
Ponsel itu kembali berdering. Tertulis ibu mertua.
“halo mah! gimana kabarnya mamah sama papah” ucap Aira langsung
“lagi dijalan mah, tadi keluar nyari makan”
“ooo... iya, tadi mas Riry udah kasih tau”
“iya mah!”
“iya mah”
Panggilan pun ditutup.
“Syen, langsung ke mension aja!” ucapnya lagi
“baik nona!”
Camila diminta Ryo untuk menghubungi istrinya agar menginap di mension beberapa hari. Karena saat ini, para wartawan sedang berada di apartemen mereka.
Camila beralasan rumah terasa sepi karena Rya tak dirumah sedangkan Aira juga sendiri di apartemen mereka. Jadi Aira hanya menurut saja.
“kita mampir sebentar di toko suvenir ya?” pinta Aira
“baik nona!”
Aira mampir di sebuah toko suvenir dan langsung membingkai foto USG buah hatinya.
Sang penjaga toko tersenyum melihat senyum Aira yang terbaca menggambarkan berjuta kebahagiaan.
“selamat ya nyonya!” ucap wanita paruh baya pemilik toko pada Aira saat membingkai foto.
“terima kasih” ucap Aira dengan senyum semakin lebar dan mengelus perutnya
“anak pertama?” tanyanya lagi
“iya bu”
Setelah selesai dibingkai, foto tersebut dibungkus dengan bungkus kado bertema bayi, lengkap dengan pita cantik. Hadiah kecil untuk Ryo saat ia kembali nanti.
Aira keluar dari toko tersebut dengan senyum begitu cerah.
Sepertinya nona sangat senang hari ini! benak Syen yang melihat sang nona keluar dari toko dengan senyum terus mengembang.
Mobil pun meluncur menuju mension, membawa sebuah hati yang terus bernyanyi. Aira terus mengelus perutnya.
“Syen bisa berhenti sebentar!” pintanya karena tiba tiba perutnya begitu mual.
Aira bergegas keluar mobil dan memuntahkan isi perutnya yang tadi penuh.
“aduhh.. nona kita ke rumah sakit ya?” ucap Syen yang sedikit panik melihatnya
“aku gakpapa, mungkin Cuma mabuk di mobil” senyumnya
Syen hanya tercengang, mana mungkin orang kaya seperti mereka mabuk saat naik mobil mewah yang begitu nyaman.
“jangan bilang mas Ken! Nanti dia mengadu ke mas Riry.. eh mas Ryo maksudku”
Syen tersenyum.
“saya mengerti jika Nona punya panggilan khusus untuk tuan muda” ia tersenyum
“ingat! Jangan bilang ya Syen?” pinta Aira lagi
“baik nona!” ucapnya
Tapi Syen justru mengirim pesan pada Ryo langsung dan mengatakan jika sang nona muntah akibat terlalu banyak makan makanan yang ia makan hari ini. dan menjelaskan kembali jika sang nona baik baik saja.
__ADS_1
Hari mulai menggelap. Memasuki mension yang masih sepi dimana sang mertua masih sibuk dengan aktifitas mereka. Aira hanya disambut oleh seorang wanita menjelang senja yang bertanggung jawab dirumah tersebut
“apa kabar bi?” sapanya
“baik nona, nona gimana kabarnya?” tanyanya balik.
“baik bi, Cuma sedikit lapar” bisiknya
Bibi itu tersenyum, karena saat pertama menginap disana, Aira juga mengeluh lapar saat menjelang subuh.
“nona ingin sesuatu?” tanyanya lagi
“ada kue gak bi?” tanyanya
“ada nona”
“saya minta kue aja sambil nunggu mamah sama papah makan malam” ucapnya
“nanti saya antar ke kamar!” ucap sang bibi
“ah.. merepotkan, biar saya ambil sendiri bi” pintanya
“tak apa nona, nanti saya akan antar ke kamar nona” ucap bibi lagi
“baiklah bi..”
“nona ingin mandi? biar airnya saya siapin”
“tidak bi, terima kasih, saya siapin sendiri aja” tolak Aira
“baiklah nona, kalau begitu saya ke dapur dulu” ucapnya menunduk hormat dan dibalas tundukan tak kalah hormat oleh Aira.
Aira memasuki kamar, aroma anggur tercium menyengat hidungnya. Entah mengapa aroma itu membuatnya terasa pusing. ia membuka pintu arah balkon dengan lebar, berharap aroma itu menghilang dari dalam kamar itu.
Aira memasuki kamar mandi dan merendam dirinya di air hangat menghilangkan lelahnya setelah sore itu berkuliner ria meski akhirnya ia muntahkan semua.
Aira mengeluarkan kado indah yang ia siapkan untuk Ryo. Ia menulis di sebuah post it berbentuk hati.
“Spesial untuk mu Suamiku tercinta”
Senyum Aira terukir dan meneteskan air mata haru saat membayangkan Ryo membuka kado itu.
Aira menuruni tangga membawa kembali susu dan piring yang kosong menuju dapur. Sepertinya Sepotong cake tak mampu menutupi perutnya yang kembali bernyanyi.
“nona! Sepertinya tuan dan nyonya akan kembali malam, tadi nyonya pesan agar nona makan malam duluan dan tidak perlu menunggu mereka” jelas bibi
“oo.. kalau begitu saya makan sekarang aja bi” jawab Aira
“baik nona, akan saya siapin”
“saya makan disini aja!” ucap Aira menunjuk meja dapur.
“tapi nona, disini kotor”
“tak apa! Kalau bibi gak keberatan, saya ingin makan disini aja” pintanya tersenyum
Bibi tersenyum melihat nona muda yang satu ini, ia memang tak terbiasa dengan hidup sebagai nona besar.
“baiklah saya siapin!” ucapnya lagi
“boleh saya ambil sendiri bi?” ucapnya lagi
“nona... biasakan dong saya layani” kini wanita itu seakan meminta manja padanya
Aira terkekeh mendengarnya dan berdiri.
“saya malu makannya banyak” bisik Aira berjalan menuju tempat piring dan menuju meja tempat rice cooker.
__ADS_1
Dan benar sekali! Aira mengambil nasi dalam porsi besar.
Para pembantu disana melihatnya dengan senyum ditahan. Ternyata sang nona makannya begitu banyak.
Aira bersandar sebentar di kursi saat semua isi piring bersih tak tersisa. Perutnya begitu penuh. Ia mengelus perutnya.
Anak mama makannya banyak ya? Benaknya tersenyum.
“bi... boleh minta kue tadi gak buat saya bawa ke kamar?” pintanya lagi
Bibi seakan tak percaya mendengarnya, ia baru saja menghabiskan begitu banyak makanan, tapi masih meminta desert?
“tentu boleh nona!” ucapnya tersenyum
“Terima kasih bi” senyumnya
Malam itu Aira tidur dengan perut penuh dengan makanan. Ia mengelus perutnya dan tersenyum. Melelapkan diri dalam kebahagiaan.
Ceklek!
Suara pintu kamar terbuka di tengah malam. Langkah kaki pelan mendekat. Senyum lebar tergambar menatap sesosok tubuh yang terlelap cantik dalam balutan selimut malam. Ya! Dia lah Ryo, yang rela menempuh penerbangan jauh untuk melepas semua kerinduan dan kekhawatirannya pada sang istri. Ia hanya menatap sang istri tanpa ingin menyentuhnya. Kemudian ia meninggalkannya ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, ia mendekati Aira. Mencoba masuk ke dalam selimut Aira.
“anak bunda..” Gumamnya dalam tidur
Ryo berhenti sejenak mendengar suara Aira
“anak bunda..” tangannya melingkar di perutnya.
Ternyata sedang mimpiin anak! Benak Ryo tersenyum
Senyum Aira mengambang menerima pelukan sang suami.
“hemmm... aku suka mimpi ini!” ucapnya
Ryo tersenyum mendengar gumaman Aira. ternyata saat tidur pun istrinya sedang bersamanya.
Kecupan kecupan mulai terasa dikulit Aira, wajah dan tubuh yang terkulai dalam mimpi bahagia.
“hemmm.. aku terlalu merindukanmu sayang, bahkan mimpi ini terasa begitu nyata.. aku gak ingin bangun dulu” ucap Aira masih memejamkan mata.
“nikmati saja mimpi ini sayang” ucap Ryo dengan berbisik nakal disela kecupan yang membuat Aira terus melayang.
Hingga saat Ryo melakukan penyatuan mereka.
“pelan pelan sayang, aku takut anak kita kenapa napa” ucapnya lagi masih memejamkan mata.
Ryo kembali tersenyum mendengar ucapan Aira.
Dasar lucu, kamu masih berpikir ini mimpi! Benak Ryo
Ryo pun melakukan secara perlahan hingga akhir puncak rindu mereka terlepaskan. Ia memeluk erat tubuh sang istri. Dan Aira melanjutkan tidur dan mimpinya sendiri dalam pelukan sang suami.
Saat menjelang subuh, Ryo kembali melakukannya, tapi Aira masih menganggap itu semua hanyalah sebuah mimpi, meski ia menatap mata Ryo dengan jelas.
Setelah pergulatan panas subuh itu Ryo harus kembali, karena ia harus melanjutkan syuting pagi
“nanti aku akan mampir di mimpimu lagi!” ucap Ryo mengecup kening sang istri sebelum keluar dari kamar. Dimana dia sudah selesai memasang kembali pakaian Aira seperti semula.
“aku mencintai mu sayang” cup! Sebuah kecupan di bibir Aira sebelum ia benar benar pergi.
Tubuhnya kini meringan, seringan bulu bulu halus yang beterbangan, kebahagiaan menyelimuti diri membawa kembali kesegaran yang beberapa hari terasa kering.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Mungkin kah pergulatan panas dalam ‘mimpi’ Aira merupakan pergulatan terakhir mereka. kecupan terakhir untuk istri yang telah memiliki separuh hidupnya?
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~