
Ting!
Sebuah pesan masuk di ponsel Aina saat ia menuju pulang. Pesan singkat ‘SMS’ dari nomor sang kakak. Aina membuka pesan tersebut. Ia hanya menegang!
📲 Ku tunggu telpon kamu sampai minggu. Telpon kamu akan menentukan segalanya, karena aku akan mengatakan semuanya!
Pesan itu dikirim Ryo sehari sebelum ia mengupload sebuah video singkat. Ia mengirimnya agar Aira mengerti. Ia berharap Aira akan menghubunginya.
Namun setelah menunggu selama sehari, Aira tidak menghubunginya, hingga Ryo nekat menyebarkan video tersebut. Karena pesan itu tak pernah sampai pada Aira. pesan itu hanya disembunyikan oleh Aina yang tak ingin membuat sang kakak semakin terpukul dengan nada pesan yang mengancam.
Sebuah berita viral di media sosial. Tersebar sebuah video dimana Ryo membagikan sebuah pengungkapan.
“aku akan mengadakan presscon pada hari minggu, di hari itu aku akan umumkan semuanya, aku harap kalian akan bersabar.. terima kasih”
Video singkat yang menaikkan adrenalin Aira. Seketika tubuhnya lemah, matanya berkunang kunang, lututnya terasa tak bertulang, otot tubuhnya seakan melebur dan menghilang.
Ryo nekat! Benak Aira sebelum ia benar benar kehilangan kesadarannya. Ia pun ambruk tak sadarkan diri, ketakutan dan kondisi tubuhnya sudah tak mampu menahan lonjakan ketakutan dan emosi yang memuncak.
“ni?” panggil Aina memasuki tempat yang gelap
Klek!
Lampu dinyalakan dan Aina seakan tersengat ribuan watt saat melihat sang kakak yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
“niiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!” Teriak Aina mendekat dan membuang begitu saja tas kerjanya
Aina menangis dan merangkul tubuh dingin Aina.
“niii.. sadar ni... toooloong!!!” Teriak Aina
Teriakan Aina membuat Aira terbangun dan tersadar. Wajahnya pucat dan memandang sayu pada sang adik yang menangis menunduk bersedih memangku kepalanya.
“niii..hi hik hiks” ucap Aina menatap sang kakak yang mulai membuka mata
“aku gak papa kok!” ucap Aira
“niii..” ucap Aina tak berani berkata kata sedikit pun.
“sudahlah..” Aira mencoba bangun dari pangkuan Aina
“ni.. hik hiks hiks” Aina masih menangis
“sudah sudah.. ni gak papa kok” aira kini merangkul tubuh sang adik
“maafin ni yang bikin kamu kaya gini di” ucap Aira merasa bersalah
“ni.. maafin aku gak bisa jagain kamu” jawab Aina lagi
__ADS_1
“sudah sudah...” Aira melepas pelukan sang adik.
Krruukkk.. krruukk
Suara perut Aira terdengar. Aira tersenyum pada sang adik dan Aina menyeka Aira matanya sambil tersenyum.
“ni lapar ya?” tanya Aina
Aira mengangguk tersenyum, berusaha menghilangkan kegundahan hatinya. Ia baru menyadari jika malam sudah menyapa dan ia belum makan siang semenjak melihat video Ryo.
Saat mereka menikmati makan malam bersama, Aina menceritakan tempat kerja barunya pada Aira. ia sangat antusias dengan pekerjaan tetap yang telah ia miliki.
“Fendy sekarang super sibuk ni.. jadi hampir gak pernah bisa nyapa aku di kantor” keluhnya
“ya wajarlah.. kan kamu bilang itu perusahaan keluarga dia kan?”
“iya sih.. Cuma aku kan belum punya temen disini” keluh Aina
“kan ada aku”
“hehehehe.. iya” Aina memang selalu terlihat manja dan ceria di depan Aira. ia selalu bisa menyembunyikan bagaimana kehidupan sulitnya dari sang kakak, begitu pula Aira yang tak pernah mengeluh sekalipun dengan sang adik.
Mereka saling menutupi bagaimana sulitnya mereka menjalani hidup mereka berdua.
“oya ni.. kemarin ada pesan dari nomor lama kamu ni.. tapi aku gak ingin memberitahu ni.. karena orang itu kaya mengancam gitu” ucap Aina ragu
Aina menunjukkan pesan itu pada Aira. aira pun menelan ludahnya dengan berat.
“sebenarnya dia kekasih ni kan?” tanya Aina lagi
Dalam hitungan sepersekian detik, wajah Aira menjadi berkabut muram. Aira hanya bisa menunduk menghindari pertanyaan Aina.
“ni..”
“pliisss.. plisss di.. aku tahu aku harusnya menjelaskan ke kamu.. tapi pliss... beri aku waktu” ucap Aira memohon.
Aina hanya bisa diam menanggapi dan mereka pun makan dalam diam.
Sabtu malam Aira tak mampu memejamkan matanya. Saat ini posisinya bagai buah simalakama. Jika ia menghubungi Ryo maka Ryo akan menemukannnya, tapi jika tidak ia hubungi, ia takut Ryo akan mengumumkan siapa dirinya.
Pikirannya terus mengganggu hingga membuat perutnya terasa kram.
“aaggghhhhh!” keluh Aira merasakan perut bagian bawahnya terasa panas dan mengeras.
Rasa takut akan kehilangan janin mulai menyelimutinya.
Ya tuhan.. jangan kau ambil dia dari ku! Benak Aira menahan sakit
__ADS_1
Perlahan ia menghela nafas dan merilekskan tubuh.
Sayang.. maafin bunda ya.. bunda lupa kamu akan terpengaruh oleh pikiran bunda.. maafin bunda ya..
Aira terus mengelus perutnya yang berangsur membaik. Hingga beberapa menit, rasa sakit itu berangsur menghilang
“terima kasih sayang... huffffhh... maafin bunda.. kita akan istirahat ya..” nafas lega Aira.
Berbicara dengan anaknya merupakan kesenangan tersendiri bagi Aira. Sesaat jika ia berpikir tentang itu, ia bisa melupakan semua tragedi yang melanda dirinya.
Aira kembali meneruskan tidurnya. ia memutuskan untuk menghubungi Ryo di pagi hari. Kelegaan terasa saat itu dan rasa lelah dari rasa sakit membuatnya tertidur terlalu nyenyak.
Aina terbangun oleh suara alarmnya. Kebiasaan bangun paginya membuatnya tak bisa menjadi pemalas yang ingin menghabiskan minggu pagi dengan tidur hingga siang. ia keluar dan tak menemukan sang kakak. Aina memasuki kamar Aira dan melihat sang kakak masih tertidur pulas. Ia pun meninggalkan Aira.
Aina membersihkan tempat mereka dan pergi keluar untuk belanja, sedang Aira masih saja nyaman memeluk guling.
“tidur kamu pulas ni.. syukurlah!” ucap Aina yang mengecek kembali sang kakak sebelum meninggalkannya.
*****
Ceklik ceklik ceklik
Suara dan blitz foto terus tertuju pada Ryo yang melangkah masuk pada sebuah gedung yang telah disediakan untuk acara hari ni. Langkahnya terlihat malas dan tak ada gegap langkah confidence yang biasa ia tunjukkan. Diiringi oleh beberapa anggota Boys dan beberapa personel yang bertugas mengawal mereka. seperti biasa Ryo selalu sombong dan tak menoleh sama sekali pada puluhan camera yang sedang menyorot padanya.
Sebuah meja dengan alas putih telah penuh dengan puluhan mike dimana ia akan menjelaskan isu yang beredar tentang dirinya yang akan mundur dan membatalkan konser yang tinggal mereka jalani dalam beberapa minggu ke depan. Personel boys dan boman hanya bisa menunduk. Mereka pasrah pada keputusan Ryo yang tak mungkin mereka bantah. Meski beberapa waktu sebelumnya mereka berdebat hebat karena keegoisan Ryo yang memutuskan sepihak konser dimana tiket yan telah habis terjual.
Suara riuh gedung konferensi pers terdengar bergitu ramai. Semua wartawan dari berbagai tabloid dan tv tak ada yang absen. Momen yang mereka tunggu dimana Ryo mengatakan bahwa ia akan mengatakan semuanya menjadi sebuah pertanyaan besar.
Apakah Ryo hanya akan mengkonfirmasi tentang simpang siur konser yang ia batalkan?
Atau ia akan mengatakan jika ia akan mundur dari Boys seperti isu sebelumnya?
Atau ia juga akan mengungkap tentang siapa tunangan yang ia sembunyikan?
Karena Ryo akhir akhir ini seakan menjadi misteri, maka ia akan menjadi pusat berita ketika ia hanya berkata satu kalimat saja.
Bahkan sebuah televisi menyiarkan langsung acara presscon hari ini untuk mendongkrak rating acara talk show mereka.
Ryo menggenggam sebuah ponsel lain. Sejak ia memasuki Ruang itu, ponsel tersebut selalu ia bawa. Boman bahkan tidak bisa mengambil darinya.
Bams menatap ponsel yang jelas dulu Aira gunakan.
Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan Yo? Benak Bams menatap ponsel tersebut.
Semua sudah mulai mengisi tempat masing masing. Semua mata sudah tertuju pada sang icon yang siap mengatakan kata kata yang ditunggu bak sebuah titah raja.
Pertama tama Boman ingin mengambil mike yang ada di depannya. Tapi suara dering telpon yang berada diatas meja membuat semua menjadi sepi.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~