Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Menahan sakit


__ADS_3

Krrrrriiiinggggg!!!!!


Suara telpon Aina berdering!


Ia melihat nomor baru menghubunginya. Ia mengangkat ragu telpon masuk yang berdering.


“halo!” jawab Aina ragu


“di, ini aku ni” jawab Aira


“ni? Ganti nomor?” tanya Aina


“iya, hp ku hilang” ucap Aira


“oo.. jangan diangkat ya kalo orang telpon!” pinta Aira


“oo.. iya ni!”


“kamu lagi ngapain?”


“kerja!”


“oo.. ya udah lah kalo gitu” Aira berniat menutup


“gak papa ni, lagi sepi kok, sekalian temenin aku” jawab Aina


“oo...” Aira terdengar sedih


“ni lagi sedih?” tanya Aina


“gak kok!” jawab Aira


“bohong! Aku tau kalau ni lagi galau”


“hehehe, iya... aku pindah di!” ucapnya ragu


“kamu dapat masalah di tempat kerja ya?” tanyanya


“iya! Hik hiks hiks” Aira tak mampu menahan isak tangisnya.


“ni .. sabar ya.. beberapa hari lagi aku akan kerja.. ni berhenti aja, ikut aku” ucap Aina


“maaifn aku ya di, aku gak bisa hadir di wisuda kamu” ucap Aira


“gak papa ni.. aku ngerti kok, tapi ni jangan sedih ya? Aku janji setelah ini ni gak perlu kerja lagi, sekarang giliran aku yang bahagiain ni” ucap Aina lagi


“hiks hiks hiks” Aira terharu mendengar ucapan sang adik.


Ia tak tak berani berpikir bagaimana jika sang adik menemukan kondisinya saat ini, apa mungkin Aina masih mau mengerti.


“sabar ya ni.. jangan sedih lagi ya.. jangan dipikir! kamu masih punya aku ni..” Aina berusaha menenangkan sang kakak.


“pokoknya setelah ini kamu gak usah mikir uang lagi.. pokoknya tenang aja ya..  ya ni yah..?” Aina terus menenangkan sang kakak karena masih terdengar suara isak tangisnya.


“iya di... iya..” jawabnya di sela tangisnya


“ni.. aku ada cerita lucu.. mau denger gak?” aina berusaha mengalihkan omongan agar sang kakak tidak lagi sedih


Aina dan Aira pun ngobrol hal ringan.

__ADS_1


Aina mendapat tempat penginapan sementara ia mencari tempat di kota tersebut.


 ************


Acara wisuda Aina berlangsung meriah karena kedatangan seorang bintang Boys. Ryo yang mendadak muncul di acara tersebut menjadi kehebohan tersendiri. Acara munculnya Ryo yang disebut sebagai kejutan hadiah untuk kelulusan mahasiswa disana tak membuat Aina curiga. Ia yang memang sudah lama ingin bertemu langsung pun mendapat kesempatan.


“Hai Ryo! aku Aina adiknya Aira yang dulu pernah menyapa” ucapnya teriak diantara kerumunan.


Ryo mendekati Aina, wajah Aina berseri, tak menampakkan ke khawatiran.


Namun banyaknya kerumunan membuat Ryo tak bisa mendekati Aina. Mereka hanya bersitatap untuk kedua kalinya. Aina tampak cantik dalam balutan make up sempurna di dalam baju toganya.


“ahh.. sayang sekali! Padahal aku ingin foto sama dia” keluh Aina setelah van Ryo meninggalkan tempat itu.


Aira tidak disini! Benak Ryo


Ia menunduk menatap wajah senyum sang istri yang terpampang di layar ponselnya.


Jet itu kembali ke ibukota membawa kekecewaan.


“tuan muda.. bukankah sudah saya bilang nona tidak disana” ucap Ken


“diam kau Ken!” ucap Ryo dingin


Perjalanan pun dilalui dengan diam.


Aktifitas Ryo mulai terganggu. Ia tak bisa fokus pada dirinya. Bams dan Boman melihat jelas jika saat ini Ryo sedang dalam masa terpuruk.


Namun Bams hanya mampu memandang tanpa berani bertanya, karena ia tahu, sang sahabat terpuruk karena satu nama, Aira!


Setelah seminggu, Aina mendarat di kota YYYY bersama temannya, ia disambut Aira yang tampak kurus dan pucat. Aira pergi ke kota dimana Aina akan bekerja. Ia beralasan ingin menghabiskan waktu bersama Aina sebelum ia bekerja kembali.


“niiiiiiii!!!” teriaknya heboh memeluk sang kakak


“aku kangen ni!” Aina menangis


Aira mengusap pundak sang adik yang lebih tinggi darinya.


“ni juga” jawabnya dengan mata berkaca kaca


“oya ni.. kenalin! Ini Fendy”


Mereka pun berkenalan dan mengobrol sebentar. Aira dan Aina meninggalkan bandara diantar oleh Fendy yang dari awal sudah ditunggu seorang supir.


“Fendy itu pacar kamu?” tanya Aira saat mereka memasuki kost kecil tempat Aira


“bukan ni, Cuma temen!” ucapnya


“masa Cuma temen?” Aira curiga


“Fendy itu gay ni!” bisik Aina


“hah!!” mata Aira membulat sempurna


“gak mungkin!” jawab Aira lagi


“aku juga gak percaya awalnya ni, tapi dia tunjukin pacarnya ke aku, baru aku percaya” jelas Aina lagi


“wahhh.. sayang ya.. cakep gitu .. nyimpang” ucap Aira

__ADS_1


“Cuma aku yang tahu ni”


“kok bisa?”


“dia gak punya temen curhat, terus sama aku dia berani cerita karena aku gak suka ngomong ke orang orang, dia juga bingung mau jelasin ke orang tuanya” jelas Aina lagi


“wahh.. kasihan ya..”


Obrolan diteruskan, hingga malam menjelang. Aina terus mengawasi Aira yang mulutnya tak berhenti dari mengunyah.


“ni.. ATM yang biasanya kamu ngirim uang expired bulan depan, gak perlu aku aktifin lagi ya?”


“terus kamu gimana?” tanya Aira lagi


“kaya Fendy nanti di tempat kerja baru aku harus pakai rekening bank XXXX”


“ya sudah kalo gitu! Ada saldonya gak?” tanya Aira lagi


“paling limit ni” senyum Aina


TING!


Suara pesan masuk pada ponsel Aina dari nomor lama Aira


“ni!” panggil Aina ragu menatap pesannya


“ya!” Aira masih santai terus mengunyah cracker miliknya


“sebenarnya HP kamu hilang atau ditahan orang?” tanya Aina curiga


Aira memelankan kunyahannya mencoba memahami tatapan curiga Aina padanya. Aina menunjukkan pesan tersebut pada Aira.


‘Jika Aira bersamamu, tolong katakan padanya aku minta waktu untuk bicara dan menjelaskan semuanya’


Aira menelan dengan berat, menatap Aina yang masih menunggu penjelasan akan pesan tertulis dari ponsel miliknya.


“bukan kah sudah ku bilang blokir nomor ku?” Ucapan Aira dingin dan terdengar sedih.


“ada apa sebenarnya ni?” tanya Aina


Mata Aira berkaca kaca, ia tak berani mengatakan yang sebenarnya pada sang adik. Sakit yang ia tahan sejak bertemu Aina kini tak bisa ia bendung lagi. Tangisnya pecah tanpa mampu mengatakan apapun padanya.


Aina memeluk sang kakak, ia seakan mampu merasakan betapa pedih hati Aira saat ini. Aira sangat ingin berbagi kesedihan saat ini, tapi itu tak akan mungkin ia ceritakan pada sang adik. Ia hanya mampu menanggungnya sendiri seperti dulu. Dulu beban itu mampu ia tanggung, tapi saat ini ia tak tahu apa ia akan mampu menghadapi sakitnya atau tidak.


“niii....” Aira mengelus pundak sang kakak dalam pelukannya


“maafin aku di.. maafin aku” ucapnya


Hanya itu yang mampu ia ucapkan, rasa bersalah telah bersama orang yang salah. Mencintainya dengan sepenuh hati, memberikan hidup pada putra seseorang yang telah membuat kepergian ibunya.


Rasa pertentangan hati yang terus berperang membuat perasaan Aira berkecamuk bagai badai yang tak akan tahu kapan mereda.


Ditempat lain.


Ryo menunggu pesan balasan yang kini telah terbaca, matanya terus memandangi layar itu tanpa lelah. Ia terus menunggu jika Aira benar bersama Aina. Detik, menit hingga jam, tak ada suara pertanda balasan telah diberikan. Hingga akhirnya ia hanya terlelap dengan sendirinya, lelah seminggu ini terus mencoba mencari keberadaan Aira yang seakan ditelan bumi.


Pagi menyapa kedua manusia yang berbeda dalam suasana cuaca yang sama dingin. Hujan melanda kota sejak tengah malam seakan menambah betapa dingin malam yang Ryo lalui.


Begitu pula dengan Aira yang terbangun oleh rasa mual yang tak terkira, memuntahkan semua yang ia makan pada malam itu. Tatapan Aina semakin curiga melihat sang kakak yang terus muntah dan melemah.

__ADS_1


Ni.. apa yang kamu sembunyikan dariku? Benak Aina sambil memijat tekuk Aira yang terus muntah.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2