
Siang yang membosankan membuat Ryo pergi menuju ME menggunakan supir. Tangannya masih menggunakan gips karena masih dalam masa penyembuhan. Saran dokter pun tak ia dengar. Mungkin karena ia merasa mampu untuk menjaga dirinya sendiri.
“tuan muda... sebaiknya anda tidak kemana mana” pinta asisten yang dikirim Haris untuknya.
Haris adalah asisten sang kakek dimasa lalu. Dia adalah orang yang menjalankan semua aset sang kakek selain bisnis kesehatan yang sekarang di pegang sang ibu.
“aku bosan.. kau ikut denganku” ucap Ryo tetap melangkah
“tapi tuan muda..” ia ingin protes. Tapi tatapan tajam Ryo membuatnya urung melanjutkan ucapannya.
Sang asisten mengirim pesan pada Haris mengatakan sang tuan muda keluar hari itu.
Ryo semangat memasuki mobilnya. Ia tak bisa menahan rindunya ingin bertemu sang kekasih yang berada disana. Dua hari ini begitu menyiksa bagi Ryo, karena setelah seminggu terbiasa setiap malam di dampingi Aira di rumah sakit. Kini membuat malam malamnya seakan menyedihkan, meski mereka tetap melakukan video call setiap malam.
“beib!” panggil Ryo pada Aira yang sedang membersihkan ruangannya.
“kamu?” ucap Aira melihat lihat sekitar.
“kamu harusnya istirahat dirumah” bisik Aira
“aku kangen!” senyum Ryo mendekat
“hei.. jangan gila kamu” Aira menghindar dan melotot pada Ryo.
Ryo terkekeh.
“bukannya dapat ciuman malah plototan yang aku dapat” Ryo menghempaskan tubuhnya disofa
“pulang sana!” bisik Aira lagi
“ogah!” jawabnya menyandarkan diri dan menengok pada Aira yang masih berdiri memegang kemoceng.
“kamu kalau di” ucapan Aira tertahan dan kembali mengelap meja yang didepannya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka.
“kok loe datang? Bukannya loe harus istirahat dulu” ucap Boman berjalan masuk
“gue kangen!” ucap Ryo
“hah? Ma gue?” tanyanya
Membuat Aira menahan tawa setengah mati mendengar perkataan Boman.
“sama Bella!” ucap Ryo santai
“kiks!” Suara Aira menahan tawa.
Boman menoleh pada Aira. Ryo pun menahan tawa mendengar kikikan Aira.
Merasa dikerjai oleh Ryo, Boman pun membalas.
“ya udah .. gue panggilin Bella dulu!” jawabnya
“hah?” kini giliran Ryo yang kena
“kan loe kangen Bella katanya?” Boman ingin keluar
“loe panggilin Bella, gaji lo ilang delapan puluh persen mau?” ucap Ryo kesal
“heh! Giliran dia yang kena batu .. kesal kan?” tanyanya tertawa keluar dari sana
Setelah boman keluar, Aira tertawa. Ia tak bisa lagi menahannya.
“senang kamu” protes Ryo
“lagian gayanya bilang kangen” ucapnya di sela tawanya
“aku memang kangen ma kamu” Ryo bangkit dan kembali mendekati Aira.
“Ryo kamu jangan lupa.. kita di kantor!” ucap Aira tegas
“salah kamu gak tepati janji!” ucapnya terus mendekat dan ingin memeluk Aira
“janji?” Aira menatap bingung
“kan kamu bilang aku harus pulang ke rumah dan kamu akan terus jenguk aku?” ucapnya
“kapan aku janji?” Aira berjalan menuju belakang meja
“tuh liat.. kabur kamu” Ryo menariknya dengan satu tangannya membuat Aira menjadi jatuh kedalam dekapan Ryo.
“Ryo!” ucapnya lagi mencoba menjauh
“dasar pembohong!” ucap Ryo menatap tajam mata Aira seakan menagih semua janji Aira
Aira menundukkan pandangannya karena malu, ia pura pura lupa akan janjinya sendiri
“lihat? Kamu masih gak ngaku?” Ryo menarik pinggang Aira hingga tak ada lagi jarak antara mereka.
Cup
__ADS_1
Aira mengecup cepat bibir Ryo dengan berjinjit.
“sorry .. aku lupa!” ucapnya tersenyum
“hemmmm.. dasar licik.. bisa aja menghilangkan kesalahannya” Ryo menyipitkan mata dan terus mendekatkan wajahnya pada Aira
“kita dikantor” ucap Aira menahan mulut Ryo
“hemm!” Ryo berpikir
“kalau gitu sore ini pulang dengan ku ke apartemen” paksa Ryo
Aira menggeleng cepat
“tuh.. udah salah, gak niat nebus lagi” Ryo menarik lagi tubuh Aira agar lebih masuk dalam dekapannya.
“kan sudah ku tebus tadi” senyum Aira manja
“itu gak cukup sayang!” ucapnya kini mendaratkan ciumannya pada Aira. Akhirnya Aira hanya memejamkan mata menikmati ciuman sang kekasih.
“jangan pernah melupakan janjimu” ucap Ryo saat ciuman itu berakhir, ketika kedua dahi mereka masih menyatu.
“hem!” ucap Aira bersemu.
“sekarang pulanglah!” ucap Aira memintanya
“gak! Kecuali kamu janji datang sore nanti” paksa Ryo
“dasar pemaksa!” ucap Aira cemberut melanjutkan kerjaannya
Ryo terkekeh melihat wajah cemberut Aira.
“sana.. nanti sore aku usahakan mampir” ucap Aira
“usahakan?” tanya Ryo dengan wajah mengejek pada Aira
Aira terkekeh melihat wajah jelek Ryo.
“aku istirahat disini aja! Nunggu kamu pulang” Ryo membaringkan tubuhnya di sofa.
“aku gak bisa hari ini” ucap Aira merasa gugup.
“kamu bawa sepeda?” tatap Ryo pada Aira dengan tajam
“engg...” Aira ragu dan langsung bersikap canggung
“beib..!!” protes Ryo
“gak usah bahas itu!” liriknya pura pura marah
Aira memutar tubuhnya mencoba menghindari tatapan Ryo.
“hemmm. .. tu .. menghindar dia!” ucap Ryo
“kamu, kalo masih pake tu sepeda, nanti sepeda ku lipat lipat biar kamu gak bisa pake lagi” ucapnya kesal memejamkan mata.
“enak aja! Itu sepeda .. sepedaku sendiri” jawab Aira menoleh dan melihat Ryo yang sudah terpejam
“biarin! Kamu tinggal minta ganti sama aku” ucapnya
“ogah!” jawab Aira
“makanya kalo sayang sama sepedamu, nurut, naik taksi” ucap Ryo
Aira terdiam. Memang beberapa waktu ini dia tak pernah lagi memakai sepeda itu. ia selalu menggunakan angkutan umum atau bis. Tapi memang keuangannya saat ini sudah habis. Itu sebabnya ia kembali menggunakan sepeda tua itu.
Merasa di diamkan Aira, Ryo membuka mata melirik Aira yang menunduk bersandar pada meja kerja.
“Ai..” panggilnya lembut
“hem?” Aira membuyarkan pikirannya
Ryo duduk kembali dan meminta Aira duduk di sampingnya. Aira pun menurut.
Ryo mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya. Kini kartu itu berwarna berbeda.
“ini!” ia memberikan pada Aira
“jangan menolak!!” ucapnya tegas
Aira menoleh pada Ryo dengan tatapan yang sulit Ryo artikan.
“makasih!” ucap Aira tapi dengan senyuman terpaksa.
“gunakan kartu itu minimal lima juta dalam seminggu! Kalau gak aku kena denda” ucap Ryo
“hah? Gila kamu!” Aira membulatkan matanya. Karena dari kartu yang dulu Ryo berikan, Aira hanya menggunakan
beberapa ratus ribu saja. Itu pun kadang bukan untuk dirinya sendiri. tapi untuk dia dan Ryo.
“kamu jangan ngaco!” lanjut Aira
“aku gak ngaco! Emang kaya gitu kok” ucapnya serius
__ADS_1
“gak ah.. aku gak mau!” tolak Aira tegas dan mengembalikan pada Ryo
“kamu nolak kartu ini, aku akan tinggal di tempat kamu mulai sekarang!!!” ancam Ryo
“heh..!” senyum sinis Aira yang meremehkan ancaman Ryo
“gak percaya?” tanya Ryo
Ia mengambil ponselnya. Aira hanya memperhatikan tingkah Ryo
“Ken! Pindahin beberapa baju sama barang barang pribadi ku ke rusun yang aku kasih tau!” ucap Ryo
“hei!! Kamu apa apaan” Aira memukul bahu Ryo
“masih gak percaya?” tanya Ryo menatap Aira dan masih berada dalam panggilan telponnya.
“iya iya... aku percaya!” ucap Aira mengalah dengan mengerucutkan bibirnya.
“gak jadi Ken!” ucapnya menutup telpon
Sedang sang asisten hanya tersenyum menatap layar ponsel yang sudah gelap.
“huh! Dasar pemaksa!” gumam Aira ingin berdiri. Tapi Ryo kembali menarik tangannya.
“hem!” ia memberikan kartunya pada Aira
“aku habisin lima ratus juta sehari nanti!” ucapnya kesal menerima
“hahahaha.. itu lebih baik beib!” ucap Ryo
“liat aja nanti!” ancam Aira
“mau satu milyar sehari juga bisa!” jawab Ryo masih tertawa
Aira hanya membulatkan matanya. Sedang Ryo sudah kembali bebaring dan menutup mata.
“aku mau tidur, aku ngantuk! Efek obat tadi pagi kayanya” ucapnya tanpa membuka mata.
Aira merapikan peralatannya pelan pelan karena tak ingin membuat Ryo terbangun. Sebelum ia keluar, ia mengecup lembut kening Ryo.
Baru saja akan melangkah, Ryo menahan menangkap tangan Aira .
“mulai nanti malam aku tagih janji kamu” ucapnya tanpa membuka mata
“janji?” gumam Aira menoleh pada Ryo yang sudah melepaskan tangannya.
Sesaat Aira membelai kepala Ryo. Ia pun menutup pintu diiringi senyuman Ryo.
Aku janji apa ya?Benak Aira
****
‘aku duluan’ tulis Ryo pada pesan yang masuk untuk Aira.
Aira mulai mengayuh sepedanya dengan hati berbunga bunga. Dia sangat bahagia saat ini. Karena rindunya telah
terobati tadi siang.
Menaiki anak tangga dengan berat. Kakinya hari ini terasa sangat pegal. Ia berjalan malas menuju tempatnya. Tapi
yang mengejutkan seseorang yang sedang menggendong tangannya bersandar santai dengan senyuman menyambut kedatangannya.
“kamu kok disini?” tanya Aira yang menyadari tak ada mobil di halaman yang barusan ia lewati.
“aku sedang menagih utang” ucap Ryo tersenyum lebar.
“hah!?” Aira bingun
“he eh” jawab Ryo
“utang apa sih?” tanya Aira
“utang janji!” jawab Ryo
“dari tadi janji janji janji... emang aku janji apa?” tanya Aira
“Buka dulu pintunya, kakiku sudah pegal ini” pinta Ryo dengan wajah sedikit meringis
Aira membuka pintu dan Ryo langsung masuk tanpa menunggu Aira. Aira menggeleng melihat kelakuan Ryo yang menganggap tempatnya seperti miliknya sendiri.
“jawab dulu! Aku janji apaan?” tanya Aira melihat Ryo yang santai duduk disana.
“kan kamu janji kalau aku bangun dari komaku, aku boleh nginap disini!” ucap Ryo dengan senyuman menggoda dan menaikkan alisnya
Duaarrrrr!!
Berasa disambar petir. Aira mengingat ucapannya
“dan satu lagi janji kamu.. kamu akan terus panggil aku sayang, ingat itu beib!” ucapnya yang kini berdiri mengecup
puncak kepala Aira dan berjalan menuju kulkas.
Aira pun mematung mengingat semua kata katanya. Sedang Ryo tersenyum puas menikmati minuman dingin yang ia ambil melirik Aira yang kini wajahnya begitu merah.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~
Jangan lupa tinggalkan jejak membaca kalian ya say..