
Ting!
Suara pertanda uang transfer masuk kembali. Namun hanya sebesar seratus ribu rupiah. Namun pesan yang
mengikutinya yang membuat Aira menegakkan tubuh kembali.
Sebuah nomor telepon tertulis dan diiringi sebuah tulisan di belakangnya
Call me!
Pesan itu membuat mata Aina yang hampir terpejam membuat terbuka sempurna. Sebuah nomor telpon tertulis disana.
Apa yang harus aku lakukan? Aku call sekarang? atau aku Aku tanya ni dulu?
Terus kalau dia nanya aku jawab apa? Apa dia benar mas Riry? Atau dia ayah anak itu sedang mas Riry itu yang ni sukai?
Pertanyaan pertanyaan terus terngiang. Kata kata tanda tanya seakan menghias semua otaknya.
“Di!!” sebuah suara nyaring membuat lamunannya terhenti.
“ya ni!” jawabnya
“kamu baik baik aja? Kok aku panggil panggil kamu gak jawab? Kamu gak papa?” tanya Aira panik yang masih berdiri di pintu kamar.
“aku baik ni.. aku ketiduran!” kilah Aina
Aina beranjak dan berjalan untuk menghidupkan semua lampu di tempat tersebut.
“ni bersih bersih ya?” tanyanya memeluk sang kakak setelah melihat tempat itu terlihat bersih
“hemmm! Kenapa ini?” ucap Aira mengusap punggung sang adik.
“pengen meluk aja ni..” ucapnya menghela nafas
“lelah ya..?” tanya Aira
Aina mengangguk. Ia memang benar lelah tubuh dan jiwa. Lelah dengan dirinya sendiri.
"lain kali gak usah bersih bersih, aku takut ni kenapa napa" ucap Aina melarang Aira
"aku pelan pelan kok, cuma ngepel sambil ngesot" ucapnya terkekeh.
Hanya kekehan kecil, namun raut wajahnya masih tampak menyedihkan
“ni.. kalau aku tanya soal ...” Aina melepas pelukannya dan menatap wajah sang kakak yang tiba tiba kehilangan senyum
“soal dulu?” tanya Aira berwajah datar tanpa ekspresi
“kalau kamu masih penasaran, aku minta maaf di.. aku gak bisa cerita.. karena itu juga sudah menjadi masa lalu.. untuk apa diungkap lagi..” ucapnya lagi
“ya sudah ni.. aku mandi dulu ya..” ucapnya mencium pipi sang kakak karena tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka
__ADS_1
Aira menunduk, merasa bersalah dengan pertanyaan yang seharusnya ia jelaskan pada sang adik. Aina mengawasi raut wajah Aira yang berubah.
Maafin aku ni.. aku hanya ingin mengembalikan uang lelaki itu. benaknya merasa bersalah
Aira menghela nafasnya. Mencoba menurunkan rasa bersalah pada sang adik. Ia telah menjadi bebannya selama ini. Hanya itu pikirannya sekarang.
Aina terus menimbang untuk menghubungi lelaki tersebut.
Malam semakin larut. Aina masih betah dengan mata yang terbuka, ia terus memikirkan untuk bertanya atau menghubungi lelaki itu, bagaimana jika dia bukan lelaki yang selama ini membuat Aira sakit?
Pikirannya terbuyar oleh mimpi buruk sang kakak. Aira kembali mengalami mimpi buruk. Keringatnya mengucur di pelipis dan dahinya. Tubuhnya basah.
“ni.. dimana kunci kotak pink kamu?” tanya Aina mencoba ingin membuka kotak yang selama ini hanya Aira yang membukanya.
“Dibelakang foto kita” di tengah tak sadar Aira menjawab
Seperti biasa, Aira melalui malam yang berat ditengah igau dan ketakutan. Dengan setia sang adik menemaninya, menenangkan dan menjaganya. Aina kembali mengganti pakaian sang kakak dengan yang baru setelah Aira kembali tenang dan terlelap.
Aina mengambil foto mereka dan membuka. Terlihat kunci kecil keluar dari belakang figura. Aina memberanikan diri untuk membuka kotak tersebut. Tak banyak isi dari kotak itu, kartu keluarga lama mereka, KTP kedua orang tuanya dan beberapa foto. Sebuah foto membuat Aina tercengang, sebuah foto Ryo lengkap dengan tanda tangan.
Mungkin ni ingin memberikan foto ini dulu! Benaknya menatap foto yang dulu sangat ia inginkan.
Terlihat sebuah pin/bros kecil berwarna keemasan. Pin bros yang tak pernah Aina lupakan. Pin bros yang ia ambil ketika mereka dulu hampir diculik oleh sekawanan orang yang berjas hitam.
Mata Aina memerah, mengingat betapa menakutkannya mereka, ditengah mereka menghadapi duka kehilangan
orang tua, justru orang orang mengerikan itu berusaha memisahkan ia dan Aira.
Kengerian itu membuat bulu kuduk Aina meremang. Bayangan itu hadir kembali, hinaan hinaan, perlakuan dan semua yang menyakitkan di hari itu kembali tergambar jelas dalam kepalanya. Kemarahan itu masih mampu Aina rasakan, pedih dan ketakutan masih terasa disetiap sela detak jantungnya
Aina meletakkan kembali pin yang meninggalkan luka dan trauma untuk mereka berdua. Sebuah foto dibalik sebuah berkas terlihat. Foto sang idola Aira, foto bams yang lengkap dengan tanda tangan.
“ternyata ni juga punya” ucapnya tersenyum samar terlihat sebuah tulisan dari belakang foto. Aina membalik foto tersebut tertulis jelas sebuah nomor telpon dan inisial B.
Aina mengingat nomor yang diberikan Bambang Sutya padanya. ia mengambil ponselnya dan seratus persen nomor itu milik lelaki sang pengirim uang..
Aina menghela nafas, ia meyakini lelaki itulah yang disebut Aira sebagai mas Riry. Bulat sudah tekad Aina malam itu untuk menghubungi lelaki tersebut.
Sedang di tempat lain, Bams menghadapi sikap Kiky yang sekarang sering dingin padanya. kegelisahan melanda ketika ia harus berhadapan dengan sikap itu. sikap yang tak pernah Kiky berikan padanya.
“tadinya aku mau kasih surprise.. jemput kamu di bandara, tapi jadwal pemotretan mundur” ucapnya
“hem.. aku ngerti kok” jawab Kiky tapi dengan raut begitu kecewa saat mereka tiba di apartemen Kiky
“ya sudah! Istirahat aja” ucap Bams melangkahkan kaki ingin pergi
Bukkk
Kiky tiba tiba memeluk Bams dari belakang. Tak ada suara dari mulutnya, hanya getar tubuh yang menggambarkan tangisnya dalam diam. Menggambarkan kekecewaan, kemarahan yang tak berani ia ungkapkan.
Bams hanya merengkuh lengan Kiky yang melingkar diatas perutnya. Mereka berdua hanya diam dalam hening. Hanya meresapi perasaan saat itu.
__ADS_1
Perlahan Bams melepas tangan Kiky, ia membalik tubuhnya dan menatap wajah sang kekasih. Menyeka air mata itu dan mengecup kedua matanya.
“apa aku selalu membuat kamu sedih?” tanya Bams lembut
Entah hanya perasaan Kiky, ia seakan mampu merasakan cinta dari pertanyaan itu.
“maafin aku!” ucap Bams lagi mendekatkan bibirnya pada bibir yang ia rindukan. Akhirnya malam itu menjadi
malam melepas rindu kedua insan yang telah berminggu minggu tak bertemu.
Seminggu sudah Bams berkomunikasi dengan Aina penggunakan pesan dari Uang yang ia transfer. Hingga akhirnya sebuah pesan masuk dengan nomor asing tak ia kenal.
‘tolong jangan lagi mengirm uang dan tolong terima uang itu kembali!’ tulis pesan tersebut.
Bams sedang berada di meeting intern Boys beranjak berdiri girang. Senyumnya menggambarkan kepuasan yang tak mampu Ryo artikan.
“heh! Loe dapat lotre ya?” tanya Boman protes karena ia benar benar syok melihat Bams
"tau! bikin orang kaget aja!" keluh Jordi menepuk dada yang masih menatap Bams yang berdiri di sampingnya.
“iya, gue dapat lotre yang luar biasa besar, gue duluan!” ucapnya beranjak
Ryo hanya menatap dingin kepergian Bams. Ia tak mencegah Bams pergi, namun juga tak meminta. Ia hanya diam.
Bams membalas pesan pesan Aina. Ia percaya dengan bertemu Aina ia akan mampu bertemu Aira.
‘aku gak bisa’ balas Bams
‘mau kamu apa?’ tanya Aina lagi
Bams menghubungi nomor Aina tapi tak diangkat
‘kamu dimana?’ tanya Bams
‘kamu di ibukota kan?’ Aina justru bertanya balik
‘iya’
‘berikan alamat kamu, aku akan kirim semua uang itu kesana’ jelasnya
‘jika kamu ingin mengembalikannya, temui aku langsung!’
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Alhamdulillah.. bisa menulis lagi ditengah hiruk pikuk kesibukan..
Untuk yang bertanya apa Ryo akan bertemu lagi dengan Aira.. itu sudah pasti..
__ADS_1
Namun.. apakah cinta itu masih ada? mungkinkan Ryo masih mencintai Aira ditengah dendamnya?
Apakah Bams mampu mendahului Ryo dalam menemukan Aira?