Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Tertangkap Kamera


__ADS_3

Sebelumnya...


“kamu bisa belanja gak?” tanya Bams


“ya bisa lah!” jawab Aira sambil mengelap meja tengah.


“nanti kamu belanjain keperluan ku ya?” pinta Bams.


“ini list keperluanku, nanti kamu tambahin beli beli sayur atau apa buat masak kalau disini,  ini kartu kredit, terus uang tunai” Bams memberikannya pada Aira.


“uang tunai buat apa?” tanya Aira


“itu buat taksi sama jaga jaga!” jawab Bams memberikan begitu banyak lembaran berwarna merah.


“oo.. terus kalo kamu mau sesuatu kamu beli sekalian”


“beli mobil boleh?” tanya Aira yang memang senang bercanda dengan Bams


“gaya kamu bisa nyetir aja!” ejek Bams


“kalo ku belikan tapi bawa sendiri pulangnya ya?” lanjutnya


“boleh.. ntar ku gendong bawa pulangnya!” Jawab Aira, membuat mereka tertawa bersama.


Saat belanja Aira ingin menghubungi Bams, dan ia baru menyadari ponselnya yang tak ia bawa.


Ia pun hanya belanja sesuai perintah Bams dan beberapa keperluan dapur lainnya. Aira Membayar membayar angka yang disebutkan oleh kasir.


Gila.. artis kalau belanja segini ya! Benak Aira melihat struk belanja hari itu


Saat kembali ke apartemen, Aira begitu lelah, karena belanjaan Bams yang sangat banyak.


“ini belanjaannya, ini kartu kamu, ini struknya, ini bukti taksi, ini sisa uang kamu” Aira meletakkannya semua di meja tengah dapur Bams.


Bams tersenyum melihat Aira yang kelelahan, ada begitu banyak kantong belanja disana.


“ya sudah, kamu istirahat disana, biar aku yang masukin belanjaannya” usir Bams


Aira membuka kulkas Bams dan mengambil air putih dingin, gelas yang terisi penuh, seakan hanya lewat dari tenggorokannya.


“ahhhh.. segarnya” ucap Aira menghabiskan minumannya


“sana!” Usir Bams


“gak ah, ini kan kerjaan ku!” jawabnya


Ia dan Bams merapikan belanjaan, tapi Bams memilah satu persatu belanjaan itu.


“kenap dimasukin sini?” tanya Aira


“itu kamu bawa pulang” jawabnya


Bams sengaja melakukan itu karena tahu sifat Aira yang tak mudah menerima sesuatu.


“wihhh.. beneran?” tanya Aira senang dan di balas Bams yang hanya mengangguk tersenyum.


Saat Aira menyimpan beberapa barang di rak atas, tubuhnya yang kecil seakan tak mampu menjangkau, ia berusaha menjinjit agar bisa meraih rak atas dari cabinet dapur Bams. Bams mendekat ingin membantu, membuatnya berdiri begitu dekat di belakang Aira, aroma shampo Aira tercium jelas di hidung Bams.


Aira menoleh pada Bams dan mata mereka bertemu. Ada yang berasa lain di dalam hati Bams pada momen seperti itu. Aira pun mampu merasakan tatapan mata Bams yang berbeda, ia pun bergegas menurunkan pandangannya dan melepas kotak cracker yang tadi ingin ia letakkan.


“aku gak nyampe!” ucap Aira terasa canggung menghindari tubuh Bams yang begitu dekat.


“biar aku!” Ucap Bams juga canggung meletakkannya.


“hmmmm... apalagi ya?” ucap Aira melihat lihat isi tas belanjaan berusaha menghilangkan situasi canggung mereka.


“kayanya udah semua!” jawab Bams


“bersih bersih selesai, belanja juga udah, berarti kerjaanku selesai nih?” ucap Aira sambil melihat jam yang menggantung di atas televisi yang sudah menunjukan jam 8:30 malam

__ADS_1


“kamu gak masakin aku?” tanya Bams


“lho.. kamu belum makan?” tanya Aira


“kamu liat sendiri, aku makan apa?” jawab Bams


“ku pikir aku pergi belanja tadi kamu udah makan malam” Aira pun berdiri kembali membuka kulkas.


“aku bikinin ayam tepung aja ya?” ucapnya menengok isi kulkasnya


“boleh!” jawab Bams


“sambil ku bantu ya?” Bams mengambil celemek.


Aira pun memasak untuk Bams malam itu, mereka makan malam bersama. Hingga waktu mendekati jam sepuluh malam, Aira baru pergi dari tempat Bams.


“ini bonus kamu hari ini!” Bams kembali menambah bayarannya


“kok bonus terus?” tanya Aira


“kan tadi kamu ku suruh belanja?” Jawab Bams


“ooo..!” ia tersenyum


“ini uang taksinya” lanjut Bams terus menambah lembaran pada telapak tangan Aira.


“ok bos, pulang dulu ya?” ucapnya ceria dengan begitu banyak tak belanja yang ia bawa pulang.


“dah pekerja pendek!” Bams melambai dijawab dengan wajah cemberut manja Aira


“hahahahhaha..” ia hanya tertawa melihat wajah Aira yang keberatan dikatakan pendek.


Aira berjalan dengan lelah. Ia membawa beberapa kantong belanja memasuki halamannya. Terlihat beberapa sayur di dalam kantong belanja keluar menjulur. Ryo mengikutinya pelan pelan.


‘Ceklik’ suara jepretan kamera & blitz


“ketangkap kamu” Ryo memoto Aira dari dalam gelap


“ah!” Aira kaget dan menjatuhkan kantong belanjaannya karena Ryo seperti tidak terdengar. Ia memegang kedua lututnya. Ryo mendekatinya dan menahan tubuh Aira.


“kamu tu mau bikin aku serangan jantung apa?” ucpanya menoleh pada Ryo yang masih menahan tubuhnya.


“kamu segitu kagetnya?” ucapnya tersenyum melihat Aira yang masih mengatur nafasnya.


“kamu dari mana aja?” Ryo tertawa melihat Aira yang sudah tenang.


“aku baru pulang kerja” Aira keceplosan seraya memungut kembali kantong kantong belanjaannya yang jatuh. Ryo pun membantunya.


“kerja?” Ryo merasa aneh karena ME meliburkan semua karyawan kecuali yang bertugas ketika ada acara on air di studio.


“kamu ngapain disini? Gak bawa mobil?” tanyanya Aira mengalihkan pertanyaan Ryo


“itu mobil” Ryo menunjuk mobilnya yang berwarna hitam pekat.


Ryo mengambil bawaan Aira dan mengantarnya ke atas.


“kamu tau? aku hubungin kamu mungkin udah ribuan” Ryo bicara padanya sambil menaiki tangga


“sorry, HP ku ketinggalan” kilah Aira


Ia membuka pintu dan mereka masuk bersama.


“kamu belanja banyak hari ini” ucap Ryo meletakkan kantong belanja Aira di atas meja. Ada ponsel Aira yang mati disana.


“iya.. aku capek banget” keluhnya


Ryo tidak menanyakan lagi kemana Aira dari sore itu. ia memilih membantu menyimpan belanjaannya. Ryo mengambil ponsel Aira dan mengecharge.


“akhirnya ... !” Aira duduk di sofa butut miliknya

__ADS_1


“kamu belanja banyak hari ini!” ucap Ryo memberikan minuman ringan untuk Aira dan mereka minum bersama.


Ryo membuang kaleng minuman mereka yang sudah kosong, ia mendekat dan meminta Aira berbaring di pangkuannya. Aira pun berbaring disana, sangat nyaman rasanya, Ryo tersenyum sambil membelai puncak kepala Aira dengan lembut.


“capek?” Ryo mengambil tangan Aira dan memijit kecil.


Aira hanya mengangguk. Ryo sesekali mencium tangan Aira yang terlihat kasar.


“tangan kamu lembut banget, kaya tangan cewek!” ucap Aira merasakan betapa lembut tangan seorang Ryo


“gak juga” jawabnya menggenggam tangan Aira


Aira memejamkan mata. Rasa lelah di tubuhnya membuat Aira sangat mengantuk saat itu. Ryo tersenyum melihat Aira yang merasa nyaman dengannya.


Tiba tiba suara dering ponsel Ryo membangunkan Aira yang hampir terlelap. Ryo bergegas mematikan nada telponnya. Ia melihat Kiky yang menghubunginya saat itu. Ia pun tidak mengangkat panggilan Kiky karena merasa tidak penting. Tapi Kiky terus menghubungi. Ryo membawa tubuh Aira yang terlelap ke kamar, membaringkan Aira pelan di tempat tidurnya wajahnya terlihat sangat lelah.


Ryo duduk sebentar melihat kekasihnya tertidur. Suara dengkuran Aira mulai terdengar.


Kok bisa kamu tidur gitu padahal ada aku disini? Ucap Ryo tersenyum mendengar dengkuran Aira. ia membenahi bantal Aira. Kini suara dengkuran Aira pun tak terdengar lagi. Ryo mengecup kening Aira lembut. Ia pun pergi meninggalkan cintanya yang sudah berada di alam mimpi.


Ponsel Ryo bergetar lagi. Kiky terus menghubunginya. Ryo menjadi berpikir ada yang tidak beres dengan Kiky.


“ada apa ki?” tanyanya ketika ia menghubungi balik ketika ia keluar dari tempat Aira


“lo kok sekarang gak ngangkat telpon gue lagi?” keluhnya


“kenapa?” Ryo baru sadar akan hal itu


“Bams sama loe ya tadi?” tanyanya lagi


“loe ribut sama Bams?” Ryo malah tanya balik


“gak..” jawabnya malas


“terus?” Ryo bertanya lagi


“kok kayanya dia ngejauhin gue gitu ya?” keluh Kiky yang merasa Bams sudah berubah


“ngejauh gimana?” tanya Ryo curiga


“ya.. sekarang kaya malas gue hubungin, ketemuan ma gue juga jarang banget sekarang” ia terus mengeluh


“Bams gak punya pacar lagi kan?” Kiky curiga


“ya gak lah..” jawb Ryo


“akhir akhir ini memang kita banyak acara off air. Bams apalagi, kan dia ikut komunitas gitu” Ryo menenangkan Kiky


“oo... gue kok punya perasaan gak enak?” Kiky memang merasakan perubahan Bams


“Cuma perasaan lo aja... Bams gak gitu kok... percaya deh ma gue!” Ryo meyakinkan temannya itu


“ya udah.. gue percaya deh ma lo!” kiki menutup telponya


Ryo berpikir sejenak, apa mungkin Bams menjauhi kiki karena ia pernah bilang ia suka sama Kiky? Ia jadi merasa bersalah sendiri karena itu.


Ia melihat jam masih menunjukan jam dua belas malam. Ryo mengurungkan niatnya untuk ketemu Bams saat itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Makasih ya buat yang ngasih ❤️ buat Autor..


Moga selalu suka dengan novel Author ya..


buat yang reader yang lain..


jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, vote dan giftnya ya..


love  you all

__ADS_1


__ADS_2