
“niiii! Aku pulang!” teriak Aira yang memasuki apartemen mereka.
Setelah tragedi konser Ryo, Aina kehilangan pekerjaan. Namun ia kembali mendapat pekerjaan dan karena kecerdasannya ia mampu menjadi seorang junior supervisor pada sebuah perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur.
Gaji dengan angka dua digit membuat kehidupan dia dan Aira menjadi lebih baik. Aina juga mendapat asuransi kesehatan terbaik untuk ia dan sang kakak.
Aira sedang duduk di balkon mendengarkan sesuatu menggunakan headseat. Aina mendekatinya dan ternyata Aira sedang mendengarkan berita tentang Boys.
Brak!
Headset itu ditarik oleh Aina.
“jangan mendengarkan lagi tentang mereka, mereka terlalu jahat dengan kita ni!” ucapnya kesal.
Aira hanya tersenyum kecut dalam mata yang kosong.
“Kamu sudah pulang?” tanyanya merasa bersalah
Aira selalu berusaha mencuri informasi tentang boys, yang tentunya tentang sang suami. Berpisah atau meninggalkannya selama ini tak membuat hatinya berubah. Cinta itu masih terpatri sama, terpahat abadi dalam balutan kasih yang tak mungkin terbuka. Tersusun dan tersimpan rapi dalam tatanan kenangan keindahan.
Hanya tentang kenangan, hanya itu yang mampu Aira ingat. Aira yang sekarang adalah Aira yang hidup dalam rasa nyamannya sendiri. berusaha tersenyum hanya dengan mengingat bahwa ia pernah menenggak manisnya cinta dari seseorang yang ia cintai.
Aina berjongkok di depan sang kakak, memegang kedua lutut yang menjuntai.
“ni... lupakan dia.. dia bahkan tidak datang saat kamu kritis, jangan mencari tahu tentang ME lagi!” pinta Aira
“aku hanya ingin tahu kabar Bams, dia masih idolaku” dalihnya
“jangan mengidolakan Boys lagi, mereka orang orang rendahan yang tak punya hati..” ucap Aina yang kini sangat membenci Boys dan embel embel ME.
Aira menunduk sedih mendengar kata kata sang adik. Ia tak menyangka cinta Aina pada Ryo dan Boys berbalik menjadi kebencian yang penuh dendam. Ia tak pernah tahu mengapa Aina kini sangat membencinya.
Aina meraih tangan Aira.
“ni .. ini kenapa?” tanyanya sedih.
“tadi galon habis, aku mau ngeteh, jadi ku rebus air pakai kompor, pas numpahin kena ujung jariku” ucapnya menarik kembali.
“ni.. lain kali telpon aku, jangan dipaksa ya?” ucap Aina sedih.
“hem!” jawabnya menurut dalam senyum.
Senyum yang tak pernah menunjukkan sebuah senyum. Senyum kosong yang justru seakan menyakitkan, senyum ditengah derita hati dan jiwanya yang justru menoreh luka di hati Aina
“ni udah minum?”
“belum, airnya keburu dingin saat aku nyari salep” ucapnya
“aku bikinin sekarang, kita ngeteh disini apa didalam?” tanya Aina
“disini aja, aku suka angin sore!” ucapnya
Aina beranjak meninggalkan sang kakak. Air matanya terus menetes. Kesedihannya melihat sang kakak dengan keadaannya sekarang membuat tubuhnya mengurus. Ia tak pernah mengenal cinta dan lelaki, baginya saat ini ia harus mengurus kakaknya yang telah mengorbankan hidup untuknya.
Aira mendengar jejak langkah Aina menjauh. Ia kembali mendengarkan wawancara eksklusif Ryo dengan sebuah televisi swasta.
“boleh kita tahu kenapa kamu gak memakai cincin itu lagi?” tanya sang pewawancara
Ryo hanya menanggapinya dengan senyum dingin dipaksa.
__ADS_1
“itu sebuah kesalahan dalam hidupku..”
Mendengar gegap langkah Aina, Aira kembali mematikan ponselnya. Namun rungunya membuat hatinya kecewa, ia mendengar kata kata Ryo yang mengatakan jika cincin itu adalah sebuah kesalahan dalam hidupnya. matanya mengembun saat Aina mendekat.
“tehnya wangi di” ucapnya seakan mengalihkan hatinya.
Bukan Aina tak mengetahui hati Aira, tapi hampir setiap malam Aira bermimpi buruk dan selalu memanggil ‘Mas Riry’ dalam igaunya.
“kamu menangis lagi ni!” ucap Aina memberikan tisu padanya
“bukan, anginnya membuatnya mataku kering” kilah Aira
“oo...” Aina menyeruput teh hangatnya. Mengambil satu potong cake yang ia beli untuk Aira.
“ni suka cake ini kan?” ia memberikan piring kecil berisi potongan cake
“hemm.. lemon cake” ucapnya mencium bau dari cake yang ia sebut favorit.
“oya ni.. aku dapat tawaran kerja di Ai & Din Corp, mereka menawarkan gaji yang besar ni... tapi aku harus melakukan training selama tiga bulan di ibukota” jelas Aina
“terus?” tanya Aira
“aku ambil apa gak ya ni?”
Aina selalu berunding dalam mengambil keputusan hidup mereka. karena baginya keputusan yang ia ambil juga menyangkut hidup sang kakak.
“kamu ingin?” tanya sang kakak
“ya ingin sih.. tapi kalau ni keberatan, gak ku ambil” jawabnya penuh penegasan jika sang kakak lebih berarti dari apapun.
“ambil aja.. kita bisa ke ibu kota selama tiga bulan” ucapnya meski hatinya berat. Ia tak ingin menjadi penghalang karir adiknya. Meski kata ibu kota terdengar menyayat, tapi ia harus mendukung Aina.
“iiyyyyeeesss!!” Aina senang.
Aira tersenyum dan kembali menikmati kuenya.
“Udah mulai gelap ni.. ayo masuk!”
“jam berapa sekarang?” tanya Aira
“hampir magrib” jawab Aina lagi
Kehidupan mereka selama ini telah kembali pada poros masing masing. Ia dan Ryo seakan kembali ke pengaturan awal. Tak memiliki tapi saling memiliki. Ryo tak mengajukan perceraian karena ia akan menunggu Aira yang menggugat. Ia ingin menyiksa perempuan yang telah mencabik hatinya dengan kebohongan dan janji palsu malam itu.
Ryo berpikir, jika Aira ingin menikah dengan orang lain, maka ia harus mengurus terlebih dahulu perceraian mereka. Ryo menunggu proses itu. tapi sepertinya tak ada kabar apapun tentang Aira sejak malam itu.
Nut nut nut.. nut nut nut..
Suara panggilan masuk tertulis rumah.
Panggilan telpon dari rumah yang tak asing bagi Ryo. bibi menghubunginya?
“ya bi?” jawab Ryo
“tuan muda.. tuan pingsan, saya bingung harus menghubungi siapa” ucapnya panik.
“apa?” Ryo panik
Sejak perselisihan ia dan sang ayah, Ryo tak pernah lagi menginjakkan kakinya dirumah besar itu. Kondisi Harlan yang mengalami kesedihan karena seakan dibenci Ryo membuat tubuhnya melemah. Ia sering sakit sakitan. Rasa bersalah pada sang putra dan berharap Ryo mampu menerima kenyataan akan kepergian Aira membuat hubunga Harlan dan Ryo merenggang.
__ADS_1
Ryo menyalahkan sang ayah atas kepergian Aira, jika kejadian itu tidak ada, ia dan Aira pasti tak akan seperti ini.
Pikiran itu selalu membuatnya menatap sang ayah penuh dengan kekesalan.
Kekecewaanny pada janji yang tak ditepati Aira membuatnya membulatkan diri untuk tak menerima wanita manapun lagi. Ia menjadi penyendiri. Lelaki dingin yang semakin dingin.
Ryo berlari memasuki rumah besar. Ia merasa bersalah jika terjadi sesuatu dengan sang ayah.
“tuan muda!” sapa bibi menyambutnya
Setelah sekian tahun, ini pertama kali Ryo menginjakkan kakinya.
“bagaimana papah bi?” tanyanya sambil berjalan cepat menuju kamar sang ayah
“sudah ditangani dokter Johan” jawab bibi
Ryo berlari dan saat ia berada di depan pintu kamar sang ayah, dokter Johan keluar.
“om?” sapa Ryo
“ayo kita bicara!” ajak dokter Johan
Ryo beranjak dan mendengarkan penjelasan sang dokter. Tak sulit menjelaskan pada Ryo karena basicnya sebagai dokter
“cobalah untuk mengalah... papa mu sudah tua, taruhlah ibamu sedikit” pinta Johan
Ryo tertunduk. Johan selama ini yang merawat Harlan sangat tahu penderitaan lelaki itu saat Ryo seakan memusuhinya.
“maafin Ryo om.. Ryo akan jaga papah” ucapnya
Malam itu Ryo memutuskan untuk menginap disana.
“bibi selalu bersihkan kamar tuan muda” ucap Bibi selesai
menyiapkan ranjang untuk Ryo.
“terima kasih bi!” ucap hangat hanya pada wanita tua itu.
“tuan muda harus senang sekarang.. jangan sedih lagi” ucapnya sedih
“hemm.. makasih bi..” ucapnya lagi dan duduk diatas ranjang itu.
Tak ada yang berubah dari kamar itu. persis seperti waktu dulu, hampir empat tahun tak memasuki kamar itu membuatnya mengingat kenangan terakhir bersama sang istri yang ketika itu menganggapnya sebagai mimpi.
Ada senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. Ryo melepas pakaiannya untuk mengganti baju. Terlihat sebuah kalung panjang dengan liontin sebuah cincin. Ya, cincin pernikahannya dengan Aira.
Ryo menarik laci nakas samping tempat tidurnya untuk menyimpan kalung. Dan ...
.........
“aaaaagghhhhhh!!!!!” teriaknya
Bersambung
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Alhamdulillah bisa update lagi hari ini
semoga selalu bisa
__ADS_1