.. aku mengerti sayang” Ryo menarik sang istri ke pelukannya


“aku ingin membebaskan bebanku mas” ucapnya semakin membenamkan wajahnya di dada Ryo.

__ADS_1


“iya.. tapi kamu harus sabar, aku akan atur pertemuan kamu dengan dia.. tapi aku juga harus mengaturnya dengan Om Haris” jelas Ryo lagi


Beib.. aku takut kamu terluka! Benak Ryo mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata karena khawatir.


“aku selalu bertanya kenapa kenapa dan kenapa, aku ingin tenang” keluh Aira lagi


“iya ..iya sayang.. pasti...! tapi kamu tenang dulu, biar aku dan Om Haris yang mengaturnya, nanti kamu pasti bisa menemuinya” jelas Ryo menenangkan Aira saat itu


"janji ya mas?" tagih Aira


"iya aku janji" tatapnya pasti meski dengan rasa takut


“aku bicara sama om Haris dulu ya?” kecup Ryo pada puncak kepala sang istri


“hemm!” jawab Aira


Akhirnya Ryo kembali menemui Haris. ia pun meminta Haris untuk mengatur pertemuan dengan Lisa.


“tapi ingat om, kasih tahu Lisa untuk mengatakan itu hanya kesalahannya, bukan karena alasan ancaman, aku takut istriku gak bisa menerima kenyataannya om” tunduk Ryo merasa khawatir.


“saya akan atur!” jawab Haris.


Setelah itu ia menjabarkan permasalahan kantor dan berbagai hal di bisnis mereka.


*


*


Damar duduk sendiri termenung di meja kerjanya. ia menelaah kembali omongan rekan kerjanya tempo hari.


“aku pikir Dia ayah kamu, kalian sangat mirip” ucapan itu selalu terngiang di telinga Damar


Apa mungkin? benaknya terus bicara


Ah tidak mungkin! benak itu kembali


Perlawanan dalam hatinya terus bicara. Ia juga menyadari jika ada sebuah perasaan berbeda saat ia bersama dengan sosok lelaki itu.


Kalau ku tanya bunda apa bunda gak syok? Pikiran itu menambah bebannya


“aaahhh..” helaan nafas seakan begitu berat dikeluarkan Damar dari Mulutnya.


Akhir akhir ini Kiky lebih sering datang ke rumahnya, Damar mampu membaca, jika Kiky menginginkan sang bunda menjadi bundanya.


Damar mengambil ponselnya dan menghubungi Kiky.


“Ky.. hari ini punya jadwal makan siang gak?” tanyanya


“ahhh .. aku tadinya mau ajak makan siang” jelas Damar


“gabung aja kalau mau” tawar Kiky


“gak ganggu?” tanyanya lagi


“ya gak lah”


Akhirnya mereka pun merencanakan makan siang bersama.


“pah! kita gambling ya hari ini” ajak Kiky yang akhir akhir ini sering menantang sang ayah untuk melakukan hal hal baru.


“gambling apa?” tanya Handoko


“kita cari resto tanpa resevasi” jelas Kiky


“tapi papah udah pesan” jawab Handoko


“ahh papah gak asik!” ucapnya


“Oke papah batalin ya”


Akhirnya mereka berkeliling mencari resto yang padat di jadwal makan siang.


Sebuah panggilan terdengar saat Kiky asik menyetir mobilnya. Ia mengangkat telepon tersebut menggunakan tombol yang ada disetir yang tersambung langsung pada headset yang ia kenakan.


“ya mas?”


“belum nemu tempat ini, aku sama papah lagi berpetualang nyari resto dan gak boleh reserv” jawabnya


Kiky tertawa mendengar jawaban dari Damar.


“siapa sayang?” tanya Handoko saat Kiky menutup teleponnya


“Mas Damar pah, tadi dia ajak Kiky makan siang.. Kiky bilang makan sama papah, terus dia mau gabung, tadi nanyain makan dimana, ya Kiky bilang kita masih cari... dia bilang gini, jangan lama, cacingnya udah konser” Kiky tertawa


Handoko melihat tawa anaknya begitu renyah membuat dia ikut tertawa.


Jam menunjukkan semakin siang, sedang mereka berdua belum juga menemukan tempat makan yang diinginkan. Kiky melewati cafe dan resto milik Bams, ada kecewa dalam hatinya saat melihat tempat itu.


“kita makan disana gimana?” pancing Handoko


“papah gak liat di depan tertulis penuh gitu” ucapnya kemudian melihat lihat lagi tempat lain.

__ADS_1


Dering telepon berbunyi lagi setelah hampir setengah jam.


“belum nemu!” jawab Kiky


“ooooh... emang boleh?” tanya Kiky lagi


“kalo aku sih mau aja”


“papah pasti mau!” jawab Kiky lagi


Handoko mengernyitkan keningnya melihat obrolan sang anak yang membawa bawa dirinya.


“ayo pah! kita udah nemu tempat makan yang cocok” ucap Kiky menutup teleponnya.


“dimana?” tanya Handoko


“papah duduk tenang ya, kita makan siang enak siang ini” ucapnya memutar setir dengan semangat


Dan berselang hampir dua puluh menit, Kiky memasuki komplek perumahan.


“emang ada resto disini?” tanya Handoko


Hingga Kiky berhenti pada sebuah pagar rumah seseorang. Seorang penjaga yang sudah mengenalnya membuka pintu dan masuk ke tempat itu.


“ini rumah siapa sayang?” tanya sang ayah


“Rumah Bams?” tanyanya lagi


Kiky tersenyum menoleh sang ayah saat ia sibuk memarkir mobilnya.


“papah tenang aja! Yang penting kita makan siang sekarang” ucapnya


Kiky turun dari mobil dan diikuti Handoko. Tak berselang lama sebuah mobil memasuki halaman tersebut dan turunlah Damar.


“Om” Sapanya mencium punggung tangan Handoko


Membuat Handoko berpikir jika Kiky dan Damar memiliki hubungan khusus.


“selamat datang di rumah saya om” ucap Damar


“ayo om!” ajaknya


Sedang Kiky melangkah masuk seolah itu rumahnya sendiri, karena ia memang sudah sering berada disana dan Nimas memintanya untuk tidak sungkan lagi.


Handoko melangkah dengan gugup.


“assalamualaykum bundaaa!” panggil Kiky masuk ke dalam rumah


“waalaykum salam!” senyum Nimas dan tatapan mata itu bertemu lagi.


Tatap matanya melekat pada sosok yang berjalan memasuki rumahnya dan lelaki itu juga menatap lekat mata Nimas tanpa teralihkan.


Makan siang itu terasa hangat, seperti sebuah keluarga yang sangat harmonis. Damar menceritakan cerita cerita yang membuat mereka tertawa. Ada tawa riang disetiap senyum Kiky. Ada tatap curiga dari tatapan Damar. Ada lirikan lirikan kedua insan yang kembali pada sebuah masa yang tak bisa mereka ungkapkan.


Saat selesai makan siang, Nimas menyiapkan minuman untuk mereka dibantu Damar.


“bunda gak perlu bikin, Damar akan langsung ke kantor” ucapnya


“Bunda bikinin om Handoko kok” ucapnya


Damar melihat jelas takaran kopi yang dibuat oleh sang bunda. Takaran kopi yang selalu ia minum.


“itu apa gak terlalu pahit bun buat om?” tanya Damar


“gak kok, dia suka kopi seperti ini” ucapnya


Jantung Damar berdetak berbeda.


Selera kopi dia sama denganku! Benaknya


Akhirnya Damar dan Kiky meninggalkan rumah itu lebih awal dengan alasan mengejar waktu meeting. Mereka seakan sengaja memberi ruang untuk dua orang tua yang kembali jatuh cinta lagi.


*


Hingga malam menyelimuti malam. Rasa lelah seakan tak Damar rasakan. Ia berbincang dengan sang bunda dan menceritakan harinya.


“bun! gimana Om Han?” tanyanya


Nimas menoleh pada Damar dengan canggung


“apa dia ayah kandung ku?” tanyanya


“Bun.. aku berhak tau” ucapnya


Bersambung


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Seperti apapun rahasia disimpan, kelak akan terbuka sendiri ketika satu persatu kebenaran terkuak


Jujurlah pada satu hal, karena meski menyakitkan itu akan lebih baik, ketika sebuah kebohongan akan terbuka oleh orang lain

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2