
“kita pulang ya” senyum Bams mulai memutar setir dan menjalankan mobil itu.
“udah makan?” tanya Bams
“udah, tadi sama temen temen” jawab Kiky
“kalau gitu kita langsung pulang” ucap Bams
Selama perjalanan Kiky hanya menyandarkan kepala dan terpejam. Tak ada obrolan ataupun pertanyaan dari mulutnya. Bams meraih tangan Kiky. Ia mencium punggung tangan Kiky lembut sambil mengemudi.
Kiky hanya pura pura tertidur. Ia hanya membiarkan Bams berbuat sesukanya.
Mobil pun meluncur menuju apartemen Kiky. Sesekali Bams melirik Kiky dan tersenyum. Ia membayangkan menghabiskan malam ini bersama wanita yang sudah menemaninya hampir satu dekade.
Perlahan Bams menggendong tubuh Kiky karena tak ingin membangunkannya. Kiky yang tadinya berpura pura justru tertidur pulas. Bams mengecup sejenak bibir itu. Kiky membenamkan tubuhnya di dada Bams saat ia digendong menuju kamarnya.
Perlahan meletakkan tubuh itu ditempat tidur besar dan empuk miliknya. Melepaskan sepatu Kiky dengan perlahan takut yang punya terbangun. Ia kembali menatap wajah Kiky, Merapikan rambut rambut halus Kiky yang mengganggu wajahnya. Ternyata wajah itu terlihat sedih dalam tidurnya.
“apa kamu secapek ini, sampai mengabaikan ku” keluh Bams kemudian mengecup dahi Kiky lembut.
Getar ponsel Kiky terlihat menyala. Panggilan dari lelaki bertulis papah terlihat jelas menandakan lelaki itu menunggu dirinya pulang.
“halo om!” jawab Bams
“lho.. Kiky sama kamu Bams?” tanya Handoko
“iya om! Kiky sedang tidur, apa perlu saya bangunin?” tanyanya
“ah tidak perlu, tadinya om hanya khawatir dia bilang sudah mau pulang tapi gak nyampe nyampe” jelas Handoko
“oohh.. tadi saya jemput dia om” jelas Bams
“ya sudah kalau gitu” Handoko menutup panggilannya dengan tersenyum.
Ia berharap, besok putrinya akan kembali ceria.
Bams beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mengambil kaos yang selalu ia gunakan saat bermalam di tempat Kiky.
Perlahan Bams naik ke atas tempat tidur. Ia melepas blazer yang Kiky kenakan. Tubuh Kiky menggeliat merasakan tidurnya yang ternganggu.
“ssstttt..” Bams kembali menenangkan
Bams menatap kembali wajah itu. Membelainya lembut dan terus mengelusnya dengan buku buku jarinya.
“kamu tidak merindukanku?” ucap Bams tersenyum menatap wajah Kiky yang terpejam.
Perlahan pandangan mata Bams turun berpusat pada sepasang bibir yang selalu menyerangnya dulu. Selalu menyesap dan selalu memberikan tautan panjang. Kini bibir itu justru yang diinginkan Bams.
Ia mengecup sejenak dan kembali menyesapnya. Terasa manis dan terus terasa manis.
Merasakan bibirnya yang dilumaat, Kiky membuka mata perlahan. Ia pun terbangun oleh sebuah kecupan.
“udah bangun putri tidur?” tanya Bams tersenyum dengan wajah yang sangat dekat.
“maaf, aku ketiduran” ucap Kiky mencoba untuk bangun. Tapi Bams kembali ******* bibir mungil itu. sedang Kiky hanya mematung. Ia bahkan tak menutup matanya seakan tak menikmati ciuman Bams.
Kiky mendorong tubuh Bams agar menghentikan ciumannya.
“aku mandi dulu” ucapnya menghindar
“hemm! Aku akan siapkan airnya” senyum Bams beranjak.
Kiky memasuki kamar mandi. Terlihat Bams menatapnya penuh hasrat.
“mau ku madiin?” tanya bams ingin membantu Kiky melepas bajunya
__ADS_1
“enggak, aku bebersih dulu” jawab Kiky mengelak
Bams pun meninggalkan Kiky dan mengecup sejenak puncak kepalanya
“jangan lama!” ucapnya menutup pintu.
Bams bersandar sejenak di pintu itu. ada rasa takut dalam hatinya yang melihat perubahan pada sikap Kiky malam ini. sedang Kiky menatap air di dalam bath up begitu lama.
Ia kembali meratapi dirinya yang hanya memiliki cinta sepihak. Baginya Bams hanya seseorang yang menginginkan tubuhnya sebagai pemuas. Ia pun menangis. Ia memilih menenggelamkan dirinya, berusaha menghilangkan pikirannya yang berkecamuk antara cinta dan tersiksa.
“Ky.. kok pintunya di kunci?” tanya Bams mengetuk pintu kamar mandi setelah Kiky tak kunjung keluar dari sana hampir setengah jam.
“bentar!” jawab Kiky
Bams tersenyum. Ia pun menunggu Kiky.
Kiky keluar dengan mengenakan bathrobe. Tak seperti biasanya ia hanya mengenakan handuk melilit sebagian tubuhnya.
Bams duduk di tepi tempat tidur menatap Kiky yang keluar dari sana. Kiky beranjak menuju kamar ganti dan justru memilih piyama tidur, bukan seperti biasanya yang keluar mengenakan lingeri seksi.
Bams hanya menghela nafas. Malam ini Kiky benar benar menguji kesabarannya. Tapi ia berharap Kiky akan berubah kembali ketika ia mampu memuaskannya seperti biasa.
“kok pake ini?” tanya Bams saat Kiky mendekat
“malam ini agak dingin” ucap Kiky
Sedingin kamu! benak Bams
“sini! Biar aku hangatkan” tarik Bams.
Tubuh Kiky terhempas di tempat tidur dan langsung di tindih oleh Bams. Bams melepas kaosnya dan mulai mencium bibir Kiky. Pertautan bibir itu memang terasa berbeda, Bams berusaha keras agar Kiky membalas, tapi ia seakan enggan, Bams menggigit bibit Kiky memaksanya membuka, akhirnya lidahnya mampu menjelajahi
rongga mulut itu dengan bebas. Menautkan lidah mereka dan menikmatinya.
Bibir Bams mulai menikmati gumpalan puncak Kiky, menyesap, menggigit dan memainkannya. Tangannya mulai berada ditengah kedua paha Kiky, tapi Bams justru merasakan tubuh Kiky semakin kaku. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Kiky. Ternyata Kiky justru menangis menahan dirinya. aksi Bams pun terhenti karena rasa tak tega. Kiky seperti seseorang yang terpaksa diperkosa.
“Ky..” ucap Bams
Kini Kiky semakin terisak, tangisnya pecah dalam diam dan isakan. Ia menutup mulutnya berusaha menyembunyikan tangisnya.
“Ky.. kamu kenapa?” tanya Bams merasa bersalah
Tadinya Bams berpikir Kiky akan melunak dan kembali hangat jika ia melakukan hubungan malam ini, tapi ternyata ia justru mendapati tangisan Kiky yang tak ia pahami
“Ky..”
“Apa kamu tak ingin melakukannya?
Kiky hanya mematung dan terus terisak. Ia seperti wanita yang terpaksa melayani seorang majikan yang telah membayarnya.
“Ky.. maafin aku” ucap Bams kembali menyelimuti tubuh Kiky
“apa ada yang lain yang kamu inginkan selain tubuhku?” ucapan Kiky seakan menampar keras hati Bams
Ia sedang berusaha mengembalikan hubungannya dengan kiky tapi justru dianggap kiky sebagai orang yang hanya ingin melampiaskan naffsunya.
“kenapa kamu sekarang seperti ini?” tanya Bams
Kiky masih terisak. Bams Kini duduk bersila menatap tubuh Kiky yang terbaring dalam tangis.
“apa selamanya aku hanya pemuas bagimu?” tanya Kiky
“Ky.. kita melakukannya karena saling menyukai” jawab Bams tak terima dikatakan seperti itu
“apa pernah kamu hanya merindukanku, bukan merindukan tubuhku?” tanya Kiky kembali
__ADS_1
"Aku menunggu kamu selama dua jam, karena aku merindukan kamu. karena kamu terus menghindariku” jelas Bams
“kamu telah berubah Ky, apa karena lelaki itu?” tanya Bams pelan karena ia merasa kecewa
“jangan bawa orang lain pada hubungan kita, karena hubungan kita bukan karena orang ketiga” jelas Kiky
“tapi kamu berubah sekarang” Bams menunduk
“seharusnya kamu tanyakan diri kamu kenapa aku berubah” jelas Kiky
Bams menunduk, memang perhatiannya selama ini banyak berkurang. Bahkan setahun terakhir ini mereka seperti jarang bertemu.
“katakan salah ku Ky, agar aku bisa memperbaikinya” ucap Bams pelan
Kiky hanya diam
“apa kamu tak mencintaiku lagi?” tanya Bams
“kau selalu menjadikan ku yang ke dua” jawab Kiky
*
*
Aira terbangun oleh desakan perutnya. Ia perlahan turun dari tempat tidurnya karena tak ingin membangunkan sang suami. namun Mata Ryo langsung membuka menyadari gerakan kecil istrinya.
“mau ke kamar mandi?” tanya Ryo
“hem!” jawab Aira masih dengan wajah pucat
“ayo!” Ryo menggandeng kedua bahu Aira.
Setelah keluar dari kamar mandi, Aira masih melihat bekas infus yang menggantung di stand hanger.
“aku diinfus lagi” ucapnya
“kamu dehidrasi sayang” ucap Ryo membimbingnya ke tempat tidur.
Aira tersenyum dan kembali membaringkan tubuhnya. Ia menggelung masuk ke dalam pelukan Ryo. terus mengausap ngusap wajahnya di dada Ryo.
“beib...” elus Ryo pada pundaknya
Aira mengangkat kepalanya menatap Ryo.
“kamu tidak ingin?” tanya Aira
Ryo menaikkan satu alisnya untuk bertanya
“kamu bahkan tidak menciumku, kamu mulai tidak mencintaiku lagi” keluh Aira
Ryo tertawa mendengar protes istrinya. ia langsung mendaratkan bibirnya dan mencium Aira lama. Tapi hanya ciuman.
“aku sakau saat ini” ucapnya
“aku tak bisa menikmati canduku, karena kamu terlalu lemah sayang” belainya di pipi Aira
“bukan karena tak mencintaimu lagi, tapi karena terlalu mencintai kamu dan tak ingin kamu sakit” jelasnya
Aira tersenyum kembali mencium sang suami dengan cepat. Ia kembali menyandarkan kepalanya di pelukan Ryo.
Belum lagi matanya terpejam. Ia merasakan lapar luar biasa.
“ahhh.. aku lapar” ucap Aira setelah terdengar suara perutnya
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1