
“selamat malam!” sapa seorang lelaki mencoba mendekati pasangan tersebut.
Aira dan Ryo menoleh pada lelaki tersebut dan dalam sepersekian detik tubuh Aira gemetar. Ryo yang merasakannya menoleh pada sang istri yang langsung terlihat pucat.
“beib!” ucapnya tanpa menjawab sapaan lelaki tersebut.
Mata Aira tertuju pada sebuah pin yang tersemat pada jas lelaki tersebut. Nafasnya menderu, ia kehilangan kesenangannya dalam sesaat. Jantungnya berdetak cepat. Tubuhnya begitu gemetar dalam seketika.
Lelaki itu masih mematung melihat Aira yang ketakutan padanya.
“beib.. beib..” Ryo mengalihkan wajah Aira untuk menatapnya. Ryo mulai panik melihat perubahan tubuh Aira. Ia tak menyadari apa yang menjadi penyebab Aira seperti itu.
“beib!” Ryo mengusap lembut pipi Aira agar ia tersadar kembali dari rasa tegangnya saat itu.
“mmass” ucap Aira gemetar dan kini berusaha memegang erat tangan sang suami.
“beib?” Ryo menanyakan keadaanya
“kamu gak papa?” tanyanya lagi semakin erat memegang Aira yang mulai lemas
“mmmaass... bawa aku pergi” pinta Aira dengan suara lirih.
Beberapa pengawal mendekati mereka. Camila dan Harlan melihat ke arah mereka. Syen yang tak jauh dari mereka ikut mendekat.
“tuan muda!” ucapnya mendekati Ryo & Aira
“ayo! Kita pergi!” ajak Ryo pada Aira. mereka pun beranjak keluar dari meriahnya pesta.
Lelaki yang tadi menyapa mereka hanya mematung menatap kepergian pasangan yang ia sapa. Aina berjalan cepat mengikuti arah Ryo dan Aira keluar dari ruangan itu.
“mas... Aina.. cari Aina” pinta Aira pelan karena kakinya kini begitu lemas saat keluar dari pintu ruangan tersebut.
Ryo menggendong Aira karena ia melihat sang istri yang tak mampu lagi berdiri.
“beib.. tetap sadar ya” pintanya mengecup kening Aira
“ni..” panggil Aina mendekat
“di!” tangan Aira mengangkat.
Aira dibawa ke kamar yang sudah Ryo pesan untuk mereka. Sebuah suit super mewah yang berada di lantai teratas.
Aira dibaringkan dengan perlahan oleh Ryo.
“beib! Fokus padaku” pinta Ryo lagi
“bawa Aina kesini mas..” pintanya dengan nafas yang terengah
“Aina disini kok” ucap Ryo sambil melepas sepatu sang istri sibuk menurunkan suhu pendingin ruangan tersebut.
Dalam seketika beberapa tim dokter datang memasuki kamar mereka. mereka yang memang sudah disiagakan oleh Haris langsung mendapat perintah menuju kamar sang tuan muda menginap.
Ryo melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Ryo mengambil injeksi dari seorang dokter dan menyuntikkan pada Aira.
“mas.. Aina!” pinta Aira lagi
“aku disini ni” ucap Aina dibelakang beberapa dokter yang berdiri menanganinya.
Aira mengangkat tangannya agar Aira meraihnya. Aina pun mendekat dan duduk ditepian tempat tidur di belakang Ryo. Ryo pindah ke atas tempat tidur agar ia tetap berada disisi sang istri.
“apa perlu infus tuan muda?” tanya seseorang padanya
“letakkan disana, jika perlu nanti ku pasang sendiri” tanpa melihat mereka yang menunggu perintah selanjutnya
“Ni..” Aina menggenggam tangan Aira
“Di.. aku haus” pintanya
Syen bergegas mengambil air minum untuk Aira. dan dalam sekali tenggakan, air satu gelas itu tak bersisa walau setetes.
“mas.. bisa minta orang orang itu keluar?” pintanya pelan pada Ryo
“hem! Kalian keluarlah, nanti aku hubungi lagi” pinta Ryo
Dalam hitungan detik hanya mereka bertiga dalam ruangan mewah itu.
“Di.. kamu jangan balik ke sana ya?” pinta Aira mencoba bangun dan bersandar pada sandaran ranjang. Ryo membantu menaruh beberapa bantal agar Aira merasa nyaman.
Aina melirik ke arah Ryo dan Ryo membalas lirikannya dengan curiga maksud dari larangan Aira.
__ADS_1
“Di.. mas.. aku melihat mereka disana” ucapnya
Aina membulatkan matanya mengerti siapa maksud dari mereka. sedang Ryo terlihat mengerutkan kedua keningnya tak mengerti.
“mereka yang dulu mencoba menculik kami mas” ucapnya lagi
“apa?” Ryo kaget
Itu berarti mereka adalah salah satu tamu yang berada di pesta, sedang tamu disana hanya orang orang khusus undangan yang terbatas.
“apa kamu mengenali mereka?” tanya Ryo
“bukan wajah mereka, tapi simbol mereka” jawab Aina
“kamu juga melihatnya di?” tanyanya lagi
“kamu pasti melihat lelaki yang mengenakan pin yang dulu kan?” tanya Aina lagi
“iya.. berarti tadi kamu ketemu mereka juga?” Aira justru semangat dan duduk tegak menatap sang adik
Aina menggeleng
“aku gak ketemu mereka” jawabnya
“aahh.. syukurlah” ucap Aira menghela nafas.
“beib.. pin apa sih?” tanya Ryo
“kita mengenali mereka karena lelaki yang dulu mencoba menculik kamu memakai pin khusus” jelas Aina
“aku akan panggil Om Haris biar mereka bisa menyelidikinya” Ryo mencoba mencari ponselnya
“mas.. tunggu dulu” tahan Aira
“aku ingin tahu pinnya seperti apa” jawab Ryo
“aku punya pin itu” jelas Aira
“iya, pin yang dulu ku ambil saat kita diculik, kamu masih menyimpannya kan ni?”
“iya”
“jadi kamu memiliki pin itu sayang?’ tanya Ryo lagi
“iya” jawabnya
“kok kamu gak bilang punya bukti sekuat itu”
“mas.. aku selalu ketakutan melihat pin itu” ucapnya
“aku juga” ucap Aina
“aku keluar dari Ai & Din karena pin itu ni” jelasnya
“apa?” ucap Ryo dan Aira bersamaan
“kenapa kamu gak cerita?” Suara Aira meninggi
“beib!” Ryo menenangkan Aira
“ni.. jangan marah..! aku gak kasih tau kamu karena aku gak ingin kamu khawatir” ceritanya menunduk dengan rasa bersalah.
“hal sebegitu besar kamu malam menyembunyikan dari ku” kesalnya
“beib jangan gitu” Ryo melihat jelas kemarahan Aira pada sang adik.
“jadi kamu ketemu mereka disana?” tanya Ryo
“aku diminta melakukan presentasi untuk salah satu departemen di Ai & Din, saat salah satu direktur muncul, dia mengenakan pin itu” jelasnya
“Ai & Din corp” ucap Ryo
“mereka memang kita undang” ucapnya lagi
“apa mereka bagian dari perusahaan itu?” tanya Aira
“iya, kata spv ku, mereka yang memakai pin itu merupakan orang petinggi langsung yang melayani komisaris mereka”
Ryo terdiam dan berpikir.
__ADS_1
Untuk apa mereka mencoba menculik kalian? Benak Ryo
“mas...” panggil Aira
“kenapa orang orang perusahan sebesar itu ingin menyingkirkan mamah dan ingin menculik kamu?” tanya Ryo berpikir lagi
Tapi Aira dan Aina hanya diam.
“aku juga berpikir seperti itu kak, apa mungkin pin itu hanya kebetulan sama aja?”
“dimana pin itu kamu simpan beib? Kok aku gak pernah liat?” tanya Ryo
“di kotak pink” jawab Aira
“ahh.. kotak pink” jawab Ryo yang menyadari jika kotak itu hanya Aira yang bisa membukanya.
“iya.. kotak rahasia ni” ucap Aina lagi yang mengingat jika ada foto Bams di dalam sana.
“aku akan menghubungi om Haris, aku akan minta dia menyelidiki pin itu lebih lanjut, malam ini sebaiknya kamu istirahat aja” usap Ryo lembut pada puncak kepala Aira.
Aina yang mengerti pembicaraan mereka pun berniat pergi.
“iya ni.. ni terlalu syok tadi, sebaiknya istirahat aja” ucap Aira berdiri
“kamu mau kemana?” tanya Aira
“aku akan pulang, aku gak akan balik ke pesta itu kok”
Sebuah panggilan telpon pada ponsel Ryo terdengar
“kamu jangan pulang, gimana kalau mereka mengetahui kamu adik ku tadi” ucap Aira cemas
“ni.. aku bukan adik kecil kamu yang dulu lagi” senyum Aina menatap Aira merasa lucu
“kamu tetap adikku, aku merasa tenang jika kamu dekat dengan ku” ucapnya
“ahh.. bohong! Dulu aja kamu di ibukota dia di kampung” jawab Ryo
Aina terkekeh mendengarnya
“tapi sekarang kan Aina terancam mas!” jawab Aira
Aina tertawa mendengar sang kakak. Ia kembali duduk dan mengambil tangan Aira
“ni .. aku udah besar, aku juga udah belajar bela diri sama syen, dan .. aku pulang ke apartemenku, itupun aku juga di kawal oleh syen dan seorang supir.. apa ni lupa?” tanyanya meyakinkan
“beneran?” tanya Aira masih kurang yakin
“heemmm” angguk Aina
“ya sudah.. pulang pulang pulang” usir Ryo pada Aina
“iya iya.. jangan macam macam ya kak.. kalau aku minta menginap sama ni.. dia pasti pilih aku” jawab Aina tak mau kalah
Aira tersenyum melihat keduanya.
Akhirnya suasana kembali seperti semula, tak cemas dan khawatir lagi. Ryo yang sering berdebat dengan Aina bukanlah bentuk permusuhan, tapi bentuk keakraban antara kakak beradik sekaan tanpa batasan.
Malam itu pun menjadi malam panjang untuk Ryo dan Aira. malam menikmati hotel mewah mereka.
“kita bulan madu nih ceritanya?” singgung Aira yang terus di gempur habis habisan oleh Ryo.
“ini baru nol koma lima persen bulan madu sayang” ucap Ryo tersenyum
Setelah Aira tertidur pulas, Ryo keluar kamarnya untuk menemui Haris yang menginap satu lantai di bawahnya. Ia meminta Haris menyelidiki kembali tentang pin tersebut.
“sebenarnya waktu saya menyelidiki sumber uang yang dikirim ke Lisa, uang itu dari salah satu rekening Ai & Din waktu itu, saya merasa janggal dan tak mungkin, karena perusahaan itu di ibu kota, sedang ibu nona berasal dari desa yang sangat terpencil” jawab Haris
“dan Om tidak menyelidikinya?” ucap Ryo dengan nada kecewa
“maafkan kami tuan muda” ucapnya dan mendapat tatapan sedih dari Ken.
“mulai besok, aku ingin perlindungan berlapis untuk Aira” Perkataan Ryo bak titah yang harus dilaksanakan Haris dan Ken
“baik tuan muda” Jawab Haris.
Di lain hotel, seseorang melakukan panggilan telepon.
“tuan, saya menemukan nona Aira!” ucapan yang membuat seorang lelaki paruh baya hampir mendapat serangan jantung.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~