
“sekarang apa yang membuat ni ragu kembali padanya?” tanya Aina
“aku tidak ragu lagi, tapi ...”
“tapi apa ni?”
“aku belum siap!” ucap Aira merona
“maksud ni?” Aina tak mengerti
“aku malu di.. tubuhku lama tak terawat, aku malu” ucap Aira
Aina tersenyum
“jadi belum siap malam pertama lagi?” goda Aina
Ryo tersenyum lebar seakan ingin tertawa mendengar pengakuan Aira
“besok bantu aku ya di..” ucapnya semakin malu
“tenang kakak ku sayang, aku akan siapkan malam pertama kamu sempurna lagi” ucap Aina serius
Tiba tiba pintu terbuka lebar.
“Gak perlu Ai.. aku sendiri yang akan menyiapkan istriku” ucap Ryo yang memang dari tadi mendengarkan semua obrolan mereka
“mas??” Aira kaget
“bukannya kamu pulang?” tanya Aira
Karena suara Ryo tak terdengar lagi setelah mereka makan malam, dan deru mobil meninggalkan tempat itu terdengar jelas oleh Aira.
“aku dah bilang aku akan selalu di dekat kamu sekarang” ucap Ryo
“terus tadi mobil?”
“kan kamu gak suka mereka disini, jadi ku minta mereka pulang” jelas Ryo
“ahh! Kalian gak sekongkol kan?” tanya Aira curiga pada sang adik
“ni.. kok jadi curigaan gitu sih?” jawab Aina
“ya gak sayang!” ucap Ryo mendekat
“aku keluar dulu ya?” ucap Aina mengerti
“di..” rengek Aira
Suara pintu telah tertutup. Aira duduk menjuntai di tepi tempat tidur sedang Ryo masih berdiri menatap sang istri. Perlahan tangan Ryo mendekat dan menangkup kepala Aira dengan kedua tangannya. Ia mengecup lembut dahi Aira dengan penuh cinta.
“kenapa gak bilang kalau karena itu?” tanya Ryo mencoba mensejajarkan diri dengan Aira
Aira menunduk karena malu.
“kalau kamu belum siap! Aku gak akan memaksa” ucap Ryo yang kembali mengecup kening istrinya
“aku .. aku...” Aira tak berani berkata
“hem! Aku mengerti... seperti dulu.. kita akan pelan pelan menjalaninya” ucap Ryo mengerti
“mas.. maafin aku ya” ucap Aira
“its ok beib.. menunggumu beberapa malam tak apa.. aku telah menunggu mu hampir empat tahun, jadi waktu segitu aku pasti bisa” ucap Ryo
Aira mengangkat wajahnya dengan terharu.
“terima kasih mas...” ucap Aira tersenyum
“sama sama sayang” ucap Ryo mendekatkan bibirnya dan mengecup kembali bibir itu.
Ciuman yang hanya berfokus pada perasaan bukan gairah yang menuntut, ciuman yang hanya mengatakan dan melepaskan rindu sesaat.
“mas...” lepas Aira
__ADS_1
“aku belum bisa” lanjutnya
“hem!” jawab Ryo
“ayo!” Ryo mengangkat tubuh Aira ke dalam gendongannya
“kamu apa apaan mas?” Aira berontak
“kita pulang! Sekarang kamu gak punya alasan lagi, aku janji gak akan memintanya sebelum kamu mengijinkan, sama seperti dulu beib” jelas Ryo
Aira hanya terdiam. Ia kembali menahan Ryo, meletakkan tangannya di dada bidang itu.
“hem?” tanya Ryo
“kita minta Aina dulu!” pinta Aira
“hem!” jawab Ryo mengecup sejenak bibir sang istri dan kembali menjatuhkan kecupannya di kening dan puncak kepalanya.
Aina menoleh pada sumber suara dimana pintu terbuka. Ia melihat Aira yang digendong Ryo. mata Aina membelalak tak percaya melihat perilaku kakak iparnya yang tak segan melakukan adegan romantis di depan matanya.
“turunin aku mas!” pinta Aira
“eh ehm” tolak Ryo
“turunin aku kalau gak!!” ancam Aira seperti dulu
“iya iya nyonya” jawab Ryo menurunkan perlahan tubuh mungil istrinya
“di!” panggil Aira
“ya ni”
“ehmm..” Aira bingung ingin memulai dari mana
“kita pindah malam ini” sergah Ryo
“sekarang?” tanya Aina lagi
“hem! Sekarang!” jawab Ryo
“gak perlu! Semua kebutuhan kamu ada disana kok” jawab Ryo singkat
“tapi.. ehmm.. gini aja, kalian pergi aja dulu, besok aku nyusul” Aina merasa tidak nyaman
Mata Ryo membulat, kesal pada Aina yang akan memancing kembali penolakan istrinya.
“besok kan kamu bisa ambil barang barang kamu” ucap Ryo kesal
Aira tersenyum mendengar nada kesal Ryo pada sang adik
“iya, tapi aku ..”
“udah, ambil ponsel sama dompet kamu sekarang! Nanti besok orang orang ku akan pindahin sisanya” jelas Ryo
“ikut aja di.. kita lanjutin obrolan kita tadi” ucap Aira
“apa?” jawab Ryo
“kamu pilih aku ikut tapi aku tidur sama Aira atau aku akan tetap disini?” jawab Aira
Huuuuhhh... hela nafas Ryo terdengar
Ribetnya ingin bersama istri sendiri! benak Ryo
Maafin aku mas, aku belum siap kamu lahap, tubuhku masih memalukan! Benak Aira
“iya deh! Ayo!” ajak Ryo kesal pada Aina
Aina terkekeh melihat kebucinan seorang Ryo pada kakaknya.
Mereka bertiga tiba di apartemen. Ryo menggendong Aira menuju lift.
“mas turunin aku” pinta Aira
__ADS_1
“gak sayang, nanti kalau kita sampai di apartemen ya?” pintanya
“turunin!” ucapnya lagi dengan tegas
Ryo pun menurunkan Aira sementara menunggu lift. Ryo merangkul bahu Aira memasuki lift. Aina seperti makhluk kasat mata yang tak dipandang oleh Ryo, ia seperti orang terlupakan dan hanya menjadi obat nyamuk
“Di..” Aira mencari sang adik
“aku disini ni” jawab Aina disampingnya
Aira mendekat pada Aina dan Aina mencoba meraih tangan Aira.
“sudah ada aku, gak perlu kamu cari Aina lagi, cukup aku yang akan menjadi penuntun jalan kamu sayang” ucap Ryo meraih tangan Aira dan menjauhkan tangan Aina
“ihh.. mas..” Aira merasa malu
“ck ck ck.. dasar bucin” ucap Aina mengejek
Aira dan Ryo terkekeh.
Pintu lift pun sudah terbuka, Ryo menggandeng Aira menuntun seperti yang ia katakan. Langkahnya terhenti di depan pintu apartemen milik Aira.
“Ai.. ini apartemen kamu” ucap Ryo
Aira melepaskan rangkulan Ryo. tapi Ryo menahannya
“kenapa beib?” tanya Ryo
“aku mau masuk lah!” jawab Aira
“Aina yang disini sayang... kita di apartemen kita” jelas Ryo
“kamu kan tadi janji mas” tagih Aira pada janji Ryo yang tak meminta
“iya.. aku tetap pegang janjiku.. tapi kita ke tempat kita” jawab Ryo
“cepetan buka nih.. kelamaan” keluh Aina seperti menahan sesuatu
Ryo menunjukkan pin kunci apartemen tersebut
“kamu boleh ganti pinnya nanti” jelas Ryo
“ok! Ni.. aku masuk dulu ya, aku kebelet” ucap Aina membuka pintu dengan cepat dan masuk tanpa mempedulikan pasangan dua sejoli yang masih berdiri di depan pintu tersebut.
“ayo!” ajak Ryo
“mas!” tahan Aira ragu
“ayooo...! aku tetap pegang janji ku kok.. kecuali kamu ngijinin.. hem?” bujuk Ryo
Akhirnya Aira berani melangkahkan kakinya menuju apartemen mereka.
“mas.. apa kamu merubahnya?” tanya Aira saat sudah berada di dalam
“enggak” jawab Ryo
“tak ada satu benda pun ku rubah dan ku pindah, masih seperti dulu sayang” ucap Ryo mengecup puncak kepala Aira yang ia peluk dari belakang.
Aira memejamkan matanya mencoba mengingat semua benda yang berada disana
“disana sofa, disana kamar kita, disana ke dapur” ucapnya mengarahkan tangannya
“hem!” Ryo merapatkan pelukannya, semakin mengeratkan tangannya. Aroma tubuh Aira seakan menyiksa dirinya.
Perlahan tangan itu meraba tubuh Aira.
“mas!” tahan Aira
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Nah.. mampukah Ryo mempertahankan janjinya?
nantikan di episode selanjutnya ya..
__ADS_1
bagi yang ingin lanjut.. jangan lupa tinggalkan jejaknya
Terima kasih semua, love you all