Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Kakak Ipar


__ADS_3

Suara pintu dibuka setelah di ketuk beberapa kali. Seorang yang telah menjemputnya telah berdiri dengan begitu tampan. Aira menatap Ryo yang melihatnya dengan tatapan sangat kagum pada sosok gadis yang berdiri di depannya.


“apa aku terlihat buruk?” tanya Aira menyadari tatapan mata Ryo yang terpaku


Jantung Ryo yang berdetak begitu kencang menatap wajah begitu cantik dengan dress yang membuatnya sempurna di tengah remangnya sinar lampu di lorong itu. Ada perasaan yang tak bisa Ryo gambarkan saat melihat Aira yang begitu sempurna dimatanya malam ini.


“kamu cantik banget!” ucapnya tanpa berkedip menatap Aira.


“kita ke rumah sakit dulu!” ucapnya lagi


“siapa yang sakit?” tanya Aira kaget.


“aku!” ucapnya masih tanpa berkedip menatap Aira dan tubuh yang tak bergerak sama sekali.


“kamu sakit?” Aira merasa panik mendekatinya dan menyentuh dahi Ryo.


Ryo mengambil tangan Aira dan meletakkannya di dadanya


“jantungku beib.. jantungku ada kelainan malam ini liat kamu yang begitu cantik” ucapnya


Aira menarik tangannya dan memukul pelan dada Ryo sambil tersenyum. Wajahnya memerah karena rayuan Ryo yang membuatnya membumbung ke angkasa.


“sumpah.. kamu cantik banget malam  ini” ucapnya lagi mendekatkan wajahnya mencium dahi Aira lama.


Aira memejamkan matanya meresapi kasih sayang yang diberikan Ryo padanya. Tak ia pungkiri, ia merasakan ketulusan cinta Ryo padanya selama ini, Meski keraguan dalam hatinya masih ia rasakan.


“ayo!” ucap Ryo menggenggam tangan Aira


Mobil itu meluncur menuju kediaman utama sang bintang. Sepanjang perjalanan Ryo terus menoleh pada Aira.


“fokus dong! Jangan liatin aku terus, nanti kita kecelakaan!” ucap Aira melihat Ryo yang sebentar melirik kearahnya.


“jangan sampai beib!” ucapnya tersenyum.


Saat setengah perjalanan. Aira mulai melamun. Ia memikirkan kata kata Aina. Dan kegugupannya malam ini bertemu dengan kedua orang tua Ryo. Aira terus menggenggam tangannya sendiri yang kini berkeringat. Rasa gugupnya meningkat semakin dekatnya jalan menuju rumah mewah itu


Ryo mengambil tangan Aira. Ia merasakan tangan dingin berkeringat itu. Ryo mencium tangan Aira.


“beib.. tenanglah!” ucapnya lembut menggenggam erat tangan Aira.


Aira menoleh pada Ryo. tatapannya tanpa ekspresi, hanya menatap Ryo. Ryo menoleh dan melihat wajah Aira yang kini berkeringat. Ia memasuki fase gugup yang tak bisa ia lawan. Ryo pun menepikan mobilnya.


“beib..” ucapnya menggenggam kedua tangan Aira.


“aku gugup!” ucapnya seakan sulit bernafas.


Trauma Aira seakan keluar saat ia mengalami kegugupan ditingkat yang tak bisa ia lawan.


“sayang bernafas.. tarik nafas kamu..” pinta Ryo menatap Aira cemas.


“keluarkan... tarik lagi..”


Aira mengikuti perintah Ryo menarik nafas panjang dan menghembuskannya berkali kali. Ryo seorang dokter yang mengerti bagaimana menangani seorang pasien yang sedang sangat gugup seperti Aira.


Aira terus menggenggam erat tangan Ryo.


“tenanglah!” usap Ryo pada puncak kepala Aira. Ia menarik Aira kedalam pelukannya. Ryo dapat merasakan betapa gugup kekasihnya saat itu.


“beib.. kita Cuma makan malam” ucapnya lembut mengusap lembut kepala Aira yang ada dalam pelukannya.


“aku gugup” ucap Aira pelan


“ada aku.. ada aku.. tenanglah” usapnya


Aira memeluk erat tubuh Ryo. ia memejamkan matanya. Mereka berpelukan begitu lama. Bahkan saat Ryo ingin melepas pelukannya, Aira justru mempererat tangannya memeluk Ryo.


“beib.. tenanglah” ucap Ryo lagi. Hingga akhirnya Aira melepas pelukan Ryo. Ryo menatap lekat kedua mata Aira.

__ADS_1


“hem?” tanya Ryo lagi


Aira mengangguk meski rasa gugup masih sedikit ia rasakan. Akhirnya perjalanan pun diteruskan.


Druummnnn


Suara mobil sport berada di halaman rumah. Rya yang tak sabar ingin bertemu sang kakak ipar berlari keluar menyambutnya. Tapi Aira masih duduk manis di jok mobil Ryo. Ia terus berusaha bernafas karena ia sangat gugup saat ini. Ryo membersihkan keringat yang membasahi wajah Aira.


“Beib.. tenanglah” ucapnya


“hemm” jawab Aira mencoba tersenyum dan terus mengatur nafas.


Ryo keluar dari mobil. Membuka pintu untuk Aira, tapi Aira enggan melangkahkan kakinya keluar.


“beib..!” Ryo berjongkok memberikan tangannya. Aira masih berusaha mengatur nafas karena gugupnya.


“huuuhhh” Aira mengeluarkan nafas dan berani mengeluarkan kakinya dari mobil. Ia pun turun meski dengan sangat gugup.


“kok gugup ku gak bisa hilang?” Aira menoleh pada Ryo.


Ryo tersenyum padanya.


“huuh.. huuh.. huuh..” Aira mengatur nafas lagi


“ayo!” ucap Ryo mulai melangkahkan kaki.


Aira memang sering memasuki rumah itu, tapi ia sangat jarang bertemu kedua orang tua Ryo karena mereka berdua adalah makhluk super sibuk yang sering tak berada di rumah. Namun kali ini, ia akan berhadapan dengan mereka berdua. Jika bertemu dengan sang ayah, Aira tidak terlalu gugup karena sering bertemu dan berbincang. Yang membuatnya sangat gugup adalah sang ibu, yang berwajah dingin seperti Ryo.


“wahhh.. ini kakak iparku ya?” sapa Rya yang muncul tiba tiba membuat Aira dan Ryo kaget.


Sontak saja membuat lutut Aira berasa lemas dan Ryo yang dari tadi menggandeng pinggang Aira mempereratnya.


“Rya!” tegur Ryo yang melihat Aira lemas.


“sorry ..sorry kak” Rya mendekati Aira


“aku kaget!” ucapnya pada Rya tersenyum.


“udah tau!” ucap Ryo. Aira meminta Ryo melepaskan tangannya dari pinggannya.


“ih.. aku kenalan sama kakak ipar” ucapnya


Aira tersenyum mendengar kata kakak ipar yang diucapkan Rya. Ia menerima uluran tangan Rya


“Aira” jawab Aira


“tangan kakak dingin.. kakak gugup ya?” tanya Rya cemas mengenggam tangan Aira dengan kedua tangannya.


“gak.. dia ketakutan sama kamu” ucap Ryo menggoda sang adik


“iihh.. kak Ryo selalu gitu deh!” ucapnya manyun


“ayo kak .. kita masuk!” menarik tangan Aira memasuki rumah itu.


“kakak katanya dancer ya?” tanya Rya


“hemm!” jawab Aira melangkah memasuki rumah itu.


Ryo tersenyum melihat kedekatan kedua wanita yang sangat ia sayangi. Rya mengajak Aira menuju ruang keluarga. Mulut Rya terus saya merocos tak henti hentinya.


“kakak gugup ya? Katanya sering kesini?” ucap Rya saat mengajak duduk dan melihat tubuh Aira sedikit gemetar.


“gimana gak gugup kalau kamu seram gitu?” ucap Ryo menggoda adiknya.


“enak aja! cantik gini dibilang serem..” jawab Rya kembali memajukan bibirnya


Aira tersenyum melihat kedua kakak beradik itu. Ia pun teringat adiknya yang juga sering bermanja dengannya.

__ADS_1


“kakak ipar sangat cantik ..” ucap Rya yang terus saja tak bisa diam.


“kamu lebih cantik” ucap Aira


“cantik apanya beib.. serem gitu!” ucap Ryo lagi menggoda Rya


“ihhh.. lagian kenapa sih kakak ipar bawa dia kesini?” Rya kesal dengan sang kakak


Aira terkekeh dan rasa gugupnya kurang.


“loh! Udah datang kamu Aira?” ucap sang Ayah yang keluar dari ruang kerja


“om!” sapanya berdiri dan menyambut uluran tangan serta mencium punggung tangan ayah Ryo. Ayah Ryo tersenyum melihat betapa sopan kekasih putranya.


“kok dingin tangan kamu?” ucap sang ayah merasa tangan Aira seperti es.


“gugup pah! Kan mau ketemu mertua..” ucap Ryo santai


Aira melirik dengan tatapan membunuh pada Ryo. Rya terkekeh melihat kakaknya yang terancam.


“gak usah gugup gitu ah... jadi gak seru nanti” ucap sang ayah santai.


“ekhem!” ucpa sang ibu memasuki ruangan.


Aira menoleh pada asal suara. Dan jelas terlihat seorang wanita elegan yang berwajah dingin yang jarang tersenyum karena ia menjaga wibawanya.


Aira semakin gugup. Ryo menatap Aira dan ibunya bergantian.


“sayang, kamu udah datang?” tanya lembut sang ibu yang langsung memeluk Aira dengan lembut.


Aira merasa kaget dengan ucapan lembut dan perilaku sang Nyonya besar rumah itu. begitu pula dengan Ryo yang melihat keadaan yang baru kali ini ia lihat.


Wahhh.. nyokap gue mantap betul. Bisa aja dia akting jadi wanita lembut! Benak Ryo.


“iya tante!” jawab Aira terdengar memang gugup.


Camila adalah seorang putri dari milyarder pengusaha yang hampir memonopoli semua hal tentang kesehatan di negara itu. Dia juga seorang dokter seperti sang ayah. Ia selalu berwajah dingin dan hampir tak pernah tersenyum pada bawahannya, hanya beberapa orang yang mengenal Camila sebagai wanita lembut. Yaitu Harlan sang suami. Lebih tepatnya ayah Ryo.


“gak usah gugup gitu, om sama tante gak makan kamu kok sayang” ucapnya tersenyum membelai lembut wajah Aira.


Aira pun tersenyum menyambut belaian seorang ibu.


“tante bisa aja!” jawabnya kini tak lagi terlalu gugup.


“ayo.. tante udah laper soalnya menggandeng lengan Aira menuju ruang makan.


Suasana makan malam pun terasa hangat. Karena mendengar cerita Rya yang mendominasi makan malam saat itu. Sesekali Ryo menoleh pada Aira yang menyimak cerita Rya. Ia tersenyum bahagia. Camila yang memperhatikan sang anak sangat senang melihatnya kembali ke rumah itu.


“kalian nginap aja malam ini” ucap Camila saat mereka bersantai di ruang keluarga.


Sontak senyum Aira menghilang, sedang Ryo membulatkan matanya mendengar ucapan sang bunda yang mendukung situasinya.


“maaf tante.. bukan bermaksud menolak kebaikan tante, tapi besok saya harus kerja dan masuk pagi” jawabnya menolak.


“masuk pagi? Perasaan besok kita syutingnya jam sepuluh deh” ucap Ryo yang langsung mendapat cubitan di perutnya.


Ryo memiringkan tubuhnya menahan cubitan Aira membuat semua orang disana menggigit bibir mereka manahan tawa.


“iya.. pagi.. aku lupa” ucapnya lagi canggung.


Setelah makan malam selesai, Aira meminta Ryo agar mengantarnya pulang. Mereka pun kembali. Aira bernafas lega, akhirnya ia keluar dari sana. Ia sangat takut salah bicara.


“Besok sore ikut aku” ucap Ryo saat mereka di perjalanan pulang.


“kemana?” tanya Aira curiga.


“tenang aja, Cuma piknik” Ryo memahami pikiran Aira.

__ADS_1


Aira tersenyum lebar.


\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2