
“bi? Kok bisa kamu disini?” Aira sadar sepenuhnya akan keberadaan Bams yang sontak membuat tubuh Bams terasa panas dingin.
“ehmm.. kamu beneran gak papa?” Bams berusaha mengalihkan pikiran Aira
“aku gak papa, yang aku heran, kok kamu bisa disini?” tanya Aira
“aku.. aku tadi pas lewat sini, terus .. teruss..” Bams bingung ingin mengatakan apa
“bi..kok bisa kamu disini?” Aira kembali bertanya
“maafin aku Ai.. aku gak sengaja ketemu kamu waktu itu, dan aku mengancam Aina kalau dia keberatan aku menemui kamu..” Bams tak bisa lagi menutupinya
“maafin aku!” lanjut Bams lagi
“apa kamu juga bilang ke ..” Aira tak melanjutkan
“gak! Kamu tenang aja”
Aira menunduk, tangannya mulai berkeringat dingin, tubuhnya merasa mengecil merasakan malu, bersalah, canggung, entahlah! Dulu seorang Bams mengungkapkan perasaan padanya, namun kini lelaki itu berada di depannya dengan mendapati dirinya yang kini menjadi wanita tanpa netra.
“ai.. tolong kamu jangan marah, jangan merasa berbeda” ucap Bams
“aku bukan Aira yang dulu bi” ucapnya dengan kepala menunduk.
“kamu masih Aira, temanku yang dulu selalu terbuka dengan ku, temanku yang selalu menganggap ku ada” ucap Bams
“tapi bi..” Aira belum lagi selesai
“lupakan kata kataku malam itu, aku menyesalinya, aku hanya ingin membantu kamu agar gak sedih malam itu, aku gak serius kok” jelas Bams
Aira terdiam. Ia mengingat jelas tatapan mata Bams dan perilakunya yang berbeda.
“ai... plisss.. aku masih temen kamu” ucap Bams meraih tangan Aira
“aku akan anggap kamu teman kalau kamu gak datang lagi kesini” ucap Aira
Maafin aku bi.. aku takut perasaan kamu masih seperti dulu, aku gak ingin kamu menyukai orang seperti ku! Benak Aira
“teman macam apa yang meminta seperti itu?” ucap Bams melepas tangannya
“bi.. aku sudah cukup merepotkan mu dulu.. dengan kondisi ku sekarang, aku akan lebih merepotkan” ucap Aira
“apa aku pernah mengeluh? Apa aku pernah meminta syarat ke kamu untuk menjadi temanku?” tanya Bams kecewa
“aku tahu, tapi kamu tahu aku, aku selalu merasa dikasihani jika kamu baik” ucap Aira sedih
“lupakan! lupakan semua masa lalu kamu, jika kamu nyaman menjalani hari hari kamu seperti ini, aku turut senang, tapi jika kamu kecewa dengan keadaan kamu, aku juga akan sedih” jawab Bams
“kamu selalu gitu” senyum Aira
Bams merasa lega, ia tadinya berpikir Aira akan marah, tapi ternyata Aira menerima kehadirannya. Mereka berbincang bincang, mengingat masa lalu.
“boleh aku tanya soal Ryo?” ucap Bams sedikit meragu
“jangan sebut namanya, aku takut Aina tahu” ucap Aira pelan
“kamu gak cerita ke Aina?” tanya Bams
Aira menggeleng.
__ADS_1
“sejak kapan kamu gini ai?” tanya Bams
“bisakah kamu gak bertanya atau membahas apapun?” balas Aira
“hem.. ok! Berarti kita hanya ngobrol soal Aku, kamu dan Aina saja” jawab Bams
“kalian ternyata sekongkol” senyum Aira
Bams mengirim pesan pada Aina dan mengatakan jika ia tertangkap Aira.
Sejak saat itu, hari ke hari Bams semakin dekat dengan Aira. Aina merasa senang melihat sang kakak sedikit ceria. Bams bahkan menyediakan sebuah mobil khusus untuk Aira memeriksakan diri ke rumah sakit. Meski ia tak bisa menemani Aira, tapi ia membayar orang lain untuk mengantar dan menjaganya.
Disaat Bams break dari syuting dan aktifitas keartisan, ia selalu menyempatkan diri untuk bersama Aira dan Aina. Hal itu membuat Kiky merasakan kembali perubahan yang dulu pernah terjadi diantara mereka.
“siapa lagi kali ini?” benak Kiky yang menatap pesannya yang tak terbaca oleh Bams.
Kiky menatap kosong keluar jendela kaca besar kantornya. Pikirannya menerawang seakan ingin mencoba menemukan Bams diantara gedung gedung pencakar langit yang ada di depannya.
Hari ini kamu libur, tapi kamu sama sekali gak menghubungiku! Benak Kiky semakin perih
Otaknya yang mengajak bicara semakin membuat sesak dalam dadanya.
Apa begitu tidak berartinya aku bagimu Bams? apa aku tak pernah mampu mengisi hari dan hati kamu?
Tut! Sebuah suara terdengar pada pesan suara
“ya!” jawab Kiky
“maaf bu, lima menit lagi ibu akan berangkat ke spa” ucap sang asisten
“batalkan!” ucapnya
Hari presentasi Aina telah tiba, rasa gugup semakin menghampirinya.
“huh...” tarik nafas Aina mencoba menghilangkan gugup karena ia akan menjelaskan langsung pada direktur marketing dari kantor utama direksi.
Langkah Aina berjalan menuju ruang meeting begitu mantap, meski dengan lutut gemetar. Mereka menyiapkan ruangan dengan baik. Satu persatu kursi mulai terisi. Namun satu kursi masih kosong dan mereka seakan menunggu sang pemain utama datang.
Sebuah pesan masuk pada salah satu ponsel seorang lelaki yang menjadi asisten lelaki tersebut. Ia tampak biasa, hanya mengenakan kemeja tanpa jas. Terlihat santai namun gulungan lengan kemejanya seakan menjelaskan seberapa penting dan sibuknya dia.
“kita mulai saja” ucapnya membuat semua orang langsung bergerak secara bersamaan.
Perlahan Aina memaparkan semua isi presenstasinya. Meski didera kegugupan yang luar biasa, ia masih pasih dan mampu secara profesional menjelaskan semuanya.
Bahkan setiap pertanyaan, kendala dan berbagai hal mampu ia paparkan secara sempurna. Senyum bangga diberikan oleh group leader Aina. Ia bangga memiliki seorang anak buah yang masih berstatus training mampu melakukan tugas sebesar itu.
“kali ini anda memiliki anak buah yang istimewa pak” bisik rekannya
“hati hati direbut” goda yang satunya saat coffe break.
Presentasi kembali diteruskan dengan baik oleh Aina. Hingga saat sesi akhir, penjelasan diberikan oleh group leader mereka sendiri. sebuah ketukan pintu membuat semua orang berdiri, saat sang pemain utama memasuki ruangan.
Tubuh Aina menegang dengan tatapan menakutkan. Bukan pada lelaki paruh baya itu, tapi pada sebuah pin yang terpasang pada dadanya yang sangat ia kenali.
Aina berusaha mengatur nafasnya, berusaha tenang ditengah pikiran dan dada yang penuh dengan kepanikan, ketakutan dan bayangan bayangan masalalu.
__ADS_1
Siapa dia?
Nafas Aina memendek berusaha menahan gemuruh dalam dirinya. pikiran Aina kosong, ia tegang. Presentasi itu seakan hilang. Hingga tanpa ia sadari, semua sudah berakhir.
“Aina!” tepukan lembut dibahu menyadarkan semuanya.
“i iya pak” ucap Aina merasa gugup
“selamat, semua orang menyukai presentasi mu” ucap sang GL
“te terima kasih pak” ucapnya gugup
“hei.. santai! Semua udah selesai” senyumnya
“i iya pak” jawab Aina
“ayo! Tadi pak direktur meminta kita ikut jamuan kecilnya” ajaknya
“maaf pak, boleh saya tidak ikut? Kakak saya menunggu saya untuk kontrol hari ini pak” jelas Aina
“oo.. ya sudah” sang GL meninggalkan Aina.
“sebentar pak” tahan Aina
“ya?”
“boleh saya bertanya diluar pekerjaan?” tanya Aina
“ada apa?”
“maaf saya lancang, tadi saya lihat pak direktur mengenakan sebuah pin kecil bersama timnya, apa mereka orang khusus?” tanya Aina
“oo.. itu? pin itu khusus untuk orang yang berada dibawah langsung tuan besar” jelas sang GL
“tuan besar?” tanya Aina
“iya! Orang orang mengenakan pin itu seperti pengenal, bahwa mereka orang yang berada dibawah langsung oleh tuan besar, pemilik Ai & Din Corp”
Aina gemetar mendengarnya.
“memangnya kenapa Aina?” tanyanya lagi
“bu bukan ap apa apa pak” ucapnya begitu gugup dan ketakutan.
“ya sudah! Saya tinggal, saya gak enak telat ikut jamuan pak direktur” ucapnya pergi
Tinggallah Aina sendiri disana. Ia mematung memikirkan kembali rentetan pertemuan dengan orang orang yang memiliki pin tersebut.
Aina masih befikir. Hingga...
Ting!
Sebuah pesan masuk pada ponsel Bams yang berada di atas meja dan tertulis jelas nama yang tertulis. Jordi hanya menatap pesan tersebut. Dan Bams bergegas mengambil ponselnya saat Ryo melirik ponsel tersebut.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
jangan lupa like nya ya..
Trims
__ADS_1